
Dewi Laya Bajramaya menyobek baju yang Pandu gunakan di tengah perjalanan kereta kencana yang melaju kencang ke arah perbatasan wilayah kekuasaannya dengan entitas dedemit di luar wilayahnya.
“Harusnya kamu tidak pergi terlalu jauh, harusnya kamu di dekatku saja. Selamanya begitu.” protesnya sembari menyembuhkan luka-luka Pandu dengan kekuatannya.
Pandu dapat melihat pancaran energi Dewi Laya Bajramaya berwarna oren dan rasa hangat di tubuhnya. Namun Pandu kembali merasakan mual mengingat betapa buruk dan menjijikan pocong-pocong tadi.
Pandu menyemburkan isi perutnya yang terasa pahit di antara kakinya yang mengangkang.
“Niatmu apa?” tanya Pandu ketika Dewi Laya Bajramaya segera membersihkan mulutnya dengan selendangnya.
“Aku mau membawamu jalan-jalan, mau mengajakmu ke situs-situs bersejarah di sini untuk tugas kuliahmu. Tapi kamu melukaiku dengan permintaanmu bercerai.” Dewi Laya Bajramaya menggeser posisi duduknya, lalu menyingkirkan penutup jendela belakang kereta kencana.
“Mereka masih mengejar kita, mereka tahu kamu sekarang, Pandu... Mereka bisa menculikmu juga. Jangan pergi!”
Pandu memegangi perutnya yang terasa sakit. “Kamu ambil cakraku, aku tidak mau memilikinya dan bawa aku pulang ke bumi.”
“Apa itu artinya kamu setuju aku menjadi istrimu dan menjadikan aku manusia?”
“Maksudmu?” Pandu merasakan kereta kencana yang ditumpanginya otomatis berhenti dengan suara kuda yang meringkik kaget.
Dewi Laya Bajramaya mengajaknya keluar dari sana demi menghindari aroma tak sedap muntahan Pandu.
Pandu mengamati serangan pada dinding tak kasat mata dari para pocong-pocong yang hendak menyerbunya. Sementara itu, ia yang bertelanjang dada membuat Dewi Laya Bajramaya mengamatinya dengan seksama.
“Mereka ingin menculikku untuk apa?” tanya Pandu sambil mengalihkan tatapannya. Tetapi ia justru mengamati arah tatapan mata sang Dewi ke dadanya.
Pandu spontan menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi kedua puttingnya seraya mendesis tajam.
“Jangan lihat-lihat. Situasinya baru genting juga, pikiranmu malah sinting!”
__ADS_1
“Bagus.” Dewi Laya Bajramaya tersenyum kenes. “Kita sudah aman di sini, mau jalan-jalan? Aku bisa menjelaskan semua tugas-tugas kuliahmu dengan baik.”
Pandu mengarungi barisan-barisan pernyataan di laptop dan notebooknya. Beragam kendala materi dan narasumber dia dapati, termasuk dirinya sendiri.
“Kamu belum jawab kenapa mereka jadi memburuku? Dewi, sumpah... Aku hanya mau pulang dan mari buat kesepakatan bersama demi kebaikan bersama.” bujuk Pandu setengah pasrah. Dia sudah muak berada dalam entitas itu seolah-olah sudah berminggu-minggu ia di sana, tubuhnya letih memikirkan segalanya.
“Aku tidak menginginkan terlahir sebagai seseorang yang istimewa, aku sudah berkali-kali protes pada Gusti Allah. Aku sudah berkali-kali meminta kyai dan Yanda menutupnya, tapi semuanya otomatis kembali sendiri! Ambilah Dewi, ambil cakraku tapi kembalikan aku.” ucap Pandu pasrah.
Dewi Laya Bajramaya pastinya tidak ingin mengambil keputusan secara langsung. Tapi dia menjawab, ”Mereka ingin mengambil keistimewaanmu untuk menambah kekuatan hitam, mereka memiliki tuan. Sementara aku menginginkan keistimewaanmu untuk menjadi manusia. Apa kamu menginginkanku menjadi manusia dengan memberikan cakramu Pandu dan pulang bersama ke ibumu?”
Pandu terhenyak, banjirnya sebuah informasi darinya terlihat seperti timbangan yang berat sebelah.
Pulang bersama ke ibu? Atau selama-lamanya di sini, berputar pada masalah yang sama setiap hari dan membuat ibu terus bersedih? Terus kalau pulang bareng dan ibu menolak Dewi sebagai mantunya kasian juga Dewi, nanti sebatang kara.
Pandu tercenung sambil menatapnya. “Ada cara lain?”
“Kamu saja tidak menganggapku istrimu, kenapa aku harus memberi solusi?”
“Dan tugasku melayanimu?”
Pandu tergelak. “Kamu mikirnya itu terus, gak ada yang lebih baik dari itu? Aku tidak berpikir menikah hanya untuk persoalan batiniah, Dewi. Aku ingin menikah karena memang perempuan itu layak mendampingiku sampai tua nanti begitu sebaliknya dan satu yang harus terjadi, kita saling mencintai. Denganmu, semua kontroversial.”
Dewi Laya Bajramaya menundukkan kepalanya.. Kontroversial katanya.
“Ibumu seorang titisan Batari, Pandu. Aku akan sama sepertinya, melahirkan anak-anak istimewa yang akan bermanfaat bagi sesama dan Nusantara.” Dewi Laya Bajramaya bersumpah padanya.
Pandu menghembuskan napas. Karena capek habis lari-larian dan berguling ke jurang, belum lagi muntah-muntah. Pandu duduk di atas dedaunan.
“Yo jangan bahas itu dulu, pelan-pelan gitu lho, Dewi. Itu bisa nanti waktu ibuku sudah benar-benar mau ngunduh mantu seorang bidadari. Eits, tapi aku gak bisa menjanjikan apapun untukmu. Ibuku mungkin sama denganmu. Aku tidak masalah, ibuku keren jadinya dan aku menyayanginya.” Pandu bersumpah untuk itu.
__ADS_1
Dewi Laya Bajramaya enggan duduk di tanah, itu sudah jelas. Wal hasil dia tetap berdiri seperti pembuka pintu.
“Pandu, setelah para Dewata mengutusku menjadi hadiahmu di bumi, aku resmi di buang mereka. Aku harus mengikutimu. Karena itu aku mengajarmu sampai tidak tahu diri agar kamu mengasihiku. Aku bingung, Pandu. Dan jika aku menjadi manusia, aku masih seperti ini tapi kehilangan kesaktianku.”
Pandu tak kuasa mendengus meski ia tidak lagi menutupi dadanya sebab Dewi Laya Bajramaya tidak lagi menatapnya, tapi menatap pocong-pocong yang membawa entitas lainnya seolah Pandu adalah artis pendatang baru pencuri hati.
“Aku tidak percaya kalau kamu yang bilang. Aku pun tidak bisa ngelunjak meminta Dewata atau perwakilannya dari kahyangan mana pun memberikan penjelasan resmi padaku.”
Dewi Laya Bajramaya mau tidak mau duduk di samping Pandu. Demi tidak mengunggulinya.
“Kamu harus percaya padaku, Pandu. Aku sudah jujur. Aku mendatangi bumi dan bernegosiasi dengan Ki Pawiro untuk membawamu ke sini. Aku berjanji petualanganmu di sini akan mendewasakanmu. Ki Pawiro dan Ki Kusumo benci melihatmu slalu menjadi anak bawang padahal posisimu sekarang jauh lebih hebat dari kakak-kakakmu.”
Pandu menoleh, dan Dewi Laya Bajramaya yang melihat nyamuk mengigit kupingnya spontan menepuknya.
Pandu sekonyong-konyong kaget. Tapi nyamuk hutan yang di berikan sang Dewi membuatnya mendengus. Tidak jadi marah-marah.
“Kamu mengetahui semua rahasia keluargaku?” tanya Pandu sembari mengerutkan keningnya.
“Semuanya aku tahu.” Dewi Laya Bajramaya tersenyum misterius. “Aku tahu kamu suka Aisyah sejak lama. Ayahnya ikut mencarimu sekarang. Mereka memang peduli, Pandu. Tapi restu dari kyai Arya tidak ada! Dia menentang Aisyah membalas ketertarikanmu.”
Pandu bersedih namun itu hanya sementara. Pandu meluruskan kakinya. Kepalanya mulai bergerak memutar, silih berganti menyangkal dan mengakui. Seperti suara seekor orong-orong yang tiba-tiba diam seketika, Pandu membisu sambil menundukkan kepalanya.
“Ayo kita bicarakan dengan om Nanang saja, aku yakin ommu bisa memberikan solusi untuk kita.” bujuk Dewi Laya Bajramaya sambil mengelus tulang belakangnya.
Pandu menarik sudut bibirnya. “Skenarionya tadi aku harus membuatmu jatuh cinta dan kabur dari sini setelah kondisi di bawah bagus. Ternyata... Ribet ya, Wi.”
“Wi... Wi...” keluh Dewi Laya Bajramaya seraya ikut meluruskan kakinya.
Pandu memandanginya lalu memalingkan wajahnya. Bingung atau mengambil risiko?
__ADS_1
...***...