
Pandu mengumpulkan putik bunga teratai emas dalam kantong P3K setelah membuang isinya ke dalam tas keril. Dia mengamatinya kemudian, putik itu berkilauan namun bentuknya sama seperti putik bunga teratai pada umumnya.
Pandu berdecak. “Aku tidak pernah setuju hal-hal seperti ini terjadi, tapi aku slalu memenuhi permintaanmu. Aku yakin kamu pasti menggunakan kesaktianmu biar aku patuh! Dasar wong sakti.” cibir Pandu seraya meneruskan mengemasi barang-barangnya.
“Ndu. Di luar sudah penuh dengan penduduk desa.” ucap Nanang dari ambang pintu. Pria matang itu mengamati kamar Dewi Laya Bajramaya yang berantakan. Pakaiannya berada di ranjang, bersiap untuk Pandu masukkan ke tasnya sebagai bekal sandang di bumi nanti. Mahkotanya berjejeran, Dewi Laya Bajramaya bingung hendak membawa yang mana.
Nanang tersenyum geli sambil melipat kedua tangannya dan bersandar di tembok.
“Bawa saja semuanya, pasti itu jadi barang antik nanti di cari-cari arkeolog. Mahal, lumayan buat beli beras, Wi.” selorohnya menggoda.
Dewi Laya Bajramaya meliriknya sekilas, Nanang baginya debu yang menempel di celah-celah jendela kamarnya, gak penting, oh tapi dia yakin bisa menghormatinya nanti setelah di bumi.
“Bagimu lebih bagus yang mana, Pandu?” tanyanya sambil mengambil dua mahkota. Satu dengan permata merah di bagian tengah-tengahnya, satunya lagi penuh permata. Adapun mahkota emas yang seperti kerucut. Berat, Dewi Laya Bajramaya tidak sanggup membawanya. Takut mengalahkan mahkota milik mertuanya.
Alih-alih memilih, Pandu mengamati mahkota kecil yang dipakainya, “Itu saja biar seperti bando, tidak norak!” pungkasnya lugas. Pemuda itu sepertinya males mempertimbangkan mahkota yang lain. Urusan malam selasa kliwon jauh lebih ribet, toh nanti buat apa memakai mahkota emas di bumi. Di gasak maling malah repot atau seperti yang Nanang katakan.
Dewi Laya Bajramaya menaruh kedua mahkotanya dengan perasaan lega. “Aku akan memakai apa yang kamu suka.” Ia tersenyum sembari melirik Nanang lagi.
“Om ke depan saja, persiapan diri dan ambil persenjataan.” ucapnya mengusir.
Nanang pergi dari sana daripada Dewi Laya Bajramaya mengikatnya di pohon sama seperti yang di lakukannya pada Laras yang ingin bersama Pandu terus-menerus.
Nanang mengucek matanya. “Sekalinya jomblo akut langsung dapat spek bidadari Pandu. Aku? Kok berasa nggak adil, Gusti? Apa aku kurang baik? Sudahlah, anakku lima, butuh makan semua. Bisa gawat kalo batal pulang hari ini.”
__ADS_1
Nanang meraih tombak trisula seraya mendatangi Laras.
Di kamar. Pandu menjejalkan selendannya dengan penekanan kuat. Tas kerilnya sudah penuh, tapi pakaian si Dewi Laya Bajramaya itu masih banyak dan sedari tadi Pandu mencari benda penting miliknya. Pembungkus area privat!
“Kamu cuma bawa ini, gak ada yang lain? Yang agak-agak seksi gitu?”
“Aku tidak memakainya.”
“Lah terosssssss?”
Dewi Laya Bajramaya tersenyum kenes seraya meraih tas keril Pandu dan menyingkirkannya dari ranjang.
“Kenapa?”
“Kamu perhatian?”
“Prihatin, Dewi Laya Bajramaya. Bukan perhatian!” sungut Pandu sambil menepis tangannya yang mengelus lengannya.
Dewi Laya Bajramaya menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang. “Aku ingin meninggalkan kesan mendalam di kamarku bersamamu. Kamu mau?”
“Nggak.”
“Aku masih sakti di sini.” Dewi Laya Bajramaya menarik tubuh Pandu tanpa menyentuhnya. Pandu mendengus ketika dia berada di atas tubuhnya yang terlentang di atas tumpukan selendang dan kain-kain.
__ADS_1
“Cium aku saja jika kamu enggan bercinta.” Dewi Laya Bajramaya menyentuh pipinya.
“Kok maksa lho, aku gak suka di paksa-paksa. Aku sukanya atas kesadaran diriku sendiri!”
“Memangnya kapan kamu sadarnya? Sampai purnama menghilang atau sampai kamu jatuh cinta padaku? Lama!” keluh Dewi Laya Bajramaya seraya menarik Pandu agar lebih merapat di tubuhnya yang harus berbalut selembar kain tipis.
Pandu memalingkan wajah ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.
“Kakang malu?”
Lembut suara Dewi Laya Bajramaya terdengar. Pandu mengangguk. Dadanya deg-degan. Berdesir darah Pandu dibuatnya.
“Jangan terburu-buru, aku bisa mati kehabisan napas lho, Wi!”
Tawa manja terdengar. Tangan halus Dewi Laya Bajramaya merengkuh tubuhnya hingga Pandu benar-benar jatuh pada pelukan istri bidadarinya itu.
Pandu ingin menangis, mimik wajahnya terlihat seperti itu. Tapi harum rambut dan tubuhnya yang terhirup membuatnya luluh. Pandu pasrah.
Dewi Laya Bajramaya memandang manis kepada suaminya yang malu-malu sebelum memejamkan matanya, meresapi kecupan dan ciuman yang menjelajahi bibirnya dengan ragu dan naif.
“Sudah, Wi. Aku gak bisa lama-lama, badanmu ganjel.” ucap Pandu buru-buru seraya beranjak dari kehangatan tubuh istrinya.
Dewi Laya Bajramaya tertawa manja lalu melihat Pandu membasuh wajahnya dan membilas bibirnya dengan air suci. Dia tidak terusik dengan tingkahnya. Dewi Laya Bajramaya justru membayangkan yang indah-indah di bumi nanti.
__ADS_1
...***...