
Sinar matahari menggampar lereng gunung dengan garang. Rinjani memandangi gunung Arjuno yang kini terlihat di pelupuk matanya dengan ekspresi terpukau.
“Aku nggak paham apakah cinta seorang bidadari dapat mengubah cuaca, Lil. Kasian juga penduduk desa kalo Dewi itu galau di tolak Pandu terus. Ibu ikut bersalah.”
Dalilah mengikat tali sepatu gunungnya dengan mantap. “Apapun tingkah Dewi itu semua pasti atas izin Gusti Allah, Bun. Dewi itu juga mahkluk Allah. Lebih keren lagi dari kita. Sakti mandraguna. Tapi...” Wanita itu nyengir.
“Pandu berhasil bikin dia senang apa ya?”
Rinjani menutup matanya sambil geleng-geleng kepala. “Ibu gak mampu bayangin jauh-jauh. Yang penting hari ini kita naik ke atas. Kita tunggu Kyai Arya dan Mbah Mangku siap. Mereka lagi ngapain toh?”
Jalu Ali datang sambil membawa teh hangat untuk budhe dan kantong berjalannya yang setiap hari memberikannya uang jajan.
“Kyai Arya berpesan budhe sama Mbak makan dulu, soalnya hari ini selasa kliwon. Tepat tiga lima hari mas Pandu hilang!” ucap Jalu Aji dengan mendramatisir.
“Tiga puluh lima hari budhe, aku deg-degan mas Pandu kenapa-kenapa. Aku takut masku apalagi bapakku gak pulang. Aku harus gimana jelasin ke adik-adikku nanti, wah, wes pusing aku budhe...”
Rinjani menyentuh dadanya yang menghangatkan, sudah selama itu anaknya menghilang di kahyangan tanpa jejak. Sulit sekali menggapai pintu menuju dimensi itu seolah tiada daya dari energi manusia biasa.
“Budhe yakin Mas Pandu dan bapakmu pulang. Bapakmu sudah janji mau nemenin budhe sampai tua. Kamu gak lupa toh minta doa satu sekolahmu?”
“Sampai kucing-kucing bapakku aku ajak berdoa Budhe.” sahut Jalu Aji antusias. “Mereka cuma meong-meong. Di anggap amin boleh toh?”
Rinjani mengambil secangkir teh hangat dari nampan yang di pegang Jalu Aji.
Bapakmu kalo gak pulang yang ditinggal banyak, Le. Lima anak dan kucing-kucingnya, pekerjaan dan aku. Tambah kurus aku nanti.
Jalu Aji mengibaskan tangannya di depan muka Rinjani. “Budhe kok ngelamun?”
“Budhe mikirin kamu, adikmu, kucing-kucing bapakmu!”
“Walah, budhe sehati sama aku.” Jalu Aji tersenyum. “Budhe pasti berdoa terus bapakku pulang ya?”
__ADS_1
Bapakmu cinta pertamaku, gak usah di doain dia sudah pinter cari hati.
Rinjani menganggukkan kepalanya. “Sebentar lagi acara satos dino pakde Kaysan, kalau mereka tidak pulang budhe perlu cari bendera kuning lagi dan budhe tidak mau. Budhe yakin sudah gak ada yang jual bendera kuning. Budhe yakin, Pandu dan Bapakmu pulang!”
Jalu Aji menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar. Apalagi yang dia mau saat ini selain mengiyakan ucapan budhenya. Dia sampai rela lho meluangkan waktu membuntutinya demi mengetahui sendiri apa yang terjadi. Demi mengganggu budhenya yang sedih sekali selama tiga lima hari yang tidak menentu sampai Mbah Mangku memberikan kepastian untuk mendatanginya sebelum malam selasa kliwon berlangsung.
Secercah harapan pun hadir tanpa aba-aba hingga tibalah mereka di rumah Mbah Mangku lagi dengan personil yang lebih lengkap dari Jogja.
Rinjani mengusap kepala Jalu Aji. “Kamu istirahat, makan dulu. Nanti kalo laper repot, budhe gak bisa goreng telur ceplok di atas.”
“Aku sudah bawa banyak budhe, di tasku. Pake nasi kecap. Aku juga bawain bapakku kopi di tumbler.” Jalu Aji tersenyum bangga.
Rinjani dan Dalilah menepuk kening bersamaan. Bocah itu mikirnya pasti piknik dan berpetualangan, bukan cari dua manusia penting itu.
“Terserah kamu, yang penting nanti nurut sama rombongan. Kalo capek bilang, jangan ngilang.”
Dalilah berdehem dengan senyum samar yang terlihat di bibirnya. “Ingat ayahanda?”
“Slalu dan satu-satunya.” Rinjani mengulum senyum ketika rombongan Kyai Arya dan Mbah Mangku mendatangi teras.
Berbondong-bondong rombongan dari Jogja itu berkumpul. Mereka membentuk lingkaran untuk mendengar arahan dari tim SAR dan Mbah Mangku.
Para tukang ojek pun berjejeran menunggu mereka untuk mengantar ke pos satu yang memiliki jarak sekitar 2,5 km dari basecamp. Ongkos yang dikeluarkan pun 50rb per kepala sementara rombongan itu membawa dua puluh lima orang.
“Yang pakai baju dan atribut dominan warna merah, ganti. Yang haid tidak perlu naik!” Mbah Mangku memperingati ketika suara mesin motor sudah menderu.
Tidak ada kekacauan yang terjadi. Rombongan itu gegas melewati jalan setapak di bawah pohon pinus dan kebun kopi yang sedang berbunga.
Tiba di pos onto boege, aroma kemenyan dan mekarnya bunga kopi terasa lebih semerbak.
Jalu Aji terpukau. “Katanya di sini ada naganya, Budhe.”
__ADS_1
Rinjani iya-iya saja dan menarik bocah itu agar berada di dekatnya daripada menambah risiko.
“Pras, jaga Jalu Aji!” Rinjani mengingatkan Prasetyo, ajudan ayah bocah itu. ”Ini sudah jam sepuluh siang, kita harus sampai ke pos lima sebelum pergantian hari!”
“Nggih, ibu.”
Prasetyo sengaja menggeram sambil mendekap Jalu Aji yang tidak ada lelah-lelahnya sejak perjalanan kemarin.
Jalu Aji terkekeh. “Bapakku lebih sangar dari kamu, Om! Aku ora wedi.”
Rinjani mendesis. “Pokoknya nurut! Mbah Mangku sudah bilang ini saatnya karena katanya portal-portal dimensi terbuka! Kita nggak boleh terlambat. Kamu jangan sampai di gondol bidadari juga. Bapakmu nanti stres.”
Jalu Aji mengiyakan, budhenya itu sekalinya tegas, medeni. Jadilah rombongan itu menapaki jalur pendakian semi bebatuan dengan lancar tanpa ada ulah Jalu Aji yang keponya kebangetan. Dari pos dua ke tiga, rombongan mulai kelelahan. Sinar matahari yang garang itu membakar nyali-nyali pemberani dengan leluasa.
Mereka memutuskan beristirahat di depan pos eyang Sakri selama setengah jam.
“Budhe masih kuat?” tanya Jalu Aji ketika mereka berjalan di alas tengah dengan vegetasi pohon yang mulai rapat menuju pos eyang Semar.
Meski napas terasa mengkis-mengkis, Rinjani mengangguk-anggukkan kepala.
“Demi masku dan bapakku. Semangat budhe!”
Kyai Arya melontarkan tawa sebentar sambil mendekap Jalu Aji. “Dari pos empat ke pos lima jalur pendakian berupa punden berundak dengan trek bebatuan. Arca-arca asli tersebar di jalur ini. Pandu pasti menyukai tempat ini, sejarahnya luar biasa.” Kyai Arya terpesona pada peninggalan abad 13 itu.
Jantung hati Rinjani berdesir. Ingin dia menyangkal fakta siapa dirinya, ingin dia mendustai hatinya tapi rasanya semakin langkahnya mendekati pos empat dan menetap di pos lima yang memiliki banyak sekali peninggalan sejarah yang terpampang jelas di sepanjang jalur pendakian firasatnya merasakan sensasi familiar.
“Di mana gerbangnya, Mbah?”
“Kita sudah melewatinya.” Mbah Mangku menatap sekeliling ketika hembusan angin menyambut kedatangan mereka.
“Anakmu dan rombongannya sedang bersiap-siap!” gumam Mbah Mangku dengan sorot mata menerawang.
__ADS_1
“Pastikan slalu di dalam tenda jika terjadi sesuatu. Jangan keluar apalagi mencari suara gamelan!”
...***...