NGUNDUH MANTU

NGUNDUH MANTU
Bentrok


__ADS_3

Suara ranting-ranting terinjak kaki. Mata mereka waspada. Bukan hanya mata tapi juga telinga.


Rombongan Dewi Laya Bajramaya terus berjalan, mengarungi jalur pendakian dalam dimensinya di tengah suasana panas. Ada sekitar lima puluh prajurit, sepuluh di antaranya adalah para cethi kesayangannya yang membawakan barang-barang perbekalan pribadi bidadari itu.


Di bagian tengah rombongan, Pandu enggan bicara sejak langkahnya keluar dari istana terakota istrinya. Yah, mau tidak mau dia harus mengakui Dewi Laya Bajramaya itu istrinya meski hatinya kadang mencibir keputusannya.


Pandu yakin kecemasannya hanyalah momen dimana dia belum mahir dalam percintaan. Di bumi nanti lihat saja, Dewi Laya Bajramaya itu pasti cupu seperti ibunya dulu. Hah!


Tapi ini bukan soal itu, Pandu punya masalah yang lebih besar dari itu. Bagaimana caranya menyembunyikan Dewi Laya Bajramaya di hadapan semua orang yang mencarinya. Bagaimana dia harus menjelaskan Energi-energi lain yang jauh lebih besar dan kejam berseliweran di sekelilingnya. Hawanya menyengat, tidak menyenangkan.


Bulu kuduknya berdiri berulang kali. Napasnya sesak. Dia sudah jarang merasakan bentrokan energi yang begitu besar.


Tubuh Pandu bermandi peluh. Seluruh tubuhnya merinding dan tanpa sadar, lututnya tertekuk, ia bersumpah, akan mencium kaki ibunya ketika nyawa dan kakinya kembali menginjak bumi.


Nanti ada masanya semua akan terbuka!


Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya, itu pesan sebelum ayahnya tiada.


Sesuatu apa, Yanda?


Sesuatu tentang ibumu. Ibumu saya pilih karena dia istimewa. Ibumu akan hidup lebih lama ketimbang saya, Nanang bahkan dirimu. Ibumu yang bakal jaga kalian! Jangan khawatirkan dia tapi jangan sepelekan dia.


Dewi Laya Bajramaya berlutut setelah menembak mati siluman kelinci bertaring tajam yang akan menyerang Pandu.


“Kakang tidak apa-apa?” Dewi Laya Bajramaya membentuk lingkaran magis ketika Pandu tidak menjawabnya.


Sementara Nanang sedang membabi buta menghabisi burung-burung berparuh lancip dengan tombak trisulanya yang mengeluarkan api. Tanpa Genta, hantu itu memilih menemani Laras dan Ki Pawiro karena Pandu tidak lagi bisa berteman dengannya. Karena dia merasa lebih hidup di kahyangan, merasa tidak lagi hampa ketika pertemanannya dengan penghuni dimensi itu mengurai cerih-cerih dendam pada pembunuhannya yang tak lain adalah kakaknya sendiri!


Dewi Laya Bajramaya mengusap punggungnya untuk memberi kekuatannya sebanyak mungkin sebelum perpindahan cakra dan keistimewaan Pandu kepadanya.


“Serangan akan terus terjadi, Pandu. Mereka memburumu dengan cara menyerang kita sampai energimu habis. Kamu bisa mati!” Dewi Laya Bajramaya melihat para prajuritnya masih melakukan penyerangan terhadap entitas gelap di kanan-kiri jalur.


”Bangsat!” Nanang dengan tangkas menancapkan kerisnya ke tubuh siluman kelinci yang hendak menggasak nyawanya dari belakang.

__ADS_1


“Laksanakan ritualnya, Wi! Pandu tidak boleh pingsan sekarang.” teriak Nanang. Secepatnya dia berguling diiringi dengan umpatan ketika serbuan anak panah melesat ke arahnya. Tubuhnya membentur pohon.


Boyokku!


Dewi Laya Bajramaya mengulurkan selendangnya, menarik kaki Nanang dan menyeretnya menuju lingkaran magis.


“Ibuku bakal hidup lama, kamu akan sama sepertinya.” ucap Pandu.


Dewi Laya Bajramaya tersenyum sambil menarik selendangnya dari kaki Nanang. Hanya dua nyawa itu yang perlu dia selamatkan sampai ke titik terbuka portal dimensi yang tersebar di delapan titik mata angin gunung itu.


Dewi Laya Bajramaya jelas tidak mungkin melakukan ritual pengalihan cakra dan keistimewaan Pandu sekarang, masih setengah jalan lagi menuju pintu yang akan mengubah hidupnya. Alih-alih sampai, mereka justru akan tenggelam dalam dimensi itu selamanya.


“Kita lakukan nanti setibanya di pintu gerbang dimensi. Sekarang tidak mungkin, aku harus melindungi kalian dan rombonganku sampai ke perbatasan.”


Suara monyet terdengar. Itu pun suara monyet jadi-jadian. Lalu terdengar jerit kesakitan dan ringkikan kuda yang ketakutan. Rombongan Dewi Laya Bajramaya berhamburan ke arahnya, sebagian bisa masuk ke dalam lingkaran magisnya, sebagian memilih melakukan perlawanan demi Dewi Laya Bajramaya.


Bentrokan terjadi, serangan-serangan energi pun menghantam lingkaran magis.


Dewi Laya Bajramaya meringis kesakitan seakan-akan energi gelap itu menyerang tubuhnya. “Demi kamu, Pandu. Demi para Dewata.”


Dewi Laya Bajramaya terbatuk, darah muncrat dari mulutnya. Tapi ia tak gentar manakala dedemit bertubuh besar, bertanduk, dan menyeringai lebar seolah hendak menyantap hidangan lezat.


Sejenak Pandu mengamati dengan seksama ciptaan Tuhan yang beraneka ragam wujudnya. Namun, semakin di perhatikan, dia tambah yakin untuk memilih Dewi Laya Bajramaya sebagai penculiknya daripada mereka.


Pandu mencari tas kerilnya di tengah goncangan. Setelah mendapatkannya, buru-buru ia mengambil putik bunga teratai emas di kantongnya seraya mengusap bibir Dewi Laya Bajramaya dengan selendangnya.


“Sudah!” bentak Pandu Mahendra.


Dewi Laya Bajramaya membuka matanya. Matanya bersinar, berkaca-kaca.


“Aku tidak akan mengorbankan diriku sepenuhnya, Pandu. Tenang. Setidaknya sampai lingkaran magis ini menghilang. Maka bersiaplah, berlari sekencang mungkin mengikutiku.”


“Di kegelapan?”

__ADS_1


Dewi Laya Bajramaya kembali memejamkan mata. Sementara Pandu gegas memasukkan putik bunga teratai emas ke mulutnya.


Seulas senyum Dewi Laya Bajramaya berikan. “Pastikan ujung keris ke depan, Nanang. Bila sewaktu-waktu ada yang mendekat kamu sudah siap melawan!” Ia memberitahu tanpa menoleh.


“Kamu harus menjaga dirimu, janjimu lebih banyak dari Pandu!”


Nanang melukai ujung jemarinya dengan keris itu seraya menancapkan kerisnya ke tanah.


“Itu akan melindungi rombonganmu, lepaskan mereka, Wi!” teriak Nanang.


Rombongan Dewi Laya Bajramaya meninggalkan lingkaran magisnya dengan berlompat setelah meninggal perbekalan mereka.


Beban yang di bawa Dewi Laya Bajramaya berkurang hingga membuat laju lingkaran magisnya berjalan lebih cepat.


Sesampainya di gerbang antar dimensi dengan suasana yang gelap. Dan suara yang sahut menyahut memanggil nama Pandu dan Nanang, Dewi Laya Bajramaya membuka matanya.


“Aku sudah siap, Pandu.”


Bergidik jantung hati Pandu kemudian.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Pandu sembari membantunya beranjak dari sila.


“Kemarilah.”


Nanang memalingkan wajahnya ketika Dewi Laya Bajramaya menyentuh dada Pandu, hanya bidadari itu yang memahami bahasa dan ritualnya sebelum Pandu mengerang keras seakan melepas sesuatu yang besar dari dalam tubuhnya.


Lingkaran magis itu bersinar, cahayanya menyilaukan dan mampu Rinjani amati dari tendanya berdiri sewaktu merenungi nasib di bawah flysheet bersama Mbah Mangku. Kepakan sayap burung-burung riuh sekali. Hembusan angin terasa lebih kencang. Para tim SAR tersentak dan bergeming dari tempat beristirahat seakan menyadari sesuatu yang terjadi.


“Mereka sudah keluar?”


“Lokasi?”


“PANDU!”

__ADS_1


“NANANG!”


...***...


__ADS_2