
Pandu bersila di tengah para dayang dan prajurit yang mendapati Dewi Laya Bajramaya kembali sembari membawa titah untuk menjaga perbatasan.
Nanang, Genta dan Laras ikut mencampuri urusan pribadi Pandu dengan bertanya ada apa, kakang? Kenapa bajumu hilang?
Pandu menarik napas sambil menarik selendang Dewi Laya Bajramaya yang terikat di pinggangnya.
“Duduk, Wi.”
”Wi? Swiwi?” sahut Laras.
Jelas kecerobohan Pandu dalam memanggilnya itu berbuah muramnya. Terlebih Laras menyebutkan swiwi yang berarti sayap ayam.
Bidadari itu pun enggan duduk di tanah. Tempat duduknya ada di sebuah mimbar kayu dengan tiga undakan berpayung dan dikipasi para dayang-dayangnya.
Dewi Laya Bajramaya mengibaskan selendangnya hingga terlepas dari tangan Pandu.
”Katamu aku adalah istrimu saat ini, kenapa slalu, Wi... Wi... Kamu tidak romantis!” protesnya kesal.
Nanang berjongkok dan berbisik di telinga Pandu. Menilik dari situasinya yang tergambar jelas, pertanyaan Nanang langsung di jawab tanpa perantara. Penjelasan Pandu pun langsung membuat Nanang melebarkan matanya.
“Jadi kamu dalam bahaya lagi, Ndu?”
“Tanya Dewi aja, Om. Aku sudah pasrah. Manunggaling Kawula Gusti!”
Nanang langsung bersila di depannya. “Jadi kamu menyerah?”
“Gagal total wes pasti. Tapi ini lebih gawat. Aku tidak mau lama-lama di sini dan risikonya semakin lebar. Aku putuskan mengambil risiko. Aku akan membawa Dewi pulang. Kalo ibu marah, om jadi pelindungku dan pelindungnya karena dia sudah tidak sakti lagi. Wohwee... mumet!”
Dayang Dewi Laya Bajramaya menggelar satu tikar rotan emas khusus untuk tuannya agar bisa duduk. Berunding. Dan Nanang memintanya mengambil baju Pandu di tas kerilnya.
Pandu menghela napas. “Aku tidak tahu mana yang harus aku pertimbangkan, aku juga tidak tahu harus percaya pada siapa di sini. Tapi setelah mengetahui ibuku siapa, aku yakin, ibu tidak akan tega menyakiti Dewi. Ibuku sebatang kara di bumi dan ibuku penyayang.”
Nanang tidak kaget pada penjelasan itu, dia jauh lebih mengerti siapa Rinjani daripada anak-anaknya. Dan ada bagusnya mereka sudah tahu rahasia-rahasia di balik orang tuanya.
__ADS_1
Nanang meringis. Melihat bayangan Rinjani sekarang yang tetap menua meski tidak terlalu banyak perubahan dalam dirinya membuatnya yakin dia akan menyangkal fakta tersebut dengan memarahi orang-orang yang memberitahunya.
Pandu cemberut. Tingkah om itu mencurigakan. Padahal dia sudah merasa kecewa, putus asa dan sedikit getir. Orang-orang sudah memiliki belahan jiwa, pacar dan suami/istri, dia justru di pertemuan dalam keadaan yang membuatnya berpikir keras dengan Dewi Laya Bajramaya langsung sebagai suami.
Nanang menghela napas. Kehilangan istri dan kakaknya yang dapat menghandle segalanya membuatnya tidak kesepian, justru hidupnya semakin meriah.
“Bagaimana dengan perasaanmu nanti? Ndu, jika dia menjadi manusia, sepenuhnya Dewi adalah tanggung jawabmu!”
“Nah itu yang mau aku tanyakan sama om.” Pandu menyunggingkan senyum jenakanya. “Ajari aku dong, puh, sepuh.”
“Kurang ajar!” Nanang ingin sekali menggetok keningnya ketika tangannya mengepal kuat. Mentang-mentang sudah sepuh beneran lalu di sebut begitu. Nanang jelas mangkel tapi tetep berwajah tenang. Dan Laras tertawa karenanya. “Puh, sepuh.” imbuhnya tanpa keberatan.
“Ras!” sahut Nanang jengkel. Laras semakin tergelak lalu pergi sebelum amarah Dewi Laya Bajramaya menyerangnya.
Nanang menatap sekeliling. “Bubarkan para dayang dan prajuritmu dulu, Wi!”
“Jangan panggil aku, Wi!” sergah bidadari itu dengan intonasi tinggi.
“Terus mau di panggil apa?” timpal Pandu.
Pandu tergelak. Permintaan bidadari itu tidak ingin dia pilih dia justru geli jika harus memanggilnya seperti itu.
“Aku akan memanggilmu dengan nama lengkapmu atau adik.” pungkas Pandu dan Nanang tidak lagi bisa menahan tawanya.
“Kamu yakin ingin mengambil risiko, Ndu?” Nanang meyakinkan.
“Aku lebih suka menjadi anak bawang sebenarnya dan terus seperti itu tanpa tanggung jawab yang besar. Cuma gimana yo om, aku sering ngomong kalo aku ingin melepas keistimewaan ini biar hidup biasa-biasa saja.”
“Apa itu tandanya kamu sudah tidak ingin bertemu denganku dan Laras, Ndu?” sahut Genta. Suaranya berat seakan ada sesuatu rasa yang dia alami.
“Dari dulu aku sudah berniat membantu kalian pulang ke Rahmatullah. Kalian tidak mau, kalian nunggu aku besar. Aku sudah besar. Tapi kan kita akan pulang bareng-bareng dan kalian masih tinggal di rumah walaupun aku tidak bisa lihat.” ungkap Pandu dengan jujur. “Aku janji tidak berubah.
Masih ada om Nanang yang bisa kalian temui dan jadi perantara kita.”
__ADS_1
Sorot mata Genta pindah ke Dewi Laya Bajramaya. “Perempuan slalu pandai membuat semuanya berubah!”
“Maafkan aku, Genta.” Dewi Laya Bajramaya mengatupkan kedua tangannya. “Namun Laras ingin tinggal di sini, ia sudah meminta izin padaku dan aku setuju!”
Pandu langsung memanyunkan bibirnya, alih-alih meneruskan risiko yang hendak ia tanggung, Pandu mencari Laras.
Laras yang bermain selayaknya entitas kecil di kahyangan, berbalik arah sambil tertawa-tawa setelah mengejar kupu-kupu.
“Nyai Dasima bakal kangen sama, Ndu. Kasian. Nyai Dasima kehilangan anak asuh.”
“Bocah gendeng!” maki Pandu seraya menggendongnya. “Kamu aku antar pulang saja, nggak usah di sini.” bujuknya dengan mimik wajah perpisahan yang mengharukan.
“Tempatmu bukan di sini. Kamu tidak kenal siapa-siapa.”
“Aku sama Ki Pawiro, Ndu. Ki Pawiro akan menetap di sini sebagai hukumannya telah membelot darimu.” Laras nyengir setelah mata Pandu memutar.
“Aku tidak dendam dengan Ki Pawiro, aku juga mau ajak dia pulang!” tandas Pandu.
“Lho memangnya istrimu tidak ngomong jika harus ada yang tinggal untuk menggantikannya? Aku senang di sini, Ndu. Jangan nangis, ah cengeng.” Laras mencubit pipinya. Mimik wajahnya berubah lebih dewasa dari usianya.
“Usiaku jauh lebih tua darimu, jangan anggap aku anak kecil terus yoh? Aku sudah sepuh.”
Pandu menurunkan Laras seraya menggandengnya agar mengikutinya berdiskusi.
Pandu kembali duduk di samping Dewi Laya Bajramaya dan ia memangku Laras. Tak peduli bidadarinya menatapnya dengan tajam dan ingin sekali menggantikan posisi Laras karena ia menarik-narik baju Laras.
“Aku kapan bisa begitu?”
Laras menjulurkan lidahnya dengan mata terpejam. Laras betul-betul mengejek bidadari yang kasian sekali itu, yang berharap Pandu memujanya setengah mati.
”Besok kalo Pandu sudah niat!” seru Laras lalu cekikikan ketika Pandu memegangi pipinya dan mengalihkan perhatian dari sang bidadari.
Dewi Laya Bajramaya mendengus meski begitu ia menyentuh punggung bawah Pandu. “Aku sudah membicarakan semua kejujuranku pada Pandu. Om menjadi saksinya sepakat kami, dan yang bisa kami lakukan adalah pulang bersama ke bumi sebagai sepasang suami istri dan manusia biasa. Kita bisa melakukan ritual pengalihan cakra di malam Selasa Kliwon, seperti kemarin. Tapi tepat di saat itu semua portal dimensi terbuka, kita akan menghadapi situasi yang lebih besar. Perebutan Pandu Mahendra Adiguna Pangarep dengan entitas lain!”
__ADS_1
...***...