NGUNDUH MANTU

NGUNDUH MANTU
Danau teratai


__ADS_3

Tak ada jawaban. Wajah-wajah tampak tegang, lebih tegang daripada saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di dimensi itu.


Tak ada yang menyahut, semua bingung dan tegang. Dalam penjelasan Dewi Laya Bajramaya itu berarti akan ada perang sesama entitas tak kasat mata untuk merebutkan seorang Pandu.


Pandu takjub, nyaris tidak percaya ekspresinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya peperangan itu. Siapkah dia melihat bagaimana wujud-wujud yang lebih seram dari demit-demit yang dia jumpai di bumi?


Pandu merinding seketika, jakunnya bergerak menelan ludah. Dia tidak mungkin menyatu dengan Dewi Laya Bajramaya di tempat itu, ia sudah berjanji pada ibunya untuk menemani masa tuanya karena kakak-kakaknya akan membangun rumah tangga di luar rumah utama. Toh sebagai bungsu, ia slalu ditempatkan pada posisi nrimo dan ia menyukainya.


Dewi Laya Bajramaya mengelus keseluruhan tulang belakang Pandu. “Masih ada waktu beberapa hari. Mari itu denganku Pandu.”


“Ke mana?” Pandu mengangkat tubuh Laras, membiarkan hacil itu pindah ke Nanang dan mereka raib bersama seorang prajurit yang membawa kuda-kuda pacuan untuk menyisir lokasi-lokasi portal dimensi.


Dewi Laya Bajramaya mengulurkan kaus Pandu yang diberikan dayangnya.


“Ke mana saja, aku yakin kamu merasa bingung. Ayo kita berdua saja.”


Pandu tahu dia tidak akan bisa menolak keinginannya, selain maksa, mimik Dewi Laya Bajramaya juga sedih dan lelah.


Pandu mengenakan kausnya seraya berdiri. Dia membantu bidadari itu berdiri dari duduk bersimpuhnya lalu membersihkan tanah kering yang menempel di kainnya.


Dewi Laya Bajramaya menundukkan kepalanya dengan senyum malu.


“Kenapa kamu seperti itu sekarang?”


“Aku kasian kamu di buang Dewata. Itu tidak adil walaupun dulu kamu menggoda ayahku, aku masih tidak terima hal itu!” Pandu menyunggingkan senyum kikuk. “Aku tidak berminat memperpanjang masalah ini. Pulang sama aku oke, mau jadi istriku boleh, tapi di bumi kamu sepenuhnya menurutiku. Kamu pikir baik-baik hal itu karena nantinya kamu sudah bukan siapa-siapa lagi toh, kamu manusia biasa, wanita yang tidak mudah dimengerti dan sendiri.”


Dewi Laya Bajramaya mengangguk seraya memanggil prajurit untuk menyiapkan kereta kencana tanpa atap dengan kusir yang mengendalikan kuda. Dewi Laya Bajramaya hanya ingin fokus pada persoalannya.


Pandu melihat jam di pergelangan tangannya, jam itu masih berputar dengan eror seakan ikut terdistorsi energi di sana.


“Sudah berapa hari aku di sini?” tanyanya sambil mengikuti Dewi Laya Bajramaya yang menanggalkan selendangnya, menggantinya dengan yang baru dan wangi. Mahkota emas yang digunakan pun berganti menjadi lebih kecil. Para dayang menyingkir dari sisi Dewi Laya Bajramaya dan membuat Pandu menghalangi jalannya.


“Kamu mau membawaku ke mana to? Kenapa harus begitu?”


Seorang kusir yang bertelanjang dada membungkuk badan seraya membukakan pintu kereta kencana. Dewi Laya Bajramaya memegangi tangan Pandu yang terjulur sebagai pegangannya seraya naik ke sana.


Dalam duduknya yang anggun. Dewi Laya Bajramaya tersenyum kenes.

__ADS_1


“Pacaran saja. Di dekat danau teratai.”


Pandu tergelak dengan intonasi yang tidak tepat sampai Dewi Laya Bajramaya mengira dia meledek ajakannya.


“Ada yang salah?”


“Ya tidak kok, tidak salah, cuma pacaran saja itu kan lucu. Kenalan dulu baik-baik, pdkt, ujug-ujug pacaran. Ngeri aku di ajak pacaran cewek duluan.”


“Masuk dulu, cerewetnya nanti lagi!” pungkas sang Dewi buru-buru.


“Terserah wes pumpung kamu masih di sini, masih bisa ngatur-ngatur. Di rumahku besok kamu yang aku atur. Kapok!”


“Biar saja. Aku tidak takut.” Dewi Laya Bajramaya menggeser posisi duduknya. Dan ketika semua sudah duduk di kursi kayu, kereta kencana bergerak keluar dari istana terakota Dewi Laya Bajramaya.


Para penduduk desa yang sedang melakukan aktivitas di siang hari tanpa temaram cahaya matahari memandangi kedua sejoli itu. Dewi Laya Bajramaya tersenyum kenes, pamer bojo agaknya menjadi tujuannya sebelum terjadi geger geden dan menghilangnya ia ke bumi.


Rakyat Dewi Laya Bajramaya mengangguk-angguk ketika junjungan mereka berdiri sambil memegangi bahu Pandu.


“Tanah ini adalah tanah pemberani. Siapapun yang tinggal di sini harus bersedia menjadi pemberani!”


“Singgih, Ratu.” ( Singgih\=Inggih\=Iya )


“Besok ketika malam selasa kliwon berlangsung akan terjadi pertempuran sengit. Bersembunyilah dalam istanaku!”


“Singgih, Ratu.”


Dalam keahlian yang sudah lama mendarah daging dalam syaraf-syarafnya, Pandu mengatupkan kedua tangannya, memohon doa restu sambil sekali-kali membungkukkan badannya pada penduduk desa.


Dewi Laya Bajramaya kembali duduk. Dia menghela napas lalu membetulkan selendang.


“Aku benci melihatmu begitu sempurna, Pandu.”


“Aku juga benci melihatmu begitu sempurna, Dewi.”


Pandu meringis ketika Dewi Laya Bajramaya meliriknya tajam.


“Kamu bikin aku kesal.”

__ADS_1


“Ngaca dulu dong kamu gimana!” sahut Pandu.


Kereta kencana berhenti di alas sebuah lereng. Kuda-kuda tidak bisa mendaki ke atas. Jalur pendakian ke arah danau teratai terlalu sempit. Dewi Laya Bajramaya pun enggan menggunakan energinya untuk membuat keretanya melayang.


Pandu menuruni kereta seraya mengulurkan tangannya seolah-olah itu hal mutlak yang perlu dia lakukan. Dewi Laya Bajramaya memberi senyuman sambil membungkuk santun ketika tangannya menggenggam tangannya.


“Harusnya kalau cuma mau berduaan bisa di kamar, Wi. Eits, maaf-maaf, Dewi Laya Bajramaya.” Pandu meringis, tangannya tidak dilepas sang Dewi. “Gak harus treking begini, aku capek lho, betul.”


“Ini hanya sebentar, kamu sabar, Pandu.”


Setelah mendengus, Pandu memilih melihat vegetasi hutan yang mengelilinginya, pohon-pohon tua menjulang, dahan-dahannya mengepak lebar serupa sayap burung. Semak-semak tumbuh setinggi dirinya. Burung-burung indah berwarna-warni berterbangan sambil berkaok-kaok. Sekawanan rusa bertanduk berkeliaran dengan santai. Pandu terpesona melihat pemandangan di sana. Matanya tak sudah-sudah memandangi keindahan kahyangan itu.


“Jadi kamu berniat meninggalkan keindahan ini demi duniaku yang tidak sempurna dan banyak polusinya, Dewi? Ini surga, kamu rugi jika meninggalkan ini.”


Dewi Laya Bajramaya mengangguk. Mereka melakukan setengah jam pendakian sambil bergandengan tangan. Pandu sampai merasa tidak keberatan tangannya slalu berada dalam genggaman sang Dewi. Tempat itu begitu mempesona seperti hutan perawan yang tidak tersentuh manusia. Asri dan damai.


Tiba di danau teratai yang mempunyai satu teratai besar berwarna emas yang berkilauan di bagian tengah-tengahnya. Pandu semakin tak berdaya melihat danau yang berkeriap-keriap.


Pandu menggelengkan kepalanya. Sebuah rayuan yang begitu manis dan lembut itu seakan ingin menyadarkannya bahwa Dewi Laya Bajramaya akan mengorbankan dirinya dan seluruh keindahan negeri kahyangan demi pulang bersamanya.


“Ibuku adalah satu-satunya alasanku pingin pulang, Dewi. Restu ibuku nomer satu.”


“Dewata sudah merestui kita.” Dewi Laya Bajramaya melepas tangannya, “Minumlah dan basuhlah wajahmu dengan air suci ini, Pandu. Ini akan memulihkan tubuhmu dan menguatkannya.”


Tak ingin menyia-nyiakan air kehidupan yang tampak segar dan bersih itu. Pandu berjongkok, dia menyatukan kedua telapak tangannya yang terbuka sebelum menenggelamkannya ke dalam air. Hanya perlu beberapa detik setelah niatnya terucapkan, Pandu menyelesaikan permintaan Dewi Laya Bajramaya.


Dewi Laya Bajramaya tersenyum lalu menyuruhnya melewati danau teratai untuk mengambil putik bunga teratai emas yang melakukan perlawanan dengan cara ingin mencaplok tubuhnya.


Pandu menggelitik kelopaknya hingga membuat bunga itu mangap-mangap kegelian sebelum mengendalikan perlawanan.


“Simpan itu baik-baik, Pandu. Gunakan sebagai senjatamu dan obat bagiku jika aku sakit di bumi nanti.” seru Dewi Laya Bajramaya.


Pandu sebisa mungkin mengambilnya sebanyak-banyaknya sebelum kembali ke sisi Dewi Laya Bajramaya dengan melompat-lompat di permukaan air.


Pandu mengatur napasnya yang memburu. “Katanya mau pacaran kok malah perang duluan.”


Dewi Laya Bajramaya hanya menyunggingkan senyum lalu berbalik.

__ADS_1


...***...


__ADS_2