NGUNDUH MANTU

NGUNDUH MANTU
Anak Hutan


__ADS_3

Suara anjing menyalak panjang berulang kali. Tak hanya satu, dua anjing hitam penuh dan putih lusuh melolong bergantian. Anjing-anjing itu asli, bukan jadi-jadian. Anjing itu menetap di gubuk-gubuk pos 4 dan 5 jalur pendakian dan di asuh oleh para peziarah yang menetap di sana. Kadang kala para peziarah itu pun yang menolong para pendaki yang kemalangan seperti yang terjadi sekarang. Pada malam puncak spiritualitas.


Menghilangnya Pandu Mahendra dan Nanang agaknya sudah menyebar bagai angin segar di sana. Tak seperti pendaki hilang lainnya, rupanya Pandu ini spesial. Mbah Mangku terus mewanti-wanti kalau ada tanda-tanda tak biasa segera cari bantuan dan timnya.


Seorang peziarah menghubungi ketua tim SAR dengan HT.


Tim SAR yang sedang menikmati kopi dari tumbler Jalu Aji berkemas segera. Dia memakai headlamp dan tracking pole.


“Kami akan melacak suara itu. Kemungkinan ada apa-apanya. Anjing-anjing di sini biasanya paham situasi. Jika ada yang tidak beres pasti menyalak berulang kali.”


“Bapakku sudah ketemu?” Jalu Aji meraih kupluk dan memakainya.


“Bapakku seharusnya tidak ada hubungan apa-apa sama anjing itu. Pasti mas Pandu yang tidak beres!”


“Heh, ngomong apa kamu?” sahut Rinjani yang mendengar kesibukan yang grusa-grusu di sebelahnya tendanya.


Jalu Aji meringis. “Mas Pandu paling sudah pulang, Budhe. Pak Sar mau lacak suara itu!”


“Kamu gak usah ikut!” Rinjani memeringati sambil mencari senter cadangan di tasnya.


Jalu langsung memasang carabiner-sebuah alat berbentuk loop logam yang digunakan sebagai bagian dari perlengkapan keamanan, khususnya sebagai pengait tali ke lubang sabuk Pak Sar. Ketua tim SAR.


“Aku pasti ikut cari budhe, ini petulangan paling amaying sekali. Pasti seru!” Jalu Aji meringis ketika Pak Sar menggeleng kepalanya.


“Aku harus jemput bapakku, Pak. Aku wes lama banget lho ditinggal beliau. Aku kangen.”


“Bocah!” Rinjani menurunkan resleting tenda seraya keluar. Kabut dan semilir angin malam dengan suhu dingin tidak menyurutkan semangatnya nimbrung bersama tim SAR dan Kyai Arya.


“Yang lain di tenda saja, kalo seandainya Pandu dan Nanang ketemu kita langsung bawa ke basecamp dan rumah sakit. Kami akan meninggalkan sebagai logistik untuk persediaan kalian.” seru Pak Sar.


“Pastikan jangan keluar tenda sampai besok pagi untuk meminimalisir risiko malam ini. Yang pegang HT pastikan slalu on!”


“Siap, Pak!” seru rombongan yang menetap di tenda yang sejak tadi tidak luput mengucapkan banyak doa dan harapan untuk pulangnya keluarga mereka.


Pak Sar pun memperingati mereka agar diam untuk memfokuskan suara anjing itu di mana sebab di gunung suara bisa menyaru dengan suara-suara lainnya seperti contohnya suara musang kawin bisa seperti suara kuntilanak tertawa dan faktor-faktor alam yang mempengaruhi kuat lemahnya bunyi.


Rinjani mengusap telapak tangan, dia berdiri di belakang Jalu Aji yang slalu memberitahunya untuk hati-hati.

__ADS_1


Gemes, hanyalah satu dari perasaannya sekarang. Rinjani memikirkan bagaimana nasib Pandu dan Nanang sekarang, belum lagi Dewi Laya Bajramaya yang sebagian besar justru memenuhi isi kepala.


“Apa mungkin Pandu sudah membuatnya jatuh cinta terus rela melepasnya ke bumi? Terus gimana kalau Dewi itu ikut pulang ke bumi. Kok budhe gelisah, Lu. Kebelet pipis budhe jadinya.”


“Budhe lho. Tahan dulu, malu pipis sembarangan. Pakai pampers toh? Hayo niat ingsun dulu bapakku dan mas Pandu ketemu terus tidak ngompol.


Rinjani mencubit kedua pipi Jalu Aji. “Kamu lho ya...”


Suara anjing yang menyalak berkurang. Pak Sar membunyikan peluit berulang kali. Mbah Mangku mendekatinya lalu membisikkan sesuatu dengan pelan sekali.


“Energinya tidak bisa terdeteksi oleh batin saya, dia sudah melepasnya. Dewi Laya Bajramaya menjadi anak hutan. Jadi anakmu.”


Maktratap... Kembang api meledak di jantung hati Rinjani.


“Anak hutan bagaimana?”


Mbah Mangku melengos, tekanan batinnya berusaha menyambungkan ke sinyal-sinyal dari keistimewaan Nanang yang redup nyala berulangkali.


“PAK... BAPAK! MAS.” teriak Jalu Aji. “Pak, mulih pak. Jalu kangen. Jalu ora ndue sangu.”


“Terus, Lu. Budhe nggak bisa teriak.”


Pandu mengerjapkan mata. Dia tidak punya sisa energi sedikit pun untuk bergerak. Tapi Nanang berada tak jauh darinya.


Pandu menggerakkan tangannya yang lunglai untuk menyentuhnya.


“Om...” ucap Pandu serak. Tidak ada sambutan. Pandu berusaha menyingkirkan Dewi Laya Bajramaya dari punggungnya dengan membalikan badannya sekuat mungkin seraya menyingkirkan tas kerilnya yang sama sekali menyusahkannya sekarang.


Alih-alih membangunkan Nanang, Pandu Mahendra terduduk dengan linglung sambil mencengkeram keningnya yang terasa pening sebelum ia mengais semak-semak, mencari-cari.


“Yanda... Yanda... YANDA!”


Rinjani menghentikan langkahnya. “Itu suara Pandu!”


“MAS... MAS PANDU!” teriak Jalu Aji sekencang mungkin hingga membuat Pandu berbalik di tepi jurang. “MAS!”


“Jalu!” Pandu melangkah tertatih-tatih menuju tubuh Dewi Laya Bajramaya yang tergolek pasrah di lantai hutan.

__ADS_1


”Tidak ada yang boleh mengetahuimu, anak hutan!” Pandu menyeretnya ke semak-semak rimbun. Di saat itu Dewi Laya Bajramaya mengerjapkan mata, matanya yang sebab berkaca-kaca, rasa sakit seakan baru pertama kali dia rasakan.


Pandu yang sedang bernapas memburu mengusap air matanya yang mengalir. “Kamu diam di sini, jangan pergi, jangan keluar. Aku nanti datang lagi, ya.”


“Ya.”


Pandu menyunggingkan senyum lalu menutup semak-semak seraya pura-pura tertidur di samping Nanang.


“Periksa seluruh survivor.” seru Pak Sar.


Rinjani dan Jalu Aji langsung mendekati mereka. Mereka menepuk-nepuk pipi keduanya sambil memanggil-manggil mereka. Namun tim SAR yang baru menurunkan botol oksigen dan alumunium blanket dari perbekalan mereka langsung mengambil alih.


Satu orang melakukan CPR pada Nanang dengan sekali dua kali menyemprot oksigen di hidungnya, mengusapkan minyak dan mencopot sepatu gunungnya penuh cela.


Kyai Arya meraih sebotol air putih, mendoakannya. Mbah Mangku mengedarkan pandangannya, mencari anak hutan.


Rinjani mengalihkan perhatiannya pada Nanang. Dia pindah ke sana di saat Jalu Aji menangis histeris melihat bapaknya tidak karuan.


“Cukup mas Kaysan yang meninggalkan aku, Nang. Kamu jangan nyusul secepatnya ini.”


Kelopak mata Rinjani menghangat ketika memandangi betapa pucat dan dingin wajahnya. “Jangan tinggal di sini, tinggallah di rumah. Bangun!” Rinjani mengguncang jaketnya.


“BANGUN!” teriak Rinjani histeris.


“Aku tidak mati! Aku cuma pingsan.” ucap Nanang lemah.


“Bapak!” Jalu Aji memeluknya lalu menyingkir.


Pakaian Nanang langsung dilucuti untuk diganti yang lebih baik begitu pun Pandu yang tak keberatan ibunya meneror Nanang ketimbang dirinya.


Mereka dibungkus dengan aluminium blanket untuk menghalau dingin dan di angkat ke tandu lipat.


Tinggallah Rinjani, Jalu Aji, Mbah Mangku dan Kyai Arya di sana karena seluruh tim SAR langsung berbondong-bondong ke basecamp.


“Harusnya anak hutan itu menjadi manusia dan bersama Pandu. Ke mana dia?” Mbah Mangku mengedarkan pandangannya.


Rinjani mencoba mencarinya menggunakan senter di kepalanya. Perbekalan dari kahyangan tidak ada. Tidak lolos dari sortir antar dimensi, Dewi Laya Bajramaya hanya membawa dirinya dan apa yang dikenakannya.

__ADS_1


Rinjani berwajah serius. Lebih berani dari biasanya. “Dia akan menjadi urusanku. Anak hutan itu akan menjadi rahasia!”


...***...


__ADS_2