
Berlari sekencang mungkin di bawah kegelapan agaknya menjadi agenda paling susah di lakukan oleh Pandu dan Dewi Laya Bajramaya setelah tubuh mereka terkulai di atas dedaunan dengan kondisi kebatinan dan lahiriah yang telah berubah.
Tak lagi tampak keistimewaan Dewi Laya Bajramaya yang slalu bersinar dan anggun. Seonggok manusia baru itu tampak linglung dan polos, wajahnya memandangi kegelapan hutan sambil menerka-nerka.
Pandu menepuk-nepuk pipinya. “Ke mana kita harus melangkah, Wi?”
Dewi Laya Bajramaya menoleh kepadanya, “Wi?” tanyanya pelan, suaranya masih lembut dan datar.
“Namamu Dewi Laya Bajramaya.” seru Nanang pengertian seakan langsung mengerti efek samping dari perpindahan cakra itu. ”Kamu anakku, dia Pandu Mahendra Adiguna Pangarep, suami kamu, kita sedang tersesat di hutan!”
Dewi Laya Bajramaya menyentuh dadanya. ”Aku Dewi Laya Bajramaya? Dia calon suamiku?” tanyanya sambil menunjuk Pandu.
“Calon suamiku?” keningnya berkerut.
“Iya, dia seseorang yang akan slalu bersamamu, laki-laki yang akan mengajakmu jalan-jalan dan mengembara rasa!”
Dewi Laya Bajramaya tampak berpikir keras.
”Sekarang kamu bangun saja, bisa berdiri?”
Dewi Laya Bajramaya melihat cara Nanang beranjak dari posisi yang sama sepertinya, duduk di tanah. Kemudian ia menirunya dengan hati-hati. Pandu yang melihat setiap gerak-geriknya langsung menangkap apa yang terjadi.
Dewi Laya Bajramaya cupu! Tidak mengerti apa-apa. Ampun!
Pandu mengamati sekeliling, hanya ada kegelapan hutan, suara hewan malam, dan hembusan angin. Perbekalan yang dibawa si Dewi pun berserakan di lantai hutan.
Pandu menggendong tas kerilnya. Lalu memberikan beberapa perbekalan pribadi Dewi Laya Bajramaya yang terbungkus kain emas.
“Kamu bawa ini, ini milikmu.” ucap Pandu.
“Iya, suamiku.”
Sejenak Pandu memandangi wajahnya, tubuhnya. Kecantikan Dewi Laya Bajramaya tidak pudar, hanya saja tidak ada gairah di sana. Tidak ada perasaan yang menggebu-gebu seperti kemarin, Dewi Laya Bajramaya seperti asing padanya.
Apa gak ada sisa-sisa kenangan aku di pikirannya? Terus ini ceritanya gimana? Aku gitu yang harus mencintainya dulu?
Nanang mengambil beberapa perbekalan yang sanggup dia bawa. Lainnya terpaksa harus di tinggal karena beban menuruni gunung terasa lebih ringan tapi mematikan. Tarikan gravitasi bumi dan tidak seimbangnya antara tubuh dan pikiran menjadi bahan pertimbangan keselamatan.
”Kita masih ada di dimensi lain, Ndu. Tapi sudah minim penyerangan. Beberapa masih mengintai! Aku yakin mereka juga bimbang sekarang.”
“Terus ini kita pilih jalan mana? Aku gak paham. Gimana kalo kita sampai tersesat, om?” Pandu mengamati sekeliling, lagi-lagi kegelapan meneranginya.
__ADS_1
“Apa tidak ada petunjuk sama sekali ini. Dewi tadi bilang kita melakukan ritual di dekat pintu gerbang yang di jaga dwarapala, tapi mana petunjuknya.”
“Sudah mending kita baca-baca doa dulu, aku yakin Mbah Mangku sudah tahu malam-malam seperti ini akan jadi malam penting baginya buat cari kita.” saran Nanang. Tapi memang sih, minimnya pencahayaan di sana membuatnya kembali bergeming.
“Wi, kamu tahu jalan keluar ke gerbang dwarapala?”
Dewi Laya Bajramaya menolehkan kepalanya ke sana kemarin, entah apa yang dipikirkannya, dia menunjukkan arah tenggara.
Pandu dan Nanang sejatinya tidak punya pilihan lain untuk membantah Dewi Laya Bajramaya. Paling-paling radar energi yang menyebar di dimensi itu yang memandunya. Sebisa mungkin mereka berpikir positif. Jalan pulang sudah di depan mata.
Mereka mulai melangkah dengan hati-hati, melewati jalur setapak bebatuan yang di dominasi tanah keras.
“Berarti kalo nunggu durasi selasa kliwon ke selasa kliwon itu lama toh, Om?” tanya Pandu di tengah pendakian.
“Sebulan lebih.” Nanang menoleh ketika ada dua cahaya yang memantulkan seperti mata kucing mendekat ke arahnya.
“LARI!”
Pandu spontan menarik tangan Dewi Laya Bajramaya bersamaan dengan suara raungan macan jadi-jadian yang hendak menerkam mereka dari arah semak-semak.
Pontang-panting mereka melangkah menapaki turunan sementara macan jadi-jadian itu melompati dengan sigap dari sisi kanan-kiri.
Perbekalan pun jatuh berjejeran di lantai hutan. Dewi Laya Bajramaya hendak meraihnya namun Pandu gegas menarik tangannya.
Nanang sebisa mungkin meraihnya, persetan dengan punggung yang mulai pegal dan kaki yang tergores batu kasar, persetan dengan setan-setan di sana, persetan dengan sebutan kuli panggul karena dia terlihat seperti itu.
Dewi Laya Bajramaya menepuk-nepuk punggungnya dan menunjukkan barang-barang seakan memberitahu Pandu.
“Nanti aku belikan yang baru. Sudah ayo percepat langkah kakimu!” bujuk Pandu yang tergelincir kemudian hingga membuat mereka jatuh bersama dan berguling menuruni turunan bebatuan.
Dewi Laya Bajramaya menjerit kesakitan sampai Pandu melupakan macan dan rasa sakitnya sendiri.
Apa dia akan serapuh ini, Gusti?
Dewi Laya Bajramaya menangis setelah melihat darah di permukaan kulitnya.
”Kamu lho jangan nangis dulu, jangan nangis. Ini gak papa nanti sembuh.” bujuk Pandu.
Dewi Laya Bajramaya menjerit keras sewaktu Pandu mengusap lukanya.
“Malah bengok-bengok.” keluh Pandu.
__ADS_1
Sementara Nanang yang menghadapi macan jadi-jadian tanpa adanya senjata apapun mundur selangkah demi selangkah.
“Laa haula wa laa quwwata illa billah!”
DUAR!!!
Letupan keras mengagetkan seluruh entitas di sana. Macan jadi-jadian itu kabur tunggang langgang melompati semak-semak menuju hutan perawan. ( Hutan perawan : hutan asli yang belum disentuh oleh manusia )
Sekonyong-konyong Nanang kemudian melihat keponakannya. “Kalian tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa? Tidak apa-apa. Lihat lho mewek, sakit katanya.”
“Kamu gendong!” pungkas Nanang. “Tas kerilnya gendong depan, Dewi belakang!”
“Apa aku kuat?” keluh Pandu.
“Di coba dulu makannya! Buruan, Ndu. Waktunya sudah mau habis.”
Pandu berusaha berlutut, badannya terasa ampun-ampunan sakitnya. Dia memindahkan tasnya, lalu menyuruh Dewi Laya Bajramaya naik ke punggungnya dengan bahasa tubuh.
Setelah gadis belia itu melekat di sana, Pandu berusaha beranjak.
“Oke. Aku kuat. Tapi besok paling-paling aku butuh doping.extrajosss biar tambah roso!”
Nanang menepuk lengannya dengan senyum bangga.
“Jangan surut doanya, doa terus. Bentar lagi kita sampai.”
“Iya...” Lutut Pandu masih bergetar ketika menuruni turunan bebatuan.
Dalam remang cahaya yang menerangi sebuah pintu nun jauh dari pandangan mata, samar-samar aroma cendana dan bunga sedap malam mengusik perjalanan Pandu dan Nanang.
Pandu otomotis berhenti, hidungnya menghidu semakin cepat dan dalam.
“Yanda!”
“Yanda!”
“Ndu...”
Nanang pun berlari ke arah yang dihampiri Pandu dengan kecepatan di luar bumi dan mengabaikan apapun yang mereka lewati sebelum remangnya cahaya yang menerangi gerbang antar dimensi menghilang setelah mereka berhasil keluar dengan keadaan kelelahan luar biasa.
__ADS_1
Pandu tersungkur di atas bebatuan bersama Dewi Laya Bajramaya. Sementara Nanang jatuh pingsan.
...***...