
di salah satu pesantren yang ditinggali lebih dari sekitar dua ribu santriwan dan santriwati terdapat juga ning yang cantik,anggun dan juga tangguh, mutiara aziza azalia banyak santri putra yang mengatakan ning aziza sangat cantik tapi hanya katanya, karna yang sebenarnya yang terjadi santri putra tersebut tidak pernah melihat seperti apa wajah ning nya. ya...wajah mutiara aziza azalia selalu tertutup oleh cadar, jadi para santri putra tidak ada yg tau bagaimana rupa seorang ning aziza.
tepat di belakang pondok yang berdiri kokoh terdapat bangunan yang di sebut(ndalem) oleh para santri. bangunan dua lantai sederhana dengan halaman luas yang di tumbuhi banyak pohon dan beraneka ragam bunga, pagar yang tinggi menjulang menandakan tidak akan ada yang bisa memanjat nya, tapi konon kata nya ada yang mencoba untuk memanjat nya hanya untuk melihat dunia luar. tidak mungkin putri kiyai yang memanjatnya bukan?
gadis berhijab sempurna yang melempar senyum manis dan binar mata yang teduh. rasanya tidak mungkin pernah melakukan hal sekonyol memanjat pagar besi.
aziza segera menutup laptopnya ketika mendengar suara pintu diketuk,dia segera berdiri kemudian berjalan mendekati pintu untuk membuka nya.
"kakak, ada kak zahra di depan," ucap maryam adik nya.
aziza mengangguk pelan.
"sebentar, kakak ambil niqab kakak dulu," ucap aziza sambil berjalan mendekati mejanya, diikuti oleh sang adik di belakang nya.
aziza mengambil cadar lalu segera makai nya.
"kakak," ucap maryam yang berdiri dibelakang aziza.
"Hmm..." jawab aziza yang sedang merapikan cadar yang baru di pakai nya.
"kakak akan pergi?" tanya maryam dengan serius.
aziza mengerutkan kening nya. karna tak biasa nya adik nya itu kepo dengan urusannya.
"iya... memang nya kenapa dek?" ucap aziza berbalik menghadap adik nya.
maryam tersenyum dan menampilkan muka memelas nya.
"maryam ikut ya kak, please...," sambil berkedip lucu dan menyatukan tangan nya memohon.
"ya ya ya....?" mohon nya sekali lagi.
aziza menggeleng pelan.
__ADS_1
"bulan lalu kan sudah dek. lagian sekarang bukan hari libur, sebentar lagi ujian." ucap aziza memberi pengertian.
"lain kali ya..." sambung nya lagi agar adik nya tak kecewa.
maryam mengangguk kecil.
"hmmm... tapi janji ya lain kali?" ucap maryam mengacungkan jari kelingking nya untuk membuat janji, dan aziza mengangguk sambil menyatukan kelingking nya dengan sang adik.
"ya sudah kakak temui kak zahra dulu," pamit nya pada sang adik.
maryam mengangguk.
"aku juga akan ke pondok, assalamualaikum"
"wa alaikum salam" belum sempat maryam melangkahkan kaki nya, aziza sudah memanggil nya lagi.
maryam menoleh "iya?"
"tolong katakan pada ustadzah nabila, kakak tunggu sehabis dzuhur di kantor pengurus" maryam hanya mengangguk dan mengangkat jempol.
"wa alaikum salam" zahra berjalan untuk membuka pintu.
"apa kiyai ada di tempat?" tanya sang tamu, yang seperti nya satu keluarga. zahra yang tau bahwa sang kiyai di jam-jam sekarang sedang mengisi kajian, menjawab tidak ada dan menjelaskan keberadaan sang kiyai.
sang tamu mengangguk mengerti.
"baiklah... kami akan menunggu" ucap sang tamu. belum sempat zahra mengucapkan sesuatu aziza datang dari arah belakang.
"assalamualaikum...." melihat tamu yang seperti nya aziza kenal tapi tak kunjung mengingat nya, ia mendekat dan mencium punggung tangan tamu perempuan paruh baya tapi masih terlihat sangat cantik. tapi setelah mengamatinya aziza ingat.
"ibu fatima?" seru nya sambil cipika cipiki.
"mari masuk" ajak nya, mempersilahkan tamu nya untuk duduk. aziza memberi isyarat pada zahra untuk membuatkan minuman.
__ADS_1
"maaf ibu, abah sedang mengisi kajian apakah ada hal yang mendesak?" tanya aziza, takut-takut tamu nya ada hal penting dan mendesak.
ibu fatimah tersenyum dan menggeleng, menggenggam tangan aziza.
"tidak ada yang mendesak ning aziza..." belum sempat meneruskan kata-katanya aziza menyela.
"ah.. aziza saja buk" ibu fatimah mengangguk dan memberi tahu akan kedatangan nya yang hanya bersilaturahmi.
aziza mengangguk dan zahra datang membawa teh dan kue kering dari arah dapur. setelah menghidangkan nya zahra kembali ke dapur.
"abah mungkin sebentar lagi datang, silahkan di minum teh nya ibu, bapak." ucap aziza mempersilahkan.
ibu fatimah mengangguk, meminum teh nya sambil memperhatikan aziza yang ada di depan nya. di lihat dari mata nya saja ibu fatimah sudah bisa melihat kecantikan aziza. wanita dua puluh lima tahun itu berprofesi sebagai dosen, pendakwah, ibu fatima sangat mengagumi nya. akhlak nya mulia, anggun , berpendidikan, tegas dalam menyampaikan dakwah nya. tak lama kiyai datang, setelah mengucap salam dan berjabat tangan dengan bapak gunawan suami ibu fatimah, kiyai fahmi mempersilahkan tamu nya untuk duduk.
"berhubung abah sudah kembali, azizah izin ke pondok abah ada rapat setelah dzuhur" pamit aziza. kiyai fahmi mengangguk dan tersenyum. setelah pamit, bersalaman dengan ibu fatimah aziza undur diri dan tak lupa pergi ke dapur memanggil zahra.
...****************...
disaat berjalan menuju pondok putri zahra menggoda aziza.
" roman-roman nya ada yang akan di lamar!?" zahra tertawa kecil.
aziza hanya menggeleng.
"ayolah ning ziza... berapa pria lagi yang akan kamu tolak?" zahra yang mengetahui ning sekaligus sahabat nya itu sudah beberapa kali menolak lamaran seseorang merasa gemas, karna yang selalu datang untuk melamar sahabat nya bukan pria kaleng-kaleng. ada anak kiyai, sampai anak pejabat tapi aziza selalu menolak.
"kamu sendiri kan tau ra. aku belum siap ninggalin abah, ninggalin maryam" jawab nya berkaca-kaca. ya.. semenjak umma nya meninggal beberapa tahun yang lalu, aziza yang mengurus pondok putri. zahra mengusap punggung aziza.
"maaf" ucap nya menyesal. aziza menggeleng dan menahan genangan dimatanya agar tak tumpah.
"tak masalah, ayo cepat sebentar lagi dzuhur dan kita ada rapat dengan ibu-ibu pengajian."ucap nya dan zahra tersenyum.
" *jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
komen dan jangan lupa like
terima kasih*"