
sedangkan aziza yang berada di apartemen kebingungan, dari kemarin dia tidak berganti pakaian, dia sudah sangat tidak nyaman dengan pakaian nya.
"apa aku keluar saja beli baju?" setelah lama berfikir. tidak.. tidak ini tidak benar, aku belum minta izin. aziza memutuskan untuk menunggu abri.
"tapi kapan dia pulang ini sudah sangat sore. aku udah gak tahan sama bau baju ku, bau bawang." aziza sudah memasak untuk makan malam, sudah mandi tentunya, tapi gak akan nyaman kalau belum ganti baju.
tak lama pintu terbuka.
aziza menghampiri abri, melihat nya membuka sepatu tapi tidak mengatakan sesuatu, hanya melihat.
abri yang melihat bertanya-tanya apakah dia menyambut ku? tapi kita tak sedekat itu bukan?.
"apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" aziza mengangguk, mengambil tas yang di pegang abri, dan abri memberikan nya dengan ragu-ragu.
"saya sudah memasak untuk makan malam, tapi apakah saya bisa keluar untuk membeli baju, saya sudah memakai nya dari kemaren" aziza menunjuk baju nya.
abri mengangguk.
"boleh. akan saya mengantar, tapi saya mandi dulu" abri berlalu menuju kamar nya dan aziza menuju kamar nya sendiri. mereka tidur terpisah, abri berpikir aziza tidak akan nyaman sekamar dengan nya jadi memberinya kamar yang lain.
aziza sudah menunggu diruang tamu.
"ayo saya sudah siap" ajak abri.
"apa tak sebaik nya makan terlebih dahulu. saya tadi sudah masak, pasti tidak akan enak jika di makan nanti"
abri menganggu menyetujuinya.
menuju meja makan. abri mengambil piring akan mengisi nya.
"biar saya ambilkan".
__ADS_1
" saya tidak tau apa anda suka atau tidak dengan lauk yang saya masak. saya hanya menemukan ikan di dalam kulkas." aziza memberikan piring nya setelah menyendokkan nasi dan lauk nya. aziza juga mengambil untuknya sendiri .
"terima kasih. saya bukan orang yang pemilih"
"syukurlah,. semoga anda menyukai nya"
abri tak menjawab dan langsung memakan makanan nya setelah membaca do,a.
"bisakah kita tidak terlalu formal". aziza yang sedang melamun pun jadi tidak fokus mendengar ucapan abri.
" ah... ya?apa?"
"bisakah kita lebih santai, tidak terlalu formal, dengan menyebut saya-anda?". ulang abri di sela kunyahan nya.
" oh... baiklah" lama mereka terdiam.
"kita bisa memulainya dengan berteman" ucap abri "perkenalkan aku abrisam" sambil mengangkat tangan nya mengajak aziza berkenalan.
aziza melihat tangan abri yang menggantung di depan nya, ini tidak dosa, dia suami ku pikir aziza. aziza tersenyum meski hanya matanya yang terlihat .
"nama yang bagus." abri sudah selesai, meneguk air dan meneruskan kata-kata nya " apa kamu bekerja?
"em... iya. aku seorang pengajar"
"apakah kamu akan terus bekerja?".
aziza berfikir.
" apakah boleh aku tetap bekerja?".
"tentu saja. tapi jika kau ingin berhenti juga gak masalah, aku adalah suami mu dan aku yang akan menafkahi mu"
__ADS_1
aziza mengangguk.
"aku akan bosan jika harus berdiam diri"
"baiklah.. ayo berangkat, saya sudah selesai"
...****************...
sampai di sebuah butik, aziza berkeliling mencari baju syar'i. abri mengikuti nya dari belakang.
"ini bagus, tapi ini juga cantik, aku jadi bingung" aziza berbalik berniat mencari cermin untuk mengetahui yang mana yang lebih bagus, dia tak sadar abri ada di belakang nya. dan...
bugg..
memutar dengan tiba-tiba dan menabrak abri. tinggi mereka yang hampir sama, membuat mereka hampir berciuman, aziza mundur dengan cepat dan hampir terjungkal kalau saja abri tak menangkap pinggang nya.
"hati-hati saat berjalan, kamu akan terjatuh jika buru- buru" aziza syok karna tak terbiasa di sentuh pria.
"terima kasih, aku akan membawanya ke kasir". aziza memungut dua baju yang berserakan di lantai, menggantung salah satu nya kembali.
" mbak, tolong ini di bungkus" ucap aziza pada kasir.
"sekalian sama yang ini juga" ucap abri memberikan baju yang tadi di gantung kembali oleh aziza.
aziza menoleh.
"tidak usah, aku hanya membutuhkan satu baju saja". tapi abri tetap memberikan nya pada kasir.
" dibungkus sekalian"
"totalnya jadi satu juta dua ratus" ucap sang kasir.
__ADS_1
aziza mengeluarkan kartu kredit nya.
"biar aku saja yang membayar nya"