Ning Pencuri Hati

Ning Pencuri Hati
kecelakaan


__ADS_3

setelah aziza menempelkan kartu nya terdengar suara,Tit..", menandakan pintu sudah bisa di buka.


mengucap hamdalah dan tak lupa mengucap salam.


aziza memijat kepala nya yang terasa begitu pusing. dia mengambil obat dan meminum nya, aziza akan beristirahat sebentar dan akan membersihkan diri.


...****************...


di lain tepat seorang pria sedang berendam di air dingin meski di malam hari, dia tidak kuat degan badan nya yang terasa panas, bukan karna sakit tapi karna pengaruh obat perangsang. tak henti-henti nya sejak tadi pria yang berada di dalam bath up itu mengumpat orang yang memberi nya obat perangsang.


sialan, siapa yang sudah berani mencampur obat sialan itu" umpat nya dalam hati. dia mengambil hp yang berada di nakas samping nya, dan menelfon seseorang.


"hello... gue udah berendam, terus apalagi? kenapa rasanya masih panas sialan?" dia terus mengumpat tapi orang di sebrang malah tertawa.


"haha... elo sih udah gue kasih saran yang ampuh malah milih jalan susah" ucap orang di telfon masih terus tertawa.


"jangan banyak bacot cepet gue harus apa sekaran" ucap nya kesal.


"oke oke, woles jangan pakek otot" ucap nya sambil menahan tawa.


sialan... gumam nya dalam hati.


"oke. sekarang minum banyak air dingin , minum obat pereda nyeri, istirahat dan matikan lampu agar tidak mengganggu mata" belum melanjutkan ucapan nya sambungan sudah di matikan sepihak. setelah beberapa saat panas nya mulai hilang, pria tersebut bangkit dan dan keluar dari kamar mandi dan segera mengambil air dingin dan meminum obat pereda nyeri sesuai instruksi sahabat laknat nya. mematikan lampu dan berjalan kearah kasur untuk beristirahat.


"heh... siapa kamu?" tanyanya yang kaget ada seorang wanita di kasur nya. sang wanita mengerjap pelan dan setelah kesadaran nya terkumpul dia melotot sempurna karna mendapati pria di kamar nya dan hanya memakai handuk. segera bangkit dan...

__ADS_1


"awwww.." ringis nya karna kepala nya terasa sangat sakit.


"bagaimana kamu bisa masuk kedalam kamar ku?" tanya sang pria. aziza bangkit sambil memegangi kepalanya, ya wanita tersebut tak lain adalah aziza.


"maaf tuan tapi ini adalah kamar saya dan saya punya Id nya, seharusnya nya saya yang bertanya apa yang sedang tuan lakukan di kamar ku?" aziza melirik dari ikor matanya dan melanjutkan kata-kata nya "sebaik nya tuan memakai pakaian anda" tidak sopan desis aziza yang masih bisa di dengar pria tersebut, tapi sang pria tidak menanggapi dan berlalu ke kamar mandi untuk memakai pakaian nya. setelah pria tersebut berlalu, aziza segera mengambil tas nya mencari hp untuk menelfon zahra. setelah di temukan, aziza segera menghubungi zahra belum sempat terhubung hp nya mati.


"astagfirullah, ya allah tolong hamba mu " do'a nya. kamar mandi terbuka menampilkan pria itu, aziza yang terkejut menjatuhkan hp nya karna tangan nya gemetar. sang pria melangkah menghampiri aziza.


"stop... berhenti di sana tuan, saya akan keluar kalau ini memang kamar anda" ucap aziza sambil menunduk memungut hp nya, mengambil tas dan menuju pintu keluar. belum sempat membuka nya terdengar suara keributan dari arah luar. aziza mengintip dari lubang pintu dan benar saja banyak orang yang membawa kamera di luar.


aziza syok dan menutup mulut nya sambil terus beristigfar dan meminta pertolongan pada sang maha kuasa.


"abah... tolong ziza abah" lirih nya mengingat sang abah. dia menyeka air mata nya, sekarang bukan saat nya bersedih dan meratapi nasib dia harus bertindak. aziza berbalik mengubek-ubek tas nya dan mengambil charger untuk mengisi daya hp nya. pria tadi yang kebingung dengan sikap ziza berjalan ke arah pintu dan betapa terkejut nya dia dengan apa yang dia lihat.


"bagaimana caranya aku keluar dari sini kalau banyak wartawan di luar, ya allah tunjuk kan jalan. kenapa zahra tak kunjung mengangkat telfon nya. ya allah.. ya allah .. tolong hamba ya allah" gumam nya sendiri. aziza sudah bertekat dia bangkit dan berjalan menuju pintu. dia akan keluar dan akan menerobos kerumunan dia tidak mau terjebak bersama pria asing dan tak menutup kemungkinan ia akan mendapat masalah. dengan mengucap basmalah aziza meraih gagang pintu dan siap untuk membuka nya. tapi tak jadi karna tarikan dari arah belakang, aziza terhunyung dan berakhir membentur dada bidang sang penarik.


"astagfirullah.. lepaskan saya tuan, jangan sembarang menyentuh yang bukan mahram anda" aziza menatap tajam. beruntung dia tak membuka cadar nya, karna sakit yang teramat di kepalanya, aziza langsung berbaring tampa membuka cadar nya terlebih dahulu tadi.


sang pria langsung melepaskan lengan aziza dan meminta maaf.


"mengapa anda menghalangi saya untuk membuka pintu? saya akan keluar, tidak baik berada di satu ruangan, apalagi kita hanya berdua" tekan aziza.


sang pria hanya menatap datar.


"apa kamu gila?" tanya nya setelah berdiam. dan aziza tak mengerti, apakah dia seperti orang gila dengan pakaian nya yang tertutup? tidak mungkin kan? tapi mengapa pria di depan nya ini bertanya apakah dia gila?. melihat aziza yang bengong pria tersebut berbica kembali.

__ADS_1


"kamu gila, di luar banyak wartawan dan kamu mau keluar begitu saja? jangan bodoh, aku tidak mau skandal ini mempengaruhi harga saham perusahaan ku" ucap sang pria.


aziza juga bingung bagaimana kalau ada yang mengenalinya dan membuat citra abah nya jadi buruk. dia merunduk tak terasa air mata nya menetes tapi segera ia seka dia tidak boleh lemah.


umma" bisik nya dalam hati.


sedangkan sang pria mondar mandir memikirkan cara bagaimana mereka bisa lolos. melihat jendela, tidak mungkin kan ia harus melompat dari jendela? hei.. ini lantai lima kawan, dia belum mau mati.


dalam kebingungan ponsel azizah berdering, aziza segera mengangkat nya.


"assalamualaikum nduk... belum tidur?" aziza mematung mendengar suara abah nya bergumam menjawab salam abah nya.


"abah tak bisa tidur. sejak tadi abah gelisah, selesai sholat malam abah jadi ingat kamu. nduk apa perjalanan nya lancar?" tanya sang abah.


" kamu baik-baik saja kan nduk?" pertanyaan sang abah memecah lamunan nya. dia bingung ingin mengatakan tapi takut ayah nya bersedih tapi dia tidak tau harus bagaimana, aziza menggigit bibir nya ragu untuk bersuara. tak kunjung mendapat respon dari putri nya, kiyai bicara kembali.


"apakah sekarang putri abah sudah besar hingga tidak mau berbagi cerita kepada abah?" suara kiyai fahmi tampak sendu.


" abah ziza terkena musibah" ucap aziza lirih.


"innalilahi... sekarang kamu ada dimana nduk?" kiyai fahmi khawatir. aziza menyebutkan lokasi nya pada sang abah.


"jangan khawatir nduk abah akan segera kesana" setelah mengucap salam kiyai mengakhiri sambungan nya dan bergegas pergi ketempat tang sudah di beri tahu oleh aziza.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2