
berjam-jam di lalui aziza dan pria asing tersebut dengan pikiran penuh. kenapa? bagaimana? harus apa? seandainya nya? hanya itu yang hilang dan pergi di fikiran mereka. aziza terus mondar mandir di depan pintu, tak henti mengucap dzikir dan memohon pertolongan, melihat dari lubang kecil di pintu sudah tak seramai tadi, tapi masih ada beberapa. telpon nya berdering.
”aziza akan membukanya abah" setelah menutup telfon, aziza bersiap untuk membuka pintu nya karna pesan sang abah. melihat gerak gerik aziza pria tersebut mendekat.
"apa yang akan kau lakukan, jangan gegabah." ucap nya.
" maaf tuan, tapi abah saya akan masuk" aziza membuka pintu dan kiyai fahmi dan kedua satri nya segera masuk.
"assalamualaikum" ucap nya. aziza segera mencium tangan sang abah.
"mari duduk" ucap pria asing tadi.
kiyai fahmi mengangguk.
beliau sudah tau ceritanya tapi beliau akan bertanya.
" apakah sesuatu terjadi? tanyanya, beliau percaya putrinya berpendidikan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat nya. aziza mendongak melihat abah nya.
"abah.. " belum sempat menyelesaikan ucapan nya, kiyai fahmi kembali berucap.
"tenangkan hati mu nduk, istighfar" kiyai fahmi menatap pemuda di depan nya, mengerti dia yang di tanya.
"maaf, pak. mungkin ini salah saya, atau mungkin bukan.." men jeda ucapan nya sambil melirik aziza "saya punya kunci nya, berarti ini kamar saya. tapi entah darimana putri bapak juga mempunyai kunci nya. kiyai fahmi melihat putri nya, meski tertutup cadar beliau tau bahwa putri nya cukup tenang.
" nduk, darimana kamu dapat kunci nya?" tanya kiyai fahmi.
"resepsionis abah" jawab aziza yakin.
__ADS_1
"kamu yakin?" aziza mengangguk menjawab pertanyaan abah nya. " yakin abah karna zahra sendiri yang memintanya pada resepsionis"
"dimana sekarang zahra? mengapa dia tak bersama mu?"
"maaf abah sebenarnya tadi bus kami mengalami sedikit kecelakaan. setelah memberikan kunci, zahra pergi untuk mengurus sesuatu."
kiyai fahmi mengangguk dan kembali melihat pemuda tersebut.
" sekarang sebaik nya kita tak perlu mencari siapa yang bersalah, baik nya kita mencari jalan keluar nya, karna nama baik kalian jadi taruhan" ucap kiyai fahmi.
pemuda tersebut melirik aziza. kiyai fahmi benar nama baik mereka taruhan nya, dia telah bekerja keras untuk perusahaan nya dan sekarang dia sedang di puncak karir, dia tidak mau merusak hasil kerja keras nya. lama berfikir.
" bagaimana anak muda? apa rencana mu menyelesaikan masalah ini?" tanya kiyai fahmi.
melihat satu persatu orang yang berada di depan nya, perempuan bercadar, abah nya dan ada dua orang yang hanya menunduk sedari tadi, melihat penampilan mereka pemuda tersebut menyimpulkan kalau paruh baya di depan nya adalah ustadz atau kiyai. lama merenung.
"bagaimana nduk, pemuda dihadapan mu ingin menikahi mu apakah kau menerima nya?" kiyai fahmi bertanya sambil mengulas senyum tenang. aziza melihat abah nya mencari jawaban. lama merenung
"iya abah, ziza menerima" ucap nya menahan sesak.
" baik sudah kita sepakati, kita akan memulai akad nya. sebelum itu terjadi siapa nama mu anak muda? dan berapa mahar yang akan kau berikan kepada putri ku?" ucap kiyai fahmi.
"Aaris abrisam." abri merogoh kantung celana nya dia berdo'a ,semoga ada uang dalam dompet nya karna dia jarang membawa uang cash. dia hanya menemukan enam lembar uang pecahan seratus ribu.
kiyai fahmi kembali mengangguk
" bagaimana dengan orang tua mu apa tak sebaik nya kau menelfon nya dan memberi tau" mengingat orang tua nya, abri malah ingat mama nya. matilah aku, aku sudah berjanji pada mama akan menemui calon pilihan mama. tapi apa boleh buat dia akan bicara dan menjelaskan semua nya.
__ADS_1
melihat kedinding dimana jam berada, ini sudah larut dia takut mama nya syok mendengar ini.
"saya akan memberi tau mereka nanti"
"baik mari kita mulai"
santri yang awal nya berdiri dipersilahkan duduk untuk men jadi saksi.
"*ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka mutiara aziza azalia binti muhammad ali fahmi...."
"qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu hihi, wallahu waliyyu taufiq*."
aziza melirik, siapa pria ini? mengapa begitu fasih melafdzkan ijab qobul?" kata "sah" membuyarkan lamunan nya.
setelah memanjatkan do'a pernikahan, aziza diminta untuk mencium tangan suami nya.
aziza mencium tangan suami nya dengan takzim. melambungkan do,a-do,a harapan atas pernikahan nya. abri pun sama memegang ubun-ubun aziza sambil membacakan do,a. aziza meneteskan air mata nya, dia mengingat umma nya "umma ziza sudah menikah do,akan ziza, semoga pernikahan ziza samawa umma." aziza berhambur memeluk abah nya.
"maafkan ziza abah, ziza mengecewakan abah".
" ziza tidak mengecewakan abah. abah percaya pada ziza. ziza kebanggaan abah, tetap bahagia semoga allah menjaga dan memberimu kebahagiaan" aziza menangis mendengar ucapan sang abah. kini giliran abri yang mencium punggung tangan kiyai fahmi.
"restui dan selalu do,akan kami bah"
"jaga dan ayomi putri saya nak. tegur baik-baik, bila putri saya salah. dia kebanggaan abah." ucap kiyai fahmi terjeda "kembalikan dia pada ku bila nanti kau sudah tak menemukan kebahagiaan pada diri nya" tambanya dengan berkaca-kaca.
...****************...
__ADS_1