
kiyai fahmi sudah pergi sejam yang lalu, tapi aziza masih berada di tempat yang sama, duduk berdiam diri menghadap ke arah ranjang yang masih kosong. malam makin larut tapi mata indah nya enggan mengantuk. abri keluar dari dalam kamar mandi.
"tidurlah di kasur, biar saya yang tidur disofa. setelah pagi kita akan keluar dari sini". aziza mengangguk, berbalok hendak menuju ranjang sebelum ucapan abri menghentikan langkah nya.
" maaf, mungkin ini perbuatan lawan bisnis saya. anda juga ikut terseret dalam masalah ini" ucap nya pada aziza yang sudah memunggungi nya.
"saya juga minta maaf, saya juga ceroboh...." mengingat kejadian tabrakan dengan wanita di lobi, mungkinkah kartu nya tertukar dengan gadis sexy tadi. "mungkin kalau saya tidak salah mengambil kunci tadi, anda akan menikah dengan gadis cantik" ucap nya tampa berbalik ke arah abri. abri mengernyit tidak mengerti. aziza menoleh.
"sebelum nya saya bertabrakan dengan gadis cantik di lobi, yang membuat barang-barang kami berjatuhan. mungkin kunci kami tertukar di sana." jelas aziza.
" seorang wanita?" tanya abri.
"ya..gadis berpakaian sexy rambut panjang, tinggi semampai, kulit kuning langsat" abri teringat dengan seseorang dia akan menyelidikinya kapan-kapan.
melihat reaksi abri seperti terkejut aziza bertanya.
"anda mengenalnya?" abri menggeleng.
"tidak.. tidurlah, ini hampir pagi" ucap abri lagi. aziza melangkah menuju kasur, berbaring menghadap ke langit-langit tampa membuka cadar nya. abri yang memerhatikan aziza dari sofa tidak berkata apa-apa, mungkin aziza terbiasa tidur dengan cadar.
tapi detik demi detik berlalu tapi aziza belum juga memejamkan mata nya. melihat abri tlah tertidur menghadap keatas, matanya di tutupi lengan, kaki nya sedikit menggantung karna sofanya tidak sebanding dengan tinggi badan nya. beranjak untuk memberikan selimut tapi aziza mengurungkan nya. dia berlalu ke kamar mandi, membasuh muka, menatap wajah nya di dalam cermin lama, dia tidak menyangka aku sudah menikah gumam nya tak percaya, padahal baru kemarin dia berucap belum mau menikah pada zahra tapi takdir berkata lain. melihat jam di pergelangan tangan nya sudah menunjukkan setengah tiga.
"sebaik nya aku sholat" azizah mengambil wudhu.
mendengar suara pintu abri terjaga tapi tidak membuka mata nya.
__ADS_1
aziza menuju tas nya, mengeluarkan mukenah nya dan melaksanakan sholat.
lama tidak mendengar suara abri membuka mata, melihat aziza sedang sholat menyerong agak membelakangi nya. dia penasaran tapi tidak se-kepo itu pada wajah aziza.
selesai sholat aziza mengulang hafalan nya. sangat merdu gumam abri.
aziza terbangun waktu sholat subuh karna dia tertidur di atas sajadah nya. berbalik melihat jam dan segera mengambil wudhu kembali.
setelah selesai dia melihat abri tak kunjung bagun padahal subuh sudah sejak tadi.
" bagun sudah subuh" aziza membangun kan abri dengan menusuk-nusuk lengan yang menutupi mata nya. abri menggeliat, aziza segera berbalik mengingat dia tak memakai cadar.
" sudah subuh, sebaiknya anda bergegas karna ini sudah hampir pagi" ulang nya masih memunggungi. abri bangkit menuju kamar mandi.
aziza kembali ke atas kasur dan kembali membaca al-quran, tak lama pintu terbuka bersama bau sabun yang segar. aziza melirik, abri keluar hanya memakai handuk. astagfirullah.. kenapa tak memakai pakaian nya di dalam kamar mandi saja.
setelah lama menunduk, dia mendongak karna suara abri yang mengatakan akan memesan makanan, menanyakan aziza ingin memakan apa.
aziza terkesima melihat abri, memakai sarung, baju koko, peci hitam. masya allah sungguh indah ciptaan mu tuhan.
tubuh tinggi, alis tebal, mata tajam tapi terlihat teduh secara bersamaan, bibir nya tidak terlalu tebal, sedikit hitam "mungkin perokok" pikir aziza "wajah nya bercahaya, astagfirullah apa yang aku pikirkan, tapi dia sekarang suami ku, aku tidak berdosa jika memikirkan nya" aziza tersadar mendengan suara abri yang menanyakan kembali dia mau makan apa. aziza mengerjap lucu.
"ya?...apa?" tanyanya bingung.
"ingin makan apa? saya akan memesannya agar di antar kesini saja" tanya abri lagi.
__ADS_1
"ah... itu.. saya makan apa saja, terserah anda" kata aziza. abri hanya mengangguk dan mengambil ponsel untuk memesan makanan.
...****************...
setelah makan aziza membereskan tas nya. dia akan keluar dari hotel sebentar lagi. masih memakai pakaian kemarin.
"sudah selesai?" tanya abri. aziza mengangguk dia sudah memegang tas nya.
"ayo kita keluar" ajak abri, azizah menarik nafas dalam, menghembuskan nya perlahan.
setelah membuka pintu aziza tak menemukan orang-orang tadi malam, bernafas lega. alhamdulillah.
tapi tak lama dia di buat tercengang karna mereka sudah berkumpul di lobi, bersiap memberondong mereka berdua dengan pertanyaan.
"benarkah anda bermalam dengan wanita di hotel ini pak aaris?" pertanyaan wartawan, abri mengangguk menjawab. wartawan tersebut saling grasak grusuk melihat abri mengangguk.
"apakah benar berita bahwa anda selalu mengencani klien perempuan anda agar kontrak berjalan mulus? apakah ini adalah salah satu wanita yang sudah anda kencani?" cecar wartawan. abri berbalik melihat aziza yang sedang dia gandeng. abri tersenyum.
"perkenalkan dia adalah istri sah saya" ucap abri sambil memperlihatkan foto yang sempat mereka ambil tadi malam. semua wartawan mulai berbisik-bisik sendiri, hal itu di gunakan abri untuk membawa aziza keluar dari kerumunan. mendekap aziza agar tak tersenggol oleh orang-orang yang berdesakan. sampai di depan hotel abri baru melepaskan nya.
"maaf " ucap abri canggung. sedang aziza tak baik saja, jantung nya berdegup kencang dia tak pernah sedekat ini dengan pria.
aziza memutuskan tatapan mereka.
"tak apa. terima kasih" abri mengangguk.
__ADS_1
membukakan pintu untuk aziza dan melajukan mobil nya menuju apertemen nya.
...****************...