
"Salam kenal Hyewon-ah, namaku Lee Minho."
.
.
.
.
.
"Minho? Lee Minho? Wow...apakah sekarang aku sedang mengobrol dengan aktor?" Ucap Hyewon seraya tertawa melihat perubahan wajah laki-laki yang baru saja mengatakan bahwa namanya adalah Minho dari selalu tersenyum menjadi sedikit kesal dengan perkataannya tadi.
"Hei...namaku memang sama dengan aktor itu tapi tentu saja masih lebih tampan diriku." Minho membalikkan keadaan dimana tadi ia yang kesal menjadi Hyewon yang sekarang kesal. Ia bahagia, setidaknya gadis yang sendari tadi ia perhatikan tak lagi merenung dan sekarang sudah mulai tertawa lepas.
"Kau memngingatkanku pada Hyunjin adikku, sama sepertimu ia selalu menyombongkan ketampanannya itu, apa kau juga memiliki banyak kekasih seperti adikku? Jika iya sebaiknya aku pergi saja, daripada nanti dikira merebut pacar orang." Hyewon memang tak serius dengan perkataannya tapi ia mulai mengemasi barang bawaannya.
__ADS_1
"Eh...apa yang kau lakukan? Kau bilang banyak kekasih? Dekat dengan perempuan saja tak pernah kecuali eomma dan adikku. Justru seharusnya itu pertanyaan untukmu, kau sangat cantik, sangat tidak mungkin jika kau tak memiliki seorang kekasih." Minho segera menahan Hyewon agar tetap duduk di depannya, ia sedikit tertawa melihat Hyewon tersipu karena ia puji. Bahkan gadis itu memalingkan wajahnya dari Minho.
"Hei...jangan menggodaku, aku tak percaya kau tak pernah punya kekasih, wajahmu itu terlihat seperti playboy. Kau bilang aku cantik? Itu tentu saja, bagaimana mungkin anak dari Kang Daniel tak memiliki visual yang menonjol? Kau tadi lihat bagaimana tampannya adikku kan? Hal itu sudah terbukti bahwa tak ada yang jelek di keluargaku. Kalau masalah kekasih...aku hanya pernah memiliki satu kekasih." Ucap Hyewon panjang-lebar.
Hyewon tak tahu mengapa ia bisa merasa sedekat ini dengan Minho, ia merasa seperti sudah mengenal Minho sejak lama atau bahkan ini melebihi rasa dekatnya dengan Jaehyun. Ia berpikir mungkin hal itu terjadi karena sifat Minho yang ceria dan dapat menebarkan aura positifnya pada orang disekitarnya.
"Hah...sekarang gantian kau yang menyombongkan diri. Baiklah aku akui kau dan adikmu tadi memiliki visual yang menarik tapi bukankah aku masih lebih tampan dari adikmu itu?" Minho hanya menatap jengah Hyewon yang sekarang menampakkan senyum lebarnya. "Gadis seperti kau hanya punya satu mantan kekasih? Sungguh mencurigakan, kukira kau seperti adikmu yang punya banyak kekasih. Hah...orang itu pasti sangat beruntung pernah menjadi kekasihmu." Lanjutnya sambil menatap Hyewon dalam.
Sedangkan Hyewon yang ditatap seperti itu hanya terdiam lalu segera memalingkan wajahnya karena ia yakin bahwa saat ini wajahnya memerah. "Bagaimana bisa aku memiliki banyak kekasih kalau adikku saja berlaku seperti bodyguard ku? Lagipula aku tak berminat mengoleksi kekasih seperti Hyunjin." Ucap Hyewon masih dengan memalingkan wajahnya, ia tak mau Minho menyadari jika wajahnya memerah. Padahal sendari tadi Minho tahu hal itu, ia hanya tersenyum lembut karena jika ia menegur gadis itu pasti nantinya akan canggung.
"Apa perlu aku mengantarmu? Sepertinya rumahmu jauh dari sini karena aku tak pernah melihatmu di sekitar sini." Setelah keheningan tadi akhirnya Minho membuat Hyewon memandangnya lagi.
"Tak perlu, aku akan menyuruh adikku untuk menjemputku." Ucap Hyewon.
"Baiklah aku akan menemanimu sampai adikmu datang. Tunggu disini sebentar." Ucap Minho yang berdiri lalu entah pergi kemana yang pasti ia masuk kedalam salah satu ruangan di cafe tersebut.
Setelah beberapa saat Minho kembali dengan pakaian yang sudah berubah dan membawakan dua cangkir teh ditangannya. "Minumlah dulu, itu akan membantumu mengahangatkan badan, angin di wilayah pegunungan seperti ini sangat dingin saat menjelang malam. Apa kau juga perlu jaket? Aku akan mengambilkannya jika kau mau." Ucap Minho setelah kembali duduk.
__ADS_1
"Tak perlu dan terima kasih untuk tehnya. Apa kau pegawai disini? Kulihat tadi kau dengan mudah masuk ke ruangan khusus pegawai." Hyewon hanya tersenyum lembut mendengar kata-kata Minho, ia yakin orang yang nantinya menjadi kekasih Minho akan merasa seperti seorang ratu, ia saja yang baru saling mengenal sudah sebaik ini, mungkin Hyewon akan mempertimbangkan Minho untuk menjadi sahabatnya.
"Apa kau percaya jika aku berkata bahwa aku pemilik cafe ini?" Tanya Minho masih memandang Hyewon lembut.
"Tentu saja, kenapa tidak? Sepertinya kau lebih tau dariku." Jawab Hyewon yang juga memandang Minho lembut.
Hanya terjadi keheningan antar keduanya karena Minho hanya sibuk dengan laptop yang tadi ia ambil saat berganti pakaian sedangkan Hyewon sibuk menikmati secangkir tehnya dan melihat pemandangan pegunungan saat malam hari. Hari ini memang sanagt cerah karena Hyewon dapat melihat banyak bintang dan bulan yang sangat terang.
"Noona...apa kau menunggu lama? Ayo kita segera pulang, papa sudah menunggu dirumah." Ucapan orang itu sanggup membuat kedua orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing menjadi menjadi fokus kepada orang itu.
"Oh...Jeno-ya, baiklah tunggu sebentar." Ucap Hyewon saat melihat Jeno sudah berdiri disampingnya. "Minho-ssi berapa yang harus aku bayar untuk teh ini." Tanyanya langsung mengakihkan pandangannya dari jeno ke Minho.
"Tak perlu, anggap saja hadiah perkenalan dariku." Balas Minho.
"Baiklah aku pergi, sampai bertemu kembali Minho-ssi." Ucap Hyewon saat berdiri dari duduknya. "Ayo Jeno, aku tak mau diceramahi papa." Lanjutnya membuat Jeno segera pergi dari cafe itu meninggalkan Hyewon. Tapi tiba-tiba saat Hyewon akan melangkahkan kakinya menjauhi meja tadi ia merasakan seseorang menahan tangannya yang membuatnya kembali menoleh ke belakang.
"Hyewon-ah... bolehkan aku meminta nomer telephone mu?"
__ADS_1