
Wajah Hyewon yang tadinya kaget berubah menjadi datar kembali karena melihat seseorang yang baru saja masuk dan berdiri disamping Jaehyun.
"Eoh... Siapa dia Jaehyun-ah?" Ucap Daniel saat melihat ada seseorang yang dibawa Jaehyun ke rumahnya.
"Maaf karena tidak meminta izin terlebih dahulu paman, aku membawanya karena kami baru saja mengurusi client diluar kantor, serta ini sudah malam, tak baik membiarkannya sendirian malam-malam jadi aku akan mengantarkannya pulang. Tapi kemudian paman meneleponku dan menyuruhku untuk datang jadi aku berpikir membawanya saja." Ucap Jaehyun panjang lebar seraya mendekat kearah meja makan.
"Ayo duduklah, kau juga nak... Tak usah sungkan." Daniel tersenyum melihat orang yang Jaehyun bawa selalu menundukkan kepalanya. "Hei nak, siapa namamu?" Ucap Daniel saat keduanya telah duduk disamping Hyunjin. Sedangkan Hyewon berusaha keras agar tak meninggalkan ruangan itu karena itu sangat tidak sopan, tapi bagi Hyewon melihat Jaehyun membawa orang 'itu' kerumahnya sungguh diluar perkiraannya.
"Nama saya Minju tuan Kang." Minju masih setia menundukkan kepalanya, bagaimana tidak? Sekarang ia sedang berhadapan dengan pemilik perusahaan besar yang sangat terkenal. Ia bahkan tak henti-hentinya mengagumi isi rumah itu.
"Nama yang sangat bagus nak. Jangan terlalu gugup, kau teman Jaehyun kan? anggap saja kau berada dirumahmu sendiri." Daniel tahu bahwa saat ini gadis itu sangat gugup karena bisa berada dirumahnya saat ini. "Hyewon-ah kenapa kau diam saja? Biasanya kau akan sangat cerewet jika bersama Jaehyun." Tanya Daniel.
"I'm ok papa, hanya kurang enak badan saja, papa aku akan ke kamar mandi sebentar." Jawab Hyewon segera meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah, jangan lama-lama, mungkin sebentar lagi tamu papa yang lain akan sampai." Ucap Daniel yang diberi tatapan tanya oleh kedua putranya.
" Papa sebenarnya ada berapa tamu papa? Apa apa mau mengadakan pesta sampai banyak sekali tamu malam ini? Tahu begitu aku akan mengajak Yeji kemari." Ucap Hyunjin yang dihadiahi tatapan tajam oleh Jeno.
"Jangan berani-berani mengajaknya kemari, atau siap-siap saja PlayStation mu akan ada di tempat pembuangan sampah." Ucap Jeno dengan nada datar tetapi menusuk, jangan lupakan tatapan Jeno pada Hyunjin seakan ingin membunuh Hyunjin saat itu juga.
"Siapa Yeji? Pacar barumu?" Tanya Danuel saat mendengar nama yang sedikit familiar baginya. "Bukankah Yeji itu kekasih Jeno? Kenapa malah Hyunjin yang mau mengajaknya kemari? Seharusnya itu kan tugas Jeno. Lagipula kekasihmu kan banyak Hyunjin-ah, kau bisa mengajak Yujin atau Ryunjin kesini, setidaknya mereka berdua cukup dekat dengan papa." Lanjutnya sembari menatap kedua putranya yang saling menatap tajam.
__ADS_1
"Jeno sudah putus dengan Yeji papa, dan sekarang Yeji itu kekasihku." Ucap Hyunjin tak terima saat mendengar Yeji dikait-kaitkan dengan Jeno.
"Memang Yeji menganggapmu kekasihnya? Ia hanya menggunakanmu agar ia bisa dekat denganku lagi." Mendengar dengusan Jeno serta kata-kata yang Jeno ucapkan Daniel tak bisa menahan tawanya, baginya ini sangat lucu karena Hyunjin yang notabenenya seorang playboy sedang dipermainkan oleh seorang gadis yang merupakan mantan kekasih kembarannya.
"Hyunjin-ah, sepertinya masa-masamu menjadi seorang playboy akan segera berakhir." Daniel semakin tertawa keras saat melihat wajah Hyunjin yang sedang kesal.
"Sudahlah papa, jangan menggoda Hyunjin, dan kau Jeno-ya jangan berkata seperti itu pada kembaran mu itu, kau tahu kan ia mudah menangis." Hyewon sedikit tertawa saat mengucapkan kalimat terakhirnya, seisi ruanganpun sama sepertinya bahkan Minju yang sendari tadi hanya menunduk juga mulai mendongakkan kepalanya dan tertawa meskipun tertahan.
Hyewon memang sudah kembali sejak tadi tapi ia lebih memilih mendengar pembicaraan antara papa dan adiknya itu. Sebenarnya Hyewon tadi ingin menangis saat melihat Jaehyun membawa Minju kerumahnya dan memutuskan untuk menangis sepuasnya dikamar mandi, tetapi ia teringat seseorang yang tadi ia temui di cafe yang berkata bahwa menangis Itu tak ada gunanya. Mengingat hal itu bukannya menangis Hyewon malah tertawa dan akhirnya memutuskan untuk berani menghadapi Jaehyun nantinya.
"Aishh...noona, aku tak pernah menangis." Ucap Hyunjin dengan nada kesalnya.
"Selamat malam semuanya. Maaf kami terlambat." Ucap wanita itu sembari sedikit menundukkan badan sebentar.
"Hah...akhirnya tamunya lengkap juga, ayo duduklah." Ucap Daniel menyambut kedatangan orang itu. "Eoh...bukankah kau punya dua putri? Kemana putri sulungmu?" Tanya Daniel saat wanita itu dan anaknya telah duduk dikursi yang tersisa.
"Dia masih berada dimobil, dia kehilangan ponselnya di mobil." Jawab wanita itu setelah duduk.
"Papa siapa dia?" Ucap Hyewon sedikit berbisik pada papanya.
"Hah...kau belum mengenalnya ya? Baiklah dia adalah Roseane Park calon istri papa dan yang disampingnya adalah putrinya Xiyeon Park." Ucap Daniel yang dihadiahi tatapan terkejut oleh putri dan kedua putranya. "Dan sebenarnya papa membuat acara ini karena papa ingin memberitahukan pada kalian bahwa papa akan segera menikahi nona Park." Lanjut Daniel.
__ADS_1
"Kenapa papa baru bilang sekarang?" Hyewon tak terima jika papa nya menikah dengan orang yang bahkan baru ia temui saat ini.
"Papa takut kalian marah jika papa memberitahu kalian bahwa papa memiliki seirang kekasih." Bantah Daniel.
"Papa malah membuat kami lebih marah karena baru memberitahukannya sekarang." Ucap Hyunjin serius bahkan wajahnya sudah sangat tidak bersahabat.
"Terserah apa yang akan dilakukan papa, papa mau menikahi wanita ini? Papa boleh melakukannya, aku tak akan melarangnya, tapi jangan pernah marah jika aku tak menganggapnya eommaku karena aku hanya punya satu eomma walau aku tak pernah bertemu dengannya." Ucap Jeno yang segera pergi dari ruangan itu tanpa peduli wajah Daniel yang sekarang terlihat marah karena kata-kata Jeno tadi.
"Kang Jeno! Mau pergi kemana aku?" Teriak Daniel yang sama sekali tak dihiraukan oleh Jeno.
"Maaf papa kali ini aku sependapat dengan Jeno." Ucap Hyunjin yang hampir berdiri dari duduknya tetapi tangannya ditarik oleh Hyewon agar kembali duduk. "Biarkan Jeno menenangkan dirinya dulu." Ucap Hyewon pada Hyunjin.
"Apapun tanggapan kalian, papa akan tetap menikah dengan nona Park. Papa yakin nona Park bisa mengurus kalian saat papa pergi jauh." Ucap Daniel sedikit melembut dalam ucapannya walau maaih tersirat nada tegas didalamnya.
"Apapun keputusan papa kami aoan menerimannya." Ucap Hyewon singkat yang dihadiahi tatapan tidak setuju oleh Hyunjin yang hanya dibalas senyum lembut oleh Hyewon. Setelah kata-kata Hyewon tersebut suasana ruangan itu menjadi hening dan sedikit canggung.
"Maaf saya terlambat." Ucap gadis yang baru saja datang dan segera menundukkan badannya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Kemarilah Nancy kami sudah menunggumu sendari tadi." Ucap Daniel tersenyum seakan tadi tak terjadi apa-apa.
Mendengar papanya menyebut nama yang tak asing untuknya, Hyewon yang tadi hanya menundukkan kepalanya segera mengangkat kembali kepalanya dan melihat kearah gadis yang baru saja masuk. Dan benar saja ia mengenal gadis itu, gadis yang selalu merebut kebahagiaan Hyewon dan apapun yang Hyewon miliki. Nancy Park, gadis yang membuat Hyewon menjadi orang yang tertutup dan tak berani untuk menjalin hubungan dengan laki-laki.
__ADS_1