
Esok harinya...
Kini Rika tengah kembali pulang kerumah orang tuanya, ibunya sangat terkejut. Saat mengetahui hal yang sebenarnya terjadi pada kedua putrinya, tetapi disatu sisi sang ibu juga tidak bisa berbuat banyak.
Ia hanya bisa menangis saat mengetahui, satu putrinya kabur dihari bahagianya. Lalu putri yang lainnya harus terpaksa menggantikan saudari kembarnya yang kabur tersebut.
"Bagaimana ini? kenapa kau merahasiakannya dari ibu?" tanya sang ibu gemetar.
Rika menunduk, "Maaf bu, aku hanya tak ingin kalian malu. Karena Fika."
"Oh ya, Tuhan.. Kenapa jadi seperti ini? kemana perginya putriku yang satu lagi?"
Rika tak berani mendongakkan kepalanya, menatap sang ibu. Jujur saja, melihat sang ibu menangis ia juga pasti ikut menangis.
Tangis sang ibu semakin pecah, saat ia masih tak percaya jika salah satu putrinya bisa melakukan hal ini pada saudari kembarnya sendiri.
"Hiks.. hiks.. Malang sekali nasib putriku yang satu ini.. hiks.."
"Bu, sudah jangan menangis.. Yang penting sekarang ibu tahu, jika aku Rika bukan Fika."
Tifany menatap anaknya penuh iba, "apa yang bisa ibu lakukan untukmu nak? katakan saja, ibu siap membantumu?"
Rika menggeleng, "Tidak perlu bu, ibu hanya perlu bersikap biasa. Dan kalau di depan mas Aksa, panggil aku Fika bukan Rika ingat ya bu.. Aku tak mau, dia tahu."
"Baiklah, ibu akan bantu. Yang terpenting kau hanya perlu bertahan, sampai adikmu ditemukan ya kan?" Rika mengangguk.
"Selain itu, aku juga tak ingin perusahaan ayah bangkrut dalam semalam hanya karena penyamaranku terbongkar." Tifany mengusap pipi mulus Rika.
Dia tersenyum sejenak, "Eum.. ibu mengerti, kau hanya ingin ibu berakting di depan Aksa dengan memanggil Fika bukan Rika." Rika mengangguk.
Walau diluar dia tersenyum, namun di dalam hatinya menangis. Ya, jujur saja setelah pesta pernikahaan itu terjadi. Layaknya pasang suami istri normal, mereka akan melakukan kegiatan tersebut dimalam hari.
Mereka melakukannya, tapi pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu. Terus menggeram menikmati olahraga itu, sambil menyebut nama sang saudari kembarnya Fika.
Hatinya hancur seketika, saat nama Fika mengalun ditengah-tengah olahraga mereka semalam. Ingin sekali rasanya, tadi malam dia mengatakan hal yang sejujurnya, tapi apa daya saat dia mengingat kembali kedua orang tuanya.
Mulutnya terasa berat, untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Apakah begitu rasanya, saat hati kita dihancurkan oleh orang yang kita cintai.
Menyebut nama wanita lain, selain nama kita sendiri. Ya, walau sebenarnya dia tahu jika sang suaminya itu bukanlah miliknya. Tapi bisakah sekali saja dia memuji dirinya?
Beberapa jam kemudian, kini Rika tengah terduduk disalah satu sisi jendela kamarnya. Menatap langit senja yang sangat indah, mampu membuang rasa sesak dihatinya.
Saat mengingat kejadian semalam. Dia akui, ia memang hanya menjadi pengantin pengganti. Tapi apa benar sang suami tidak bisa membedakan, antara dirinya dengan Fika sang saudari kembarnya sama sekali?
"Rika, kau mau makan dulu atau mau langsung pulang nak?" Rika menoleh.
Dia tersenyum kala sang ibu duduk disampingnya, "tidak bu, mas Aksa sudah datang jemputku di bawah."
Sang ibu menarik napasnya dalam, "Huft.. baiklah," ucapnya sambil mengelus tangan sang putri.
__ADS_1
"Ibu," Tifany menghapus cepat air matanya.
"Kalau kau merasa tidak sanggup, katakan saja yang sejujurnya pada Aksa. Ibu dan ayah akan menerima konsekuensinya. Ibu tahu, kau pasti merasa tertekan."
Saat Rika hendak bersuara, Aksa datang dan berkata, "Katakan yang sejujurnya? apa itu bu?"
Mereka berdua terkejut, "oh.. engga, ibu hanya bilang. Kalau ada sesuatu yang membuat dirinya terasa berat, cerita saja padamu dengan sejujurnya? iyakan ri-- Fika?"
Rika mengangguk, "oh.. ibu tenang saja, anak ibu yang satu ini akan bahagia bersamaku. Apa ibu tahu? tadi malam Fika sangat kuat diranjang bu, saat sedang melanyani suaminya."
Mata Tifany melebar, dia menoleh dengan rasa terkejut. Sedangkan Rika, hanya bisa menunduk saat semburat merah muncul dipipinya. Astaga! bagaimana bisa suaminya itu bersikap frontal pada sang ibu, hingga kemudian.
"Ka--kalian? ka-kalian berdua, melakukannya tadi malam?" tanya Tifany dengan gugup.
Aksa mengangguk, "tentu saja bu, kitakan sudah suami istri. Iyakan, sayang?"
Tifany menerjap tak percaya, sambil menatap Rika yang masih menundukkan kepalanya.
***
Selama dalam perjalanan, Rika hanya duduk terdiam. Pikirannya melayang entah kemana. Dia menarik napas dalam, kemudian dia dikejutkan dengan sentuhan tangan Aksa di atas tangannya.
"Kau kenapa? dari tadi kau terus saja menghela napas, apa yang terjadi? apa bagian bawahmu masih terasa perih?" Rika menggeleng malu.
Aksa menoleh, dia tersenyum saat pipi sang istri berbuah merah. "Kau sangat cantik kalau lagi malu seperti itu, Fika."
Deg!
Ia memalingkan wajahnya, saat air mata mulai menetes. Tidak! Pria itu tidak boleh melihatnya menangis. Secepat mungkin dia hapus bulir air matanya.
"Kita mau makan di mana sayang?"
Rika menoleh kembali, "terserah kau saja."
Aksa menyerit, "ko tumben bilang terserah? Biasanya kamu selalu tau, cafe atau restauran yang cozy untuk kita hangout? ada apa denganmu?"
Matilah ia! apa itu, yang baru saja dia ucapkan. Apa Aksa menyadarinya? Tapi kenapa Aksa malah bertanya padanya, apa selama ini Fika selalu seperti itu?
Dengan cepat Rika memutar otaknya, "maksudku, kali ini biar kamu yang pilih aja. Soalnya, aku lagi jarang cari-cari tempat yang enak buat hangout. Gitu sayang," Rika mengatup bibirnya.
"Oh gitu, aku pikir. Kamu udah gak suka nongkrong atau hangout kaya dulu lagi." Rika tersenyum tak lama ia menggeleng.
Setelahnya dia mendesah lega, karena untuk saat ini dia masih bisa lolos dari pertanyaan Aksa. Tapi apakah hari esok dia masih bisa selamat dari pertanyaan heran Aksa, saat melihat reaksi berbeda akan perubahan pada diri sang istri.
Yang benar bukan perubahan, namun karena ia memang bukan Fika si wanita penggila hangout dan jalan seperti yang selama ini Rika tahu.
Tiba disebuah cafe yang cukup terkenal dikalangan anak muda, Aksa pun turun dan membuka pintu mobil di mana sang istri duduk. Rika terdiam sejenak, dia merasa agak sedikit canggung dengan suasana cafe tersebut.
Bagaimana tidak? lihatlah! cafe ini hampir didominasi oleh pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk cinta itu.
Walau memang ada beberapa yang berusia lebih. Tapi tetap saja, jumlahnya kalah jauh dengan pasangan muda mudi tersebut. Rika menerjap, lalu tak lama dia menatap Aksa.
__ADS_1
"Kenapa kau diam? ayo masuk, memangnya kau tidak lapar?"
Rika bingung harus menjawab apa, "Hey, ada apa denganmu?"
"Tidak, aku hanya sedikit merasa pusing." Aksa menempelkan telapak tangannya.
"Tapi kau tidak demam? apa kau mau kita pulang saja?"
Dengan ragu Rika menggigit bibir bawahnya, lalu tak lama dia mengangguk. Aksa mendesah, lalu kemudian dia kembali membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Setelahnya mereka berlalu kembali pulang menuju rumah. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba dirumah. Aksa menghentikan mobilnya, lalu setelahnya dia membukakan sabuk pengaman sang istri.
"Apa kau perlu ku panggilkan dokter?" Rika terkejut.
Lalu tak lama dia menggeleng, "tidak perlu, aku hanya butuh istirahat sebentar."
"Baiklah."
2 jam berlalu, Aksa yang kini tengah sibuk dengan laptopnya tiba-tiba saja mengendus bau aroma lezat dari dapurnya.
Dia dengan segera menyingkirkan laptopnya dari atas pangkuannya. Dia beranjak dan berjalan mendekat ke arah dapur, sesampainya ia di dapur keningnya mengerut kuat.
Apa dia tidak salah lihat? Benarkah, efek dari sebuah pernikahan sangat kuat pada seorang perempuan?
Lihatlah! setau Aksa, Fika adalah perempuan yang paling benci dengan dapur dari semua ruangan yang ada diapartemen ini.
Tapi sekarang? dia malah masuk ke dapur, dan bahkan dengan lihainya dia menggunakan pisau itu seperti sudah terbiasa dengan perabotan di dapur.
Kalau itu benar, maka dia patut berbangga diri. Karena rupanya dia menikahi gadis yang tepat, untuk menemaninya seumur hidup.
Aksa tersenyum senang, dia semakin mendekati Rika yang ia pikir itu Fika. Dengan gerakkan tiba-tiba, dia memeluk tubuh sang istri dari belakang sambil berkata.
"Terima kasih Fika, demi aku kau mau memasak dan masuk ke dapur." Rika mematung ditempatnya.
Dengan jantung yang berdebar, kencang dia berkata. "Memangnya, aku Fika. Dapur itu adalah temanku!" Matanya membelalak.
Shit!! kenapa lagi-lagi dia malah mengatakan hal konyol seperti itu. Astaga! bagaimana ini? dia memejamkan matanya, saat Aksa melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu?"
"Eoh, itu.. maksudku, memangnya aku Rika. Dia itu hanya tau baca buku, tapi untuk masak dia sangat payah. Itu sebabnya aku belajar dari ibu, demi menjadi istri yang baik untukmu." Aksa terdiam.
Namun di detik selanjutnya, pria itu tersenyum lebar. "Oh benarkah? kalau itu benar, syukurlah. Setidaknya kau sudah tidak akan memintaku untuk memesankan makanan secara online lagi. Karena kau tau, itu sangat tidak baik untuk kesehatan."
Rika mengangguk, "eoh.. kau sangat benar."
Tapi di satu sisi, Rika bernapas lega. Rupanya Aksa, masih percaya akan kebohongan yang dia ucapkan. Dan sepertinya, mulai dari sekarang dia harus terbiasa untuk mengetahui seluruh perilaku dan sikap dari saudari kembarnya secara penuh.
Agar kelak, Aksa tidak lagi bertanya akan perubahan sikapnya. Ya, itu harus!
__ADS_1