
Setibanya di tepat yang dijanjikan. Fika turun dari taksi tersebut. Sejenak dia terdiam memandangi bangun tersebut, matanya menelisik bangunan tersebut dari atas hingga ke bawah.
Sebuah tempat hiburan malam, yang banyak dikunjungin orang untuk melepaskan tekanan hidup mereka. Fika menarik napasnya dalam, sebelum berjalan memasuki club bar tersebut.
Dentuman alunan musik yang hingar bingar, mampu membuat gendang telinganya terasa sangat pengang karena musik yang dimainkan.
Kerlap-kerlip lampu diskotik yang berwarna warni menjadi tanda bahwa pesta sudah dimulai, berjoget sambil memegang botol minuman terus mereka lakukan.
Semakin dalam Fika melangkah masuk ke sana, semakin banyak pengunjung yang sedang menikmatinya. Hingga tak lama matanya menangkap postur tubuh yang sudah lama dia rindukan.
Terlihat dari jauh, sepertinya pria itu sedang mengobrol bersama seorang pria dewasa lainnya. Dengan memakai jaket baseball dan kaus lengan pendek berwarna biru, dia terlihat sangat tampan.
Fika tersenyum, saat memandanginya dari jauh. Dia memang tidak pernah berubah. Noah menoleh, ia menyadari jika sepertinya seseorang tengah memandanginya.
Lalu tak lama dia tersenyum, saat melihat Fika sudah berdiri dan tengah menatap ke arahnya dari kejauhan. Dia segera berpamitan, dan mendekat ke arah Fika.
"Hai, sudah daritadi ya?"
Fika menggeleng, "Tidak. Baru saja sampai," Fika tersenyum.
"Yuk, duduk di sana?" ajak Noah setelah keheningan terjadi di antara mereka.
Fika mengangguk setuju, lalu kemudian setelah mereka sudah duduk Noah memanggil seorang pelayan.
"Kau mau minum apa?"
"Apa saja, asal jangan yang mengandung alkohol." Noah mengangguk mengerti.
Setelah pelayan itu pergi, Noah kembali berkata. "Ah, kau tak mau minum wine karena sebentar lagi akan menikahkan? atau kau takut, aku akan melakukan sesuatu yang tidak kau ingikan terjadi? hemm.. bisa ku maklumi."
Fika terkekeh kecil, "apa kau? ... apa kau tak merindukanku?"
Fika mendongak, dia menatap dalam Noah. Sedangkan Noah hanya menunuduk, dia berulang kali menghela napasnya.
Apa ini? apa pria itu menyesal karena telah meninggalkannya? tapi bagaimana pun ini sudah terlambat. Hingga tak lama Noah kembali berkata, "apa aku masih bisa?"
Alis Fika menaut, "Bisa apa?"
"Bisa membuat kita bersama kembali?"
Deg!
Fika terkekeh kecil, "Hehe, kau pasti bercanda ya?"
Noah tidak menjawab, sorot matanya mengatakan jika dia sangat menyesalinya. Dan berharap ia bisa kembali bersama, seperti 5 tahun yang lalu.
Fika yang menyadari arti tatapan itu, hanya bisa menarik napasnya dalam. Sebab sejujurnya hati kecilnya terkadang masih merindukan pria itu, pria yang selalu membuatnya senang dan bahagia. Tanpa harus berubah, seperti yang Aksa lakukan padanya.
"Huh, kita mulai lagi aja dari awal. Kau dan aku, bagaimana kalau kita berteman lagi seperti awal kita kenalan." Noah tertegun.
Apa ini artinya dia baru saja ditolak oleh Fika? sungguh menyedihkan! Dia tersenyum miris.
"Ya, aku tahu. Ini sudah terlambat."
Tiba-tiba saja Noah bangun dari tempatnya, "Maaf, aku harus kembali lagi bekerja. Senang bisa bertemu lagi denganmu." Katanya lirih.
__ADS_1
Setelah itu dia pergi dari sana meninggalkan Fika dengan seribu pertanyaan diotaknya. Setibanya dirumah, Fika berjalan dengan tergontai.
Namun langkahnya terhenti, saat hendak menaiki anak tangga rumahnya.
"Darimana aja kamu? aku dari tadi nungguin kamu di sini, tapi kamu pulang sampai larut. Apa ini? kau habis pergi ke club malam lagi? Fika, ayolah sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Aksa. Tak bisakah kau bersikap elegan dan tidak bar-bar? dan berhenti untuk terus menerus menghamburkan uang!! Aku tidak masalah, jika kau menggunakan seluruh uang ku untuk kebutuhannu, tapi jangan pergi ke sana!! Aku tidak suka itu!" Tangan Fika mengepal.
Dia sudah pusing dengan tingkah Noah yang berubah, namun apa ini? Baru saja sampai, dia sudah harus dicecar pertanyaan dan omelan oleh sang calon suaminya.
Hingga tak lama Fika berbalik, dengan tatapan tajam dia berjalan mendekati Aksa.
"Ya!! kenapa memangnya kalau aku suka minum! masalah! kau tahu, aku bukan wanita baik, yang seperti kau harapkan. Kau selalu minta ku untuk berubah menjadi seperti apa yang kau mau! tapi apa? kau selalu saja menyalahkan atas semua usaha yang ku lakukan! AKU SELALU SAJA SALAH DIMATAMU, AKSA!!" Napas Fika menggebu-gebu.
Namun tak lama dia memejamkan sejenak matanya, lalu kemudian dia menarik napasnya dalam. "Pergilah, aku lelah. Aku ingin istirahat. huh.."
"Fika, maaf. Aku.." sesal Aksa kemudian.
"Pulanglah, aku mengantuk. Lagi, bukankah kita sedang dipingit. Kenapa kau kemari?"
Aksa melirik ke arah kantung pelastik yang dia bawa, "aku membawakan martabak manis, untukmu. Ku dengar kau sedang melakukan diet. Tapi aku tidak mau kau jatuh sakit, lagi pula aku juga tidak butuh itu."
"Aku harus diet, agar aku bisa memakai gaun pengantinku nanti."
"Tapi--" ucapnya terpotong saat telapak tangan Fika terangkat.
"Sudah. Pulanglah, selamat malam." katanya sambil berlalu menaiki anak tangga.
Setelah pintu kamar Fika tertutup, Rika menghela napas leganya. Ya, sejujurnya dia tidak sengaja mendengar pertengkaran mereka.
Awalnya Rika berniat ingin mengambil minum, karena wadah tempatnya biasa mengisi air sudah kosong. Tapi ia malah tidak sengaja menyaksikan pertengkaran mereka.
Dia akan lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya, dibandingkan mendengarkan pendapat atau saran dari orang lain termasuk dari kedua orang tuanya.
Tapi, kali ini dia baru menyadari jika Fika sang saudari kembarnya itu bisa dikendalikan hanya dengan sebuah kata 'cinta'.
Apa sehebat itu kekuatan dari cinta? sehingga bisa mengendalikan seseorang seperti Fika yang lebih berjiwa bebas. Tapi, jika itu benar? kenapa dia tidak bahagia? bukankah dia seharusnya bahagia?
Rika membuang napas lelahnya, lalu tak lama dia menggeleng saat otaknya dipenuhi oleh pertanyaan tentang cinta. Dan tak lama dia bergumam.
"Ku pikir, tidak ada yang lebih sulit lagi di dunia ini dibandingkan dengan sebuah rumus matematika atau fisika. Tapi nyatanya, aku salah. Karena fakta yang sebenarnya, memahami rumus cinta jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan."
"... huh, pantas saja aku tak pernah memiliki pacar. Sebab memang sudah sejak awal, aku sudah tidak lulus untuk jatuh cinta sebelum mulai mencoba." sambungnya yang tak mengerti.
***
5 hari kemudian...
Hubungan Fika dengan Aksa mulai sedikit merengang akibat pertengkaran mereka tempo hari. Fika mendesah lelah, ini sudah yang kesekian kalinya ia terus mendesah.
Entahlah, apa yang tengah dia pikirkan saat ini. Bahkan makanan yang ada dihadapannya pun, kini sudah berubah menjadi seperti bubur cair berkat diaduk terlalu lama.
Sang mama yang melihat itu lantas bersuara, "hei. Kau kenapa? apa kau masih bertengkar dengan Aksa?"
Fika mengangguk lemah, "Tak baik, jika kau terus bertengkar dengannya. Cepatlah berbaikan, karena sebentar lagi kau akan menikah dengannya bagaimana pun juga." sahut sang ayah.
Fika mejamkan matanya sejenak, astaga! yang benar saja rasa pening dikepalanya semakin mendenyut hebat. Dalam satu malam, dua orang yang dicintai muncul secara bersamaan.
__ADS_1
Noah dengan sikap misteriusnya, sedangkan Aksa dengan keinginan terbesarnya untuk mengubah kebiasanya. Hah! kenapa jadi begitu rumit untuknya.
"Iya, apa yang papamu katakan itu benar. Jangan sampai pernikahaan kalian gagal. Karena kalau sampai pernikahaan mu gagal, apa kau tidak kasian pada papa mu? Karena dana invetasi yang setiap bulannya Aksa berikan akan dicabut olehnya. Dan apa kau juga mau keluarga kita akan jatuh miskin. Mama tidak mau jadi miskin, sudah susah payah mama dan papa mu membersarkan kalian berdua. Jadi setidaknya--"
BRAK!!
Sebuah dentuman meja yang digebrak terdengar sangat kencang, semua orang terkejut dan menatap ke arah orang yang menggebrak tersebut. Dengan tatapan yang tak percaya, sang mama berkata.
"Rika?! apa-apaan kamu?"
Ya, yang menggebrak meja makan itu adalah Rika. Sebenarnya saat sang mama mengungkapkan keserakahannya dihadapan Fika. Ia melihat sang saudari kembarnya seolah sedang menahan amarah.
Bahkan, tangan Fika juga sudah meremat kuat sendok yang sedang ia genggam. Rika berdiri.
"Cukup Mah, Pah! Kalian akan menikahkan anak kalian bukan barang. Kenapa kalian selalu saja, membahas soal perusahaan. Biar Rika yang akan membantu perusahaan ayah. Jadi aku mohon! jangan bahas itu lagi, terutama pada Fika. Dia sudah cukup tertekan. Okey," mohon Rika dengan tulus.
Setelahnya Rika berlalu dari sana. Baru beberapa menit dia pergi dari ruang makan. Kini ketukan daun pintu membuatnya harus mengalihkan perhatiannya, dan tak lama dia bersuara.
Tok!! tok!!
"Ya! masuklah." sahutnya dari dalam kamar.
Kemudian pintu itu terbuka dan menampakkan Fika yang tengah tersenyum, "apa kau sudah akan berangkat bekerja?"
"Heum.. karena hari ini jadwal ku libur dari kampus, jadi aku memanfaatkannya untuk bekerja."
Fika mengangguk, "terima kasih, karena sudah menyuarakan kekesalanku pada mereka!"
Kegiatan Rika terhenti, "untuk apa berterima kasih. Aku ini saudari kembarmu. Apa kau tahu, ikatan batin dari anak kembar itu lebih kuat dari apapun. Jadi apa yang kau rasakan saat ini, juga sudah pasti aku rasakan. Jadi tak perlu berterima kasih padaku, karena kita anak kembar."
Fika tersenyum senang, tak lama Fika kembali menghela napas lelahnya. Seketika hening sejenak.
"Apa kau masih memikirkan pertengkaran kalian waktu itu?" Fika mengangguk membenarkan pertanyaan Rika.
"Euh.. aku dengar, dari banyaknya orang yang sudah berpengalaman. Memang masa-masa seperti sekarang, adalah masa-masa kedua calon yang akan segera menikah akan diuji. Jadi kau harus kuat dan bertahan, sampai hari pernikahaan itu tiba." Rika memberikan sedikit semangat untuk Fika.
Fika menggeleng lemah, "aku tak tahu, sebenarnya ada apa denganku saat ini? hanya saja--"
Beep~~ beep~ beep~ Drrrtt... Drrrtt..
Rika menoleh saat ponselnya berbunyi, "bentar ya aku angkat telepon masuk dulu?" Fika mengangguk mengiyakannya.
Setelah kepergian Rika, Fika berdiri dari tempatnya duduk saat ini dan tak lama dia mulai berjalan menelisik seluruh isi kamar Rika.
Hingga kemudian matanya menangkap sebuah objek berupa buku gambar yang tergeletak di atas meja belajarnya, dia membukanya sketsa demi sketsa terus terpampang pada halaman buku gambar tersebut.
Tapi kemudian, saat Fika hendak akan membuka lembaran sketsa terakhir dari buku gambar milik Rika dia tertegun.
Keningnya berkerut hebat, tunggu dulu? sepertinya dia mengenali sketsa wajah pria yang ada di dalam buku gambar milik Rika. Namun tak lama, mulut Fika bergumam. "Aksa?"
Fika mendongak, "Apa selama ini, pria yang Rika sukai adalah Aksa?"
Deg!
__ADS_1