Not Me, But She

Not Me, But She
8


__ADS_3

Beberapa jam setelah makan malam. Fika bergerak gelisah, dia berjalan mundar mandir tak menentu memikirkan apa yang terjadi selama dia pergi ke pasar.


Ia memejamkan matanya sejenak, berusaha mengingat dengan jelas orang-orang yang ia temui siang itu di sana. Namun sayang, dia tak bisa melihat apapun di dalam ingatannya. Hingga tak lama bahunya ditepuk pelan, dan ia terlonjak kaget.


Puk!


"Hah?!" Kagetnya sambil berbalik.


Dia melihat sang suami yang sedang menatapnya heran, "Kamu kenapa? aku lihat kamu mundar-mandir kaya seterikaan gak jelas. Ada apa?"


Fika menghembuskan napas panjangnya, "Huft... yang, bagaimana kalau yang dilihat mas Jackward itu beneran Rika dan Aksa? aku harus ngapain sekarang biar gak bisa berpapasan. Aku takut.."


"Jadi yang tadi abang Jack lihat itu Rika? tapi siapa Aksa?" Fika mengigit bibir bawahnya.


Astaga! bagaimana dia bisa lupa menceritakan soal aksa padanya! Ya. Sejujurnya Noah memang mengetahui dia sudah memiliki seorang pacar sejak kepergiannya.


Tapi, pria itu hanya sebatas tahu soal hal tersebut. Namun Noah belum mengenal Aksa jauh lebih dalam. Hingga tak lama, dia berkata.


"Aksa itu, eumm.. Mantan calon suami aku, yang kebetulan disukai oleh Rika." tuturnya.


Noah mengangguk mengerti, sambil berjalan ke arah tempat tidur. Fika terheran melihat reaksi Noah, ia menerjap beberapa kali. Hingga tak lama dia kembali lagi bertanya.


"Kau tidak marah? hanya seperti itu reaksimu?" Noah berbalik dengan kening yang berkerut.


"Memangnya aku harus bersikap seperti apa? terkejut? Atau.. Marah?" katanya sambil berpura-pura memasang wajah yang dia katakan.


Fika memukul bahu Noah kesal, astaga! bisa-bisanya pria itu malah meledek dirinya. Hingga kemudian Noah berjalan mendekat, lalu tak lama dia merengkuh erat tubuh sang istri.


Setelahnya dia mengusap surai hitam milik sang istri, sambil berkata.


"Gini ya sayang.. kitakan sekarang sudah menjadi suami istri. Ditambah, Rika dan Aksa juga sudah menjadi pasangan. Untuk apa kau khawatir. Kalau memang nanti kita berpapasan, kita jelaskan saja apa yang terjadi. Lagipula bukankah, kita menikah karena saling mencintai? Jadi untuk apa kau takut menjelaskan pada pria itu nanti."


Fika tampak menimang ucapan Noah. Saat hendak membuka mulutnya kembali, dengan cepat Noah mengecup bibir sang istri. Lalu setelahnya dia kembali berkata.


Chup~


"Sudah, sekarang. Ayo kita tidur." Fika yang menerima perlakuan manis tersebut merasa senang.


Ya, Dia tidak akan pernah menyesali keputusan apa yang telah dia ambil selama ini. Sebab, baik dirinya maupun Noah sama-sama saling mencintai dan itu adalah fakta yang sebenarnya!


Jadi dia pikir, dia akan jauh lebih menyesali jika sampai detik ini dia masih bersama Aksa yang lebih menyukai dirinya untuk menjadi orang lain. Dibandingkan menjadi dirinya sendiri.


***


"Bagaimana, apa kalian sudah mendapatkan alamat dari wanita sialan itu?" Marah Aksa saat anak buahnya gagal menemukan keberadaan Fika.


Hingga tak lama dia menuduk, sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. Sial! bagaimana bisa, dia tidak menemukan satu titik terang keberadaan wanita itu.


Padahal dia sudah berada di Negara yang sama. Hingga tak lama dia mendesah panjang, rahangnya mengeras.


"Dengarkan! Kalau sampai besok hari kalian masih belum juga menemukan wanita itu! Jangan harap kalian semua bisa melihat sinar mentari pagi untuk selamanya."


Setelahnya dia memutuskan sambunganya itu dengan sepihak, ada apa dengannya? Kenapa dia selalu bersikap menjadi labil seperti ini? saat dihadapkan pada kedua wanita itu.

__ADS_1


Karena terkadang dia merasa bahwa ia tak mau kehilangan Fika, namun disisi lainnya dia juga tak ingin kehilangan Rika. Apa yang sebenarnya dia mau? ia sendiri hanya tau, jika saat ini dia hanya ingin memberikan kedua wanita ini pelajaran.


Sebuah pelajaran yang akan membuat mereka menyesal, karena telah berani menipunya. Hingga kemudian, Aksa memandang Rika dalam.


Saat ia sedang menatapnya, tiba-tiba saja perempuan yang tengah tertidur pulas tanpa sehelai pakaian itu tersenyum manis. Aksa berjalan mendekat. Setelah dirinya terduduk di samping Rika.


Tangannya mulai bergerak membelai wajah Rika. Lalu tak lama dia membungkukan dirinya sejenak, "Mengapa kau tersenyum? apa kau memimpikan hal yang indah bersamaku? ... tapi sayang, karena setelah kau terbangun akulah yang akan menjadi mimpi buruk itu. Sebab aku akan menghacurkanmu, beserta saudari kembarmu itu."


Aksa menyeringai jahat, lalu setelah membisikan hal yang mengerikan tersebut. Raut wajah Rika langsung berubah dalam sekejap. Sedangkan Aksa yang melihat itu terkekeh kecil, karena ia merasa puas. Lalu kemudian dia mengecup kening Rika sekilas.


"Selamat tidur, dan aku berharap kau akan bahagia setelah ku hancurkan."


Beberapa jam berlalu..


"Jangan!! Jangan!! Aksa.. Aku mohon, jangan sakiti mereka. Hiks.. hiks.. Aksa aku mohon, Hiks.. TIDAAAAKKK!!!"


Huh!!


Hosh!


Hosh!


Rika terbangun dengan keringat yang bercucuran, bahkan napasnya terengah-engah. Sejenak wanita itu terlihat bingung akan apa yang ia lihat setelah terbangun dari mimpinya.


Hingga tak lama dia menyentuh seluruh wajah dan anggota badannya. Lalu tak lama dia mulai bernapas lega.


"Huh.. Ternyata aku mimpi, kenapa mimpi itu sangat mengerikan?" Aksa bersedekap dada.


"ASTAGA!! kenapa kau sangat berisik! apa kau tahu? Aku sedang mengadakan rapat online, kau tahu itu?!" Rika menoleh saat Aksa membentaknya.


Aksa mendesah pendek, "terserahlah. Cepat sana mandi, dan setelah itu kau segera sarapan."


Disaat Aksa hendak melangkah pergi Rika kembali berkata, "Tunggu?"


Langkah kaki Aksa terhenti, "Apakah aku boleh keluar dari hotel ini?" Aksa berbalik dengan tatapan tajamnya.


"Bukan-- bukan. Maksudku, aku ingin pergi berjalan-jalan ke acara festival dibawah. Setelahnya aku akan kembali lagi." Alis Aksa terangkat satu.


"Aku benar-benar jenuh, aku hanya ingin berjalan-jalan ke sekitar acara festival itu berlangsung. Sungguh."


Aksa menghela napasanya kembali, "Ya.. pergilah tapi setelah itu kembali lagi kesini." Setelah mengatakan itu Aksa pergi berlalu.


Rika yang melihat hal itu, langsung saja membungkukan badannya. "Terima kasih. Terima kasih banyak."


Setelah mandi dan menyelesaikan sarapannya, Rika segera bersiap untuk menikmati acara festival yang berada tepat dibawah hotel tempatnya menginap.


Hingga tak lama dia keluar dari kamar tersebut, namun baru beberapa langkah Aksa berkata. "Mau kemana kamu?"


Rika berbalik, "Tadikan aku sudah minta izin sama kamu. Aku bosan, jika di sini terus menerus. Jadi aku akan pergi berjalan-jalan di festival itu sebentar."


Aksa berdecak, lalu tak lama pria itu menyandarkan punggungnya. "Iya aku tahu, tapi siapa yang bilang kalau aku akan membiarkanmu pergi seorang diri?"


Alis Rika saling menaut, "Maksudmu? ... apa kau berniat untuk mengirimkan bodyguard mu untuk mengikutiku selama aku pergi keluar?" Tanpa diduga Aksa mengangguk.

__ADS_1


Rika terkejut, "Huh! Kenapa? kan aku sudah berjanji kalau aku akan kembali lagi ke sini."


"Ya, kau memang sudah berjanji. Tapi sayangnya aku tidak percaya. Aku akan jauh lebih percaya jika kau ditemani oleh mereka." Seketika saja raut wajah Rika mendadak lesu.


Ya, gagal sudah rencana yang dia buat. Karena sejak ia bermimpi buruk tadi. Ia berniat untuk pergi mencari keberadaan Fika.


Tapi kalau ia harus ditemani oleh mereka, bisa-bisa mimpi buruk itu benar-benar akan terjadi nantinya. Sebuah mimpi buruk yang akan menjadi nyata dan paling menakutkan yang pernah dia alami.


"Hey!! bagaimana apa kau setuju? jika tidak aku tidak akan mengizinkan mu pergi? bagaimana?"


Rika mendesah lelah, dan tak lama ia mengangguk patuh. "Iya, baiklah.." ucapnya pasrah.


Setelahnya Aksa menyeringai senang, "Bagus. Itu baru gadis penurut."


***


"Sayang.. kamu jadi pergi ke acara festival itu lagi?" Fika menyahuti dari dalam kamar mandi.


"Jadi yang, bentar dulu ya. Perutku lagi mules nih.."


Noah terkekeh, "Lagi sih, siapa suruh pagi-pagi udah makan yang pedes-pedes. Kapok kan!"


"Ish.. aku tuh lagi kepengen tau." Seketika kening Noah mengerut.


"Kamu ngidam?"


Flush!


Suara flush dari kloset duduk terdengar, dan tak lama diikuti suara air terdengar. Hingga kemudian, Fika keluar dari dalam kamar mandi.


Ceklek!


"Sembarangan.. Aku tuh baru aja kedatangan tamu bulanan pagi tadi pas lagi mandi." Kening Noah semakin mengerut.


"Lalu? kenapa kamu bisa kepingin makan makanan yang super pedes kaya tadi?"


Fika mengangkat bahunya acuh, "entahlah. Hanya kepingin saja." Noah mendekat, dengan tatapan yang bisa Fika mengerti. Hingga tak lama, Fika menyentil kening Noah gemas.


Tak!!


"Aigoo!! mikirnya jangan kejauhan. Lagi pula ini baru beberapa bulan setelah pernikahan kita berlangsung. Jadi, gak akan mungkin secepat itu aku hamil."


Noah meringis kesakitan, saat sentilan pedas tersebut mendarat dikeningnya.


"Ya sudah, jangan disentil.. aku kan hanya berharap kamu cepat isi." lirihnya.


Melihat reaksi sang suami yang mengeluh kesakitan, akhirnya Fika mengusap kening sang suami lembut.


Sambil berkata, "Aku minta maaf ya.. Sakit ya." Noah mengangguk layaknya anak bayi dengan bibir yang mengerucut.


Sedangkan Fika tertawa geli. Astaga! Bagaimana bisa dia mencintai seorang pria yang bisa bersikap layaknya bayi polos tak berdosa, yang akan menangis jika direbut permenya oleh orang dewasa.


Lihat! bagaimana sang suami bersikap manja sambil terus memeluk tubuhnya seperti ini. Benar-benar, menggemaskan!

__ADS_1



__ADS_2