Not Me, But She

Not Me, But She
6


__ADS_3

2 minggu pun berlalu..


Sejak ia mengetahui siapa sang istri yang sebanarnya. Aksa mulai bersikap acuh, dan terkadang tatapan dingin dia berikan pada sang istri.


Bahkan terkadang ia juga sudah mulai jarang pulang kerumah, sekalinya pria itu pulang dia akan langsung masuk keruang kerjanya.


Aksa juga tak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam ruangan itu. Termasuk Rika. Tapi kadang kala Rika memaksa masuk, saat melihat kondisi Aksa yang kelelahan akibat bekerja tanpa henti.


Perlahan dia berjalan masuk, lalu tak lama dia menyelimuti tubuh Aksa dengan selimut tebal yang sudah dia bawa. Setelahnya Rika mensejajarkan tingginya, menatap wajah Aksa yang tengah tertidur adalah pemandangan yang takkan pernah dia lupakan.


Wajah tampan yang saat ini tengah terlihat lelah itu sangat ketara pada wajahnya.





"Jangan terlalu lelah bekerja, karena kau bukan robot." ucapnya pelan sambil membelai lembut rambut Aksa.


Kemudian ia segera bangkit dan keluar dari sana sebelum Aksa menyadarinya. Tapi siapa sangka, Aksa sudah bangun dari tidurnya, saat Rika tengah menyelimuti.


Namun pria itu lebih memilih berpura-pura tidur agar tak mengejutkannya.


"Kenapa kau masih saja baik padaku? sedangkan aku sudah jahat padamu?" kata Aksa saat pintu itu telah tertutup rapat.


Aksa menegapkan tubuhnya. Saat sudah terduduk dia menatap selimut tebal itu, selimut yang diberikan oleh Rika tadi. Dia termenung sambil mengusap selimut tebal itu, hingga kemudian suara deringan ponselnya membuyarkan lamunanya.


Aksa segera bangkit dan meraih ponselnya.


"Halo"


"..."


"Apa?! di mana wanita itu?!"


"..."


"Baiklah, carikan aku dua tiket pesawat menuju Swiss."


"..."


"Akan kutemukan wanita sialan itu."


Bip


Setelah sambungan terputus, Aksa berdiri menatap ke arah luar jendela. Ya, dia berniat untuk memberikan pelajaran pada Fika.


Karena dengan lancangnya dia mempermalukan dirinya, dengan menyuruh Rika (saudari) kembarnya menikahi dirinya. Dia pikir, dia siapa? bisa lepas begitu saja dari genggamannya.


Tak lama kemudian dia bersedakap dada, sambil menyeringai jahat menatap pemandangan indah di depannya.


***


"Dua hari lagi aku ingin kau ikut denganku." Kening Rika berkerut.


Rika meletakan sendok yang telah berisi nasi, kembali ke dalam mangkuk. "Kemana?"


Aksa tak menjawab dia masih asik menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya kembali.


"Katakan, kenapa kau ingin aku ikut bersama mu? dan apa alasannya?" Bukannya ia menjawab dengan lembut.


Namun justru Aksa malah meletakan sumpit tersebut dengan kasar di atas meja.


Brak!!

__ADS_1


Rika tersentak kaget, "bisakah kau tidak banyak bertanya?" Saat perkataan itu terucap.


Nyali Rika langsung menciut kala suara dingin nan tegas itu, terdengar olehnya. Matanya yang tajam menatap dirinya seakan memperlihatkan ketidaksukaan pria itu padanya.


Rika menunduk, lalu kemudian dia mengangguk patuh. "Baiklah, maafkan aku." cicitnya.


Aksa membuang napasnya kasar, tak lama dia mendorong kursi yang dia dudukkan. Selera makannya lenyap sudah, saat melihat mata Rika yang mulai berkaca-kaca.


Hingga kemudian dia berkata. "Aku sudah kenyang... Aku akan langsung berangkat, dan tidak usah menungguku pulang. Karena malam ini aku akan lembur."


Setelah mengatakan itu, Aksa melangkah dan lalu dia mengambil jas kerjanya yang sudah disiapkan. Tanpa pamit kepada Rika, Aksa melenggang bebas dan pergi dari sana meninggalkan Rika yang tengah menangis.


Entahlah kenapa dia menangis, yang jelas tadi saat nada bicara Aksa terdengar. Hatinya sangat sakit, seolah seperti ditusuk oleh ribuan pisau yang menyerangnya secara bersamaan.


Ya, dia sadar cinta Aksa hanya untuknya. Tapi apakah pria itu tidak bisa, sekali saja melihat dia yang sedang berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian darinya.


Kini Rika tengah terduduk diam di depan balkon kamarnya. Dia termenung memikirkan perubahan sikap Aksa yang sangat berbeda, apa ini semua terjadi karena kecelakaan itu?


Well, Rika sadar bahwa mungkin perubahan Aksa memang ada kaitannya dengan kecelakaan itu. Tapi, apakah harus sebanyak itu.


Apa dia bisa membuat Aksa yang dulu kembali, Aksa yang ramah dan mudah tersenyum padanya seperti dulu.


"Huh.. Aku rindu kamu yang dulu Sa." Lirihnya.


Namun ucapan tersebut terdengar oleh Aksa. Walau kini Aksa sudah tiba dikantor, tapi tatapannya masih terfokus pada layar monitor yang menampakan Rika yang sedang duduk menyendiri di depan balkon kamar mereka.


"Rindu aku yang dulu? memangnya aku yang dulu orang yang seperti apa?" tanyanya seorang diri.


DEG!!


Hingga tak lama ingatannya tentang masa lalu kembali muncul, saat suara-suara aneh itu terdengar oleh Aksa.


#Flashback


Wanita itu tersenyum, "terima kasih, tapi ak--"


Brommm...


Tiiiinnnnnnn...


"AWAAASSSS!!!"


Brak!!


Tubuh Aksa terpental, dan ia masih dengan samarnya melihat wajah wanita itu.


#Flashback off


Hingga tak lama, secara mendadak kepalanya berdenyut hebat. Aksa menjerit kesakitan, "AAAAAAAAA!!"


"AKSA!! KAU KENAPA?!"


"Aakhh.. sakit!! AAARGHHH!!!"


"Bos!! bertahan lah... Kalian yang diluar cepat panggil dokter Megan!"


Sang sekertaris pribadi Aksa mengangguk, "Baik pak direktur."


"Aaakkhhh.. sakit sekali!!"


Beberapa jam kemudian, kini Aksa tengah terbaring tak berdaya diranjang rumah sakit. Akibat kepalanya yang berdenyut luar biasanya sakitnya.

__ADS_1


Rasa sakit yang seolah mampu memecahkan kepalanya itu, sanggup menguras tenaganya untuk menjerit hebat saat itu.


"Aksa.. bertahanlah, Aksa aku mohon bertahanlah.." suara yang tak asing masuk ke dalam pendengaranya.


Matanya sangat sulit untuk dibuka, namun perlahan ia mulai membuka. Lagi-lagi pemandangan seorang wanita yang wajahnya buram muncul dalam pengelihatannya.


Aksa berusaha keras untuk memfokuskan pengelihatannya. Hingga tak lama, wajah buram tersebut perlahan mulai terlihat aslinya. Saat sepenuhnya wajah itu terlihat jelas dalam pengelihatannya, kedua alisnya menukik.


"Rika?" Rika tersenyum hangat menyambut kembalinya kesadaran sang suami.


Aksa mencoba untuk membenarkan posisinya, "Rika. Apa kau wanita yang ada dilokasi kejadian saat bersamaku?"


Rika tertegun, "A-apa maksudmu?"


"Kau? wanita yang ku tolong dari kecelakaan beberapa tahun silam itu! Iyakan?"


Mata Rika melebar, ya. Sejujurnya dia ingin sekali berkata,"ya itu benar." Tapi sayangnya lidahnya terasa keluh, untuk mengatakan hal yang sejujurnya.


Jadi dia hanya memilih untuk menggeleng, dan berdalih. "B-Bukan. Bukan aku, kau salah orang."


Namun tak lama dia menyadari sesuatu, "Tadi, kau memanggilku siapa?"


Aksa merotasi matanya, "Rika? Namamu Rika kan, bukan Fika?"


Deg!!


Rika tercengang, matanya membulat kala mendengar ucapan Aksa. "K-kau? K-kau.."


"Ya, aku sudah tahu semuanya. Kau itu Rika bukan Fika. Kau fikir aku bodoh. Berhentilah bersandiwara." Rika terdiam.


Dugh!!


Hingga tak lama dia terjatuh dan berlutut dihadapan Aksa. "Aku mohon, jangan maafkan aku. Aku akan menerima hukuman apapun yang kau berikan, tapi... Jangan libatkan ini dengan perusahaan ayahku. Aku mohon.."


Aksa mendesah lelah, "Apa aku sejahat itu dimatamu?"


Rika mendongak, dengan tatapan tak percaya dia menatap dalam ke arah Aksa. Apa ini? apa pria itu tidak marah dengannya?


Padahal, dia tahu jika dia telah membohonginya. Hingga tak lama, Aksa berkata.


"Kenapa kau menatapku seperti itu. Tenang saja, aku tidak akan menarik investasiku diperusahaan ayahmu. Tapi dengan satu syarat, kau.."


Aksa menurunkan kedua kakinya, lalu tak lama dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Rika yang tengah berlutut.


Tanganya menyentuh dagu Rika, menariknya agar kedua mata itu semakin menatapnya lekat. "Kau harus mengandung anakku sebagai gantinya. Bagaimana?"


Rika bergeming, dia tak tahu harus menjawab apa. "Ayo, jawab aku."


"Kalau aku tidak mau?" Aksa menyeringai.


"Kau tidak mau mengandung anakku, tak apa. Kau akan ku masukan ke dalam penjara. Lalu akan ku tarik investasi perusahaan ayahmu." Mata Rika bergerak gelisah.


Lalu dia memejakan matanya, "Bagaiman kalau aku mau, apa yang akan ku dapat?"


"Kau pintar bernegosiasi rupanya. Baiklah, aku akan mempertahankan investasi itu. Tapi setelah kau serahkan bayi itu padaku."


Alis Rika terangkat satu, "Apa maksudmu?"


"Kau hanya akan mengandung dan melahirkan anakku, tapi setelah anak itu lahir. Aku akan menceraikanmu. Seperti bagaimana, saudari kembarmu mencampakkan aku saat itu."


__ADS_1


__ADS_2