Not Me, But She

Not Me, But She
03


__ADS_3

"T-tentu saja aku Fika. Istrimu," bohongnya.


Aksa bersmirk, "benarkah? kalau begitu buktikan padaku, apa yang biasanya kau lakukan. Saat menghadapi kemarahanku?"


Rika berdiam sejenak, otaknya memutar dengan cepat. Hingga tak lama dia bangkit dan berjalan, tanpa diduga Rika mendudukan dirinya di atas pangkuan Aksa.


Dengan tangan nakalnya yang bergerak membelai secara seduktif terus ia lakukan. Sebenarnya, Rika tak ingin melakukan hal itu. Atau lebih tepatnya dia tidak punya pilihan, karena dalam ingatannya.


Fika pernah bilang, kalau nafsu Aksa sangatlah tinggi. Pria itu, juga sangat mudah dijinakan kalau dia bermain erotis seperti yang saat ini dia lakukan.


Tapi percayalah, demi Tuhan. Dia malu! ia benar-benar, berusaha menahan malunya. Agar kedua pipi gembilnya tidak menampakan rona merah dipermukaanya.


Namun entahlah apa cara ini berhasil atau tidak. Hingga kemudian, Aksa menangkap tangan Rika. Lalu kemudian dia menyunggingkan senyum nakalnya.


"Kau memang benar Fikaku, tapi.. kenapa kau bisa lupa akan hal sepele seperti itu, sayang.." Rika menatap lugu.


"Maafkan aku, sungguh aku benar-benar lupa. Karena niatku saat memasak kali ini, hanya untuk membuatmu senang."


Aksa mengangkat satu alis matanya, "Ya, kau sudah berhasil membuatku senang. Tapi apa kau tahu? Di dunia ini, tidak ada sifat manusia yang bisa berubah hanya dalam waktu semalam. Aku benarkan?"


Seketika saja Rika kesulitan menelan salivanya, "hehe.." kekehnya.


"Tapi kali ini, aku akan melupakannya. Dan juga, berhubung kau sudah diposisi seperti ini. Sekarang tugasmu, untuk menidurkan adikku kembali?" goda Aksa dengan memainkan alis matanya naik dan turun.


Rika tercengang, tak lama semburat merah merona dipipinya keluar.


Semburat merah cabai, yang sedari tadi terus dia tahan akhirnya tampak juga. Rika menenggelamkan wajahnya, di dada bidang Aksa.


Sambil memukul kecil, Rika berkata.


"Heum.. kau sangat mesum!"


Aksa terkekeh kecil, "Mesum? ey.. aku hanya mesum pada istriku saja."


"Ck, menyebalkan."


"Diam jangan terus bergerak. Semakin kau bergerak, dibawah sana akan semakin mengembang." bisik Aksa sambil berusaha menahan gejolak untuk tidak menyerah Rika dimeja makan.


Setelahnya Aksa sedikit, menajuhkan kursi. Kemudian dia bangkit sambil menggendong Rika, dan perlahan ia mulai berjalan menuju kamar mereka. Lagi-lagi malam ini, hanya ada erangan merdu dari kedua insan tersebut.


Bahkan, benda-benda disekitarnya menjadi saksi. Jika setelah olahraga itu, benih cinta perlahan mulai tumbuh dihati Aksa untuk Rika. Ya, karena sesungguhnya.


Sebelum benar-benar pulang kerumah. Ia mendapatkan sebuah informasi yang dia inginkan, telah ia dapatkan begitu sangat cepat. Sebuah rekaman cctv, yang memperlihatkan jika Fika diam-diam kabur bersama sang mantan kekasihnya.


Beberapa jam telah berlalu, kini Aksa masih terjaga. Sedangkan di sampingnya ada Rika yang tengah terlelap, akibat olahraga malam yang panjang bersama Aksa.


Bahkan Rika tertidur hanya dengan ditutupi selimut tebal mereka. Sedangkan Aksa dia tengah duduk bersandar dikepala ranjang sambil menatap Rika.


"Aku ingin tahu, seberapa lama kau mampu berakting dihadapanku? Apa kau sebegitu takutnya padaku, sampai-sampai kau mau bertukar peran dengan saudari kembarmu hanya demi menolong perusahaan ayahmu? atau kalian berdua memiliki rencana lain, Rika?" Monolognya seorang diri.


***


Seminggu sebelum hari pernikahaan. Fika tengah terduduk disebuah cafe mewah bersama para sahabatnya. Ya, hari ini adalah pestanya melepas masa lajang.


Karena tepat seminggu lagi, ia kan segera menyandang status baru menjadi Nyonya Aksana. Dengan puluhan paper bag yang dia bawa, bersama sang kakaknya. Fika tersenyum.

__ADS_1


"Asik deh, yang sebentar lagi jadi Nyonya besar." Goda Eden.


Yuki terkekeh, "iya nih, seminggu lagi bakal dijebol sama Aksa nih."


Fika sedikit mencondongkan badannya, lalu kemudian dia berkata "udah sering dijebol kali gue ama dia. hehe.." jujurnya yang membuat semua orang terkejut.


"Jadi elu udah pernah begituan, sama Aksa?" Fika mengangguk.


Nesha menggeleng tak percaya, "astaga! tapi gimana puas gak?"


"Enggalah, orang dia aja nyuruh gue buat selalu minum pil. Sebelum main di atas ranjang sama dia. Ditambah dia juga lebih sering pake pelindung. Yah, bisa kalian taulah gimana rasanya?" Setelah mendengarkan penuturan Fika.


Semua sahabatnya tertawa lepas. Yaampun, bagaimana bisa? Fika menceritakan hal itu secara gamblang. Bahkan tanpa harus lebih dulu mengecilkan suaranya.


Bukankah, seharusnya dia mengatakan hal tersebut dengan suara kecil atau setengah berbisik. Tapi apa ini? dia malah membicarakan hal tersebut dengan suara normal.


Ya, walau posisi mereka kini berada diluar ruangan dengan pemandangan laut yang begitu eksotik. Tapi tetap saja, seharusnya dia merasa malu saat mengatakan semua hal kotor itu.


Hingga tak lama, Rika datang dengan kantung-kantung besar keperluan pernikahaan milik Fika.


"Eoh? siapa ini Fika? apakah dia Rika kita?" tanya Nesha.


Eden menoleh, mengikuti arah pandangn Nesha. "Omona!! lihatlah Rika. Seharusnya, sejak dulu saja kau berdandan seperti ini. Sudah pasti, kalian berdua akan menjadi nama mahasiswa yang paling banyak dibicarakan dikampus. Ya, kan Fika?"


Fika mengangguk mengiyakannya, "sebenarnya, sudah dari dulu aku menyuruhnya berdandan seperti itu. Tapi tetap saja, dia kembali lagi menjadi sikutu buku dengan kaca mata tebalnya itu."


"Kemarilah, dan duduk bersama kami." Ajak Yuki yang tiba-tiba saja bangkit dan mendekat ke arah Rika.


Setelahnya, mereka kembali tenggelam dalam sebuah obrolan asik dan seru. Sebelum mereka akan benar-benar kesulitan untuk bertemu nantinya.


Yuki mengangguk, "yaps, Eden benar. Kau harus sering bergabung dengan squad kami. Jadi jangan malu atau sungkan sama kami, iyakan gais?"


Rika terkekeh kecil, "baiklah.. Aku akan sering bermain bersama kalian semua."


"Nah!! gitu dong dari dulu aja kek." Sahut Nesha dengan semangat.


Lalu tak lama mereka tertawa lepas. Dan kembali menikmati pesta melepas masa lajang Fika, dengan minum dan makan sepuasnya dicafe tersebut.


Hingga tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat. Mereka semua merasa sangat senang hari ini, bukan hanya itu. Tapi mereka semua, juga merasakan bahwa perut mereka sudah sangat penuh.


Hingga rasanya ingin meledak, saking banyaknya. Makanan yang masuk ke dalam perut mereka. Setibanya diluar cafe itu, mereka semua berpamitan pada Fika dan Rika.


"Makasih banyak ya, calon Nyonya besar. Hari ini perut gue begah, dan hati gue pun senang." kata Eden bahagia.


Nesha mengelepak kepala Eden pelan, "huh! makan mulu lu... Tapi hari ini kita semua bener-bener bahagia. Next siapa lagi ini yang akan nyusul."


"Heum.. gue pikir mungkin Rika?"


Rika terkejut. Saat Eden mencoba menebak nama siapa yang akan segera menikah selanjutnya.


Rika menggeleng malu, "tidak mungkin. Aku masih belum punya pacar, jangankan pacaran. Laki-laki saja enggan dekat denganku."


Yuki merangkul pundak Rika dan Fika, "Jangan khawatir. Kita-kita yang akan mencarikannya untukmu? iyakan, Fik?"


Fika mengangguk setuju, "tapi ada syaratnya?"

__ADS_1


Semua orang menoleh dengan dahi yang mengerut, "syarat? syarat apa Fik?"


"Euh.. gimana sih lu pada. Ya, pastinya dandanannya harus dirubah. Jangan kaya kutu buku mulu." Mereka berempat secara kompak ber'oria.


Saat mendengar perkataan Fika, namun disaat yang lain sedang sibuk tertawa. Sebuah getaran diponsel Fika berbunyi.


Drrrtt~ drrrtt~


Dia menoleh, dan melirik sekilas. Hingga tak lama dahinya mengerut, saat melihat nomer telepon yang tidak dia kenal.


Akhirnya karena rasa penasaran itu, mau tidak mau terpaksa pesan tersebut dia buka. Sebuah pesan yang membuatnya cukup tercengang.


Ting!


*Hai, cewe cantik. Sudah lama kita tak bersua. Long time no see, my pretty girl.


Ting!


Masih ingatkah kau dengan ku? ah, tentu saja kau pasti sudah melupakanku. Karena sebentar lagi kau akan melepas masa lajangmu.


Ting!


Maafkan aku, tak seharusnya lima tahun yang lalu aku pergi tanpa pamit padamu. Mungkin saja, kini kita masih berstatus pacaran. Fika Venderla. Tapi kini, hanya ada rasa penyesalanku terhadapmu. Ah.. sudahlah, bagaimana jika malam ini menjadi malam terakhir untuk kita? Sekaligus sebagai permintaan maafku padamu, sebelum kau benar-benar pergi dari hidupku. Bagaimana kau mau kan*?


Mata Fika terus bergerak, membaca pesan-pesan tersebut yang masuk ke dalam ponselnya. Hingga sampai saat sebuah pesan terakhir masuk, dia menggumamkan nama seseorang.


Sebuah nama yang dulu menjadi luka untuknya, karena kepergian pria itu yang tanpa pamit padanya. Bahkan berkabarpun tidak, setelah kepergiannya.


"Noah," ucapnya pelan.


Fika mendongakkan kepalanya, "Fika ayo pulang?" ajak Rika.


Namun tangan Rika dicekal oleh Fika, "Kau saja duluan yang pulang. Aku masih punya urusan?"


"Urusan? urusan apa? apa masih ada daftar belanjaan yang belum kita beli?" tanya Rika heran.


Fika menggeleng, "bukan. Ada urusan penting lainnya. Kau pulang dengan mobilku, biar aku pulang dengan menggunakan taksi."


Tanpa menunggu izin dari Rika, Fikapun akhirnya pergi berlalu. Dengan cepat ia memanggil sebuah taksi tak jauh dari sana. Setelah itu taksi yang dia berhentikan itupun, berhenti tepat dihadapannya.


Namun tak lama Rika meneriakan namanya. Yang sayangnya diabaikan oleh Fika, setelahnya mobil taksi yang ditumpangi oleh Fika pun melaju menjauh dari pandangannya.


"Hey! Fika kau mau kemana? Fika?" Rika menggerutu kesal.


Astaga! mau kemana lagi anak itu! apa dia tidak lihat sebentar lagi akan gelap. Ya, langit senja perlahan mulai berganti menjadi kumpulan awan hitam yang siap membasahi bumi.


Dan benar saja, baru 15 menit dia pergi air hujan pun mulai turun dan tak lama semakin deras. Fika terus melihat isi pesan tersebut, dan tak lama dia mengetikkan sesuatu di sana.


Kau ada dimana? aku ingin bertemu denganmu? sekarang.


Bak bagaikan gayung yang bersambut, tak lama pesan tersebut dibalas oleh Noah.


Ya, Noah Gorthman, adalah seorang pria yang dulu berstatus sebagai kekasih dari Fika terdahulu sebelum Aksa datang menggantikan posisinya. Fika tersenyum lebar, saat setelah membaca pesan tersebut.


"Dia masih sama." katanya.

__ADS_1



__ADS_2