
sudah 3 hari dia berdiam diri di kamar hotel, ia terus saja memandang ke arah luar jendela sambil menghela napasanya berkali-kali.
Bosan? tentu saja dia sangat merasa jenuh. Sejak dia menuruti permintaan Aksa pada hari itu yang memaksanya untuk ikut serta dalam perjalanan bisnisnya kali ini, dia hanya bisa pasrah.
Sungguh entah apa yang dipikirkan oleh sang suami. Karena pasalnya selama 3 hari ini, Rika hanya boleh turun dari kasur untuk makan dan ke kamar mandi.
Selain itu, dia hanya bisa berdiam di dalam kamar hotel tempatnya menginap. Ah tidak! lebih tepatnya dia hanya berdiam diri di atas ranjang tanpa sehelai kain.
Ya, walau kamar hotel ini sangat luas, tapi tetap saja 3 hari ini ia hanya bisa pasrah membiarkan tubuhnya dijamah sesukanya oleh Aksa.
Apalagi, setelah dia menyetujui perjanjian dirumah sakit tempo hari. Jadilah, ia terkurung di dalam sangkar seperti sekarang ini.
Walau di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali keluar dan menikmati pemandangan indah dipusat kota Basel, di Swiss. Tapi itu hanya mimpi untuknya, hingga tak lama, pundaknya disentuh oleh seseorang.
Dia sedikit terperenjak, "Eh? ah.. kau rupanya, kenapa mengagetkanku?"
Aksa mendengus, "Apa yang sedang kau pikirkan? dari tadi aku memanggilmu, kau tidak menyahutinya." ucap Aksa sambil mendaratkan bokongnya.
"Huh.. tidak, aku hanya sedang merasa bosan." Jika boleh aku ingin sekali keluar dan menikmati kota Basel. Lanjutnya dalam hati.
Tiba-tiba saja Aksa berdiri kembali, "Baiklah, ayo kita keluar. Aku tau, kau pasti sangat bosan kan berdiam di sini terus? lagi pula sudah dua malam ini kau melayaninku dengan sangat hebat, jadi sebagai hadiahnya akan ku ajak kau berkeliling kota. Bagaimana?"
Demi puja dewa kerang ajaibnya Spongebob. Ada apa dengan Aksa? apa ia tidak salah dengarkan? Rika hanya bisa menerjap, menatap tak percaya.
Bagaimana bisa itu terjadi, pria itu berbaik hati padanya? Hadiah? lucunya pria itu, menganggap kegiatan selama 2 malam ini sebagai pelayanan terbaik darinya.
Awalnya Rika ingin sekali tersenyum, tapi saat mengingat perkataan Aksa. Seketika senyuman itu luntur. Ya, Rika menganggap kegiatan dua malam itu sebagai kewajiban dari seorang istri.
Tapi tidak bagi Aksa, karena sepertinya pria itu menganggap semua kegiatan intim itu bagaikan teman satu malamnya. Rika hanya bisa tertawa miris, kemudian Aksa kembali berkata.
"Kau mau tidak? ayo cepat, sebelum aku berubah pikiran!" Dengan cepat dia merubah ekspresi wajahnya.
Rika berdiri, dan kemudian berlalu memasuk ke dalam kamar berniat untuk mengambil mantel beserta tas kecil. Setelahnya mereka keluar dari kamar hotel.
Hingga tiba mereka di lantai bawah hotel tersebut, ia tersenyum lebar."Wah, ramai sekali."
Aksa menatapnya, "Kau hanya akan aku beri waktu 2 jam untuk berada diluar. Karena setelah itu, kau harus kembali masuk ke dalam kamar hotel lagi."
Rika yang tadinya hendak melangkah, seketika terhenti. Apa pria itu sudah gila? bahkan hanya untuk keluarpun dia dibatasi dengan waktu. Benar-benar keterlaluan! Rika mendumal kesal dalam hatinya.
"Hey! kau dengar aku tidak?" kata Aksa dengan suara sedikit meninggi.
Rika tersenyum, lalu tak lama dia kembali berjalan melewati Aksa sambil berkata. "Baiklah, dasar tukang mengatur."
Rika berjalan keluar dari hotel tersebut, bisa ditebak sepertinya kota ini sedang mengadakan semacam acara festival rutin yang diadakan oleh Kota ini. Karena terlihat dengan jelas.
Bahwa tepat di depan hotelnya menginap, ada banyak sekali para stan pedagang kaki lima. Sudah berjajar rapi disepanjang jalan yang menghadap ke arah sungai dikota Basel tersebut.
Kaki Rika terus melangkah melawati satu demi satu kios pedagang itu, sesekali dia juga melirik ke arah kios-kios lainnya. Beberapa kali dia juga berhenti pada stan pedagang yang menjual aneka jenis makanan ringan, hingga tak lama.
"Ayo cepat jalan!" mendengar titah Aksa dengan cepat Rika membayar makanan yang dia pesan.
Setelahnya dia kembali berjalan tepat di belakang Aksa. Dan pria itu? dia sibuk menelepon seseorang di sana. Entahlah siapa yang pria itu telepon, karena sejujurnya Rika sudah tidak mau ambil pusing.
Namun tak lama langkah kakinya terhenti, lalu matanya melebar secara tiba-tiba. Dengan cepat dia berlari, lalu kemudian ia menggandeng tangan Aksa, gandengan tangan tersebut seketika membuat Aksa berhenti dan berbalik.
__ADS_1
Aksa menyerutkan keningnya heran, "Apa yang sedang kau lakukan?"
"A-aku.. Aku lapar, bagaimana kalau kita makan dulu di sana?" kata Rika namun matanya masih terpaku pada seseorang.
Aksa yang melihat tingkah aneh Rika, seketika sedikit menaruh kecurigaan padanya, saat hendak akan mengikuti arah pandang Rika. Tapi perempuan itu dengan cepat menarik tanganya.
"Ayo cepat, kau bilang aku hanya punya waktu dua jam sajakan?"
Pria itu tertegun dengan alis yang saling menaut, hingga akhirnya Aksa terpaksa mengangguk, "Huft.. baiklah, ini memang waktunya makan siang. ... Aku tutup dulu ya, sampai ketemu di tempat meeting." setelah Aksa menutup sambunganya.
Dengan tidak sabaran, Rika menarik tangannya. "Iya, ya sabar.. kau itu, saat ada maunya saja kau tidak sabaran seperti ini." dumal Aksa saat Rika semakin menarik tanganya.
Hingga tak lama kemudian, seorang perempuan dengan mengendong anak kecil melewati cafe tersebut, cafe di mana di dalamnya ada Rika dan Aksa yang sedang makan siang bersama.
Seorang perempuan yang tidak hanya Rika kenal, melainkan Aksa juga pasti sudah mengenal wanita itu. Ya, Rika melihat Fika yang tengah sibuk memilih disalah satu stan pedagang bersama dengan seorang bayi laki-laki yang sepertinya masih berusia 3 tahun.
"Maafkan aku Aksa.. Aku hanya ingin bahagia bersama mu, walau ini terasa sulit tapi bolehkan aku sedikit egois demi kebahagianku sendiri?" gumamnya saat Aksa sedang ke kamar mandi.
Tak beberapa lama, Aksa datang dengan membawa makanan untuk mereka berdua. Dia duduk tepat di depan Rika.
Lalu dia memberikan pesanan Rika, "makanlah, setelah itu kita kembali."
"Kan belum ada dua jam, Aksa?"
Aksa menatap tajam, "diam saja dan makan ini!! masih untung dibolehkan keluar!"
Rika hanya mendunduk takut saat bentakkan itu terdengar.
***
Ya, Jakson adalah anak pertama dari pasangan Jackward dan Hersley. Kakak perempuan Noah.
"Bagaimana apa semuanya bahannya kau dapatkan?" Fika menggeleng lelah.
Wanita itu tersenyum, "tak apa. Di Basel, memang sedikit sulit untuk mendapatkan bahan membuat kerajinan dari barang antik yang kau inginkan. Tapi setidaknya, ku rasa ini sudah cukup untuk membuat benda itu?"
Fika mendengus, "ck, tapi tetap saja kakak ipar. Ini akan menjadi hadiah paling bagus untuknya."
"Hey, Noah itu bukan tipikal pria yang tidak akan menghargai hasil kerja kerasmu. Dia pasti akan sangat senang dengan kerajinan buatan yang kau buat. Kau itukan istri kesayanganya." Fika tersipu malu, saat dirinya digoda oleh sang kakak ipar.
Beberapa jam berlalu, kini mereka semua tengah bersiap menyambut Noah dan suami dari kakak iparnya pulang. Malam ini kedua wanita itu sudah selesai menyiapkan makam malam istimewa, untuk kedua pria hebat tersebut.
Namun yang lebih tepatnya untuk merayakan pesta perayaan kenaikan pangkat Noah, dari seorang wakil direktur menjadi seorang wakil komisaris. Alias ceo, diperusahaan mendiang ayah mertuanya.
Beep beep beep~
Klik!
Ceklek!
Sebuah bunyi yang timbul dari tombol pintu yang ditekan terdengar, kedua wanita itu terkejut. Dengan cepat mereka berjalan kesana kemari mencari tempat persembunyian.
Hingga tak lama suara daun pintu terbuka terdengar, hanya ada kesunyian yang terlihat saat kedua pria itu mulai memasuki rumahnya.
"Abang tunggu dulu, kemana perginya Fika dan kakak ipar?"
__ADS_1
Jackward menoleh, "iya juga ya, sepi sekali rumah ini."
"Sayang, Fika..." panggil Noah.
Keningnya mengerut saat tak mendapatkan jawaban, "Beibs.. kau di mana?" kini gantian Jackward yang memanggil sang istri.
"Jakson.. Daddy pulang," mereka terheran saat tak satupun jawaban mereka dapatkan.
Kemudian saat kedua pria itu tiba diruang tengah, seketika mereka berdua dikagetkan dengan lampu yang menyala terang benderang.
Bahkan mereka juga bisa merasakan, bahwa sepertinya jantung kedua pria itu hampir saja meloncat keluar.
"KEJUTAN!!" teriak kedua wanita itu.
Noah menganga tak percaya, sedangkan Jackward dia hanya bisa memegang dadanya yang terasa sangat sakit. "Kalian?!"
Kedua wanita itu tertawa geli, "Selamat ya sayang."
Noah meniup lili yang berada di atas kue yang bawa oleh sang istri, lalu tak lama dia mengecup kening Fika sayang. "Terima kasih sayang," ucapnya setelah mencium kening sang istri.
"Uhuk! uhuk! Aduh beibs, kita jadi obat nyamuk nih di sini sepertinya."
"Iya ya, padahal ada kakaknya tapi dengan beraninya ciuman di depan matanya. Untung kita bukan jomblo." Hersley mengangguk mengiyakan.
Sedangkan mereka berdua, menunduk malu akibat tidak memperhatikan disekitar mereka lebih dulu.
Sebelum saling bertautan satu sama lain, Fika mengigit bibir bawahnya. Dan kemudian, dia berkata. "Eh, ya.. ayo makan, sebelum menjadi dingin makanannya. Hehe.."
"Eoh? wah, hebatnya adik iparku." Fika hanya bisa tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, disaat mereka semua tengah sibuk menyantap masakan buatan kedua wanita itu. Seketika Jackward menghentikan kegiatannya, dia mendongak dan menatap Fika.
"Apa hari ini kau kepasar festival?"
Fika menerjap, lalu kemudian dia mengangguk sambil berkata. "Dari mana kau tau itu, kakak ipar?"
"Jadi, yang tadi ada di dalam cafe itu kau?"
Satu alisnya terngakat, "Ada apa emangnya bang?"
"Ah, bukan apa-apa. Hanya saja tadi, sepertinya aku melihat mu bersama seorang pria sedang makan di dalam cafe itu." Semua orang menatap ke arah Fika.
Noah juga ikut menoleh, "pria? Siapa dia sayang?"
"Seharian ini aku bersama Jakson memang ke pasar festival, tapi aku tidak mampir atau berhenti di cafe manapun."
Jackward menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "Lalu siapa wanita itu? Kenapa dia terlihat sangat mirip denganmu?"
Deg!
Mata Fika membola, "apa kau bilang, kak?"
"Dia mirip denganmu." ucapnya dengan penuh penekanan.
__ADS_1