
Pagi harinya, Aksa perlahan mulai membuka matanya lebih dulu. Setelah matanya terbuka lebar, kini kedua sudut bibirnya mulai dia tarik secara bersamaan.
Ia tersenyum, menatap sang istri yang masih terlelap dalam pelukannya. Tangan Aksa mulai bergerak, mengusap dan membelai surai hitam milik sang istri.
Menyisipkan anak rambut kebalik daun telinganya, sejenak tangan Aksa bergerak. Aksa terdiam, senyumannya luntur saat memandangi daun telinga sang istri cukup lama.
Seolah ia sedang mengingat sesuatu, saat daun telinga mungil sang istri terlihat. Tapi tak lama dia menggeleng pelan. Saat Rika mulai bergerak menyamankan posisinya.
Aksa kembali tersenyum, "pagi sayangku.." sapaanya saat Rika mulai membuka matanya.
Rika membalas dengan senyuman indahnya, dengan suara serak khas baru bangun tidur dia berkata. "Pagi, mas Aksa.."
"Hehe.. apa sebegitu nyamanya berada di dalam pelukkanku?" Rika semakin menengelamkan wajahnya.
Aksa memeluk tubuh Rika semakin erat, "Fika, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatukan dariku? kalau sampai kau berbohong dan menyembunyikan sesuatu dariku? kau taukan apa akibatnya?"
Tubuh Rika menegang, lalu tak lama dia mengangguk kecil. Tak lama Aksa tersenyum, saat merasakan anggukan kepala Rika di dalam dekapannya.
2 jam kemudian..
Kini Aksa tengah terduduk dikursi besarnya, sambil memikirkan beberapa hal yang menurutnya tidak benar. Karena lagi-lagi, banyak sikap dan prilaku yang berbeda dari yang biasanya dia ketahui.
Ingin rasanya menepis hal tersebut, namun tetap saja hati kecil masih menolak untuk tidak terus bertanya seorang diri.
"Tidak, itu tidak mungkin? ini hanya cuma kebetulan saja." tolaknya saat lagi-lagi teringat akan sikap Fika.
Aksa mendesah lelah, tak lama dia menyenderkan tubuhnya pada sisi tegap kursi kerjanya. Astaga! kenapa dia jadi memikirkan hal yang tak masuk akal.
Tapi jika memang sang istri bukanlah Fika, apa benar dia saudari kembarnya? Lalu kemana Fika yang sesungguhnya? Aksa mendongakkan kepalanya, saat pening dikepalanya melanda.
Dia memijat pelipisnya pelan. Hingga kemudian, matanya terbuka. Tangannya yang sedang memijat terhenti.
Ia kembali menegapkan tubuhnya meraih ponselnya, yang tergeletak tak jauh darinya. Kemudian setelahnya dia menekan angka 5, untuk segera menghubungi seseorang di sana.
Saat sambunganya diangkat, dia berkata. " Aku ingin kau cari tahu, apa yang terjadi saat sebelum upacara pernikahaanku waktu itu dimulai?"
Seseorang di sana mengiyakan perintah Aksa.
"..."
"Tidak. Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi sebelum upacara itu dimulai."
"...."
"Tenang saja, kalau kau cepat menyelesaikan tugas. Maka hadiah imbalanpun juga semakin besar."
"..."
"Heum.. baiklah, ku tunggu kabar baiknya."
__ADS_1
Bip
Setelahnya sambungan teleponnya terputus, Aksa kembali mengambil gagang telepon dari ruang kerjanya. Dia kembali menekan angka 2 pada telepon kantornya.
Hingga sambungan itu tersambung kembali, Aksa berkata.
"Halo presdir, ada yang bisa saya bantu?"
"Tania, tolong segera nyalakan sambungkan cctv yang ada diapartemen milikku, keponsel pribadiku sekarang!"
"Baik Presdir."
Bip
Dan tak lama, sebuah notifikasi diponselnya masuk. Dengan cepat dia meraih ponselnya, kemudian dia buka tanda notifikasi tersebut. Setelahnya sebuah video muncul dilayar ponselnya.
Sebuah video yang memperlihatkan, bagaimana situasi rumahnya saat ini. Dari layar ponselnya tersebut juga terlihat, sang istri sedang melakukan kegiatan apa.
Namun tak berselang lama keningnya berkerut, tidak mungkin! bagaimana bisa? hingga kemudian sekelebat ingatan muncul.
#*flashback
Dua bulan sebelum pernikahaan itu dilangsungkan, kini Fika tengah berada diapartemen milik Aksa dengan terduduk manis sambil menikmati sepiring buah segar yang tersaji di depannya.
Sambil memakan buah tersebut, matanya tak beralih dari televisi yang menayangkan drama favoritnya itu. Hingga kemudian Aksa datang, dan membuangnya mendecak sebal.
"Baby.. Bisakah aku minta tolong setrika kan pakaianku?" Matanya menggeliring malas.
"Come on beb, aku harus menghadiri rapat siang ini. Masa calon suamimu kerja kemejanya lecek, kaya gak diurus sama calon istrinya?" Dengan terpaksa akhirnya Fika mengambil alih kemeja lecek milih Aksa.
"Okey, aku akan menyetrikakan kemajamu. Kau puas!"
Saat sedang menyetrika, dengan asal. Dia menggerutu, "Aksa!! ingat ya, setelah nanti kita menikah aku mau kau harus sewa pembantu. Aku ini calon istrimu, bukan calon pembantumu!"
Aksa yang mendengar itu, hanya bisa mengehela napas lelahnya. Selalu saja seperti ini, entah sampai kapan Fika bisa mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan seorang pembantu.
Walau harus diakui dia juga tidak masalah untuk memperkerjakan seorang pembantu, tapi apa salahnya jika itu dikerjakan oleh sang istrinya kelak.
Lagi pula, bukankah itu jauh lebih baik dibandingkan memperkejakan pembantu. Ya, Dia hanya berharap, jika Fikanya bisa mengikuti jejak sang ibu.
Ya, Aksa akui. Sesibuk apapun sang ibu bekerja di kantor, namun dia masih bisa tetap melakukan pekerjaan rumahnya. Walau sang ibu, memang sengaja datang lebih terlambat ke kantor.
Tapi itu tidak masalah asalkan rumahnya sudah rapih, dan makanan pun juga sudah tersedia untuk putranya. Dia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang ibu, dan menjadi istri yang baik untuk sang suaminya.
Hingga tak lama, Aksa disadarkan oleh suara bentakkan Fika. "Kau dengar aku tidak!"
Aksa merotasi mata malasnya, "Ya, aku dengar." sahutnya dengan malas.
Tak lama Fika mendekat, dia menyerahkan kemeja kantor Aksa yang bisa dikatakan masih lecek. Belum terlihat licin dan rapih sedikitpun. Lagi-lagi Aksa mendesah lelah.
__ADS_1
"Ini masih belum rapih sayang.. masih banyak bagian yang kusut dikemejaku.." Aksa mencoba untuk bersabar.
Namun justru sikap cuek Fika harus membuatnya geram, "Setrika saja sendiri lagi sana. Aku mau nonton, jangan ganggu."
Finalnya, yang membuat Aksa hampir menjatuhkan rangannya. Dengan berat hati, akhirnya Aksa terpaksa kembali mensetrika pakaiannya seorang diri.
#Flashback off*
Aksa menyeringai, setelah mengingat kejadian tempo hari. "Aku harus segera mendapatkan informasi lebih banyak, apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar, kau bukan Fika maka kau akan tahu akibatnya."
Setelahnya, dia menatap layar ponsel miliknya tersebut yang masih setia memperlihatkan aktifitas Rika yang tengah sibuk membereskan rumah.
Mulai dari menyapu, mencuci pakaian, mengepel, menjemur hingga mensetrika pakaiannya dengan pakaian milik Aksa.
Hingga tanpa sadar, langitpun mulai berganti warna jingga berpadu oranye. Rika merenggangkan ototnya, saat tengah terduduk disofa empuk di depan televisi.
Lalu tak lama kemudian dia melirik ke arah jam dinding. Pukul 17.25 waktu setempat, yang artinya Aksa akan segera pulang kerumah. Dengan penuh semangat, dia bangkit dari posisi duduknya.
Dia berjalan menuju dapur, berniat untuk membuatkan makan malam.Datang diwaktu yang tepat, suara pintu apartemen terbuka berbunyi.
Disaat itu juga, Rika telah menyelesaikan masakannya. Dengan memasang wajah bahagianya, Rika menyapa.
"Kau sudah pulang, berikan tasmu. Aku akan menyiapkan air panas untukmu mandi." Rika menanti tas milik Aksa diberikan padanya.
Namun harapanya hanyalah sebuah harapan, karena justru Aksa hanya menatapnya dingin. Bahkan tak menjawab sedikitpun. Ada apa dengan Aksa, suaminya?
Tak lama berpikiran buruk, Rika pun menghela napas pendeknya. Lalu dia bersiap menyiapkan air panas untuk Aksa mandi.
15 menit berlalu, Aksa pun keluar dengan pakaian kaus dan celana olahraganya. Dia berjalan menuju meja makan.
Setelah sang suami duduk, Rika pun bergegas mengambilkan nasi putih beserta lauk pauknya.
"Makanlah, aku membuat semua ini untukmu.
Aksa menarik sudut bibirnya, "sejak kapan, aku suka sama ikan berkuah seperti ini?"
Deg!
Rika terkejut, "bukankah kau tau, kalau aku memiliki alergi terhadap ikan ini?" Rika diam tak menjawab.
Ia bingung harus mengatakan apa. Tak lama Aksa mendekatkan wajahnya, "Kenapa diam? bukankah, kau tahu segalanya tentang diriku.. sayang?"
Rika mencoba menormalkan rasa gugupnya, hingga tak lama dia berdeham. "Ekhem.. i-iya aku lupa. Maaf." kata Rika yang sedikit terdengar gugup.
Dia menggigit bibir bawahnya, "Lupa? kau bilang, kalau kau lupa dengan alergiku? bukankah, kita telah berpacaran lebih dari lima tahun lamanya? tapi kenapa baru kali ini kau lupa?" marah Aksa.
Brak!!
Aksa menggebrak meja makan, yang sukses membuat Rika telonjak kaget. Matanya menatap Aksa takut. Aksa berdiri, lalu tak lama tubuhnya dia condongkan ke arah Rika.
__ADS_1
"Siapa kau sebenarnya?! ... Rika atau Fika istriku?" Mata Rika membola saat pertanyaan itu terucap.