
#Flashback
Fika tertegun saat memikirkan perkataanya. Tapi kalau itu benar, apa mungkin selama ini Rika tidak sakit hati padanya? atau mungkin dia lebih memilih untuk berpura-pura? Fika membuang napas beratnya.
Hingga kemudian, suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke kamar Rika. Disusul dengan suara khas Rika, yang sepertinya akan segera masuk ke dalam.
Dengan cepat Fika kembali membenarkan posisi buku gambar tersebut, dan kemudian dia kembali duduk ditempat semula seolah tidak ada aktifitas yang dia lakukan selain menunggu.
Hingga tak lama Rika datang dan menampakkan wajahnya, dia tersenyum sambil berkata.
"Maaf ya kau jadi harus menunggu," ucapnya.
Fika menggeleng, "tidak terlalu lama ko, lagi pula sepertinya kau sedang sibuk."
"Eum.. sedikit. Hehe.."
Tapi kemudian, Fika menghela napasnya dalam, "Rika, aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Ya, tanyakan saja." Jawab Rika dengan lembut.
Fika tampak menimang sesuatu, sebelum mulai bertanya. Namun tak lama, "Adakah pria yang kau sukai akhir-akhir ini? eoh, atau mungkin yang pernah menggetarkan hatimu? yah, kau tahu kan selama ini kau jarang bercerita tentang hal seperti itu, jadi aku sedikit penasaran?"
Rika tertegun, saat pertanyaan itu terucap. "Tentu ada, seorang pria yang ku sukai ... Tapi," ucapnya menggantung.
Fika terdiam, "tapi? tapi kenapa?" tanyanya kembali saat melihat Rika yang menunduk.
"Dia sudah memiliki seseorang dihatinya." Mata Fika melebar.
Deg!
Tangan Fika gemetar hebat, saat mendengar ucapan Rika. Namun disisi lain dia sangat takut mengetahui kebenarannya.
Tapi dia juga sangat ingin mengetahui, bagaimana mulanya kembarannya itu jatuh cinta pada Aksa calon suaminya.
Rika menarik napasnya dalam, kemudian dia hembuskannya pelan.
"Saat itu, malam di mana aku baru pulang dari tempat kursus... Aku seperti biasa akan datang mengunjungi toko roti, sebelum pulang. Karena malam itu hujan turun sangat lebat, sehingga membuatku harus duduk menunggu setidaknya sampai hujan mereda. Karena hujan tak kunjung reda akhirnya aku nekad untuk pergi hujan-hujanan. Dan tanpa di sadari, pria yang ku sukai datang dan memanyungiku. Ditersenyum hangat padaku sambil berkata, 'jangan hujan-hujanan nanti kau sakit.' Dia bilang seperti itu padaku... Lalu setelahnya kami berjalan bersama.Tapi kemudian, saat kami hendak menyebrang. Sebuah motor melaju kencang ke arah kami berdiri dan tepat di depan mata ku pria itu melindungiku, agar aku tak menjadi korban dari kecelakaan itu. Namun justru sebaliknya dialah yang menjadi korban dari insiden kecelakaan itu. Pria itu adalah pria yang diam-diam aku sukai."
Fika meremat ujung bajunya, saat mendengar cerita Rika yang selama ini dia tidak ketahui. Ya, memang benar, Aksa pernah mengalami insiden kecelakan.
Tapi setelahnya Aksa tidak ingat apapun yang terjadi, dia hanya tahu dia kecelakaan dan dibawa kerumah sakit oleh seseorang.
Dengan suara sedikit gemetar, Fika bertanya kembali. "T-terus.. Apa-apa yang terjadi padanya?"
Rika mendongakkan kepalanya, "aku dan orang-orang yang berada disekitar membawanya kerumah sakit, sesampainya di sana pihak rumah sakit sedang kehabisan stok darah yang sama untuknya. Lalu--"
"Kau mendonorkan darahmu untuknya?" tebak Fika dengan tangan yang semakin gemetar hebat.
Rika mengangguk mengiyakan, dan saat anggukan itu terlihat. Tubuh Fika melemas seketika, dunianya terasa terhenti.
Apa-apaan ini! Kenapa jadi seperti ini! seumur hidup dia selalu berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak memperebutkan orang yang sama dengan kembarannya. Tapi sekarang yang terjadi adalah dialah yang merebut orang yang Rika cintai.
"Setelah aku mendonorkan darahku, aku langsung pulang. Dan saat itulah, aku terakhir kali melihatnya." Fika menoleh, saat Rika kembali bercerita.
__ADS_1
Keningnya mengerut, "kenapa? memangnya dia pergi kemana?"
"Huh.. Aku juga tidak tahu, karena esok harinya saat aku ingin menjenguknya. Pihak rumah sakit bilang kalau setelah pria itu selesai dioperasi, keluarganya datang dan langsung membawanya untuk dipindahkan kerumah sakit khusus yang biasa menangani keluarganya. Jadi, aku tidak bisa melihatnya kembali." Ya, itu benar.
Aksa juga pernah mengatakan padanya kalau setelah dia terbangun, ia tersadar sudah berada diluar negeri hingga saat masuk masa perkulihaan tiba.
Dia memaksa untuk pulang, karena ingin berterima kasih pada orang yang telah menolongnya. Dan ternyata wanita itu adalah Rika bukan dirinya. Hingga tak lama sekelebat ingatan tentang Aksa muncul.
"Fika!!" Aksa memanggilnya.
Fika menoleh, "ya, ada apa?"
"Fika, terimakasih ya?"
Kening Fika mengerut, "Terimakasih untuk apa Aksa?"
Aksa menggeleng, "Hanya untuk segalanya."
"Untuk segalanya?" Aksa mengangguk.
Fika terkekeh, "dasar aneh!"
Hari demi hari berlalu, dan Aksa selalu mengatakan hal yang sama yang selalu membuatnya bingung setiap saat.
Tapi kini, dia sudah tahu itu bukan untuknya tapi untuk Rika. Wanita yang menolongnya yang juga mendonorkan darah untuknya.
"Setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya aku bertemu kembali denganya, namun saat aku hendak menyapaanya. Aku harus mengurungkan niatku, sebab dia sudah memiliki seseorang yang dia cintai." Dada Fika semakin sesak saat mendengar kelanjutan cerita itu.
Rika tersenyum saat mengakhiri ceritanya, mengingat bagaimana dia dan Aksa. Pria yang dia sukai tak memiliki garis takdir yang sama dengannya. Sangat disayangkan! Walau hatinya sedikit sakit, tapi tidak masalah untuknya.
"Fika, Eoh.. Kau kenapa Fika? asmamu kambuh?!" Rika terkejut saat melihat Fika yang sedang meramat kuat dadanya.
Hingga tak lama dia menggeleng pelan, "Aku.. aku baik-baik saja."
"Sungguh? tapi kau tidak terlihat sedang baik-baik saja, apa kau ingin ku ambilkan obatmu?"
Fika menggeleng, "Antarkan saja aku kekamar. Aku hanya ingin istirahat."
"Eoh, baiklah. Ayo aku bantu. Hati-hati." Rika membantu Fika berjalan menuju kamarnya. Setelah tiba dikamar Fika, Rika mengambilkan segelas air untuknya.
"Minumlah dulu, kalau kau butuh sesuatu panggil aku saja. Okey?" Lagi-lagi Fika mengangguk. Tak lama Rika keluar dari kamar Fika. Sedangkan Fika, dia termenung menatap langit-langit kamarnya.
Memikirkan banyak hal yang membuatnya hampir gila, namun tak lama deringan ponsel mengalihkannya. Sebuah pesan masuk dari Aksa, Fika menarik napasnya dalam sebelum membuka isi pesan tersebut.
Beb, maaf ya atas kejadian waktu itu. Aku benar-benar kehilangan kendali, bagaimana keadaan mu saat ini. Rika tadi memberitahu ku, bahwa asma mu kambuh. Apa itu benar? jika benar, apa yang harus ku lakukan? katakan apa kau ingin makan sesuatu? aku akan membelikannya untukmu?
Tidak Terimakasih. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu minta maaf karena itu juga bukan salahmu. Aku hanya ingin istirahat saja sejenak. Oh ya, bagaimana dengan gedung pernikahaan kita. Apa semua sudah beres?
Ya, sudah beres.
Tapi apa benar kau tidak ingin sesuatu?
Tidak aku tidak butuh untuk saat ini, tapi nanti kalau aku ingin akan ku beritahu kamu. 😊
__ADS_1
😊 Baiklah kalau begitu, aku kerja dulu ya.
I love you, istriku. hehe.. 😘
Fika hanya terdiam dan tak berniat untuk membalasnya kembali. Namun tak lama sebuah pesan kembali masuk diponselnya. Tapi kali ini bukan Aksa, melainkan Noah mantanya.
Hai, maaf mengganggu lagi aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu dan Aksa. Semoga pernikahaan kalian langeng sampai maut yang menjemput, dan pernikahaan kalian diberkahi oleh Allah. Amin.. Maaf ya, aku gak bisa mengucapkan ini secara langsung karena tepat dihari pernikahanmu aku akan kembali ke Swiss.
Untuk meneruskan perusahaan keluargaku di sana. Tapi lain kali, kita bertemu lagi ya saat aku sudah menikah dan punya anak. Hehehe.. Sampai jumpa, dan terimakasih atas 5 tahun terakhir. Fika kau wanita yang pernah membuat duniaku indah walau sesaat. 😊
Pesan dari Noah, mampu membuat hatinya terasa sakit. Dia menangis sesegukkan seorang diri, saat merasakan beratnya untuk memilih satu di antara yang lainnya.
Dia tak ingin melukai salah satu dari kedua pria itu, tapi disisi lain. Dia telah melukai hati saudari kembarnya. Astaga! apa yang harus dia lakukan? ini sangat rumit.
***
Hingga Hari pernikahaan itu datang, Fika duduk sambil melamun. Pikirnya melayang entah kemana. Saat sedang dirias wajahnya dia terus menatap ke arah layar ponselnya.
Tidak! tapi lebih tepatnya kepada pesan Noah beberapa hari yang lalu. Dia masih belum bisa memutuskan, apa yang harus dia pilih. Namun tak lama, suara dari sang perias membuyarkan pikiranya.
"Fika aku pergi ke kamar mandi dulu ya? gak lama ko? gapapa kan kamu sendiri, kamu tinggal dijemput aja ko?" Fika tersenyum dan tak lama dia mengangguk.
Setelah kepergian staf tersebut ponselnya bergetar, menampakkan sebuah E-tiketing dan kemudian disusul dengan sebuah pesan yang masuk.
Lalu kemudian dia tersenyum semangat. Ya, dia sudah menemukan pilihannya. Dia tidak akan menyesali apapun nantinya yang akan terjadi, karena pesan tersebit menyadarkan siapa dirinya yang sesungguhnya.
Dengan cepat, dia bergegas mengambil jaketnya lalu keluar dari gedung itu tanpa diketahui oleh siapapun. Karena tujuannya saat ini hanya untuk pergi menyusul Noah, dia ingin tinggal dan menetap bersama pria itu. Pria yang selama ini dia rindukan. Karena ini hidupnya, jadi dia ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri. Fika yang berjiwa bebas!!
"Noah tunggu aku! aku akan datang dan pergi ke Swiss bersama denganmu!" Katanya sambil meremat kuat ponselnya.
Sedangkan di sana, Noah sedang terduduk murung. Dia tak berselera meninggalkan Negara ini. Karena sejujurnya, separuh dari dirinya ada di sini bersama dengan wanita itu.
Noah menghela napasnya dalam, saat dadanya terasa sesak melepaskan Fika yang sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. Hingga tak lama sebuah pengumuman terdengar.
Ding! Dong!
PESAWAT DENGAN KODE TERBANG SW BOEING 2584 DARI NEGERA J MENUJU NEGARA SWISS SEGERA TAKEOFF. HARAP KEPADA PARA PENUMPANG YANG MASIH BERADA DIRUANG TUNGGU BANDAR UDARA UNTUK SEGERA MEMPERCEPAT LANGKAHNYA MEMASUKI KABIN PESAWAT.
Ding! Dong! Deng!
Noah kembali menghela napasnya untuk kesekian kalinya, hingga tak lama dia bangkit dan segera berjalan memasukin kabin pesawat. Namun baru saja dia selesai memberikan tiketnya untuk diperiksa oleh staf bandar udara.
Suara derap langkah kaki berlari terdengar, suara yang langkah kaki yang tak asing untuknya dan kemudian terdengar suara teriakan seseorang memanggil namanya.
"NOAH!!" teriak Fika sambil berlari.
Noah berbalik, matanya membelalak. "Fika."
Fika mengatur napasnya yang terputus putus, "aku ingin bersamamu? aku punya tiketnya? Ayo pergi!"
"Apa kau bilang?"
Fika tersenyum lebar, "Ayo kita menikah di sana? karena aku ingin hidup bersama mu!" Noah segera berhambur memeluk Fika.
__ADS_1
#Flashback off