
Musim hujan tanpa hujan. Begitulah Oktober memperkenalkan dirinya kali ini. Gerah sekali sejak matahari menampakkan dirinya. bahkan saat menilik jam, ini barupun pukul 08.00.
Okta, perempuan berkulit putih susu dengan mata bulat dengan bibirnya yang tidak tipis itu bersungut-sungut sejak tadi. Ia lupa meletakkan kunci sepeda motornya dimana padahal setengah jam lagi ia harus mulai bermake up. Ia adalah penari dan hari ini Komunitas seni mereka yang berada dibawah naungan kampus YY mendapat job menari dihotel CLR, salah satu hotel bintang lima di kotanya.
"aduuuhhhh, apa sebabnya di usia segini aku mulai pikun," begitu ia bersungut.
"padahal tadi aku yakin meletakkannya diatas meja lipat ini," Sambungnya sembari membolak-balik buku-buku yang tersusun di atas meja lipatnya
"aiiihhhhh... masa iya aku harus ngojol? mana duit sisa segini-gininya," Ia terus berbicara sendiri sembari memperhatikan isi dompetnya yang memprihatinkan. Sungguh miris nasib anak kost yang tinggal jauh dari keluarga. Apalagi dengan latar belakang keluarga sederhana dimana kamu tidak seenaknya meminta orang tuamu mentransfer sejumlah uang saat uang sakumu menipis.
Setelah hampir setengah jam mondar mandir, mematung, berpikir, memeriksa kesana kemari, akhirnya ia menemukan kunci sepeda motornya sedang asik bergelayut di cantolan paku belakang pintu kamar kostnya.
"yaaaa, kunci nakal. kenapa gak nyaut dari tadi. dasar bandel. ayo berangkat!!" Ucapnya pada kunci motor yang bahkan tidak bisa menjawab omelannya itu.
__ADS_1
Ia pun bergegas meninggalkan kost nya menuju sekretnya di kampus. Sesampainya disana 2 orang temannya yang lain telah mulai memoles wajahnya di depan cermin. Ia pun bergabung diantara mereka setelah sebelumnya saling melemparkan senyum tanda selamat datang. Dua orang lainnya belum muncul.
"Eh, pemusik belum datang kan?" Okta memulai percakapan dengan mimik khawatir
"Ada tuh di dalam," Sahut Viani
"Kenapa memangnya?" Rahayu menimpali bingung melihat ekspresi cemas Okta
"Hahahaha itu karena kamu lamban, Nona. Lagian mana ada orang bermake up terus-terusan lupa naruh alat make up nya dimana. Lupa mascara lah, lupa pensil alis lah, lupa eye liner lah. ckckckk..." Rahayu berdecak sambil tertawa mengingat bagaimana pelupanya kawannya itu
"Ingat gak di Job nari kita bulan lalu di hotel Swissbell?? Okta lupa pake lipstik. hahahahahaha," Viani terpingkal-pingkal mengingat kejadian malam itu
"Ia. untung sesaat sebelum pentas, pemusik sadar kalau aku belum pake lipstik," Kenang Okta. Mulutnya bercakap-cakap, namun tangannya sibuk membingkai alis
__ADS_1
"Ooohhhhh pemusik??? hihihihi, itu karena doi emang senang merhatiin bibir kamu kali. hihihihi," Viani cekikikan menggoda Okta.
"Ih apaan sih. Tapi selamatkan guaaaahhh," Okta menjawab dengan meniru gaya bicara anak milenial Ibu kota
"Apa yang selamat??? pemusik belum datang???" Tiba-tiba Eldin menimpali lalu bergegas mengambil tempat di sisi kawannya yang lain dan terburu-buru membuka alat make up.
Marsha, penari yang satunya lagi, malah langsung nyelonong mengintip ruang dalam.
"Ah selamat. Mereka masih tidur," Katanya bernafas lega saat mendapati para pemusik masih pulas di ruang dalam.
Mereka sebenarnya bukan takut sama pemusik, orang-orang yang selalu mengiringi mereka menari. Hanya saja enggan berdebat atau menghindari mendengar kalimat "kalian itu numpuk apa aja di muka. lama banget dandannya. Gak usah menor-menor. kalau tengkorak pahatannya udah kayak gitu, gak bakal berubah cantik. Oplas aja sekalian."
Emang gak ada akhlak mulut mereka tuh. Tapi sesering-seringnya mereka berselisih, mereka adalah orang-orang yang mereka rindukan kala libur kuliah. Seperti merindukan hujan di bulan Oktober.
__ADS_1