Oktober Terakhir

Oktober Terakhir
Jam dan menit yang sama #1


__ADS_3

Okta terbangun dari tidurnya saat mendengar langit bergemuruh dengan lantang. Kilatan cahaya petir nampak dari jendela di balik gorden yang berkibar-kibar di ayun angin. Diraihnya Handphone yang terletak di sebelah bantalnya. Handphonenya ternyata non-aktif. Segera dihidupkannya untuk memeriksa pukul berapa saat itu. Pukul 03.03.


Okta menarik nafas sedikit berat lalu terdiam sesaat. Kembali diliriknya jam di layar ponselnya. Ingatannya serta merta melayang akan cerita Rayzal suatu ketika kepadanya. Saat itu sedang libur semester di bulan Ramadhan. Dua minggu tak pernah bertukar kabar dengan Rayzal, tiba-tiba Rayzal menelponnya sepulang Okta dari shalat tarawih. Okta sangat tau, ketika Rayzal liburan ke rumah neneknya di kampung, mereka akan sulit berkirim kabar. Pasalnya jaringan telepon di kampung halaman nenek Rayzal terbilang cukup sulit. Oleh karenanya, Okta sangat surprise menerima panggilan telepon kala itu.


"Woooaaahhhh... Apa disana sudah dipasang banyak tower pemancar?" Seru Okta


"Aku berburu jaringan di kampung sebelah di atas bukit. Disini ada satu tower pemancar," Rayzal mulai berceloteh. Lalu sambungnya,"Kau tau?__"


"Gak tau!" Potong Okta


"Yaaaa'... Jangan menggunting kalimatku!" Kesal Rayzal, "Jarak Tower ini dari rumah nenekku harus menempuh perjalanan motor selama 2 jam. Harus pakai motor Cross. Jalanannya benar-benar sempit, penuh bebatuan gunung, menanjak tinggi lalu menukik, Sebelah sisinya adalah Jurang yang sangat curam. Aku bertaruh nyawa hanya untuk mendengar suaramu," Lanjut Rayzal begitu hiperbola. Walaupun benar adanya kalau di Kampung halaman yang hanya dikunjunginya sekali dalam setahun memiliki medan yang sangat sulit. Akan tetapi lagak bicaranya sukses membuat Okta tertawa dan..... tersipu.

__ADS_1


"Hmmm... tentu saja, aku sangat percaya pada ceritamu yang pasti dilebih-lebihkan itu. Setidaknya aku harus percaya agar lelahmu selama perjalanan terbayar bukan??? Hahahaha."


"Setidaknya berterimakasihlah dengan benar saat kita bertemu nanti."


"Amaaannn kakak Ijal..."


"Yaaa tentu saja kau harus memanggilku kakak saat sedang begitu berterimakasih. Ngomong-ngomong, kau persis seperti nenekku. Hanya ada dua orang di bumi ini yang memanggilku Ijal. Nenekku dan Kau. Semua orang memanggilku Ray. Pikiranmu pasti sepataran nenek-nenek. Hihihihi."


"Hahahaha. Bagaimana Nenekmu memperlakukanmu, Kak?"


"Nah, itu persamaan kami yang lainnya."

__ADS_1


Tiba-tiba hening. Rayzal terdiam mendengar kalimat Okta yang baginya tidak biasa. Sedang Okta terdiam karena terkejut pada dirinya, bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu kepada Rayzal. Dia takut sikap diam Rayzal barusan adalah bentuk kesalahpahaman.


"Ah... Itu, kenapa kak Rayzal tiba-tiba menghubungiku?" Okta berusaha memecah kebisuan diantara mereka. Dia mengucapkannya dengan pelan dan hati-hati.


"Hmmm....."Rayzal hanya bergumam sesaat seperti sedang berpikir bagaimana menata kalimatnya dengan benar. Ia benar-benar tak ingin terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Lalu lanjutnya,"Aku tadi sore saat membuka-buka foto di galery ponselku, gak sengaja melirik jam. Pukul 15.15. Persis saat aku sedang melihat foto kita. Kata seseorang yang kukenal jika kita tanpa sengaja melihat waktu yang menunjukkan jam dan menit yang sama, itu artinya seseorang sedang sangat merindukan kita. Aku langsung teringat padamu. Mungkin saja kamu merindukanku. Entahlah... Aku hanya langsung teringat padamu. Mungkin juga akulah yang sangat merindukanmu."


Hening lagi. Untuk beberapa saat mereka hanya sama-sama mendengarkan suara sekitar dan deru nafas mereka yang tentu saja jadi sedikit tidak beraturan. Ada debaran aneh yang membuat jantung mereka berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


____________


Lanjut di Chapter berikutnya ya para Readers yang baik hati☺☺☺☺☺

__ADS_1


Jangan lupa tetap beri dukungan dengan Like, Komen dan Vote ya. Beri masukan juga sangat diperbolehkan.


Biar bisa bikin tambah semangat buat up🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2