
🤭Seminggu setelah Okta beradu tangis dengan hujan____🤫
Pagi yang cerah. Sobekan-sobekan awan putih bergelayut manja di langit biru. Bias cahaya merembat di kaca jendela menerobos masuk ke dalam kamar hingga menyentuh pucuk kepala Okta. Seakan membelai-belai, hangat menenangkan. Memberinya energi pagi yang sangat positif seakan berkali-kali mengatakan : "All is well... All is well."
Okta masih berkutat dengan laptopnya. Di sebelahnya segelas susu cokelat hangat yang sekali-kali di sesapnya setelah meregangkan otot bahunya yang kaku. Hampir sejam ia berada di hadapan layar 12 inci itu. Dia sedang dalam mode semangat menyelesaikan laporan micro teaching nya. Jika presentasenya sukses, ia tidak perlu mengikuti ujian seleksi judul dan draft di masa mendatang. Ia begitu berniat, membangun semangat dan tekadnya begitu tinggi. Suasana hatinya yang sedang mendung tidak boleh menghalangi akademiknya. Itulah mottonya, setidaknya untuk saat ini. Hehehehe.
Semester depan, ia akan KKN. Banyak yang harus disiapkannya terutama mental, tentu saja. Mengapa ia begitu bersemangat menyambut KKN? Okta berpikir selain akan mendapat pengalaman baru di lingkungan yang baru, teman-teman baru, suasana yang baru, alasan lainnya adalah ia akan punya kesempatan untuk membuat jarak dengan Rayzal. Ia akan punya kesempatan untuk memberi kemenangan mutlak kepada logika, atas hatinya. Ia bisa membuat pengaturan baru terhadap andai-andainya selama ini. Syukur-syukur jika Okta bisa mendapatkan tambatan hati yang baru. Bukankah Cinta Lokasi alias CinLok dengan kawan satu posko saat KKN adalah kisah turun-temurun yang tidak diragukan lagi keabsahannya??!!! Bahkan menurut cerita KKN adalah jenis bencana baru bagi sebagian orang yang berada dalam sebuah hubungan asmara, penuh ladang ranjau yang umum disebut godaan selingkuh. Ingat ya, hanya sebagian!!!
Okta terkekeh seorang diri saat membayangkan itu semua. Bahkan selama seminggu berjeda, ia tak pernah membalas pesan dari Rayzal, tidak lagi mengecek story sosmednya. Bukan hanya Rayzal, ia juga berhenti ngepoin story Marsha. Selama ini ia selayaknya penggemar sejati yang lama-lama bisa jadi penguntit. Ia memutuskan berhenti dari kecanduannya menyakiti hati sendiri dengan terus menerus menjadi penonton setia perjalanan hidup kedua insan yang sering sukses membuatnya merangkai hipotesa-hipotesa sendiri itu.
__ADS_1
"Aku yakin akan baik-baik saja. Buktinya sudah seminggu dan aku masih hidup, aku masih bernafas, aku masih sehat. Ternyata kalau yakin bisa, pasti bisa. Wahahahahhaaha...." Okta terus berbicara dan tertawa seorang diri. Ia sedang terkena syndrom "Layu sebelum berkembang, patah hati tanpa jadian, putus tapi tak pacaran." Wkwkwkwkwkwkw (kalau ini, Author yang tertawa)
Lalu kembali berkutat dengan laptopnya, menghabiskan susu cokelat yang tinggal sedikit dalam gelasnya. Setelah yakin laporan presentase Micro teachingnya sempurna, ia pun mengakhirnya dengan seulas senyum manis di bibirnya. Okta kemudian berdiri untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku dan melemaskan sendi-sendinya. Diraihnya ponsel lalu memutar musik sambil merebahkan diri di kasur mini.
Lagu Yura "Harus Bahagia" berdentang memenuhi ruang kamarnya yang tidak begitu luas. Okta ikut bernyanyi dengan keras melebihi suara penyayi aslinya, "itung-itung bangunin tetangga kost. Kali aja ada yang lupa pasang alarm.heheheheh," batinnya licik.
👩🎤👩🎤👩🎤👩🎤
Lebih baik kita terus maju gapai mimpi yang baru... howooooo
__ADS_1
Punya pacar harus lebih baik, punya pacar harus lebih keren tapi keren gak cukup...
yang paling penting kita harus bahagia...
Okta terus bernyanyi sambil bangkit dari posisi tidurnya. Ia berloncat ria di atas kasur, berjoget dengan bahagia, berputar-putar, dan.....
Okta membeku, nafasnya yang memburu karna bergoyang tetiba tercekat, mulutnya ternganga dan matanya melotot. Sesaat kemudian...
"Yaaaaaa' Gilaaaaa.... Sejak kapan kau disitu????" teriak Okta
__ADS_1
______
Yassaaaa.... Lanjut di chapter berikutnya ya Readers. Ini ala-ala sinetron televisi yang bersambung😅😅😅😅