
Okta menghempasakan tubuhnya di atas kasur berukuran mini miliknya. Kamar kostnya memanglah tidak luas namun cukup nyaman baginya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari aktivitas di luar. Make up belum terhapus dari wajahnya. Dia mencoba memejamkan mata sejenak. Dia benar-benar mager untuk beranjak menghapus riasannya. Hampir saja ia tertidur jika dering ponsel tidak membangunkannya.
"Yaaa..." Jawabnya sembari mendekatkan ponsel ke telinga
"Kamu sudah tidur?" tanya suara di seberang
"Ia. Ini yang jawab makhluk halus."
"Hahahahaha..." terdengar tawa di seberang
"Ada keperluan dengan makhluk halus?" Okta tidak tertawa sama sekali
"Hahahahaha... tidak. perlunya sama makhluk kasar. Makhluk kasar apa tidak lapar?" suara seberang sepertinya sudah terbiasa dengan gaya bicara Okta yang suka bercanda dengan nada yang terdengar sangat serius
"Lapar," singkat, padat dan mengesalkan
"Aku diluar. Depan gerbang. Keluarlah...!!!"
__ADS_1
Okta bergegas bangkit. Jalannya sedikit sempoyongan karena lelah dan mengantuk. Menari memang hanya 15 menit. Tapi persiapan untuk nari seperti berias dan memakai kostum, perjalanan ke tempat acara hingga menunggu waktu pentas itu yang cukup menguras energi. Jika tidak takut kulit wajahnya akan rusak atau berjerawat, mungkin dia tidak akan peduli untuk menghapus riasannya sebelum tidur.
Di depan gerbang, Rayzal menyodorkan bungkusan di balik gerbang. Okta menerima dan memeriksanya. Didalamnya ada nasi ayam crispy, c1000 dan susu beruang, ada juga jus jambu biji dan susu coklat kotak. Okta menatap Rayzal tanpa mengatakan apapun.
"Aku gak tau apa yang ingin kamu minum malam ini. apakah ada jadwalnya?" tanya Rayzal, lelaki di balik gerbang
"Jadwal apa?" Okta tak menangkap maksud Rayzal
"Jadwal malam ini harus minum apa? hehehee," Rayzal terkekeh
"Apa?" Rayzal lebih bingung menerima tatapan itu
"Bukannya kamu baru mengantarku pulang? rasa-rasanya aku gak pesan makanan ke kamu," Okta menjelaskan
"Aku sengaja singgah membeli makanan. Di jalan pulang tadi aku berpikir, ahhh... kamu walau makan sebanyak apapun di tempat acara pasti setelah mandi entah makanan itu menguap kemana. lagian ini sudah jam 8 malam, nyaris waktunya makan malam. Kalau aku sudah sampai di rumah, akan mager untuk keluar lagi," jelas Rayzal
"Emang kamu ada feeling aku bakal minta kamu keluar? kalaupun kuminta kamu kan bisa nolak."
__ADS_1
"Kamu gak minta tapi bakal kirim pesan singkat sarat makna : LAPAR!!!"
"Ya udah, sana pulang!!!"
"Isshhhh..." Rayzal bersungut... "*N*erima makanan, terimakasih kek," gumamnya dalam hati.
Rayzal menghidupkan mesin motornya. Sembari memutar gas pelan, ia hendak berlalu. Tapi Suara Okta yang menyebut namanya pelan masih sempat didengarnya hingga ia berhenti sejenak.
"Kak, Kak Ijal..." begitu Okta memanggil namanya
"hmmmm..." sahut Rayzal singkat
"Terimakasih ya..." Okta memberi senyum termanisnya
"Isshhhh.... " Rayzal seolah terganggu ucapan terimakasih Okta padahal dia tidak berhenti terkekeh di perjalanan pulang tadi. Hal yang selalu dirasakannya setiap kali bersama Okta. Okta juga satu-satunya wanita aneh yang memanggil kamu saat sedang biasa aja tapi akan memanggilnya dengan sebutan kakak saat sedang meminta bantuan atau berterimakasih.
Sepeninggal Rayzal, Okta kembali ke kamarnya. Menaruh makanan dan minuman yang diberikan Ijal di Meja makan lipat lalu bergegas ke kamar mandi membasuh diri. Dia merasakan kebahagiaan yang rumit. Hubungannya dengan Rayzal adalah hubungan yang penuh tarik ulur tanpa status yang jelas. Mereka saling memperhatikan satu sama lain, saling menghibur kala sedih, bahkan saling membantu menyelesaikan masalah. Terkadang Okta merasa lebih spesial daripada perempuan-perempuan lainnya jika dilihat bagaimana Rayzal memperlakukannya bahkan betapapun Rayzal adalah tipe pria yang bersikap baik ke semua orang. Sayangnya 3 tahun kedekatan mereka bisa dikata bahwa mereka masih berada di friends zon**e.
__ADS_1