
Okta celingak-celinguk di studio musik tempat Rayzal biasanya menghabiskan waktu saat sedang berada di sekretariat seni kampus. Namun tak ada Rayzal disana. Saat hendak berlalu, Fitrah, salah satu senior mereka yang sedari tadi asik bermain handphone tiba-tiba memanggil Okta.
"kunci motormu woiiii...." Fitrah lekas berteriak saat melihat Okta akan berlalu tanpa sepatah katapun. Hanya kepalanya lah yang menyembul di balik pintu.
Okta berbalik dan mengarahkan telunjuk kedepan mukanya seolah mengatakan "aku???"
Fitrah tak menjawab malah langsung melemparkan kunci sepeda motor ke arah Okta. Okta memandangi kunci motor dan Fitrah bergantian seakan minta penjelasan.
"Rayzal keluar. katanya bakal langsung balik ke rumah, gak ke kampus lagi. Dia yakin kamu pasti bakal kemari mencarinya, makanya nitip kunci ke Aku," Jelas Fitrah paham akan arti tatapan Okta. Ah, Okta memang punya kebiasaan bertanya tanpa melontarkan kalimat apapun. Hanya menatap seseorang dengan intens. Dikiranya semua orang bisa menebak isi kepalanya apa.
"Kemana, kak?" Akhirnya ia mengeluarkan pertanyaan singkatnya
"Nemenin Marsha nyari perlengkapan bayi. Marsha punya ponakan baru. Marsha bakal langsung nganterin dia balik ke rumahnya katanya," Jelas Fitrah
__ADS_1
"Oh, nebeng mobil Marsha?" Okta mengerucutkan bibir. "Makasih ya kak..." Okta segera berlalu meninggalkan studio musik.
Ada yang sedikit perih di hatinya. ya begitulah seharusnya. Rayzal berlaku baik ke semua orang, entah pria atau wanita. Mestinya Okta tidak perlu merasa spesial. Toh Rayzal tidak pernah memberikan sinyal apapun padanya. Jika sikap baik dan kenyamanan yang di berikan Rayzal kepada Okta dianggap perlakuan spesial, maka semua orang di komunitas mereka bahkan di prodi Rayzal akan merasa sebagai orang yang dispesialkan Rayzal, terutama kaum hawa tentunya. Tapi Okta tak bisa membohongi hatinya sendiri saat tau Rayzal jalan bersama Marsha. Dia bukanlah tipe wanita cemburuan, akan tetapi ada yang berbeda dari sikap Marsha ke Rayzal. Ada yang berbeda dari bagaimana mata Marsha menangkap bayangan Rayzal, ada yang berbeda dari tiap perhatian Marsha. Namun Okta tak bisa menerjemahkan apapun. Bagaimana ia hendak menerjemahkan hati orang lain sedang ia sungguh kesulitan menerjemahkan hatinya sendiri.
Sesampainya di parkiran motor, ia tak langsung pulang. Ia mengeluarkan handphone berharap ada pesan dari Rayzal yang memberitahunya bahwa ia sedang menemani Marsha berbelanja. Setidaknya itu akan sedikit meredakan getaran aneh di hatinya. Getaran yang baginya masih terlalu awal untuk disimpulkan sebagai perasaan cemburu.
Sayangnya tak ada satupun pesan dari Rayzal. Memeriksa Whatsapp malah menambah ngilu hatinya. Pasalnya ia menemukan Story Whatsapp Marsha yang isinya video Rayzal sedang berkeliling di area pakaian bayi. Tak sampai disitu, Okta lalu bergegas memeriksa Instagram Marsha. Benar saja, Marsha memposting hal yang sama. Bukan di story, melaikan di feed instagramnya. Komentar-komentar di postingan tersebut sukses membuat mata okta berkaca-kaca :
"Cieee... siapa tuh?"
"Ray, Marsha sejak kapan?"
"tinggal tunggu undangan nih."
__ADS_1
Lebih mengesalkan lagi karena Marsha hanya menjawab:
"heeeee..."
"😁🥰"
"sejak...."
"doain aja."
Okta mencoba menarik nafas berkali-kali meredakan sesak di dadanya. Ia memencet hidungnya dengan keras agar air matanya yang sudah mengkristal di netranya tidak menganak di pipinya. Segera dihidupkan sepeda motornya dan berlalu meninggalkan tempat parkir. Ia tidak mau orang-orang di parkiran menatapnya bingung jika ia sampai menangis disana. Ia begitu kehilangan fokus sampai tak sadar ia telah terlewat dari lorong kosannya. Ia terpaksa memutar balik begitu sadar ia terlewat. padahal ia begitu ingin segera sampai di rumah dan menumpahkan tangisnya di tempat tidur.
Ia sungguh kesal namun tak tahu pada siapa. Haruskah ia kesal pada Marsha? tentu saja tidak mungkin. Bagaimana kalau memang Marsha dan Rayzal dalam sebuah hubungan kencan. Haruskah ia kesal pada Rayzal yang seperti memberi harapan padanya? Tentu saja tidak tepat. Bisa jadi Okta lah sendiri yang menyimpan harapan. Begitulah sulitnya Friend zone. Saat kamu cemburu, jangankan meluapkan, bahkan menyimpulkan pun kamu tak punya keberanian.
__ADS_1
Okta menangis hingga lelah dan tertidur. Berharap saat terbangun, hatinya kembali baik-baik saja.