
Dering alarm membangunkan Okta. Dengan setengah sadar ia meraba-raba handphonenya untuk menonaktifkan alarmnya. kelopak matanya masih setengah terbuka. Ia bangkit seraya mengatur nafasnya hingga stabil, mengerjap-ngerjap berulangkali sembari meregangkan otot bahu dan lengannya. Setelah 5 menit berlalu, ia bangkit menuju dispenser dan meneguk segelas penuh air putih lalu dengan gontai menuju kamar mandi. Hari ini kuliahnya pukul 08.00 pagi. Ba'da menunaikan shalat subuh, Okta melanjutkan tidur. Tak lupa ia menyetel alarm pukul 06.30.
Selepas mandi, ia berpakaian rapih ala mahasiswa. Mencomot roti coklat dan meminum susu coklat kotak yang dibawakan Rayzal semalam. Ia kembali celingak-celinguk seperti kemarin. Tentu saja lagi-lagi lupa menaruh kunci sepeda motornya dimana. Mondar-mandir, membolak-balik barang dalam kamarnya, memeriksa cantolan di belakang pintu, hasilnya nihil. Tak ia temukan kunci motor dengan gantungan smurf itu. Ia lalu membeku, berdiri tertegun sembari mengingat-ingat dimana gerangan kali ini ia menaruhnya. Hingga dering ponsel mengejutkannya.
"Yaaa...." begitu kebiasaannya menjawab telpon Rayzal
"Aku diluar, kamu kuliah pagi kan? cepatlah...!!!" Perintahnya
"Kenapa menjemputku? Kamu cenayang ya? Kok tau aku kehilangan kunci motor?" Okta penuh selidik
"Hahahahhaha.....keluarlah, segera!" Rayzal tak dapat menahan tawa
__ADS_1
Okta bergegas mengunci kamar kostnya lalu melangkah dengan riang menemui Rayzal yang tengah menunggunya di depan gerbang. Ia tak peduli lagi kunci motornya bersembunyi dimana, yang jelas jika ingin selamat dari amukan dosen Geometrinya yang Killer, ia harus segera sampai di kelas.
Betapa terkejutnya Okta saat melihat kendaraan yang dipakai Rayzal menjemputnya adalah motor yang kuncinya sedari tadi membuatnya mondar-mandir di dalam kamar.
Sembari menutup mulutnya yang menganga terpana ia berucap kepada diri sendiri "Ya Allah, kenapa sampai lupa kalau motorku dibawa kamu?? Pikunku sudah kelewat batas ini!!!"
"Kamu lupa kalau yang nganterin kamu balik semalam itu, Aku?" Rayzal terkekeh
"manapun aku tahu kamu akan lupa hal yang sejelas ini. Okta, sepertinya kamu tipikal orang yang mudah melupakan banyak hal dengan mudah," perlahan-lahan tawa Rayzal mereda
"hmmm... mungkin !! kecuali tentangmu," jawab Okta santai.
__ADS_1
Mendengar kalimat sederhana yang diucapkan Okta, Rayzal terdiam beberapa saat. Ada debaran halus yang menerpa hatinya. Ia kembali tersadar saat Okta bertengger manis di boncengannya.
"Berangkat sekarang?" Rayzal menenangkan hatinya sendiri
"Boleh. kalau mau begini aja sampai mata kuliahku kelar juga boleh," sekali lagi Okta bercanda dengan nadanya yang tetap serius
"hahahahahhahaha Konyol!" Rayzal terbahak.
Rayzal lalu memutar gas. Mereka berangkat menuju kampus dalam diam. Jarang mereka mengobrol saat berkendara, seperti hanya menikmati perasaan masing-masing. Mencoba menebak-nebak akan sejauh apa hubungan manis persahabatan mereka. Sering sekali disaat diam seperti ini, Okta bertanya pada diri sendiri, apakah Rayzal benar-benar menganggapnya hanya sebatas sahabat? Bukankah tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Bukankah normalnya akan tumbuh perasaan spesial dari keduanya? atau paling tidak salah satunya. Apakah Okta saja? Rayzal sungguh lelaki yang sulit ditebak. seperti kataku sebelumnya, ia baik kesemua orang tanpa memandang jenis kelamin. Hanya saja, entah kenapa, Okta merasa sedikit lebih spesial dari yang lainnya.
Tentu saja hingga detik ini, Okta hanya membiarkan semuanya mengalir. Suatu saat perjalanan akan membawa mereka menuju muara yang ramai disebut takdir.
__ADS_1