
Happy reading......
Sementara itu di sebuah gudang yang sudah tidak terpakai, seorang pria tengah ngamuk kepada 4 orang yang ada di hadapannya, "gimana sih kalian ini? Kenapa bisa gagal? Melawan satu orang aja nggak becus. Pokoknya saya tidak mau tahu ya, kalian harus habisi dia bagaimanapun caranya, kalian paham?!" ucap orang itu dengan nada membentak dan suara yang tinggi.
"Baik Bos," jawab salah satu dari mereka, kemudian keempat orang itu pun keluar dari gudang.
'Lihat saja, aku aka menghabisimu keturunan Lian.' batin orang itu.
********
Setelah acara fitting baju pengantin selesai, Gavin dan Shi pun pergi ke kantor bersama. Namun di dalam mobil Shi terus menatap ke arah Gavin. Dia benar-benar cemas dengan Gavin.
"Kenapa sayang?" tanya Gavin pada Shi, saat melihat wanita itu menatap dirinya terus menurus.
Shi kemudian memegang lengan Gavin sambil menatap pria itu dengan tatapan cemas, "siapa yang menyerangmu tadi?" tanya Shi kepada Gavin. Namun pria itu langsung menggeleng, "aku tidak tahu siapa yang sudah menyerangku, sebentar lagi aku akan tahu itu," jawab Gavin dengan santai.
Tak lama mobil pun sampai di restoran Shi, kemudian dia pun turun dari mobil, tapi sebelum itu Shi kembali berbalik dan menghadap ke arah Gavin. "Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Shi, namun pria itu langsung menggenggam kedua tangan Shi.
Dia tahu jika wanita yang ada di hadapannya ini sedang cemas dan sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Luka Ini itu hanya luka kecil, tidak usah dicemaskan. Aku tidak apa-apa, tidak ada luka yang serius, kamu jangan khawatir ya," ucap Gavin sambil mengusap kepala Shi dengan lembut.
Mendengar jawaban Gavin, Shi pun menghela nafas kemudian dia pun mengangguk, "baiklah, jika memang kamu tidak mau ke rumah sakit, kalau gitu aku turun dulu ya. Nanti siang kita makan bareng," ujar Shi sambil mencium pipi Gavin kemudian dia pun turun dari mobil.
Gavin tersenyum senang saat Shi mencium pipinya, karena hal sekecil itu pun mampu mengganti membangkitkan sesuatu yang sedang tidur di dalam dirinya. Akhirnya Gavin pun pergi meninggalkan restoran Shi untuk menuju kantor.
__ADS_1
*******
Saat ini Gavin tengah duduk di kursi kebesarannya, kemudian tidak lama asistennya pun datang bersama dengan seorang pria yang Gavin sewa sebagai detektif untuk menyelidiki tentang penyerangannya tadi pagi.
"Jadi, apa kau sudah menemukan siapa dalang dari penyerangan ku tadi pagi?" tanya Gavin pada pria yang berumur 30 tahun, yang berada di hadapannya itu.
"Sudah bos, ini data-datanya," ucap pria itu sambil menyerahkan laptop kepada Gavin, kemudian dia mulai melihat bukti-bukti yang sudah dikumpulkan oleh detektifnya, tapi seketika dahi Gavin mengkerut heran. "Perusahaan Antara Jaya? Perusahaan mana itu? Aku baru mendengarnya, dan perusahaan ini juga tidak ada kerjasama dengan perusahaan kita? Lalu kenapa dia memerintahkan orang untuk menyerangku?" bingung Gavin sambil memijit pelipisnya.
"Motifnya saya juga kurang tahu pasti, Bos. Saya masih menyelidiki ini." setelah mengatakan itu detektif yang disewa Gavin pun keluar dari ruangan diantar oleh asistennya, kini tinggal lah Gavin seorang diri di dalam ruangannya.
Dia merasa heran dan juga bingung, sebab Gavin tidak kenal dengan Antara Jaya Group.
"Jika dia saingan bisnisku, harusnya dia bekerja sama dengan perusahaanku. Tapi, ini tidak ada? Sepertinya ada yang tidak beres," gumam Gavin sambil mengetuk jari telunjuknya di atas meja.
Gavin merasa jika ada motif lain yang menyebabkan orang itu ingin menghancurkannya, bahkan meminta orang untuk menghabisi dirinya dan pemilik dari antara Jaya Group masuk ke dalam list orang-orang yang patut diwaspadai oleh Gavin.
"Kenapa nggak makan di restoran aku aja sih?" tanya Shi, saat berada di dalam mobil.
"Aku kan sudah berjanji kepada kamu, kalau aku akan membahagiakan kamu. Jadi apapun itu, akan aku lakukan. Aku ingin makan siang ini spesial untuk kita," ujar Gavin dengan lembut sambil menggenggam tangan Shi.
Melihat perlakuan lembut Gavin kepadanya, Shi saat ini benar-benar yakin jika di hati pria itu hanya ada dirinya. Dan dia yakin, jika dia sudah mengisi kekosongan di hati Gavin. Shi berharap, tidak akan ada seseorang yang menghancurkan kekuatan cinta mereka.
*********
Pagi ini Shi sudah bersiap untuk pergi ke restorannya, dan di bawah juga sudah ada Gavin yang menjemput dirinya. Dengan langkah anggun, Shi menuruni tangga menuju ke lantai bawah untuk sarapan bersama dengan keluarganya.
__ADS_1
"Mih, kayaknya aku sarapan di mobil aja deh," ucap Shi sambil mengoles selai di rotinya, kemudian membawanya dengan tisu lalu dia pun mencium kedua tangan orang tuanya dan pergi meninggalkan rumah untuk ke restoran.
Tidak banyak pembicaraan di dalam mobil antara Gavin dan juga Shi, keduanya sama-sama terdiam sambil berpegangan tangan. Apalagi saat ini Shi tengah bersandar di bahu Gavin, mereka sedang menikmati syahdunya rasa cinta yang ada di dalam hati mereka
Menikmati setiap waktu yang mereka lalui setiap hari, karena hati mereka saat ini tengah berbunga-bunga tersiram oleh air cinta. Makanya Shi ingin menghabiskan waktu-waktu Indah itu bersama dengan orang yang dicintainya.
Setelah sampai di restoran, Shi pun masuk ke dalam ruangannya diantar oleh Gavin. Tapi, saat masuk ke dalam ruangan Shi merasa heran sebab ada sebuah kotak yang sudah ada di atas meja kerjanya.
"Itu apa Sayang?" tanya Gavin kepada Shi, "entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Shi sambil mengangkat kedua bahunya.
Dengan perlahan Shi pun mengambil kotak itu kemudian membukanya, tapi seketika dia langsung melempar kotak itu dan berteriak dengan wajah yang kaget dan ketakutan.
"Aaaghh... apa itu? Kenapa bisa ada di sini?" teriak Shi sambil memeluk tubuh Gavin.
Kemudian mata Gavin tertuju pada kotak yang dibuang oleh Shi, dia kaget saat melihat isinya. Di mana ada sebangkai tikus dengan darah yang banyak, kemudian ada secarik kertas lalu Gavin pun mengambil kertas itu.
Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia! kalian akan menderita!
Sebuah ancaman yang tertulis di kertas itu membuat Shiena seketika bergetar ketakutan, dia pun semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Gavin. Melihat kekasihnya itu ketakutan, Gavin pun segera merengkuh tubuh Shi, kemudian mengusap rambutnya mencoba menenangkan calon istrinya itu.
"Tidak usah takut, tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak akan membiarkanmu terluka, bahkan disakiti oleh siapapun, kamu percaya kan sama aku," ucap Gavin sambil menangkup kedua pipi Shi.
Wanita itu pun mengangguk dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya, karena jujur Shin sangat ketakutan melihat itu, apalagi bangkai tikus yang banyak darahnya seperti itu membuat lutut Shi seketika lemas.
Di balik punggung Shi, Gavin mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam. Dia tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakiti Shi, apalagi orang-orang yang dia kasihi. Gavin akan membalas dan tidak akan pernah mengampuni Jika ada yang menyakiti Shi walau hanya seujung jari pun.
__ADS_1
Bersambung.......