One Night Bersama Sahabat

One Night Bersama Sahabat
Jangan


__ADS_3

Happy reading....


Tanpa menjawab, Gavin memberikan berkas yang berisi tentang data-datanya Niko, dan Lian menatap dengan heran, kemudian dia menerima berkas itu lalu membacanya.


Matanya membulat kaget, dia menatap ke arah Gavin dan pria itu hanya mengangkat kedua alisnya dengan kedua bahu.


"Kamu mencari tahu tentang om Niko?" Lian menatap ke arah putranya.


"Iya, karena aku sangat penasaran pada pria yang sudah menyakiti mommy ku, dan pria yang sudah menyiksanya. Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu. Tapi ... sejujurnya aku ingin menanyakan satu hal sama Dady, apa benar data-data yang kudapat, jika Dady yang sudah memberikan pelajaran kepada istri kedua dari om Niko?"


Sejenak Lian terdiam, dia tidak menyangka jika putranya akan mencari tahu tentang Niko. Pria itu pun menghela nafasnya, kemudian dia menganggukkan kepala.


"Iya, kamu benar. Dady yang sudah memberi pelajaran kepada wanita sundal itu, sebab dia sudah sangat jahat kepada momy-mu, jadi apa salahnya?"


Gavin mengangguk paham dengan perasaan sang Dady, dia juga tahu apa yang dilakukan dady-nya untuk kebaikan mommy-nya juga.


"Tapi saran Deady sih, kamu jangan membalas dendam. Karena Om Niko sekarang sudah berubah, dia bukan lagi Om Niko yang dulu. Kalau kamu sampai membalas dendam untuk hal masa lalu yang sudah kelar, maka momy-mu pasti akan sangat marah," jelas Lian.


Dia sangat tahu wataknya Gavin, karena tidak jauh beda dengan dirinya. Pasti pria tersebut akan menuntut balas kepada Niko, itu kenapa dia memberikan pengertian kepada Gavin, bahwa semuanya sudah berubah dan semua sudah kelar.

__ADS_1


Lian dan juga Tania tidak mengungkit masa lalu, karena bagi mereka masa lalu itu hanya bisa dikubur. Jadi tidak ada salahnya memaafkan orang-orang yang telah menyakiti mereka, karena pada akhirnya Tuhan pun sudah memberikan karma yang setimpal.


"Tapi Dad---"


"Hey boy! Dengarkan Dady baik-baik! Kita boleh membenci seseorang, tapi ini adalah urusan masa lalu. Momy-mu, Dady dan juga Om Niko, kami semua sudah baik-baik saja. Nadi tidak usah ada lagi pertikaian ataupun balas dendam. Jadi Dady mohon kepada kamu, jangan sampai membalas dendam untuk masalah yang sudah selesai! Jangan membuka luka yang baru!" pinta Lian


Gavin pun mengangguk, dia tidak jadi untuk membalas dendam kepada Niko, karena dia tidak mau membuat Mommy dan juga daddy-nya kecewa. Dan mau tidak mau, Gavin juga memaafkan kesalahan Niko, walaupun di dalam hatinya masih ada kemarahan dan rasa tak terima.


Bagaimana mungkin bisa ia menerima semua kejahatan yang telah Niko lakukan kepada mommy-nya? Sebagai seorang Putra, tentu saja dia tidak akan pernah memaafkan itu.


Selesai makan siang, Lian kembali ke rumah, sedangkan Gavin kembali ke kantor.


"Masuk," ucap Gavin.


Seorang pria tampan berperawakan gagah masuk ke dalam ruangan Gavin, dan dia adalah orang suruhan Gavin yang bernama Mahesa.


"Bagaimana? Apa kau sudah membawanya?" tanya Gavin.


"Sudah Tuan, dia sudah ada di markas."

__ADS_1


Mendengar itu Gavin tersenyum miring, "Baiklah, kita ke sana sekarang!"


Mereka berdua pun keluar dari ruangan menuju di mana mobil Gavin terparkir, karena mereka berdua akan pergi ke suatu tempat, di mana Gavin akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah mengusik hidupnya.


Namun di tengah jalan ponselnya berdering, dan itu ternyata telepon dari Shiena, yang meminta mereka untuk bertemu namun Gavin sedang di perjalanan.


"Maaf sayang, aku lagi ada kerjaan. Tapi nanti malam kita akan dinner ya. Aku akan menjemputmu ke rumah, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya ya, I love you."


Setelah mendapat jawaban dari Shi, Gavin menutup teleponnya.


Hingga mobil pun sudah sampai di sebuah gudang tua, yang tak lain adalah markas pria tersebut. Dia membuka jasnya, lalu menggulung kemeja setengah lengan di tangannya sudah ada pistol.


Langkahnya tegap dengan sorot mata yang begitu tajam. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada orang yang sudah mengusik hidupnya.


'Permainan akan dimulai.' batin Gavin sambil tersenyum menyeringai.


Pintu terbuka, rasa pengap seketika menyeruak ke indra penciuman Gavin. Dia berjalan dengan gaya angkuh dan juga arogannya, dia menatap ke arah seorang pria yang sudah babak belur yang terikat di kursi.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2