One Night Bersama Sahabat

One Night Bersama Sahabat
Tertembak


__ADS_3

Happy reading...


Shi sudah siap dengan dress cantik berwarna biru muda, dia menuruni tangga menuju lantai bawah di mana saat ini Gavin sudah menunggu dirinya.


"Gavin, Ingat jaga Shi ya! Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya," ucap Jojo saat Gavin dan Shi akan pergi.


"Siap Om! Saya akan menjaga Shi, tidak akan membiarkan dia terluka. Kalau begitu kami pamit dulu Om, keburu malam, Tante." Gavin mencium tangan kedua orang tua Shi lalu mereka pun berpamitan.


.


.


Di lain tempat, saat ini Aryan pun sedang makan malam bersama dengan Luna. Terlihat wajah pria itu sangat dingin.


Mereka makan malam atas usul Papanya Aryan, sebab Papanya ingin Aryan dan juga Luna semakin dekat dan mengenal satu sama lain.


"Oh iya Aryan, besok ada Festival di taman kota, kamu ikut yuk! Di sana juga ada teman-teman aku, nanti aku kenalin sama mereka," ajak Luna.


Pria itu menghentikan makannyax lalu dia menatap sekilas ke arah Luna, kemudian fokus kembali kepada makanan yang ada di atas piring.


"Aku ada kerjaan," jawab Aryan dengan cuek.


Luna yang mendengar itu pun tersenyum, dia tahu jika pria yang berada di hadapannya belum bisa menerimanya. Tapi tidak Luna pungkiri dari pertama mereka bertemu, dia sudah sangat jatuh cinta kepada Aryan.


"Ayolah! Hanya sebentar saja, setelah itu kamu boleh kok pergi ke kantor. Aku juga sudah minta izin sama Om Hendi, dan dia mengizinkan," tutur Luna.


Aryan menghela nafasnya dengan kasar, sejujurnya ia tidak suka jika ada sebuah pemaksaan. Biasanya dulu Shi yang selalu memaksanya, tapi sekarang wanita yang tidak ia kenal memaksa dirinya.

__ADS_1


"Jam berapa festival itu?" tanya Aryan.


"Jam 10.00 pagi, nanti aku ke rumah kamu ya."


"Tidak usah. Nanti biar aku langsung ke tempat festival aja," jawab Aryan dengan dingin.


Luna yang mendengar itu pun tentu saja sangat bahagia. "Baiklah, kalau gitu aku akan menunggu kamu di sana. Nanti kita ketemuan di air mancurnya ya, aku akan menunggumu di sana."


Aryan hanya menganggukkan kepalanya saja saat melihat wajah berbinar dari Luna, namun ia tak perduli hingga makan malam pun telah selesai.


.


.


Pagi ini Aryan sudah siap untuk pergi ke kantor, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Melihat jam yang berada di tangannya dan menunjukkan pukul jam setengah sembilan pagi.


"Masih ada waktu untuk meeting," gumam Aryan.


Sesampainya di kantor, Aryan langsung masuk ke dalam ruangannya, kemudian datanglah seorang wanita cantik yang tak lain adalah sekretarisnya, dan memberikan jadwal Aryan hari ini.


Dia melihat jadwalnya begitu padat, apalagi jam 10.00 dia ada meeting, tapi pria itu teringat dengan janjinya kepada Luna.


"Apa meeting jam 10.00 bisa dibatalkan? Saya ada janji dengan seseorang."


"Maaf Tuan, tapi tidak bisa. Klien kita yang dari Bangkok sudah menunggu 2 hari yang lalu, tapi Tuan selalu meng-cancelnya. Dan kali ini dia ingin kita melakukan meetingx jadi tidak bisa lagi di cancel Tuan," jelas sekretarisnya.


"Apa tidak bisa diundur lagi ke jam yang lebih sore misalnya?"

__ADS_1


"Maaf Tuan, tidak bisa."


Aryan pun hanya mengangguk sambil mengibaskan tangannya, setelah itu sekretarisnya pun keluar. Dia benar-benar bingung bagaimana bisa untuk bertemu dengan Luna, padahal dia harus meeting.


"Aku harus menelponnya dan mengabarinya, jika aku tidak bisa datang," gumam Aryan, namun saat dia mengeluarkan ponsel dirinya baru ingat jika Aryan tidak memiliki nomornya Luna sama sekali.


"Aku tidak memiliki nomornya lagi!" rutuk Aryan pada diri sendiri, karena dia tidak memiliki nomor Luna.


Saat dirinya akan menelpon sang Papa, tiba-tiba sekretarisnya kembali mengetuk pintu, dan dia mengatakan jika harus melakukan meeting.


Pria itu pun akhirnya keluar dari ruangannya, dan saat di ruang meeting ponselnya berbunyi, membuat semua mata memandang ke arahnya. Akhirnya Arian pun mematikan ponsel tersebut.


.


.


Tepat jam 10.00, Luna sudah duduk di kursi yang dekat air mancur, lalu dia melihat ke sekeliling dan tidak menemukan adanya Aryan.


"Aku yakin, dia pasti akan datang. Dia tidak mungkin membohongiku," gumam Luna sambil tersenyum.


Rasanya dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Aryan, karena Luna yakin pria seperti Aryan tidak mungkin mengingkari janjinya.


Namun sudah jam 11.00 Aryan masih juga belum datang, membuat Luna sedikit kecewa. Namun dia tetap pesimis tentang kedatangan pria itu.


Hingga tiba-tiba saja di festival tersebut ada kerusuhan, ada baku hantam yang terjadi antara penontonx dan akhirnya malah menyebar, membuat Luna sedikit panik. Dia mencari tempat berlindung, namun tidak sengaja punggungnya tertembak hingga wanita itu pun akhirnya ambruk ke lantai.


"Aaakh!" jerit Luna.

__ADS_1


Pandangannya semakin kabur, dia melihat orang berlarian ke sana dan ke sini lalu akhirnya pandangannya pun menjadi gelap dan Luna tidak ingat apapun.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2