
Happy reading.....
Iya halo sayang," ucap Gavin saat telepon tersambung.
"Kamu di mana sih? Ini udah sore loh, aku mau pulang k. Kamu nggak mau jemput aku? Kalau nggak mau, ya udah aku mau naik ojek aja," rajuk Shi di seberang telepon.
"Eh, jangan naik ojek dong. Awas ya kalau kamu berani naik ojek sebelum aku jemput!"
"Ya sudah makanya cepetan ke sini!" kesal Shi.
"Baiklah Tuan Putri, aku akan ke sana sekarang. Tunggu Pangeranmu datang ya!" Setelah itu telepon pun terputus.
Dia melihat ke arah Jaya yang sedang meringis kesakitan, meratapi kakinya yang sudah mulai melepuh. Ppria itu tersenyum menyeringai, kemudian dia mencengkram rahang Jaya dengan kuat.
"Seharusnya kau beruntung, karena calon istriku menyelamatkan. Tapi ingatlah satu hal, berani bermain-main dengan keluarga Arganendra sama saja mengantarkan nyawa, paham!" bentak Gavin kemudian menghempaskan wajah Jaya dengan kasar.
Dia memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Jaya dan tidak jadi menghabisi pria itu, karena Gavin masih sedikit mempunyai hati nurani. Walaupun sebenarnya tangannya sudah gatal sekali menghabisi Jaya yang sudah berani mengusik hidupnya.
.
.
__ADS_1
Sesampainya Gavin di restoran, dia langsung menuju ruangan kekasihnya, dan di sana dia melihat Shiea tengah merengut dengan kesal, karena pria itu terlambat menjemput dirinya.
"Hai sayang, jangan marah begitu dong! Mana wajah cantiknya? Nanti hilang kalau kamu manyun," ujar Gavin sambil menoel hidung Shi namun wanita itu merajuk.
"Kamu itu ke mana sih? Kenapa telat menjemputku?"
"Kan aku udah bilang, tadi ada kerjaan. Ya udah kita pulang sekarang yuk! Udah mau hujan juga tuh mendung," ujar Gavin sambil menggendong tubuh Shi.
Wanita itu terperanjat kaget, dia langsung mengalungkan tangannya di leher kekar pria tersebut.
"Turunkan aku Vin! Aku malu banyak karyawan!* pinta Shi yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"No. Aku tidak akan menurunkanmu. Kenapa harus malu? Kita ini kan sebentar lagi akan menikah, jadi tidak perlu malu. Aku juga sudah melihat semuanya bukan?" goda Gavin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan menggodaku seperti itu, sayang! Apa kau ingin membangunkan singa yang sedang tertidur?" Lagi-lagi Gavin.
Dia membayangkan bagaimana gagahnya Gavin saat pertama kali mereka melakukan hal itu, apalagi mengingat jika belalai Gavin lumayan besar.
"Wah! Mbak Shi dan juga tuan Gavin benar-benar serasi ya," ucap salah satu karyawan sih di dalam restoran.
"Iya, mereka benar-benar serasi. Aku jadi pengen deh punya calon suami seperti Tuan Gavin," Timpal yang lain.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Gavin langsung mendudukan Shi, sementara wanita itu terus aja membangunkan bibirnya.
"Mmasih aja manyun sayang," ucap Gavin sambil menyalakan mesin mobil.
Terlihat hujan mengguyur dengan deras, sementara Shi melipat kedua tangannya di depan dada, karena dia merasa kesal sebab Gavin tadi menggendongnya. Dia malu dilihat oleh semua karyawannya dan beberapa customer yang berada di sana.
"Aku malu tahu. Emang kamu nggak lihat tadi, karyawan sama pelanggan aku pada ngeliatin?"
Gavin hanya mengangkat kedua bahunya saja, "I don't care. Kenapa harus malu? Kamu kan calon istriku, bahkan kalau aku mau, aku akan langsung menciummu di sana." Gavin menaik turunkan alisnya.
Membuat Shi seketika menatapnya dengan tajam, kemudian dia mencubit pinggang pria tersebut bertubi-tubi hingga membuat Gavin meringis kesakitan, lalu dia menangkap tangan Shi, sehingga tatapan mereka pun bertabrakan satu sama lain dan terkunci.
Gavin langsung menarik tengkuk leher milik Shi, lalu langsung mendaratkan bibirnya dan memainkannya dengan lembut dan berirama.
Keduanya bertukar saliva untuk beberapa menit, kemudian Gavin melepaskan tautan bibirnya saat melihat Shi sudah sedikit kehabisan oksigen.
"Dasar nakal." Shi memukul dada bidang Gavin, namun pria itu hanya tersenyum saja.
"Tapi suka kan?" goda Gavin, sementara Shi hanya tersenyum malu.
Kemudian mereka pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran restoran untuk menuju rumah Shi, karena nanti malam keduanya akan melakukan dinner.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....