One Night Bersama Sahabat

One Night Bersama Sahabat
Pelajaran untuk Jaya


__ADS_3

Happy reading....


Gavin meminta anak buahnya untuk membuka penutup mata dari pria tersebut, dan saat penutup mata itu dibuka, pria yang sudah babak belur tersebut menatap ke arah Gavin.


Sementara Gavin hanya tersenyum miring, kemudian dia menarik salah satu kursi dan duduk di hadapan pria tersebut.


"Bagaimana? Pasti rasanya belum terlalu sakit bukan?" tanya Gavin sambil memutar-mutar pistol yang ada di tangannya.


GLUK!


Pria itu meneguk ludahnya dengan kasar, dia menatap ke arah Gavin yang beberapa hari ia celakakan lewat anak buahnya.


"Aku heran deh dengan manusia seperti dirimu, selalu membalas dendam untuk masa lalu. Apa tidak bisa kau berpikir, bagaimana dengan masa depanmu? Kau itu sudah tua, dan kau masih mempunyai dendam kepada orang tuaku, dan menjadi sasarannya adalah keturunannya?" Gavin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring.


"Lepaskan aku, brengsek!" Pinta pria tersebut dengan tatapan tajam ke arah Gavin.


Mendengar itu Gavin mencondongkan tubuhnya, kemudian dia mengangkat dagu pria itu dengan pistol yang ada di tangannya.


"Jangan pernah menatapku seperti itu, dengan keadaanmu sekarang! Bayangkan saja, bagaimana peluru yang ada di dalam pistol ini menembus kepalamu? Oh, tidak. Bukan menembus, tetapi menghancurkannya!" Gavin berkata dengan nada yang rendah namun terkesan begitu dingin dan tajam.


GLUK!

__ADS_1


Lagi-lagi pria tersebut meneguk ludahnya dengan kasar. Entah kenapa, dia merasa aura Gavin saat ini begitu berbeda, padahal saat dia melihat Gavin beberapa waktu yang lalu. Pria itu seperti orang biasa saja.


Namun, ternyata dia salah, keturunan Lian terlihat baik di depan tetapi jika aura jahatnya sudah keluar, mereka bahkan seperti iblis yang siap memangsa korbannya.


"Tapi kau tenang saja! Aku tidak akan membuatmu mati secara langsung, tapi kita akan bermain-main sejenak. Karena kau juga sudah melukai dan mengancam calon istriku, jadi tidak ada kata maaf. Sebaiknya kau sekarang ucapkan kata-kata terakhirmu, sebelum nyawamu kucabut dari tubuhmu ini!" ancam Gavin sambil mendorong kursi yang ia duduki hingga terjatuh di lantai.


"Lepaskan aku!" pinta pria itu, "Jangan sakiti aku! Aku mohon! Ada anak dan istriku di rumah."


Mendengar hal tersebut Gavin hanya tersenyum menyeringai, kemudian dia menunduk dan mencondongkan tubuhnya ke arah pria tersebut.


"Kau bilang mempunyai anak istri? Lalu kenapa kau malah mengantarkan nyawa? Kenapa kau malah membuat kesalahan dengan keluarga Arganendra? Tentunya kau juga tahu, keluargaku tidak akan pernah memaafkan musuh."


"Aku mohon, jangan bunuh aku! Maafkan aku. Aku tahu, jika aku salah. Aku hanya terobsesi dengan dendamku pada Lian, karena gara-gara dia perusahaanku dulu di ambang kehancuran," jelas pria itu sambil bergetar ketakutan.


Gavin menggerakkan tangannya, hingga anak buahnya datang sambil membawa satu ember air panas.


Pria tersebut yang bernama Jaya bergetar ketakutan, keringat dingin seketika menetes dari pelipisnya saat melihat air panas tersebut. Dia tidak bisa membayangkan jika air itu menyentuh kulitnya pasti akan langsung melepuh.


"Kau tentu melihat yang ini apa kan? Bisa kau bayangkan, jika air ini yang baru saja diangkat menyiram tubuhmu."


Jaya menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Tolong jangan sakiti aku! Aku mohon!"

__ADS_1


Namun, bukan Gavin namanya jika dia gampang memaafkan orang lain. Apalagi yang sudah berani mengusik hidupnya. Dia meminta anak buahnya untuk melepaskan kaki pria itu.


S


"Masukkan kakinya ke dalam ember!" titah Gavin.


Anak buahnya mengangguk, dua orang memegang kaki Jaya, satu orang mengambil ember dan menaruhnya di hadapan kaki pria itu.


"Tidak. Aku mohon, jangan jangan lakukan itu kepadaku! Aku mohon maafkan aku!" teriak Jaya yang sudah ketakutan.


"ekarang kau bisa minta maaf, kemarin-kemarin ke mana? Bahkan kau tidak pernah memikirkan konsekuensinya bukan? Sekarang tanggung sendiri, kau memilih cacat atau kau memilih nyawamu melayang?" ujar Gavin dengan sorot mata yang begitu dingin.


"Aku mohon maafkan aku.. Jangan membuatku cacat! Jangan habisi nyawaku, aku mohon!" teriak Jaya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


Namun Gavin mempunyai hati yang keras, dia memerintahkan anak buahnya untuk memasukkan kaki tersebut ke dalam air panas, dan seketika teriakan menggema mengisi ruang tersebut saat kaki Jaya dimasukkan ke dalam air panas.


"AAAGHH! PANAAAS!" teriak Jaya kepanasan dan merasakan sakit di bagian kakinya yang tak terhingga.


Sementara Gavin hanya tersenyum menyeringai, saat melihat pria itu tengah kesakitan.


Kemudian dia mengambil tongkat baseball, dan Jaya semakin takut melihat aura Gavin. Dia sudah pasrah karena saat ini tidak bisa melawan, apalagi kakinya begitu sangat sakit dan terlihat sudah mulai melepuh.

__ADS_1


Namun saat Gavin akan mengayunkan tongkat baseball itu ke arah kaki pria tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu adalah panggilan dari Shi.


BERSAMBUNG....


__ADS_2