
Pukul 1.00 Maryam sudah tidak ada di kasurnya. Ia sudah memotong-motong wortel di dapur. Ibunya sedang menyalakan hawu (sunda: tungku tradisional untuk memasak. dengan bahan bakar kayu bakar/suluh), langseng besar sudah ada di atas hawu. Beberapa perempuan lain ada yang memotong sayuran lain. Seorang pria masuk dan membawa seember daging ayam yang telah di bumbui.
"Teh Imas, sudah siap ayamnya"
"hatur nuhun kang Asep" ucap seorang perempuan bercadar yang merupakan ibunya Maryam.
Setelah pukul tiga Maryam mengambil wudhu dan solat tahajjud bergantian dengan ibunya dan beberapa perempuan lain. Selesai solat ia membantu untuk menyiapkan kemasan masakannya. Beberapa kali ia mencomot makanan di dapur karena lapar.
"eh Maryam, ga boleh. itu kebiasaan buruk. kalau mau minta, jangan asal comot, kayak tikus" ucap ibunya.
"iya bu"
Pukul 6.00 Maryam bergegas menuju sekolah menggunakan angkutan umum. Turun di depan gerbang sekolahnya dan langsung menuju kelas.
Di kelas masih sepi, ia simpan tasnya dan tertidur diatas meja.
Brakk, "woyy bangun!!" teriak seorang lelaki di bangku Maryam.
"Astagfirullahaladziim" Maryam terbangun kaget.
"ihhh Linggaaaa!!!" teriak Maryam kesal.
Lingga tertawa puas.
"ih kamu gangguin Maryam, kasian" ucap Aulia sambil memukul Lingga.
"aw, iya iya maaf"
Maryam masih menatap sinis Lingga. Ia benar-benar kesal.
Yusuf pun datang bersama Jamal dan langsung duduk di bangku mereka.
"kenapa sih?" tanya Jamal melihat Maryam dengan wajah kesal.
"tadi Maryam tidur" ucap Lingga.
"terus, di gangguin sama Lingga!" Maryam kesal. Matanya berkaca-kaca dan pergi. Semua merasa aneh dengan sikapnya. Jamal bangkit dan melihatnya pergi.
"Ul, dia lagi kenapa?" tanya Jamal pada Aulia.
"kesel banget kali ah, si Lingga tuh. dia lagi enak enak tidur" ucap Aulia ikut kesal.
"susulin ul, takut kenapa-kenapa" ucap Yusuf.
Aulia berdiri ditemani Mina keluar kelas menyusul Maryam. Tak beberapa lama Mina kembali.
"Jamal, tadi dia ke arah mana?" tanyanya.
"arah kantin"
"oke"
"Lingga, cari di lapangan. takutnya dia nangis lagi di pinggir lapang, bikin malu" ujar Yusuf.
Lingga berlari keluar ditemani Jamal. Yusuf menyimpan tasnya dan ikut pergi keluar.
__ADS_1
Aulia dan Mina berhasil menemukan Maryam terduduk mendekap kakinya dipinggir musola.
"Maryam, kamu kenapa?" tanya Mina pelan.
"gak apa-apa kok, cuman kaget tadi tuh. Aku ga suka di kagetin" Jawab Maryam sambil berusaha tersenyum.
"beneran?" tanya Aulia.
"iya, gak apa-apa"
"kita kantin yu, bentar" ajak Mina.
Mereka pun ke kantin. Mina memesan susu coklat di kantin.
"nih, minum" Mina memberikan susu coklat untuk Maryam.
"nih, buat kamu juga" Ucap Mina memberikan susu juga pada Aulia.
"Wihh makasih, jarang nih Mina traktir traktir kayak gini" ucap Aulia.
"Makasih min" ucap Maryam.
"ayo minum"
Mereka meminum habis susu mereka.
"ahh" Aulia duluan habis.
"Alhamdulillah" ucap Maryam.
"Yuk ke kelas, bentar lagi bel masuk" ajak Maryam.
Dari kejauhan, Yusuf memperhatikan mereka sambil tersenyum dan ikut kembali ke kelas dengan mengambil jarak aman dari mereka.
Di kelas, saat baru masuk Yusuf melemparkan sebuah bungkus kecil kepada Maryam. Sebuah permen karet rasa strawberi.
"buat aku?" tanya Maryam.
Yusuf mengangguk tanpa menoleh sambil membuka bukunya. Bu Sandra, guru biologi sudah masuk ke kelas dan pelajaran pun di mulai.
Sepulang sekolah di gerbang Maryam di hampiri oleh Akmal.
"Maryam" panggil Akmal saat Maryam baru saja keluar gerbang.
"kak Akmal, ngapain disini?"
"ini soal papa" ucapnya.
Maryam mengikuti Akmal menuju taman dekat sekolah. Dari kejauhan Yusuf memperhatikan mereka.
Apa Maryam sama kak Akmal masih berhubungan? Apa mereka berantem lagi? Apa tadi Maryam nangis sebenernya karena masalah dengan kak Akmal? batin Yusuf. Lalu ia menyadarkan diri dan bergegas pulang.
"Jadi kamu udah maafin aku?" tanya Akmal santai sambil memendang langit.
Maryam mengangguk.
__ADS_1
Akmal menarik nafas panjang dan menghembuskannya berat.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang papa?" tanya Akmal.
"itu sudah lama, malam itu mamanya kak Akmal datang ke rumah dan marah-marah juga menampar ibu. Mamanya kakak bilang kalau ibu itu merusak rumah tangganya, padahal dia seharusnya bahagia dengan anak mereka. Aku tidak terlalu mendengar dan tidak mau. Lalu, waktu itu aku gak sengaja buka dompet kakak dan liat foto bapakku, mamanya kakak, sama kakak disana. Aku shock, ditambah kakak marah-marah sama aku karena membuka dompet kakak" jelas Maryam panjang lebar.
"Aku minta maaf soal marah-marah"
"Aku cuman ga pernah tahan untuk ga nangis kalau aku di bentak atau di teriaki kak. Gak apa-apa kok"
"Aku ngerti sekarang, kamu itu adik aku dari ayah. Kita gak seharusnya pacaran"
Maryam mengangguk.
"Di tambah, aku juga sadar kalau pacaran itu dilarang sama Allah"
Akmal mengangguk.
"Mar, Mama ingin menceraikan papa. aku ga tau harus senang atau sedih"
"Kenapa? Apa bapak juga sering mukul mamanya kakak?" mata Maryam mulai berkaca-kaca.
Akmal mengangguk, "Dia juga begitu sama ibu kamu?"
"iya" Jawab Maryam dengan linangan air mata.
Akmal menghapus air mata Maryam.
"Ada kakak disini, kamu harus kuat. Seperti mama dan ibu"
Maryam mengangguk.
"yuk, kakak anter pulang" Akmal bangkit dan berjalan duluan.
"oh iya kak, kakak ka ikutan tes masuk universitas?" tanya Maryam setelah sampai di motor.
Akmal hanya menggeleng dan tersenyum. Maryam mengerti, mungkin terlalu banyak kendala.
Ilustrasi gambar Maryam❤👇
Ilustrasi gambar Akmal👇
•
•
Our Little World
__ADS_1
To be continued...😊