
Mina dan Aulia mulai memakai kerudung ke sekolah. Disambut heboh oleh seisi kelas.
"Wahh ikutan Maryam nih" ucap Siska.
Mina mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Siska.
"Nih, buat kamu kalau mau pakai" ucap Mina.
"Kerudung?" tanyanya.
Mina mengangguk. Siska menerimanya dan tersenyum, "Aku bakal coba pake"
Yusuf datang ke kelas dan tersenyum senang melihat perubahan kedua temannya. Begitupun Maryam,
"Aaaa" Maryam berteriak senang dan menghamburkan pelukan pada kedua temannya.
"Aku sayang kalian" ucapnya.
"...
Teman yang baik adalah teman yang menunjukkan pada kebaikan..."
#
Maryam terus saja berdiri dan duduk dari bangkunya, mondar mandir ke meja Salwa.
"Aku ga ngerti sama sekali" ucapnya pasrah.
Yusuf mulai gerah karena keberisikan Maryam.
"Apa sih yang kamu ga ngerti? ga mau diem banget" ucap Yusuf kesal.
"maaf"
Yusuf diam saja dan mulai membuka-buka bukunya.
"udah nemu jawaban?" tanya Maryam pada Yusuf yang tengah serius mengerjakan soal dan mencari jawaban.
"belum"
"Susah banget soalnya. Salwa aja ga bisa apalagi aku"
Mina berbalik ke belakang, " Yusuf, udah nemu jawabannya?" tanyanya.
Yusuf menggeleng.
"Aku ga suka fisika" ucap Maryam sambil menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan.
"mudah menyerah" ucap Yusuf.
__ADS_1
Maryam kembali bangkit dan berjalan menuju meja Salwa.
"eh tunggu-tunggu, tadi kata kamu bilang menurut Joseph Hendry besar GGL induksi sebanding dengan laju perubahan arus terhadap waktu. Berarti bisa i/t dong?" ucap Maryam sambil mencoret bukunya di depan Salwa.
"Iya iya aku tadi nemu rumus itu" Salwa membuka buku kumpulan rumusnya.
"Nah ini. kita coba pakai ini. Berarti, GGL induksi \= - L ×∆i/∆t" ucap Salwa.
Maryam tersenyum, setelah selesai mengerjakan ia kembali ke bangkunya.
"udah?" tanya Yusuf.
"udah dong"
"gimana?"
"nih, pakai rumus yang ini"
"euh ya Allah, ini?" Yusuf ingin meyakinkan.
"iya"
"dari tadi aku udah melototin kali rumus itu"
Maryam tertawa mendengar jawaban Yusuf.
#
Di rumah Maryam.
"udah sore nak. besok saja" jawab ibunya.
"tugas buat besok bu"
"Yaudah, cepetan ya udah sore" ucap ibunya.
Maryam langsung pergi. Sore itu warnet sedikit ramai. Ia harus sedikit mengantri untuk mengeprint tugasnya. Maryam sedikit risau karena sebentar lagi magrib. Tepat saat setelah adzan magrib berkumandang, ia selesai mengeprint semua tugasnya.
Dijalan, ia berpapasan dengan dua orang lelaki yang berjalan gontai. Mereka menatap Maryam jahil.
"neng mau kemana magrib- magrib?" tanya salah seorang diantara mereka.
Mulut mereka berbau alkohol saat berbicara. Baju mereka lusuh. Maryam terus berjalan.
"tunggu neng tunggu, kamu anaknya Badi kan?"
mereka kenal ayah? bantin Maryam.
"iya. kalian mau apa?" tanya Maryam menantang. Berfikir bahwa kedua orang itu takut pada ayahnya yang kekar dan menyeramkan sama sepertinya.
Mereka tersenyum licik dan semakin mendekat pada Maryam.
__ADS_1
"Kesempatan bagus untuk membalaskan dendam lewat anaknya" ucap salah satu dari mereka.
Maryam terkejut dan lari namun terlambat. Tangannya telah digenggam dan ditarik. Ia berteriak sangat kencang, namun mulutnya di bekap dan tubuhnya didekap sangat erat. Maryam berusaha berontak namun tubuh orang itu sungguh kuat, ditambah dia adalah pria mabuk yang mungkin kalap. Maryam terus berusaha memberontak dan teriak.
"DIAM ANAK SETAN!" ucap pria itu.
Maryam mulai menangis dan kehabisan tenaga untuk berontak.
Dugg..
"Aaa.." ucap pria yang tidak membekap Maryam.
Bekapan Maryam melonggar, lalu terlepas. Nafasnya mulai sesak, namun ia tetap sadar dan melihat seseorang yang ia kenal.
"ni anak ikut ikutan"
"dia adik saya"
Dengan tangan gemetar dan terburu-buru ia mencari ponselnya dan berusaha mengingat nomor polisi.
oh ayolah Maryam berapa nomornya, aku mohon ingatlah. Kenaoa aku tak bisa mengingatnya bantinnya sambil terus mengingat.
"Maryam lari!!" ucap lelaki yang kini telah di kepung oleh kedua pemabuk itu, wajahnya sudah terdapat beberapa luka.
Maryam menelan ludah berusaha berdiri dan berlari sekuat tenaga.
"Toloooong!" Dengan sisa suaranya ia berteriak.
Seseorang dengan pakaian koko dan sarung yang sepertinya baru pulang dari masjid tengah berjalan dan mendengarnya berteriak.
"pak, tolong panggilkan polisi. Disana ada yang diserang preman mabuk" ucap Maryam sambil sesegukan.
Pria itu segera menelepon polisi. Pria itu memanggil beberapa jamaah lain untuk membantu Maryam dan pergi ke tempat kejadian. Saat sampai Akmal telah babak belur. Seluruh orang yang ikut mengepung kedua preman. Maryam menghampiri Akmal yang terkapar lemas di atas tanah. Darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya. Ia memengangi perutnya dan merintih kesakitan. Seorang warga menelepon ambulan. Bersamaan dengan polisi, ambulan juga datang. Maryam terus menangis dalam ambulan menuju rumah sakit melihat kondisi Akmal. Akmal sudah tidak sadarkan diri dalam perjalanan.
Maryam menunggu diluar sambil melamun. Ibu dan mamanya Akmal bergegas menghampiri Maryam. Maryam yang melihat kedatangan ibunya langsung memeluknya dan menangis.
"Akmal?" tanya mamanya.
"Dia udah dirawat, belum sadar" jawab Maryam.
"Kenapa? Bagimana ini bisa terjadi" desak mamanya Akmal.
Maryam mulai menceritakan kejadiannya pada mama Akmal dari sisi dia. Ibunya masih merangkulnya dan mencoba menenangkan kedua perempuan di sampingnya.
"Maryam, bukan salah kamu" ucap mama Akmal.
"Lina, ayo kita lihat Akmal" ucap ibunya pada mama Akmal. mereka masuk ke ruang inap Akmal.
Ruang itu sepi, karena hanya Akmal yang dirawat di sana. Semua ranjang rawat kosong dengan tirai pemisah yang terbuka. Ranjang Akmal berada tepat di tengah tengah ruangan. Tangan Akmal di gips. Saat melihat anaknya penuh luka Lina mulai menangis. Ibunya Maryam merangkulnya.
__ADS_1
"Aisyah, aku tidak bisa melihatnya seperti ini"
Maryam menatap Akmal dengan sedih dan perasaan bersalah.