
Anna tengah mondar mandir di kamarnya, ia memikirkan cara untuk membalas dendam dan cara untuk menjauhkan Revin dari Elvan. Tentu saja Anna tau nama Revin, bahkan seperti alamat dan pekerjaan serta umur Revin pun Anna tau. Karena ia sudah mencari informasi tentang Revin sebelumnya. Anna terus mondar mandir sambil menggigit kukunya dan terlihat gelisah karena tak kunjung mendapatkan ide.
"aarggh! apa yang harus kulakukan" geram Anna sambil mengacak rambutnya sendiri. "ahh! dia, iya dia pasti bisa melakukannya!" ucap Anna dengan senyum liciknya.
Kemudian Anna mencari ponselnya dan segera menghubungi seseorang.
tuutt.. tuutt.. tuutt..
"halo" jawab suara dari seseorang yang tengah dihubungi oleh Anna.
"kak Tasya!! kakak apa kabar?" ucap Anna dengan nada ceria nya.
"Anna! aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu?" tanya Tasya.
"uhmm aku kurang baik kak" jawab Anna dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"hei..kamu kenapa?" tanya Tasya khawatir.
"uncle Elvan..kakak tau kan kalo uncle tidak pernah berkata kasar padaku? tapi setelah perempuan itu hadir di hidup uncle..." ucap Anna yang sengaja memotong pembicaraan nya agar Tasya semakin ingin tau.
"perempuan? siapa Anna?" tanya Tasya dengan menggebu.
"dia..namanya Revin, aku tidak tau jelasnya tapi aku rasa dia menggoda uncle. aku gak mau kak kalau uncle bersama perempuan seperti itu, aku yakin kalau kakak lah yang paling cocok dengan uncle" ucap Anna dengan nada sedihnya tapi tidak dengan ekspresi nya yang justru menunjukkan wajah jengah nya.
"kamu bisa saja" jawab Tasya dengan terkekeh mendengar penuturan dari keponakan orang yang paling diinginkannya.
"aku serius kak, jadi kakak harus berbuat sesuatu" ujar Anna.
"baiklah, aku pasti akan menyingkirkan perempuan yang berani menggoda Elvan-ku. tapi Anna, bukankah kamu bisa melakukannya?" tanya Tasya sambil mengernyitkan keningnya.
"untuk yang satu ini aku gak bisa, uncle terlalu melindunginya. Jika aku melakukan sesuatu aku akan habis oleh uncle Elvan" kata Anna dengan memainkan kukunya.
"siapa sebenarnya Revin ini? aku tidak boleh tinggal diam!" kata Tasya mulai tersulut emosi.
"tentu, aku akan mendukung kakak. tapi kakak tidak boleh membongkar ini kedepannya. jangan pernah katakan pada siapapun kalau aku yang memberitahu kakak soal ini. aku benar-benar akan habis oleh uncle kak" ucap Anna dengan pura-pura menangis.
"ohh tenanglah Anna, aku akan menghabisinya sendiri dengan tanganku" kata Tasya dengan senyum smirk nya.
"ya! aku percaya pada kakak. terimakasih kak" ucap Anna sumringah sebelum ia mematikan sambungan telepon.
Anna tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak? ia tidak perlu repot-repot harus turun tangan untuk menyingkirkan Revin, dan saat Revin tersingkir karena Tasya. Ia akan mengadu pada Elvan di belakang Tasya.
__ADS_1
"kamu sangat cerdas Anna" puji Anna pada dirinya sendiri seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
-- di rumah Revin --
"bagaimana bisa aku tidak boleh pergi ke cafe dan malah disuruh untuk beres-beres rumah. kalau aku tidak menyayangimu Lala, aku tidak sudi melakukannya. ini lebih melelahkan dibanding mengurus cafe seharian" gerutu Revin dengan masih sibuk mengepel lantai rumahnya.
Tadi pagi sebelum Lala berangkat ke cafe, Lala menyuruh Revin untuk tetap dirumah saja dan membereskan rumah. Karena jujur saja, Revin lebih mahir melakukannya dibandingkan Lala. Terlebih lagi jika Revin yang dirumah terkadang ia akan membuat camilan seperti pudding atau kue, jadi Lala menyuruh Revin saja yang membereskan rumah mereka.
Tiba-tiba ponsel Revin berdering menandakan adanya panggilan telepon. Revin segera meraih dan mengangkat panggilan telepon itu.
"ada apa?" ketus Revin.
"oh sayang, apa sesuatu terjadi?" tanya Elvan yang menelepon Revin sambil terkekeh mendengar suara Revin yang terdengar sedang merajuk.
"siapa yang kamu panggil sayang?!" ucap Revin dengan sedikit berteriak.
"siapa lagi yang sedang mendengarkan suaraku?" Elvan kembali bertanya.
"ishh, aku bukan sayangmu. kamu salah sambung" ucap Revin ketus.
"iya kamu bukan sayangku, kamu hidupku" goda Elvan.
"eh tunggu sayang, aku ingin mengajakmu jalan-jalan sore ini" ajak Elvan.
"sudah kubilang jangan memanggilku begitu!" teriak Revin.
"ok baiklah baby, bagaimana?" ucap Elvan dengan terkekeh.
"lebih buruk" ketus Revin.
"hahaha sudah kuduga kamu pasti menyukainya. baiklah aku akan menjemputmu dalam waktu kurang dari dua jam. I love you my baby" Elvan tertawa dan segera mematikan sambungan telepon nya sebelum Revin membuat gendang telinganya pecah.
"dasar gilaaaa!!!!" Revin memaki-maki ponselnya yang tidak bersalah.
Revin pun menaruh ponselnya dan segera melanjutkan aktivitas bersih-bersih nya sebelum Elvan datang menjemputnya, ia tidak mau Elvan datang ketika dia bahkan belum mandi dan belum mempersiapkan diri nya. Setelah dirasa semuanya bersih, Revin pun segera mandi dan bersiap diri karena ia yakin kurang dari satu jam lagi Elvan akan sampai di rumahnya.
-- di kantor Elvan --
Elvan tengah berkutat dengan laptopnya. Ia harus menyelesaikan pekerjaan nya lebih cepat karena ia ingin segera menemui seseorang yang dicintainya, Revin. Sesekali Elvan melirik jam tangannya dan kemudian kembali fokus pada laptopnya. Setelah ia menyelesaikan pekerjaan nya, Elvan segera mengemas barang-barang nya dan segera melangkah keluar ruangan dan meninggalkan kantor. Tidak sedikit karyawan nya yang lembur dan menyapa direktur nya itu. Elvan pun hanya tersenyum menanggapi sapaan para karyawan nya dan tetap melangkah kan kaki nya keluar gedung kantor nya.
Revin tengah selesai dengan acara mandi nya dan sedang memoles wajahnya dengan sedikit riasan agar tidak terlalu pucat. Setelah selesai dengan make up nya, Revin meraih parfum aroma mawar yang dipadukan dengan aroma teh dan menyemprotkannya pada beberapa bagian tubuhnya. Setelah selesai ia segera memasukkan barang-barang yang ia bawa ke dalam tas selempang nya. Dan setelah itu ia segera keluar kamar untuk menunggu Elvan di ruang tamu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, suara mobil Elvan terdengar berhenti di depan rumah Revin. Revin pun segera keluar dari rumahnya dan tak lupa untuk mengunci pintunya sebelum ia pergi. Elvan tidak turun dari mobilnya, ia menunggu Revin di dalam mobilnya. Ia sangat tau kebiasaan Revin yang tak suka untuk berbasa basi. Revin pun langsung masuk ke mobil Elvan.
"hai baby, kamu sangat cantik hari ini" sapa Elvan dengan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Revin.
"dasar om-om cabul, dan lagi jangan panggil aku baby" cibir Revin.
"umur kita memang terpaut sembilan tahun baby, tapi bukan berarti aku om-om" ujar Elvan sambil melajukan mobilnya.
"kamu tidak ingat kamu bahkan memiliki keponakan yang sudah sebesar itu?" ucap Revin mengatakan tentang Anna.
"oh ayolah, dia anak angkat kakak ku" kata Elvan dengan masih fokus mengemudi.
"apa?!" Revin kaget mendengar ucapan Elvan.
"memang begitu, sudahlah kita tidak perlu membahas ini lagi baby" kata Elvan mencoba untuk menghentikan obrolan mereka tentang Anna.
"sudah ku bilang jangan memanggilku baby, kita tidak memiliki hubungan apapun ok?!" Revin tidak terbiasa mendengar panggilan itu dan memang mereka bukanlah pasangan kekasih.
"aku sudah menjadikanmu sebagai prioritas ku baby, aku tidak peduli tentang tanggapanmu. yang pasti kita kan segera menikah" kata Elvan datar dan masih fokus ke jalanan.
"ahh terserahlah" Revin mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
Elvan hanya tersenyum melihat tingkah manis gadisnya itu, ia tak sabar untuk segera menjadikan Revin miliknya. Ia yakin Revin memiliki perasaan yang sama dengan nya, meskipun tidak sebesar dirinya dan masih terlihat adanya keraguan dalam manik mata Revin saat menatapnya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja, ia yakin Revin akan merubah pandangannya terhadap Elvan. Cinta seutuhnya dan tanpa keraguan sedikitpun seperti apa yang sudah Elvan rasakan.
Elvan mengarahkan mobilnya ke taman kota dan segera memarkirkan mobilnya.
"disini?" tanya Revin.
"yes baby, kita akan kencan disini" ucap Elvan dengan mengedipkan sebelah matanya dan segera keluar dari mobilnya.
Revin segera mengikuti Elvan untuk keluar dari mobilnya.
"ayo kita kesana" ajak Elvan dengan menggandeng tangan Revin dengan posesif seolah ia takut jika Revin hilang dari genggamannya. Revin hanya menurut dan mengikuti langkah Elvan. Mereka membeli es krim dan berjalan-jalan disana. Sesekali mereka bercanda hingga terlihat kebahagiaan yang terpancar dari dua sejoli itu.
Tanpa Elvan dan Revin sadari, seseorang tengah mengamati mereka dengan tatapan kebencian dan kemarahan dari dalam sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempat Elvan dan Revin berada.
"kita jalan pak" perintah seseorang yang tengah mengamati Elvan dan Revin kepada supirnya.
"baik, non" ucap sang supir menanggapi perintah majikannya.
Mobil itu pun melaju meninggalkan taman kota bersama gelak tawa dan kebahagiaan dari dua insan berbeda jenis yang sedang mencoba mengikat tali kasih yang mereka jalin.
__ADS_1