
“Aku menyukaimu An.” lantang, tegas, tampak tak terdengar keraguan saat kalimat singkat itu terucap.
DEG
Anne terdiam. Tiba-tiba saja kemampuan otaknya menurun hingga membuat ia sulit menafsirkan arti kata-kata Aland.
“Ka ... kau ... apa yang kau katakan?” Anne menatap Aland nyalang. Di matanya tampak jelas keraguan. Atau mungkin saja ia salah dengar, mengingat angin yang membelai mereka cukup kencang hingga ranting-ranting pohon saling bergesekan dan menghasilkan bunyi yang cukup keras.
“Aku menyukaimu, An.”
Anne menggeleng. Kali ini ia bisa mendengarnya. Tapi, rasanya itu tidak mungkin. Laki-laki seperti Aland menyukainya? Ah, semua orang juga tahu seberapa besar rasa suka pemuda di hadapannya itu terhadap Kimberly. Gadis yang selalu ia buntuti kemana pun gadis itu pergi. Atau mungkin saja ia sedang bermimpi sekarang. Namun, ... kenapa mimpi ini terasa sangat nyata?
“An?”
Anne berkedip beberapa kali. Berusaha fokus pada pemuda di hadapannya. Gadis itu lantas membawa tangannya untuk memegang dadanya. Jantung di dalam sana benar-benar berdetak tak normal. Lebih cepat, lebih kuat, dan lebih menyakitkan. Namun anehnya terasa begitu menakjubkan. Dan Anne menyukainya.
“Ka ... kau menyukaiku…?” Anne mengulangi, masih belum mempercayai pendengarannya. Lagipula, meski Anne menyukai pernyataan itu, ada sesuatu yang mengganggunya. Entahlah. Gadis itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aland. Ia sendiri tak bisa menafsirkan.
“Yah. Aku menyukaimu.” Aland menyahuti tegas seperti tak ada kebohongan yang tercetak di matanya. Jujur saja, ia juga tak ingin melakukan itu semua. Namun, jika hal itu bisa merubah sahabatnya dan menolong Anne, maka ia harus melakukannya. Walaupun nanti akan ada hati yang akan tersakiti.
__ADS_1
“Tapi ... kenapa?” Anne berkata lirih. Gadis itu masih menatap kedua coklat madu milik Aland, berusaha mencari kebohongan dari kata-kata itu. Akan tetapi, Anne tak bisa menemukan apapun. Seolah Aland memang benar-benar menyukainya.
Anne tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia ingin menerima Aland dan mengatakan kalau ia juga menyukai laki-laki itu. Namun ada sebagian dari dirinya yang melarangnya.
Ditatapnya terus kedua manik indah itu, mencoba menyelami apa yang ada di dalam pikiran Aland. Dia tak mau salah mengambil keputusan. Dia memang sudah menyukai laki-laki itu sejak beberapa tahun yang lalu dan Aland juga selalu menolongnya. Namun bukan berarti dia bisa langsung menerima pernyataan laki-laki itu begitu saja.
“Karena aku menyukaimu. Dan ... Haruskah aku memiliki sebuah alasan untuk menyukai seseorang?” ujar Aland yang sudah memajukan wajahnya hingga dahi mereka bersentuhan.
“Ta ... Tapi bukankah kau menyukai Kimberly?” sergah Anne dengan suara pelan.
Aland menyeringai, ia menatap Anne lembut. Ada yang terasa aneh di dadanya. Melihat Anne dengan tingakah malu-malu di hadapnya sekarang, ia malah makin suka. Atau Aland yang berubah aneh sejak berdekatan dengan Anne?
“Aku memang menyukai Kimberly, tapi hanya sekedar teman. Kimberly tidak seperti gadis-gadis lain yang akan menjerit-jeritkan namaku ketika berdekatan dengan mereka. Itu yang membuatku senang. Lagi pula Kimberly itu sangat ... sangat ... sangaaat ... menyukai Aiden.” ucap Aland dramatis, namun posisinya belum juga berubah.
“Dan....” Aland sengaja menjeda perkataannya agar Anne menatapnya kembali.
Dengan susah payah Anne mendongak kembali menatap kedua kelereng yang telah lama menjerat hatinya ketika Aland tidak melanjutkan perkataannya.
“Aku tidak mau kau dekat-dekat dengan laki-laki lain selain aku.” tandas Aland tepat di telinga Anne hingga membuat gadis berparas ayu itu bersemu─ telinganya pun ikut memerah saking malu.
__ADS_1
Aland kemudian mendekatkan wajahnya untuk menghilangkan jarak di antara mereka. Perlahan kedua kening mereka bertemu tidak berselang lama hidung mereka bersentuhan.
DEG DEG DEG DEG
Brak.
Dan Anne jatuh pingsan.
Melihat itu Aland bukannya menjadi panik, ia malah terkekeh geli. Anne benar-benar lugu plus manis. Baru kali ini Aland mendapatkan gadis seperti Anne, padahal ia hanya ingin mencium, namun gadis itu malah jatuh pingsan duluan.
‘Nanggung sekali’ pikir Aland terkekeh. Tinggal beberapa centi hingga ia bisa merasakan bibir Anne lagi, tapi gadis itu malah tak kuat.
Tidak mau membuang waktu, diangkatnya Anne kemudian menuju ruang UKS.
Perjalanan Aland menuju UKS berjalan mulus, untung saja keadaan di koridor saat itu sedang sunyi karena masih dalam jam pelajaran, ia bisa jadi lebih leluasa berjalan sambil menggendong Anne.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Aland melihat wajah Anne. Walaupun, gadis itu masih dalam penampilan yang nerd, tak membuatnya risih sama sekali, karena dalam pandangannya sekarang ia hanya melihat Anne yang cantik bak bidadari yang turun dari kayangan.
Aland meletakkan tubuh Anne dengan sangat lembut di atas ranjang. Lalu menyelimuti gadis itu dengan selimut. Ruang UKS itu sangat sepi. Tak ada siapa pun bahkan guru penjaga yang ada di sana. Dan hal itu membuat Aland sangat senang, karena ia bisa menunggu Anne hingga sadar tanpa gangguan. Yah, urusan guru bisa ia selesaikan nanti, yang penting saat ini adalah berduaan dengan Anne.
__ADS_1
Aland melihat Anne dengan kening mengkerut. Pasalnya gadis itu tertidur dengan keringat dingin yang bercucuran. Apa ia sedang bermimpi buruk? Atau karena kacamata yang ia pakai?
Tanpa berpikir lagi, Aland kemudian membuka kaca mata Anne dan meletakkan di samping bantal. Laki-laki itu lantas membawa tangannya untuk membelai rambut Anne. Sedang satu tangan yang lain ia pakai untuk menggenggam tangan gadis itu seolah dengan begitu Anne bisa lebih tenang. Dan ternyata itu berhasil, Anne akhirnya menunjukkan raut yang lebih rileks.