Our Promise

Our Promise
Diluar Dugaan


__ADS_3

Hari ini Elvan mengadakan makan malam dirumahnya, ia mengundang orang-orang yang bersangkutan dengan kejadian di cafe waktu lalu. Termasuk Tasya dan juga orangtuanya sekaligus. Orangtua Tasya sangat bersemangat mendengar hal itu. Revin, Lala, dan Jordy juga akan datang. Acara makan malam hanyalah sebagai batu loncatan untuk membongkar kejahatan Tasya. Revin dan Lala memutuskan untuk tidak pergi lagi ke cafe untuk bersiap diri.


Revin tengah duduk di meja makan dengan raut wajah yang gelisah. Entah kenapa ada firasat kurang enak pada dirinya. Ia terus merenung hingga nasi goreng yang telah ia buat dan siapkan menjadi dingin. Berbeda dengan Lala yang telah menghabiskan nasi goreng buatan Revin dan kini tengah sibuk dengan ponselnya di ruang tamu sambil sesekali bersenandung. Ketika Lala hendak mengambil buah di kulkas, ia melewati Revin yang melamun dengan makanannya yang masih utuh tak tersentuh sedikitpun. Kemudian ia duduk di sebelah Revin.


"Vin..kenapa?" tanya Lala dengan pelan.


"oh-uhm..enggak gak apa-apa" ucap Revin yang sedikit terkejut namun bisa mengontrol kembali rasa keterkejutannya.


"kamu gak bisa bohong Vin, lagi mikir apa?" tanya Lala lagi dengan khawatir.


"jujur saja, ada yang mengganjal rasanya. entahlah tapi aku mempunyai firasat buruk" ucap Revin dengan nada serius dan menatap mata Lala.


"jangan berpikir yang aneh-aneh, ada Elvan juga Jordy. mereka gak akan melukai kita" kata Lala yang mencoba menenangkan sahabatnya itu.


Revin pun mencoba untuk tersenyum menanggapi perkataan Lala. Lala pun melanjutkan aktivitas nya untuk mengambil buah kemudian ia bawa ke depan televisi. Sebelum itu Lala menyuruh Revin untuk segera menyantap sarapan pagi nya. Revin hanya mengangguk dan mulai memakan sarapannya meskipun hanya beberapa suap saja namun lebih baik daripada tidak sama sekali.


Hari sebelumnya Elvan telah meminta ijin kepada orangtuanya untuk mengadakan acara makan malam. Ia juga telah mengatakan bahwa akan mengenalkan seseorang kepada kedua orangtuanya. Orangtua Elvan pun langsung menyetujui permintaan Elvan, karena orangtua Elvan pun ingin segera Elvan menikah.


Saat ini Elvan tengah berada di ruangannya, di kantornya. Beberapa kali ia menghembuskan nafas kasar sambil memikirkan apa yang telah Tasya lakukan.


"apakah aku salah karena terlalu gegabah? mungkin saja Jordy salah mengenali seseorang dan itu bukanlah Tasya. Tapi ibu yang kemarin mengatakan itu Tasya, jadi bukan suatu kebetulan. Tapi tidak ada bukti, hanya ada saksi yaitu Jordy dan ibu itu yang terlibat. Tapi jika memang benar Tasya melakukannya, apa motifnya?" Elvan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Semakin dipikirkan semakin membuat kepalanya terasa pening. Ia menyandarkan kepalanya di kepala kursi dan menutup matanya untuk merilekskan pikiran nya.


Hari menjelang sore, Jordy yang telah pulang dari rumah sakit langsung menuju ke rumah Revin dan Lala. Jordy berencana akan berangkat dari rumah Revin dan Lala sekalian dengan memberikan tumpangan kepada kedua gadis itu. Mereka bertiga duduk berhadapan di ruang tamu dengan beberapa macam camilan yang dibawa oleh Jordy. Revin masih saja diam dan masih memikirkan sesuatu hal yang mengganjal di benaknya.


"hei nona Revin, kenapa melamun?" tanya Jordy dengan nada bercanda.


Revin menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjawab pertanyaan Jordy.


"aku mempunyai firasat buruk akan hal nanti" ucap Revin.


"hanya perasaan mu saja, tidak akan ada hal buruk yang terjadi" kata Jordy menanggapi pernyataan Revin.


"tapi..aku serius, maksudku.." Revin terlihat sangat gelisah hingga ia tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"tenang Revin, mungkin kamu gugup karena itu dirumah Elvan?" ucap Lala menggoda Revin mencoba mencairkan suasana yang terasa kurang nyaman.


Revin memberikan pukulan ringan pada Lala menggunakan bantal yang ada di sofa. Lala dan Jordy tertawa, namun dalam tawa mereka ada rasa gelisah karena terbawa oleh perkataan Revin. Waktu mulai mendekati jam yang sudah ditentukan. Mereka bertiga tengah bersiap-siap. Jordy telah siap dan menunggu Revin juga Lala di dalam mobil sembari memanaskan mesin mobilnya. Setelah selesai, Revin dan Lala segera menuju ke mobil Jordy. Tak lupa Revin mengunci pintu rumahnya sebelum mereka meninggalkannya.


"sungguh kita berangkat?" pertanyaan konyol yang diucapkan Revin membuat Jordy terlihat gusar namun tetap menahannya.


"tentu saja, ini untuk keadilan Revin..kamu ini kenapa? gak biasanya kamu seperti ini" ucap Lala sambil mengamati wajah Revin yang masih saja terlihat cemas.


"sudahlah..aku akan selalu berada di pihak kalian apapun yang terjadi" ucap Jordy dengan tegas dan mantap.

__ADS_1


Kemudian Jordy melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Revin dan Lala menuju ke jalanan. Sepanjang perjalanan Revin hanya diam sambil melihat-lihat kearah luar jendela untuk menetralisir rasa gugupnya yang semakin menjadi. Hingga tanpa Revin sadari mereka telah sampai di halaman rumah Elvan yang begitu luar biasa luas dan besar rumahnya. Terlihat Elvan yang sudah berdiri di ambang pintu utama untuk menunggu kedatangan mereka. Revin dan yang lainnya keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu utama dimana Elvan berada. Elvan mengerutkan keningnya ketika melihat Revin yang tidak bersemangat dan terlihat lesu. Hal itu membuat Elvan tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"baby, kamu kenapa? tanya Elvan kepada Revin dengan lembut sambil mengusap pelan pipi Revin.


Revin hanya menggeleng menjawab pertanyaan Elvan. Elvan tidak ingin memperdebatkan masalah ini. Ia segera membawa ketiga tamunya itu untuk menuju kearah ruang tamu dimana ada orangtua Elvan serta Anna disana. Terlihat raut wajah Anna yang penuh kebencian menatap kearah Revin. Orangtua Elvan menyambut Revin dan Lala dengan sangat baik, Jordy sudah dianggap seperti anak kandung orangtua Elvan sendiri karena memang Jordy sahabat terbaik Elvan yang selalu ada untuk anak mereka. Mereka pun duduk sambil menunggu yang lainnya datang. Revin hanya menunduk sambil sesekali menggigit bibir bawahnya menahan rasa gugupnya. Tak berselang lama keluarga Tasya datang, Tasya langsung memasang wajah bingung ketika melihat Revin ada disana duduk di samping Elvan. Orangtua Tasya pun ikut bertanya-tanya, siapa kedua gadis itu yang terlihat dekat dengan Elvan dan juga Jordy.


"apa sudah semua sayang?" tanya mama Elvan kepada Elvan.


"tunggu sebentar lagi, aku mengundang salah satu karyawan terbaikku malam ini" ucap Elvan.


"oh itu bagus boy, kamu bisa menjadi lebih dekat dengan karyawan mu dan karyawan lainnya akan lebih bersemangat untuk bekerja agar mendapatkan reward juga darimu" puji papa Elvan.


Elvan tersenyum menanggapi pujian papanya itu. Tepat setelahnya, karyawan Elvan yaitu pak Darma dan istrinya datang. Tasya yang melihat kedatangan kedua orang itu langsung memelototkan matanya. Ia sangat terkejut hingga tanpa ia sadari keringat membasahi keningnya.


"ada yang salah Tasya? kurasa cuaca sedang tidak panas" sindir Jordy kepada Tasya yang terlihat gugup.


"iya sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya ibu Tasya dengan nada khawatir.


"t-tidak..aku baik-baik saja" Tasya mencoba untuk tersenyum namun wajah gugupnya masih sangat terlihat.


"ini pak Darma dan istrinya, pak Darma ini sangat rajin. Jadi aku mengundang mereka untuk makan malam bersama kita" kata Elvan memperkenalkan pak Darma dan istrinya.


Elvan yang melihat ekspresi Tasya merasa apa yang dilakukannya sekarang bukanlah sesuatu hal yang salah. Ini benar, Tasya bersalah dan memang harus ada hukuman untuk itu.


"maksud ibu?" tanya mama Elvan dengan lembut.


"saya..saya membuat kekacauan beberapa hari lalu di cafe milik kedua nona ini" ucap istri pak Darma sambil melihat kearah Revin dan Lala.


Tasya yang mendengar itu menatap tajam kearah istri pak Darma. Elvan masih terus mengamati perubahan wajah Tasya tanpa Tasya sendiri tau.


"dan..itu atas perintah nona Tasya" ungkap istri pak Darma dengan nada lemah ketika menyebutkan nama Tasya, namun tetap terdengar oleh seluruh orang yang ada di ruangan itu.


Semua yang ada disana langsung menatap kearah Tasya yang terlihat gugup. Orangtua Elvan dan orangtua Tasya lah terkejut karena mereka yang belum mengetahui permasalahan nya. Anna justru tersenyum senang melihat adanya pertengkaran.


"apa? kamu memfitnahku..bahkan aku tidak mengenalmu!" Tasya membela diri.


"saya memiliki buktinya" istri pak Darma mengeluarkan segepok uang dengan jumlah 15 juta rupiah dari dalam tas nya.


"itu tidak bisa membuktikan bahwa anakku yang memberikannya, apakah ada nama anakku dalam tiap lembar uangnya?!" bentak ibu Tasya tidak terima.


"aku bisa menjadi saksi, aku melihat istri pak Darma dan Tasya tengah mengobrol tidak jauh dari cafe setelah istri pak Darma membuat ulah dan keluar dari cafe milik kedua nona ini" jelas Jordy sambil menunjuk kearah Revin dan Lala.


"apa buktinya? bagaimana jika kamu salah mengenali orang dan itu bukan aku?!" teriak Tasya dengan marahnya karena tanpa ia sadari ada sepasang mata yang tengah melihatnya bersama istri pak Darma waktu itu.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Tasya berdering dan disana terdapat nomor dengan nama 'X' sedang meneleponnya. Istri pak Darma memperlihatkan layar ponselnya yang tengah memanggil nomor milik Tasya. Seketika terlihat raut wajah kecewa dari orangtua Elvan dan orangtua Tasya yang menahan malu. Tasya langsung menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya sambil menangis sesenggukan. Pak Darma dan istrinya yang telah menyelesaikan tugasnya segera undur diri.


"kenapa melakukannya?" tanya Elvan dengan nada dinginnya.


Tasya mendongak menatap kearah Elvan. Lalu ia kembali menangis sambil tetap melihat kearah Elvan.


"aku..hiks hiks.." Tasya tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia bingung apa yang harus ia katakan.


"katakan!!" Elvan berteriak hingga suaranya memenuhi ruangan.


Semua cukup terkejut dengan ulah Elvan. Orangtua Elvan pun juga terkejut karena setau mereka anaknya adalah lelaki yang sopan dan selalu memakai kepala dingin setiap kali menghadapi masalah. Revin dan Lala seketika merinding mendengar teriakan Elvan, terlebih Revin yang berada di sebelah Elvan. Anna pun juga terkejut, namun ada rasa bahagia tercetak di wajahnya. Tasya menganga tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Elvan tidak pernah melakukan hal seperti itu kepadanya.


"jika tidak bisa mengatakan apapun, kuharap ini adalah pertemuan kita yang terakhir" tegas Elvan dengan tatapan mata yang tajam.


"nak..tolong jangan lakukan itu. Tasya memang bersalah tapi tante mohon jangan lakukan itu" ibu Tasya memohon hingga berlutut kearah Elvan sambil terisak.


Jujur saja jika menyangkut seorang ibu, Elvan tidak tega. Elvan menatap kearah ibu Tasya, kemudian melirik sekilas kearah Revin. Revin memberikan kode agar Elvan memaafkannya saja. Elvan mengerti apa yang ada di pikiran Revin.


"begini saja, katakan saja apa maksud niat jahatmu dan minta maaflah kepada Revin juga Lala" ucap Elvan dengan menahan emosinya.


"aku.. aku membenci perempuan yang dekat denganmu. karena kamu milikku" ungkap Tasya dengan pelan.


"aku bukan milikmu, aku miliknya" tegas Elvan sembari menggenggam tangan Revin. Sontak Revin terkejut dengan ulah Elvan, Ia hanya diam tidak tau harus melakukan apa. Terlebih orangtua Elvan juga ada disana.


"tidak, tidak boleh!! lepaskan tanganmu dari tangan calon suamiku perempuan murahan!" teriak Tasya dengan amarahnya yang memuncak.


"kamu bahkan belum meminta maaf tapi sudah membuat kesalahan lagi" cibir Elvan yang semakin muak dengan sifat asli yang dimiliki Tasya.


"kamu yang membuatku begini!!" murka Tasya yang kemudian mendapatkan tamparan keras dari ayah Tasya yang sudah kehilangan muka di depan keluarga Adnanda.


Ayah Tasya meminta maaf dan segera pamit dengan menyeret kasar pergelangan putrinya untuk segera dibawa pulang agar tidak menambah masalah lagi. Orangtua Elvan hanya menggeleng melihat tingkah keluarga Tasya. Dan terlebih yang membuat mereka kaget adalah sifat asli yang dimiliki Tasya sangatlah buruk.


"jadi..inikah orangnya?" tanya mama Elvan kepada Elvan guna untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Elvan tersenyum mengerti arah pembicaraan mamanya dan menjawab dengan yakin "ya, ini orangnya". Revin tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan tapi yang pasti itu menyangkut dirinya.


"yahh, bagaimana lagi. anakku tergila-gila denganmu, jadi tentu saja aku merestui kalian" ucap mama Elvan yang diangguki papanya. Anna yang mendengar itu menahan marahnya dengan mengepalkan tangannya kuat.


"tu-tunggu ini..." Revin bingung, ia bahkan tidak tau apa yang harus ia katakan.


"ya..ini seperti apa yang kamu pikirkan, selamat untukmu akan secepatnya menjadi nyonya muda Adnanda" ucap Jordy yang semakin membuat Revin merasa malu.


Lalu orangtua Elvan segera mengajak mereka untuk makan malam yang terlambat karena adanya insiden tersebut. Dan mereka pun menuju ruang makan untuk segera melakukan makan malam sambil sesekali mengobrol dan menggoda Revin juga Jordy yang tidak segera melamar Lala. Anna semakin muak dengan keadaan saat itu dan memilih untuk pergi ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2