Our Promise

Our Promise
Lebih baik


__ADS_3

Cahaya mentari menerobos masuk melalui celah jendela yang tak tertutup gorden hingga membuat seseorang yang tengah terlelap terganggu akan sinarnya. Revin mulai gelisah karena cahaya matahari yang tepat mengenai wajahnya, ia pun perlahan membuka mata dengan mengerjapkannya beberapa kali. Setelah ia benar-benar membuka mata seutuhnya, Revin pun duduk sambil menguap dan mengusap matanya.


"huhh jam berapa ini?" gumam Revin sambil meraih ponselnya.


"astaga! bagaimana bisa aku bangun se siang ini" ucap Revin panik sambil bergegas menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya.


Setelah selesai dari kamar mandi Revin pun segera menuju dapur untuk membuat sarapan. Di sana sudah ada Lala yang tengah meminum susu paginya. Revin sedikit canggung bertemu dengan Lala, tapi apa boleh buat mereka tinggal dalam satu atap. Jujur saja Revin merasa bersalah atas kejadian kemaren, ia tak seharusnya egois seperti itu. Bukan tentang Elvan melainkan Lala, seharusnya Revin tidak bersikap cuek terhadap Lala. Tapi itu semua karena mood nya yang sangat kacau. Revin pun mencoba untuk membuatkan sarapan kesukaan Lala.


"uhmm maaf aku kesiangan, aku akan buatkan sarapan" ucap Revin dengan canggung sambil berlalu kearah kompor dan alat-alat dapur lainnya.


"gak usah gak apa-apa, nanti aku sarapan di cafe aja" ucap Lala.


"eh tunggu aku udah terlanjur goreng sosisnya untuk dua porsi. lagipula aku juga akan ke cafe, jadi kita bisa berangkat bersama" ucap Revin.


"sosis? oh ya ampun aku jadi lapar" batin Lala setelah mendengar kata sosis.


"baiklah aku tunggu sosisnya matang, tapi.." ucap Lala yang sengaja dihentikan oleh Lala.


"tapi apa?" tanya Revin sambil tetap sibuk menggoreng sosisnya.


"aku rasa kamu gak perlu pergi ke cafe" jawab Lala sedikit merendahkan suaranya.


"eh? kenapa?" tanya Revin lagi sembari menoleh kearah Lala.


"hmm aku masih marah sama kamu, jadi aku gak mau lama-lama deket kamu. pokoknya jangan pergi ke cafe atau aku yang gak pergi ke cafe" kata Lala dengan mengerucutkan bibirnya.


"apa-apaan anak ini, mana ada orang marah selucu ini. dasar bayi tua hahaha" batin Revin.


"ya ya baiklah aku akan dirumah saja" ucap Revin sambil menahan tawanya.


Sarapan pun telah selesai dibuat, Revin dan Lala makan bersama tanpa adanya obrolan. Setelah selesai Lala segera berangkat menuju cafe.


"aku berangkat! dan ingat untuk tidak datang ke cafe" ancam Lala sambil berlalu keluar rumah.


"iya bawel, aku mau beres-beres rumah" jawab Revin dengan membuat gestur seolah tengah menantang ancaman Lala.


Setelah Lala keluar dari rumah, Revin pun melanjutkan aktivitas rumahnya. Revin memanglah orang yang suka kebersihan, jadi setiap ada waktu ia selalu membersihkan rumahnya agar nyaman untuk di tempati.


Hari itu Elvan tidak datang ke kantor, ia memilih untuk tetap dirumah sembari merilekskan pikiran nya dari masalahnya dengan Revin juga Jordy. Ia tengah berbaring di kamarnya dengan sesekali mengecek ponselnya dan sesekali juga membuang nafasnya kasar ketika tidak ada nya hal yang menarik. Hanyalah laporan dari kantor melalui email nya yang muncul. Ia memejamkan matanya dan melihat Revin disana, tengah tersenyum kepadanya dan sesekali Elvan mencubit pipi Revin dengan gemas. Khayalan itu membuat Elvan senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"uncle?" suara seorang gadis yang terdengar pada pendengaran Elvan.


Elvan masih menutup matanya, ia hanya mengernyit dengan pendengarannya yang menangkap suara Anna tengah memanggilnya.


"suara Anna? sial.. bagaimana bisa suaranya muncul dan mengganggu ku dengan Revin" batin Elvan.


"uncle, are you okay?" ulang Anna yang semakin bingung melihat pamannya yang tak kunjung membuka mata padahal tidak sedang tidur.


Seketika Elvan membuka mata dan menoleh kearah Anna dengan mata melotot terkejut.


"what are you doing here?!" ucap Elvan dengan sedikit membentak.


"aku hanya ingin mengajak uncle bermain, mumpung uncle berada dirumah" kata Anna dengan nada yang dibuat-buat seperti anak kecil.


"kamu sudah dewasa Anna, sebentar lagi kamu akan lulus sekolah menengah atas dan memasuki universitas. Jadi jangan bertingkah selayaknya anak SD!" Elvan semakin muak dengan tingkah keponakannya itu.


"uncle berubah! uncle gak sayang sama Anna lagi!" ucap Anna dengan terisak.


"sudahlah jangan menangis dan segeralah keluar dari kamarku, uncle tidak ingin di ganggu" tegas Elvan.


"uncle gak pernah seperti ini sama Anna! kenapa uncle?!" bentak Anna tidak terima diperlakukan kasar dan seolah tidak dianggap oleh Elvan.

__ADS_1


"uncle bilang keluar Anna!!!" Elvan berteriak dengan marahnya.


Anna terkejut dan menangis sejadi-jadinya sembari berlari keluar kamar Elvan. Elvan pun segera menuju kearah pintu dan menguncinya. Ia juga tidak menyangka bisa sekasar itu terhadap Anna. Ia hanya terpikirkan oleh perkataan Jordy dan menurutnya perkataan Jordy memang benar. Anna memiliki perasaan yang tak seharusnya kepadanya. Tak berselang lama setelah Elvan membaringkan tubuhnya kembali di kasur, ponselnya berdering. Pertanda adanya panggilan masuk. Jordy menelepon nya, Elvan pun segera mengangkat telepon dari Jordy.


"datang ke cafe biasa dekat rumah sakit nanti untuk makan malam" ucap Jordy tanpa basa-basi.


"ya baiklah" jawab Elvan yang merasa bersalah kepada Jordy atas kejadian di kantornya dan Elvan akan meminta maaf untuk hal itu, jadi ia langsung mengiyakan ajakan Jordy.


Setelah mendapat jawaban dari Elvan, Jordy langsung mematikan sambungan telepon nya. Elvan hanya menggeleng atas sikap Jordy dan kembali melempar ponselnya ke sembarang arah di atas ranjang.


"yang benar saja? dia marah seperti seorang perempuan" kata Elvan dalam hati dan ia akan melanjutkan tidurnya untuk menunggu nanti malam.


Di rumah Revin tengah menonton film di laptop sambil memakan beberapa camilan. Saat ia hendak meraih minumnya suara panggilan masuk berbunyi. Ia segera meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera pada layar nya. Setelah melihat siapa yang menelepon nya ia segera mengangkat telepon itu.


"halo? ada apa La?" tanya Revin kepada Lala yang tengah menelepon nya.


"datanglah nanti malam di cafe xxx dekat rumah sakit untuk makan malam" ucap Lala tanpa basa-basi.


"t-tapi.." perkataan Revin menggantung karena Lala menyela.


"harus datang! ingat ya aku masih marah sama kamu" Lala mengancam dengan kemarahan nya.


"ah ya ya baiklah aku akan datang nanti" Revin pun pasrah.


"bagus, oh ya datanglah dengan taksi. Jangan membantah" setelah itu Lala langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.


"aihh apa-apaan anak ini" gumam Revin sambil meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan untuk menonton film sembari mengisi waktu luangnya sebelum nanti malam.


Malam pun tiba, Revin telah siap untuk berangkat. Ia mengecek penampilannya di depan cermin kamarnya. Sempurna, dan segera ia berangkat. Ia tidak ingin terlambat dan mendapat omelan dari Lala. Di tempat lain, Elvan juga telah siap. Ia memakai jam tangannya dan segera keluar kamar. Ia melihat kedua orangtuanya juga Anna sedang duduk" di ruang tamu.


"Ma, Pa..Elvan mau keluar dulu" pamit Elvan kepada orangtuanya.


"mau kemana sayang?" tanya mama Elvan dengan lembut.


"apa itu calon menantuku?" goda mama Elvan.


"oh mama mulai lagi" jawab Elvan dengan nada jengah.


Orangtua Elvan memang orang yang biasa, meskipun mereka orang yang berada. Namun sedikit pun tidak ada rasa sombong pada diri mereka.


"jika memang benar, segera bawalah ia kerumah. Kenalkan pada papa, mama mu ini" timpal papa Elvan yang ikut menggoda anaknya sulung nya itu.


"ya ya tentu saja, tunggulah sebentar lagi" Elvan menjawab godaan orangtuanya.


Elvan pun segera mengakhiri acara goda menggoda dari orangtuanya. Ia tak ingin terlambat. Dan ia pun segera meninggalkan rumah dan menuju ke tempat yang telah ditentukan oleh Jordy. Anna yang mendengar percakapan orangtua dan anak itu mulai merasa kesal. Ia berinisiatif untuk mengikuti pamannya. Ia ingin tau apakah benar paman dan perempuan kampungan itu ada suatu hubungan.


Elvan sampai di cafe terlebih dulu, ia langsung disambut oleh pelayan dan di arahkan ke meja yang sudah di pesan oleh Jordy dan Lala. Ya, ini adalah ide Jordy dan Lala untuk mempertemukan Elvan dan Revin. Mereka berharap dengan begini Elvan dan Revin bisa berbicara baik-baik. Jordy dan Lala telah sampai lebih dahulu dan duduk di sudut yang tak terlihat dari meja Elvan dan Revin. Elvan yang datang lebih dulu segera duduk di mejanya dan mengambil ponselnya untuk dimainkan sembari menunggu Jordy. Tak berselang lama Revin pun datang, iapun langsung disambut oleh pelayan dan diarahkan ke meja dimana Elvan berada. Revin mengernyit ketika mendapati seorang laki-laki yang tengah duduk membelakangi nya dan itu di meja yang diarahkan oleh pelayan tersebut. Revin pun perlahan menghampiri untuk melihat siapa laki-laki itu. Dan ia terkejut saat mendapati Elvan yang tengah duduk disana. Elvan yang merasa ada seseorang di depannya pun mendongak melihat nya. Elvan pun juga terkejut. Revin hendak pergi tapi tangganya ditahan oleh Elvan.


"tu-tunggu..jangan pergi dulu, kumohon" ucap Elvan dengan nada memohon.


Revin pun luluh dan ia menghembuskan nafasnya kasar sebelum ia kembali dan duduk di depan Elvan. Elvan tersenyum melihatnya.


"apa yang kamu lakukan disini?" tanya Elvan.


"harusnya aku yang bertanya, kamu menempati mejaku tuan" jawab Revin ketus.


"apa? ini meja..." Elvan memberhentikan ucapannya, ia tau ini pasti ulah sahabatnya itu. "ah sudahlah lupakan saja, kamu mau makan apa?" Elvan melanjutkan ucapannya.


"tidak perlu, aku sudah ada janji disini" ucap Revin.


"siapa? Lala bukan?" tanya Elvan sambil menebaknya.

__ADS_1


Revin pun mengangguk mengiyakan tebakan Elvan.


"Lala mungkin tidak akan datang, lihat saja Jordy juga tak datang" kata Elvan.


"jadi maksudmu.." Revin mulai paham atas apa yang Elvan katakan. Ia telah dijebak oleh Lala.


Elvan pun hanya mengangguk. Kemudian makanan pun datang. Bahkan makanan pun sudah dipesankan oleh Jordy dan Lala. Revin dan Elvan pun hanya pasrah, toh sudah sampai juga makanan nya jadi mereka tidak ingin membuang percuma makanan itu. Dan mereka pun mulai makan bersama. Elvan sangat senang dengan momen itu, ia harus sangat berterima kasih pada sahabatnya itu. Di sisi lain Revin terlihat cuek namun dihatinya ada rasa yang menggebu dan di perutnya terasa seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan. Namun Revin menyimpan rasa senang serta gugupnya dengan baik.


Tiba-tiba Anna datang dan mengguyur Revin dengan air minum begitu saja. Revin dan Elvan pun terkejut. Jelas saja Revin tidak terima dengan tindakan gadis kecil yang bahkan tak ia kenali.


"apa-apaan ini?!" Revin membentak Anna.


"dasar perempuan tidak tau diri, kamu tidak pantas untuk makan bersama uncle ku!" ucap Anna dengan emosi yang meluap.


"Anna! apa yang kamu lakukan?!" bentak Elvan.


Banyak pengunjung yang tengah berbisik-bisik melihat kearah mereka. Jordy dan Lala yang dari kejauhan pun ikut terkejut, namun mereka sepakat untuk tetap bersembunyi.


"jadi siapa yang pantas? kamu?" ucap Revin dengan angkuhnya.


"setidaknya orang itu bukan kamu!" Anna tak ingin kalah melawan Revin.


"kami saling mencintai, jadi apa yang salah?" ucap Revin tanpa berpikir panjang. Elvan, Lala, dan Jordy pun terkaget mendengar ucapan Revin.


"tidak mungkin! kamu pasti menggunakan tubuhmu untuk menggoda uncle ku!" Anna semakin marah.


"Anna! jaga bicaramu!" Elvan semakin tersulut emosi dengan ucapan Anna.


"aku tidak perlu melakukan seperti apa yang biasa kamu lakukan nona kecil" cibir Revin dengan santainya.


"apa?! kamu..!" Anna mulai melangkah maju mendekati Revin. Ia ingin sekali menjambak rambut Revin sekeras mungkin.


Elvan yang melihat tingkah keponakan nya itu segera menghampiri Anna dan menarik tangan Anna menjauh dari Revin.


"uncle! sakit!" teriak Anna yang meronta-ronta.


"pulanglah atau aku akan mengirim mu keluar negeri!" ancam Elvan.


Anna menangis dan segera berlari keluar cafe. Elvan menghampiri Revin.


"kamu gak apa-apa?" ucap Elvan lembut.


"ya, seperti yang kamu lihat. tapi aku rasa aku tidak bisa melanjutkan makan malam ini" ucap Revin dengan memperlihatkan bajunya yang basah.


"maafkan aku, aku akan mengantarmu pulang" kata Elvan yang disetujui oleh Revin.


Mereka pun pulang dengan mengendarai mobil Elvan. Sesekali Elvan melirik kearah Revin yang sedang fokus melihat kearah luar jendela.


"apa kamu kedinginan?" tanya Elvan memulai obrolan.


"uhmm..tidak terlalu" jawab Revin yang masih tetap melihat kearah luar jendela.


"apa jalanan lebih menarik daripada aku?" goda Elvan.


"tentu saja" jawab Revin dengan nada bercanda.


"hei yang benar saja, oh ya bukankah kita saling mencintai? jadi kapan kita akan menikah?" goda Elvan lagi.


Sontak Revin menoleh kearah Elvan dan memukul lengan Elvan.


"Elvan gila!" ucap Revin dengan nada kesal tapi terselip kebahagiaan disana.

__ADS_1


Elvan tertawa dengan tingkah Revin yang seperti itu. Bagi Elvan itu sangat menggemaskan.


Di sisi lain Jordy dan Lala yang mengetahui bahwa Elvan dan Revin sudah berbaikan pun merasa lega. Dan mereka juga melanjutkan acara kencan mereka.


__ADS_2