
"yakin kamu gak salah?" tanya Elvan memastikan.
"sangat yakin 100%" ucap Jordy dengan mantap.
"jadi begini kelakukan orang kesayanganmu?" sindir Revin kepada Elvan.
"ternyata ular beracun" tambah Lala.
"hei hei ladies..dia memang terlihat manis di depan ku, aku mana tau jika dia berubah menjadi seperti itu" jelas Elvan membela dirinya sendiri.
Mereka yang mulai curiga atas apa yang dikatakan Jordy pun akhirnya memastikan perkiraan mereka dengan mengecek cctv yang telah merekam seluruh aktivitas dalam cafe. Termasuk kejadian ibu-ibu aneh yang telah mengusik ketenangan situasi dan kondisi cafe saat itu.
"haruskah kita membongkar ini?" tanya Elvan.
"terserah kamu, kami gak mau melakukannya tanpa ijinmu" ucap Revin dengan kesal yang ditutup-tutupi.
"oh baby, kamu cemburu?" goda Elvan dengan terkekeh sambil melihat ekspresi Revin.
"untuk apa, aku gak cemburu" Revin mengatakan nya seperti anak kecil merajuk yang tidak dibelikan permen.
"manis sekali kalian berdua ini, jadi bagaimana rencana nya?" kata Jordy yang menelusup ke tengah-tengah antara Elvan dan Revin.
"tunggu dulu, bagaimana jika Elvan mengatakan rencana kita kepada Tasya nya itu?" sindir Lala.
"apa aku seperti orang yang akan menusuk teman sendiri?" tanya Elvan dan dibalas anggukan oleh yang lainnya.
"huhh yang benar saja" Elvan mendengus sebal.
Mereka pun mulai mendiskusikan tentang rencana yang akan mereka buat untuk Tasya. Revin diam mendengar saran-saran dari Jordy dan Lala, bahkan Elvan turut serta. Tapi dalam pikirannya Revin sedikit takut jika justru Elvan akan mengatakan semuanya pada Tasya. Ya, mau bagaimana pun Revin masih belum sepenuhnya percaya terhadap Elvan.
"gimana menurutmu?" tanya Elvan yang diikuti Jordy dan Lala menatap Revin.
"ha? ahh..anu..apa tadi?" jawab Revin yang terkejut karena jujur saja ia tidak memperhatikan apa yang sedang mereka diskusikan.
"kamu ini lagi mikir apa sih, Elvan udah disini masih mikir siapa lagi hm?" Tanya Lala dengan sedikit nada mengejek.
"apa sih ah" jawab Revin sambil mengerucutkan bibirnya.
"baby, awas saja kalau kamu berani memikirkan laki-laki lain" ketus Elvan
"sudahlah, jadi begini Revin...." Jordy berbaik hati menjelaskan semua rencana mereka kepada Revin dengan sangat detail.
Revin mengangguk menanggapi penjelasan dari Jordy. Ia menyetujui rencana yang mereka siapkan. Revin sangat yakin kalau rencana itu akan berhasil. Hanya saja jika Elvan benar-benar ada di pihak mereka, pasti sungguh berhasil. Revin berharap Elvan tidak mengkhianati nya. Mereka pun mengobrol hingga cafe tutup dan setelahnya mereka baru pulang. Sebelum pulang Elvan dan Jordy mengajak Revin dan Lala untuk makan malam, tapi kedua gadis itu menolak karena mereka merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat saja. Mereka pun berpisah dengan kendaraan masing-masing. Elvan mengikuti Revin dan Lala hingga sampai rumah mereka dengan selamat.
Keesokan paginya mereka berempat janjian di rumah Revin dan Lala. Mereka akan melaksanakan rencana mereka, jadi untuk hari itu mereka tidak pergi bekerja. Sekita pukul 09.00 Elvan dan Jordy telah sampai di rumah Revin dan Lala. Mereka tengah mengobrol di ruang tamu.
"memangnya kalian sudah mendapatkan informasi nya?" tanya Revin.
__ADS_1
"bahkan aku sudah mendapatkan umpan nya" jawab Elvan dengan sombong dan seringai di bibirnya.
"siapa itu?" tanya Lala penasaran.
"suaminya, ternyata karyawan kelas rendah di kantor Elvan" jawab Jordy.
"lalu?" tanya Revin dengan mengernyitkan keningnya.
"aku sudah meminta bantuan Ismi untuk itu" kata Elvan.
"Ismi? siapa Ismi?" tanya Revin dengan nada sedikit tinggi.
"tenang baby, Ismi sekretaris ku. kamu gak perlu cemburu begitu" goda Elvan.
Revin hanya memutar bola matanya malas. Jordy dan Lala terkekeh melihat ekspresi wajah Revin dengan pipi memerah.
"ah sudahlah, maksudku bagaimana caranya Ismi itu membantu?" tanya Revin dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"kita akan lihat nanti baby, bersabarlah" ucap Elvan dengan seringai nya yang menyebalkan.
"bagaimana jika sekarang kita berangkat ke kantormu? ku kira tidak perlu membuang-buang waktu lagi" ucap Jordy sambil melirik jam tangan silver yang melingkar di pergelangan tangannya.
Elvan pun menyetujui ide Jordy. Mereka bergegas menuju kantor Elvan dengan menggunakan mobil Jordy. Sekitar satu jam perjalanan, mereka pun sampai. Mereka masuk dan terlihat beberapa karyawan tengah menyapa Elvan yang hanya dibalas senyuman oleh Elvan. Elvan mengarahkan yang lainnya menuju ruangannya. Menggunakan lift untuk menempuhnya karena ruangan Elvan ada di lantai paling atas gedung. Sesampainya, mereka langsung memasuki ruangan. Ruangan yang terlihat nyaman dengan dekorasi yang simple namun terkesan elegan. Terlebih warna ruangan yang juga mendukung, dominasi warna abu-abu gelap dengan warna hitam di beberapa bagian.
"kalian duduklah disana dengan santai" ujar Elvan sembari menunjuk kearah sofa yang berada di ruangan itu untuk menjamu tamu.
"suruh dia menghadapku sekarang" ucap Elvan dengan seseorang di telepon dan langsung menutup telepon begitu ia selesai berucap.
Tak lama kemudian sekretaris Elvan mengetuk pintu dan mengatakan bahwa orang yang disuruh Elvan menghadap telah datang. Elvan segera mengijinkan orang itu masuk dan sekretaris Elvan segera keluar setelah tugasnya selesai. Nampak seorang lelaki paruh baya dengan kumis dan jenggot tipis yang sudah memutih serta perut buncitnya memasuki ruangan Elvan. Lelaki paruh baya itu terlihat gugup dan terus menundukkan wajahnya seraya menghadap sang direktur.
"kamu Darma kan?" ucap Elvan dengan mata nya yang terus menelisik lelaki paruh baya pemilik nama Darma itu.
"iya, saya Darma pak" ucap lelaki paruh baya itu dengan gugup. Terlihat dari keringat nya yang tak berhenti menetes dari dahinya.
"kamu tidak perlu takut, aku hanya ingin meminta bantuan mu" ucap Elvan dengan melembutkan nada bicara nya karena ia tau betapa takutnya orang yang tengah berdiri di depan nya itu.
Lelaki paruh baya itu pun mulai memberanikan diri untuk melihat wajah sang direktur yaitu Elvan. Ia sedikit bingung dengan apa yang dimaksudkan Elvan. Elvan yang mengerti atas kebingungan pak Darma itu segera menceritakan seluruh kejadian di cafe kemarin dan atas apa yang telah istrinya perbuat. Tak lupa ia memperlihatkan bukti cctv kepada karyawan nya itu. Pak Darma pun terkejut dan segera meminta maaf kepada Elvan berkali-kali.
"sudah jangan meminta maaf lagi, lebih baik kamu mengikuti rencana ku agar semua nya terbongkar" kata Elvan
"baik baik saya akan melakukan semua yang anda perintahkan" ucap pak Darma dengan sedikit gemetar.
"telepon istrimu untuk datang kemari" perintah Elvan.
pak Darma segera merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dan segera menelepon istrinya, istrinya pun mematuhi apa yang dikatakan oleh suaminya untuk datang ke tempat kerja sang suami.
"istri saya dalam perjalanan pak" ucap pak Darma setelah mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
"bagus, duduklah dulu disini. biarkan nanti Ismi yang mengantarkan istrimu untuk kesini" ucap Elvan dan pak Darma menuruti perkataan Elvan untuk duduk di kursi yang berada di depan meja Elvan.
Sekitar hampir dua jam akhirnya Elvan mendapatkan kabar dari Ismi jika istri pak Darma sudah tiba di kantor dan sedang menuju ke ruangan Elvan. Mendengar itu, karyawan Elvan terlihat semakin gugup dan gelisah. Ia takut jika ulah istrinya itu bisa membuatnya dipecat dari pekerjaannya sekarang. Tak lama istri dari pak Darma memasuki ruangan Elvan dan sontak terkejut ketika melihat orang-orang yang terlihat familiar di matanya. Wanita paruh baya dengan dandanan menor dan pakaian yang dikenakan terlihat sangat norak. Ia berjalan menuju kearah suaminya dengan sesekali menelan kasar ludahnya sendiri.
"apa kabar ibu" sapa Elvan dengan berdiri dan senyum menawannya tapi terselip nada mengejek disana.
Pak Darma itu segera beranjak berdiri ketika direktur nya berdiri.
"mmm..maaf kenapa saya dipanggil kesini ya?" tanya ibu itu dengan kikuk.
"langsung saja, kamu tidak mau suami mu dipecat dari pekerjaannya bukan?" ucap Elvan to the point.
"memangnya apa salah suami saya?" tanya ibu itu dengan cukup berani namun sedikit gemetar dalam suaranya.
"suami mu tidak bersalah, tapi kamu yang bersalah" tunjuk Elvan.
"maaf, sepertinya anda salah mengenali orang" kata ibu itu dengan gugup yang tak bisa disembunyikan.
"tapi rekaman cctv ini tidak salah mengenali orang" ucap Elvan dengan angkuh sambil menghadapkan layar laptopnya kearah ibu itu yang sedang memutarkan rekaman cctv di cafe.
"baik baik, saya minta maaf. saya hanya disuruh" ucap ibu itu menunduk sambil terisak.
"langsung mengatakan tanpa harus dipojokkan, sangat mudah" batin Revin yang dari tadi menyimak drama yang sedang berlangsung di depannya.
"siapa?" tanya Jordy yang sudah tidak tahan lagi.
"namanya nona Tasya, saya tidak mengenalnya. dia hanya memberikan pekerjaan untuk saya" ucap ibu itu semakin terisak.
"tolong maafkan kami, jika memang harus dihukum maka pecat saja saya. tapi saya mohon jangan penjarakan istri saya" ucap pak Darma tulus.
Revin beranjak menuju pak Darma dan istrinya yang tengah berdiri di tengah ruangan Elvan. Revin pun mengelus lembut lengan ibu itu.
"jangan menangis, kami tidak akan melakukan sesuatu yang kejam terhadap kalian. aku sendiri memahami bagaimana sulitnya perekonomian sekarang, tapi untuk lain kali ibu jangan melakukan hal buruk seperti itu lagi. dan maaf, sepertinya pakaian ibu sedikit tidak pas. mungkin akan lebih baik jika ibu menggunakan pakaian yang sesuai dengan umur ibu sekarang" kata Revin dengan lembut.
"iya saya mengerti, terimakasih dan maaf untuk kejadian kemarin" ibu itu berucap dengan tulus.
"sudah kami maafkan" kata Revin dengan senyum tulusnya.
"pilihanku tidak salah, aku harus segera menikahimu baby" ucap Elvan dalam hati sambil melihat kearah Revin.
"oh, tapi kamu harus membantuku untuk membongkar ini semua. kembalikan saja uangnya, aku akan memberi kalian 2x lipat nya" kata Elvan dengan tegas.
"kami akan mengembalikan uangnya, tidak perlu untuk anda memberikan uang anda. karena sudah memaafkan saya itu sudah sangat cukup" kata ibu itu dengan masih sedikit sesenggukan akibat tangisannya.
"biarkan itu menjadi bonus bulanan pak Darma" kata Elvan.
Mereka sangat berterima kasih atas kebaikan hati Elvan juga Revin. Mereka janji akan melakukan apa saja yang terbaik bagi mereka semua.
__ADS_1