Our Promise

Our Promise
Elvan Mesum


__ADS_3

Pagi menjelang, tidak. bukan lagi pagi namun sudah hampir siang kala Revin mencoba membuka matanya perlahan dan langsung disuguhi pemandangan wajah Elvan yang damai dalam tidurnya. Mata yang terpejam rapat dengan bulu mata dan alis yang tebal, hidung mancung, bibir yang.....uhh sexy. Revin segera membuang jauh pikiran nakalnya dan hendak beranjak dari sofa untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Namun tangan Elvan semakin mengerat memeluk pinggang Revin.


"uhmm..mau kemana?" tanya Elvan dengan mata masih terpejam dan suara serak khas orang bangun pagi sempat membuat Revin berpikir yang tidak-tidak.


"sial bagaimana bisa aku jadi berpikiran kotor begini!! " dalam hati Revin mengumpat pada dirinya sendiri.


"bangun, ini sudah hampir siang" ucap Revin dingin sembari beranjak dari sofa. Namun nihil, Elvan menahan tubuh Revin agar tidak pergi dan menindih tubuh Revin.


"aaaaaa!!! mau apa kamu?!" Revin mencoba melepaskan diri dari Elvan tapi tidak bisa, tenaga nya jauh dibawah Elvan.


Elvan yang sudah membuka matanya tersenyum dan melihat Revin yang tengah berada dibawahnya dengan wajah yang menurutnya sangat cantik.


"kamu ini bangun tidur sudah teriak-teriak, nanti kalau tetangga kamu denger aku dikeroyok baby" ucap Elvan dengan netra mereka yang saling menatap dan senyum yang terus mengembang menghiasi wajahnya.


"ya lagian kamu sih, awas ah aku mau bangun. ini sudah hampir siang" Revin mengerucutkan bibirnya yang justru membuat Elvan semakin gemas dengannya.


"aku akan melepaskan mu, tapi ada syaratnya" ucap Elvan dengan seringai licik.


"katakan" Revin hanya bisa pasrah dengan perlakuan Elvan karena ia harus segera bangun dan melakukan segala aktivitas nya.


"katakan 'daddy kiss me please' jangan lupa dengan ekspresi dan penghayatan suara mu juga" kata Elvan dengan nada yang dibuat manja ketika dia mencontohkan kalimat yang harus Revin katakan.


Seketika Revin memelototkan matanya dan hendak memaki Elvan, namun Elvan segera melanjutkan perkataannya sebelum mendengar Revin mengaum seperti singa. "jika tidak mau ya sudah tetap begini saja" ucap Elvan dengan cepat.


"aku tidak bisa!" kata Revin dengan memalingkan wajahnya yang memerah karena menahan malu dan marah yang bersamaan.


"ayolah baby, kamu belum mencobanya..kamu pasti bisa" ucap Elvan meyakinkan Revin yang nampak gusar namun sangat menggemaskan.


Revin tengah berpikir jika ia tak melakukannya ia yakin akan tetap seperti itu mengingat Elvan yang sangat keras kepala. Tapi jika Revin melakukannya itu sangat memalukan dan apa? kiss? oh God! Elvan pasti juga akan melakukan hal itu. Setelah cukup waktu untuk berpikir, Revin pun akhirnya hanya bisa pasrah dan menghembuskan nafasnya perlahan mencoba menenangkan diri.


Revin mengalungkan tangannya ke leher Elvan dan mencoba tersenyum sebaik mungkin. "Daddy..kiss me please?" ucap Revin dengan suara yang mirip suara lolly.


Seketika Elvan menegang dengan perbuatan Revin yang cukup membangkitkan hasrat liarnya. Ia tidak habis pikir jika Revin bisa membuat suara seperti itu. Sungguh Elvan tidak bisa lagi menahannya dan ia beraksi tepat setelah Revin mengatakan kalimat nya. Elvan mencium bibir Revin, mencecap setiap inci rasa bibir Revin. Revin cukup terkejut, namun lama-kelamaan dengan keahlian ciuman Elvan yang luar biasa memabukkan membuat Revin terhanyut dalam permainan panas itu. Mereka saling beradu lidah dan saling bertukar saliva. Mengabaikan keadaan dan terfokus dengan hasrat masing-masing yang menggebu. Tanpa sejoli itu sadari ada sepasang mata yang melihat kegiatan panas mereka dengan mata dan mulut yang terbuka lebar.


"kalian sungguh tidak tau tempat!" ucap seseorang yang tengah menyaksikan cumbuan Revin dan Elvan.


Sontak Revin dan Elvan menghentikan kegiatan mereka dan beralih kearah sumber suara.

__ADS_1


"Lala!!!!!!" teriak Revin dengan girang.


"kenapa nampak bahagia sekali? aku sudah menghancurkan kegiatan kalian yang entah ke berapa kali dan dari kapan dan wow kalian sangat liar" sindir Lala sembari melihat kekacauan rumah yang Lala pikir ulah Elvan dan Revin.


"jangan sembarangan bicara, kami tidak melakukan apapun" sangkal Revin.


"belum. kami hampir saja melakukan sesuatu yang panas jika saja kamu tidak datang untuk mengacaukannya" sarkas Elvan dengan terselip nada bercanda.


"gila! siapa yang mau!" ucap Revin bersungut-sungut sembari memukul dada Elvan yang akhirnya menjauh dari tubuh Revin.


"hei ayolah..aku tidak buta Revin, akui saja" goda Lala sembari menuju sofa yang akan ia duduki.


"ahh sudahlah..terserah kamu saja" pipi Revin memerah menahan malu.


"aku rasa hubungan kalian lebih baik..oh bukan, tapi sangat baik" Lala tersenyum melihat sahabatnya yang telah menemukan kebahagiaan nya.


"tentu saja" ucap Elvan dengan mantap.


"tapi sungguh, ini bukan seperti yang kamu pikirkan..maksudku tentang kekacauan ini" Revin menggigit bibir bawahnya dan melihat keadaan rumahnya yang cukup berantakan akibat kejadian yang menegangkan tadi malam.


Elvan yang mendengar Revin mengatakan itu langsung menatap Revin dengan perasaan khawatir dan rasa bersalah karena kehadiran dirinya di sekitar Revin yang membuat Revin dalam bahaya. Elvan menggapai kepala Revin dan membelai lembut surai hitam gadis yang ia cintai itu.


Revin menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Elvan pun turut andil dalam pembicaraan itu. Lala menganga hampir tak percaya, tapi ia tau dari tatapan mata Revin dan Elvan bahwa mereka tidak berbohong. Tak ada kilatan kebohongan dalam mata mereka.


"tunggu..aku..aku tak tau harus bilang apa" ucap Lala yang terlihat sangat syok dengan kejadian yang menimpa Revin. Rasa bersalah menyelimuti dirinya karena ia tak bisa ada untuk Revin saat itu tapi di sisi lain ia merasa lega bahwa Elvan ada untuk Revin. "bukankah aku tidak berguna" sambung Lala dengan nada sedih.


"maksudnya?" tanya Revin dengan mengerutkan keningnya.


"aku bukan teman yang baik, aku tidak bisa melindungi mu, aku..aku sangat tidak berguna" sesal Lala.


"ya, lebih tidak berguna lagi perkataan mu itu" kata Revin dengan memutar bola matanya.


"keterlaluan" ucap Lala dengan bibir melengkung kebawah.


"kalian ini seperti anak kecil saja" ejek Elvan.


"dan kamu seperti om-om" ejek Revin tak mau kalah.

__ADS_1


"bukan om-om baby, I'm your daddy" ucap Elvan dengan smirk nya yang menurut Revin sangat menyebalkan tapi memang menggoda. ahh persetan dengan wajah tampannya!


"sudah beralih jadi anak bapak nih?" cela Lala sambil terkekeh.


"yang benar saja, kamu harus banyak belajar dari Jordy mengenai ini. ini keahliannya" dengan tanpa tau malu Elvan mengatakannya membuat wajah Lala memerah menahan malu.


"ya ya ya nanti, aku harus pergi sekarang. ada urusan sebentar" ucap Lala yang langsung berlalu meninggalkan tempat tidak menghiraukan suara teriakan Revin.


"aihh kamu tuh, marah kan Lala" Revin memukul pelan paha Elvan.


"tidak baby, Lala tidak marah. dia hanya malu" Elvan memeluk Revin dan menyelipkan kepalanya di ceruk leher Revin.


"oh ya ampun, kamu seperti bayi besar" ejek Revin melihat tingkah Elvan.


"yeah, and you're my mom. my hot mom" ucap Elvan dengan suara yang dibuat sexy dengan meniup pelan telinga Revin hingga membuat Revin bergidik geli.


"ahh jangan begitu!" Revin mencoba melepaskan diri dari pelukan Elvan yang begitu kuat. ia takut jika Elvan sungguh akan memakan dirinya sekarang. tidak..tidak boleh, Revin belum siap. lagipula mereka belum menikah. ini tidak bisa dibiarkan, Revin menggigit tangan Elvan dan gotcha! Revin terbebas dari pelukan Elvan dan segera berlari menuju kamar tidurnya dan segera mengunci pintunya. Elvan terlambat mengejar Revin, alhasil ia tidak bisa ikut masuk ke kamar Revin.


"baby..biarkan aku masuk" ucap Elvan dengan nada manjanya.


"no! aku mau bersih diri" tegas Revin.


"tunggu..ada kamar mandi dalam?" tanya Elvan yang berdiri tepat di depan pintu kamar Revin.


"tidak" jawab Revin dengan cuek.


"jika kamu mau mandi maka keluarlah" bujuk Revin agar Revin segera keluar dari kamarnya.


"aku akan keluar jika kamu berjanji" Revin mulai bernegosiasi.


"baik, katakan" Elvan menempelkan tubuhnya pada dinding sebelah kamar Revin.


"kamu tidak boleh menyentuhku sebelum aku menyelesaikan kegiatanku" ujar Revin.


"apa? ahh ya sudahlah terserah kamu saja. hanya sebelum kamu menyelesaikan kegiatan mu bukan? no problem. kamu bisa keluar sekarang" ucap Elvan


"bilang janji dulu!" kata Revin dengan mengerucutkan bibirnya yang tentu saja tidak diketahui oleh Elvan.

__ADS_1


"baiklah baby, aku janji. aku tidak menyentuhmu barang sedikitpun sebelum kamu menyelesaikan kegiatanmu" Elvan mengucapkan janjinya.


Revin pun membuka pintu kamar nya setelah mendengar ucapan janji dari Elvan. Revin juga sudah membawa peralatan mandi nya. Elvan hanya memutar bola matanya ketika melihat Revin keluar dari kamar namun ia tak bisa menyentuhnya, akhirnya ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya kembali ke sofa sembari menunggu kegiatan Revin selesai.


__ADS_2