Our Promise

Our Promise
Romeo dan Juliet


__ADS_3

"ahh capeknya, jadi males pergi kerja" ucap Revin sambil meregangkan otot tubuhnya.


"kok capek? kan sudah ada lampu hijau dari orangtua Elvan. Pasti tidur nyenyak dong" sindir Lala sambil terkekeh.


"masih pagi sudah nyindir aja" ketus Revin seraya menuju kamar mandi.


Lala hanya tertawa sambil mengoleskan selai strawberry ke permukaan roti tawar hingga merata untuk santap sarapan nya serta sarapan Revin.


Revin selesai dengan kegiatan kamar mandi nya. Ia berjalan kearah Lala dan mengambil roti tawar yang sudah diolesi dengan selai strawberry lalu memakannya. Lala tengah berkutat dengan ponsel dan susu paginya. Revin pun masih sibuk dengan sarapan serta jus buah alpukat yang Lala buatkan untuk Revin.


"Vin..kamu ke cafe kan?" tanya Lala dengan matanya yang masih fokus pada layar ponselnya.


Revin hanya menggumam menjawab pertanyaan Lala karena mulutnya yang masih penuh dengan roti isi selai strawberry. Kemudian Lala menoleh kearah Revin untuk memastikan lebih jelas atas jawaban Revin. Revin yang di tatap Lala mengerti maksud dari sahabatnya itu. Kemudian Revin mengangguk mengiyakan.


"baguslah, ibu menyuruh ku pulang. katanya ada yang mau dibicarakan, jadi aku harus pulang dulu dan besok aku janji aku sudah kembali" ucap Lala.


"eh..kok tiba-tiba? gak ada apa-apa kan?" tanya Revin khawatir.


"aku rasa bukan hal buruk" kata Lala sambil mengedikkan bahunya.


"ya sudah, kamu hati-hati ya nanti dijalan. jangan lupa kabarin kalau ada apa-apa" ucap Revin dengan menunjuk sambil memasang ekspresi mengancamnya kearah Lala.


"iya iya bawel" ucap Lala sambil memutar bola matanya jengah.


Revin lebih dulu berangkat daripada Lala. Jujur saja Revin masih sangat mengingat kejadian di rumah Elvan yang membuat hatinya tak karuan, jadi ia memutuskan untuk segera menyibukkan diri agar sedikit lupa dengan kejadian itu. Revin berangkat dengan menggunakan sepeda motor nya. Revin menempuh perjalanan dengan terkadang ia bersenandung kecil agar ia merasa nyaman di perjalanan. Tak lama kemudian, sampailah Revin di cafe milik nya dan segera memarkirkan sepeda motor nya. Kemudian ia berjalan memasuki cafe untuk menuju ke ruangan nya. Seperti biasa, karyawan-karyawan nya menyapa Revin saat berpapasan dengan bos nya itu. Revin segera menghempaskan dirinya di kursi nya dan langsung menyenderkan kepalanya ke belakang kursi. Sebenarnya tidak ada pekerjaan serius untuk hari itu, mungkin hanya mengecek keadaan saja. Karena laporan keuangan telah Lala kerjakan seluruhnya.


"huhh..bosan nya" ucap Revin seraya menghembuskan nafasnya kasar. Ia menutup matanya dan hampir terlelap, namun dering ponselnya mengagetkannya hingga matanya kembali terbuka. Revin melihat kearah layar ponselnya. Terlihat nama Elvan yang tengah menelepon nya. Alasan Revin yang membuatnya hampir tidak tidur karena kejadian di rumah Elvan. Dan sekarang malah menelepon Revin dan membuat Revin kembali merasa hatinya tidak karuan. Tapi Revin mencoba untuk mengontrol rasa gugupnya agar Elvan tidak mengetahuinya. Lalu Revin menerima panggilan itu.


"kenapa lama sekali?" tanya Elvan yang berada di seberang telepon.


"sibuk" jawab Revin dengan singkat.


"sibuk memikirkan ku?" Elvan menggoda Revin.

__ADS_1


"tentu saja......tidak!" ketus Revin karena seolah Elvan tau apa yang sedang ia pikirkan.


"hahaha aku mengerti, kamu merindukan ku kan?" ucap Elvan dengan percaya dirinya.


"kamu telepon hanya untuk menggangguku?!" kesal Revin dengan ucapan Elvan yang sangat percaya diri itu.


"aku yang merindukanmu" ucap Elvan dengan serius.


Hening melanda. Ucapan Elvan yang tiba-tiba sontak membuat Revin tergagap dan memilih untuk diam sesaat mengontrol jantungnya yang hampir saja keluar dari dadanya.


"kok diam? kenapa? kamu malu?" ucap Elvan dengan nada menggoda nya.


"t-tidak..aku hanya sedang mengerjakan pekerjaan ku" Revin mengelak perkataan Elvan.


"hahaha kamu tidak bisa berbohong baby" Elvan menertawakan kegagapan Revin yang justru membuat Elvan yakin dengan pemikirannya.


"ah sudahlah, mengganggu saja" ketus Revin dengan langsung mematikan sambungan telepon dari Elvan.


Elvan mendengar sambungan telepon nya terputus. Kemudian ia tertawa. Hari yang sangat menyenangkan baginya, orangtuanya merestui hubungan nya dengan Revin. Mama Elvan sangat menyukai Revin yang terlihat sopan dan santun juga seorang gadis yang sederhana. Itu juga yang membuat Elvan terpikat dengan pesona Revin yang lugu dan polos.


Siang menjadi sore, sore menjadi malam. Langit yang cerah telah berganti menjadi gelap. Sudah saatnya untuk menutup cafe. Cafe tutup lebih larut dari biasanya karena banyaknya pelanggan yang datang hari itu bahkan hingga malam hari. Jadi mereka menunggu hingga pelanggan terakhir pulang. Setengah jam lebih terlambat dari biasanya, tapi karyawan Revin tidak ada satupun yang protes. Karena mereka juga tau jika setiap ada waktu lebih seperti ini, Revin pun tak akan lupa untuk menambahkan bonus saat gajian di awal bulan nanti pada setiap karyawan nya. Semuanya berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Revin pun segera pulang karena hari sudah malam dari biasanya jadwal pulangnya.


Dalam perjalanan pulang Revin merasa ada yang mengikuti nya, tapi mustahil karena ia tidak melihat kendaraan yang mencurigakan di belakangnya atau sekitarnya. Lalu ia menepis pikiran buruknya itu dan sedikit menambah kecepatan agar ia segera sampai di rumah. Sampailah Revin dirumahnya. Ia berdiri di depan pintu dengan perasaan yang tidak enak. Sesekali ia menoleh ke belakang, namun nihil. Tetap tidak ada siapapun disana. Revin pun mengontrol perasaan nya dengan mengatur nafasnya. Setelah dirasa cukup, ia pun memasukkan kunci pada lubang kunci dan membuka pintunya. Gelap, lampu belum dinyalakan. Seperti biasannya ketika ia dan Lala pulang dari cafe saat malam hari. Revin berjalan memasuki rumahnya, namun tiba-tiba pintu rumahnya tertutup dengan paksa. Revin pun menoleh kearah pintu. Seseorang dari arah pintu dengan cepat menubruk kearah Revin hingga Revin terjatuh dengan posisi terlentang dan seseorang itu menindihnya. Seseorang itu memakai topeng, namun jika dilihat dari bentuk tubuhnya adalah seorang perempuan. perempuan bertopeng itu mencekik leher Revin. Revin mencoba meraih topeng perempuan itu dan membukanya. Berhasil, benar seorang perempuan. Itu Tasya. Meskipun keadaan gelap namun juga tak sepenuhnya gelap karena ada satu lampu kecil di ruang tamu yang terus dinyalakan dan itulah yang membuat Revin tau pelakunya. Tasya dengan ekspresi yang mengerikan dengan tatapan mata penuh kebencian seperti ingin mencabik dan membunuh mangsanya dengan buas. Revin lalu mencakar lengan Tasya yang sedang mencekiknya hingga akhirnya Tasya menjerit dan melepaskan cekikannya. Kesempatan itu Revin gunakan untuk segera berdiri dan segera mencari bantuan. Namun nihil, Tasya yang melihat gerak-gerik Revin segera menuju kearah Revin sambil menodongkan pisau dengan ujungnya yang runcing.


"apa maumu?!" tanya Revin dengan gugup sambil memundurkan kakinya menjauhi Tasya.


"tentu saja nyawamu!" teriak Tasya dengan murka.


"kenapa kamu melakukan ini, apa salahku?" tanya Revin lagi dengan masih memundurkan langkahnya sambil meraba suatu barang yang bisa ia gunakan sebagai senjatanya yang berada di sekitarnya.


"bagaimana bisa kamu masih menanyakan ini ha?! kami sudah merebut milikku! tidak ada yang bisa memilikinya selain aku" ucap Tasya dengan seringai mengerikan tercetak di bibirnya.


"maksudmu Elvan?" Revin mencoba mengulur waktu agar ia juga mendapat ide untuk bisa kabur dari Tasya.

__ADS_1


"kamu tidak pantas bahkan untuk menyebut namanya!!" Tasya sangat marah dan melempar vas bunga yang berada di dekatnya kearah Revin. Revin tidak sempat menghindar, hingga vas bunga itu pecah mengenai kepala Revin dan menimbulkan suara pecahan yang cukup keras.


"Revin!!" pintu terbuka dengan tiba-tiba. Elvan datang. Tasya dan Revin terkejut dan melihat kearah pintu. Revin menggunakan kesempatan itu untuk menuju kearah saklar lampu yang berada tak jauh di belakang Revin. Tasya terkejut ketika ia merasakan pergerakan cepat dari Revin. Meskipun Revin tengah terluka, namun ia tidak mau kalah di tangan Tasya. Tasya kalah cepat, lampu menyala memperlihatkan Elvan yang berdiri di pintu dengan wajah khawatir. Elvan memelototkan matanya ketika ia mendapati Tasya yang sedang membawa pisau tajam dan Revin dengan kepala yang berdarah akibat vas bunga.


" apa-apaan ini!" ucap Elvan dengan marah.


Tasya melemparkan pisaunya ke lantai dan menangis karena ia tak sanggup berhadapan dengan Elvan saat keadaan seperti itu. Entah dorongan darimana, Revin berlari kearah Elvan dan langsung memeluknya. Revin menangis sesenggukan akibat apa yang dialaminya barusan. Elvan pun membalas pelukan Revin. Tiba-tiba Tasya tertawa dengan lantangnya, membuat Elvan dan Revin menatap kearahnya.


"benar-benar membuatku muak!" teriak Tasya dengan mengambil pisau yang tadi ia gunakan untuk menodong Revin.


"jatuhkan pisau itu!" geram Elvan.


"jangan seolah seperti Romeo dan Juliet! tapi bagus juga jika kalian mau bernasib sama dengan pasangan yang terkenal itu" kata Tasya dengan senyum yang mengerikan.


Revin dan Elvan tidak mengerti dengan apa yang Tasya katakan.


"dengar, jika kamu Elvan tidak bisa menjadi milikku, maka orang lain juga tidak! maka aku akan membunuhmu dan bunuh diri untuk mengikuti mu!" setelah selesai mengatakan itu Tasya langsung berlari dengan pisau yang diarahkan ke depan kearah Elvan.


Elvan dengan sigap menghindar sambil tetap mendekap Revin. Alhasil pisau Tasya menancap pada pintu yang ada di belakang tubuh Elvan dan Revin tadi. Kesempatan itu Elvan gunakan untuk menahan tangan Tasya. Tasya berontak dengan keras, namun Elvan lebih kuat.


"Vin, punya tali? bawakan tali padaku" pinta Elvan pada Revin. Revin segera mencari tali pada gudang. Ia menemukannya dan segera membawanya ke Elvan. Elvan mengikat Tasya dengan kuat, dan menyumpal mulut Tasya dengan sapu tangan nya agar tidak berisik karena Tasya terus saja berteriak.


Elvan segera melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Elvan memeluk Revin untuk menenangkannya, dan mengecup lembut kening Revin. Revin masih begitu syok dengan kejadian itu. Tak lama polisi datang, Elvan segera menceritakan apa yang terjadi. Untunglah Revin masih bisa menanggapi apa yang ditanyakan oleh polisi, melihat betapa syok nya dia. Tasya segera dibawa ke kantor polisi, masih dengan meronta. Namun kekuatan nya tak sebanding dengan kekuatan seorang polisi. Elvan dan Revin diminta untuk ikut ke kantor polisi untuk laporan lebih lanjutnya. Awalnya Elvan menolak dan meminta untuk keesokan harinya ia datang karena tidak tega melihat keadaan Revin. Tapi justru Revin yang membujuk Elvan bahwa ia tidak apa-apa. Akhirnya mereka membuat laporan di kantor polisi.


Tidak terlalu lama prosesnya, Elvan dan Revin pun segera pulang setelahnya. Elvan menawarkan Revin untuk menginap di hotel saja, tapi Revin menolak. Ia tetap ingin pulang ke rumahnya. Elvan hanya bisa menyetujui kemauan Revin dan mengantarkan Revin kerumahnya.


"biar ku obati dulu lukamu, setelahnya aku akan pulang" kata Elvan membujuk agar ia bisa sedikit lebih lama dengan Revin, karena jujur saja ia sangat khawatir dengan Revin.


Revin mengangguk dan membawakan kotak obat kepada Elvan. Elvan mengobati kening Revin dengan sangat hati-hati, ia takut akan menyakiti Revin. Revin melihat wajah Elvan yang penuh dengan kekhawatiran.


"El..bisakah kamu menginap malam ini?" ucap Revin dengan sedikit menggigit bibirnya menahan rasa malunya.


Elvan melihat kearah mata Revin, lalu tersenyum lembut.

__ADS_1


"sepertinya kamu tau apa yang aku pikirkan" ucap Elvan dengan mengusap pelan pipi Revin.


Revin tersenyum, mereka sedikit mengobrol hingga rasa kantuk menghampiri keduanya. Elvan dan Revin pun tertidur di sofa sambil berpelukan.


__ADS_2