
"wah wah wah, seneng banget yang kemarin kencan" ledek Lala.
"apa sih ah, enggak kok" ketus Revin.
"masih pagi udah senyum-senyum gitu lihatin hp" goda Lala sambil menunjuk kearah hp Revin dengan dagunya.
"ih orang aku lagi lihatin video kucing lucu" jawab Revin membela dirinya sendiri.
"uhh alasan kamu ini, wajar tau kalau seneng gitu habis kencan. pasti semalam gak bisa tidur juga kan?" Lala masih tidak berhenti meledek Revin.
"aku beneran lagi lihat video kucing ini astaga berlebihan banget kamu" ucap Revin sambil memperlihatkan ponselnya kepada Lala.
"ya siapa tau kan udah kamu pindah itu" cibir Lala.
"oh gitu kamu gak percaya sama aku?" ucap Revin sambil memajukan bibirnya.
"enggak tuh wleee" kata Lala sambil berlari pergi menuju kamarnya.
"ya ya ya terserah" Revin sedikit berteriak agar Lala mendengar ucapannya.
Revin memang hanya sedang menonton kumpulan video kucing lucu di ponselnya sebelum ia berangkat ke cafe. Ia tengah menikmati sarapan paginya sambil menonton video lucu sembari menunggu Lala bersiap diri. Tidak dapat dipungkiri jika ia memang menikmati hari kemarin bersama Elvan. Tak pernah ia merasa nyaman berada didekat seorang laki-laki selama hidupnya. Dan Elvan adalah laki-laki pertama yang membuatnya merasa nyaman untuk berada di dekatnya. Tapi masih ada sedikit keraguan dalam benak Revin. Ia takut jika ia jatuh terlalu dalam nantinya, jadi ia sedikit membatasi diri. Karena bukan tak mungkin Elvan hanya sedang bermain-main atau mungkin sedang mencari seseorang yang benar-benar tepat untuknya. Jadi mungkin saja Revin salah satu perempuan uji coba nya.
"yuk berangkat" ucap Lala yang menghamburkan lamunan Revin.
"ah udah siap?" tanya Revin sembari beranjak dari tempat duduknya.
"sudah dong" jawab Lala dengan mantap.
Mereka pun berlalu meninggalkan rumah menuju cafe dengan menggunakan sepeda motor milik mereka. Dan beberapa menit kemudian mereka sampai di cafe milik mereka yang baru saja dibuka oleh Firman, orang kepercayaan mereka. Firman dan karyawan lain tengah membersihkan cafe dan menata cafe agar menjadi tempat yang nyaman bagi para konsumen nya.
"selamat pagi kak Revin, kak Lala" sapa beberapa karyawan termasuk Firman ketika Revin dan Lala memasuki cafe.
"selamat pagi juga, semangat bekerja ya"ucap Revin dan Lala menyemangati para karyawan nya.
Revin dan Lala pun segera menuju ke ruangan mereka berdua. Mereka berniat mendiskusikan tentang menu baru yang akan launching hari itu.
"semoga cocok di lidah semua orang" ucap Revin seraya mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya.
"yahh, kurasa akan cocok menu itu untuk semua orang. maksudku..memang rasanya enak dan pas. tidak terlalu manis dan itu terasa lembut di mulut" penilaian Lala tentang menu baru di cafe mereka.
Cafe mereka lebih dikenal dengan rasa dessert nya yang luar biasa dan memang cafe mereka lebih menonjolkan dessert daripada main course ataupun appetizer. Karena itulah mereka mencoba untuk memakai tema yang simple namun cukup romantis. Bukan hanya untuk sepasang kekasih melainkan untuk keluarga ataupun sahabat. Dan ya! mereka berhasil menambah grafik pendapatan dalam beberapa minggu ini.
"ya, aku sudah memikirkan itu. aku tidak ingin membuat konsumen ku merasa mudah bosan dengan rasa yang terlalu manis hingga mereka akan kapok untuk kembali dan membeli menu itu lagi" ucap Revin menjelaskan.
"ya ya kamu memang ahli untuk itu" ucap Lala sambil memainkan ponselnya.
Waktu berlalu, hari mulai siang dan waktu makan siang telah tiba. Revin dan Lala bisa mendengar aktivitas diluar ruangan mereka. Dan mereka yakin bahwa cafe cukup banyak pengunjung siang ini.
"mau makan siang sekarang atau nanti?" tanya Lala kepada Revin.
"nanti aja lah, aku belum laper" kata Revin sambil menempelkan pipinya pada meja di depannya.
__ADS_1
"kenapa sih galau? atau ngantuk? atau karena Elvan gak ngasih kabar hari ini?" tanya Lala dengan nada menggoda.
"apa sih Elvan lagi Elvan lagi" gerutu Revin yang masih pada posisinya.
"aduh non, kalau gak ngasih kabar ya ditanyain dong" goda Lala.
"aku ngantuk Lala" ketus Revin.
"iya iya terserah kamu lah" Lala yang pasrah dengan ucapan ketus Revin.
Tiba-tiba Revin dan Lala samar-samar mendengar ada keributan di cafe mereka. Mereka pun langsung duduk tegak dan saling menatap dengan menajamkan pendengaran mereka. Dan ya, memang ada yang salah. Mereka segera keluar dari ruangan untuk mengecek adanya kesalahan.
Revin dan Lala melihat adanya seorang ibu-ibu dengan make up yang menor dan pakaian minim tengah memarahi karyawannya. Revin pun segera menghampiri.
"maaf, ada apa ini?" tanya Revin dengan hati-hati.
"siapa kamu?!" bentak ibu itu dengan galak.
"saya pemilik cafe ini, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Revin.
"oh jadi kamu yang gak becus ngurusin karyawan-karyawan bodohmu ini?!" geram ibu itu dengan amarah yang meledak.
"maaf ibu, bisa jelaskan ada masalah apa ya? apa yang karyawan saya lakukan?" kata Revin dengan sopan.
"karyawan mu ini sengaja menumpahkan minumannya ke bajuku!" teriak ibu itu.
"enggak kak, saya tersandung" ucap karyawan perempuan yang dijadikan tersangka itu dengan menunduk ketakutan.
"omong kosong! mana ada maling yang akan mengaku!?" ucap ibu itu dengan geram.
"kenapa? biar saja semuanya tau kalau pelayanan cafe disini buruk!" ucap ibu itu.
"baik kalau begitu, saya akan mengganti pakaian ibu saja. bagaimana?" tawar Revin yang mulai memanas.
"huhh mengganti?! bahkan dengan kamu menjual diri saja tidak akan cukup untuk mengganti harga bajuku!!!" ucap ibu itu dengan angkuhnya.
"lancang!" ucap seseorang yang baru memasuki cafe.
"Elvan" gumam Revin dan Lala bersamaan meskipun mereka sedang tidak berdekatan.
"siapa yang berani berkata seperti itu?!" murka Elvan dengan tatapan mata elangnya.
"ohh memanggil bala bantuan huh?!" ucap ibu itu meremehkan.
"heh ibu tua kampungan ini yang berkata kotor?" ucap Elvan tak kalah meremehkan.
"dasar tidak tau sopan santun! begini kah caramu berkata kepada orang yang lebih tua?!" teriak ibu itu.
"aku tidak sedang melihat orang tua yang harus dihormati disini, tapi aku sedang melihat seseorang dengan etika nol yang tengah bersikap seperti orang gila dan mengamuk di tempat umum" ledek Elvan dengan senyum miringnya.
"kamu..!" ibu itu tidak bisa lagi meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"aku akan mengganti bajumu yang kotor itu dengan 10x lipat harga nya" ucap Elvan dengan memasang wajah sombongnya.
"tidak! aku ingin perempuan ini dan ini bersimpuh dan mencium sepatuku sebagai permintaan maaf" ucap ibu itu sambil menunjuk karyawan yang dia tuduh dan menunjuk Revin.
"maaf ibu, bagaimana jika kita melihat rekaman cctv saja? kami memilikinya. jadi jika memang karyawan kami bersalah, saya sendiri yang akan berlutut dan mencium sepatu mu" ucap Revin dengan geram.
"tidak perlu, itu membuang waktuku" kata ibu itu yang terlihat gugup.
"kenapa begitu gugup nyonya?" ejek Elvan menelisik perubahan sikap pada ibu itu.
"ah sudahlah, anggap saja aku sedang berbaik hati hari ini" kata ibu itu dan segera berlari keluar cafe.
Elvan hendak mengejar ibu itu tetapi dihentikan oleh Revin. Para pelanggan yang lain pun menyoraki ibu ibu itu ketika berlari dengan gugupnya meninggalkan cafe. Revin menyuruh karyawan yang terkena masalah itu untuk istirahat sejenak. Lala menghampiri Revin dan Elvan.
"rubah tua sungguh luar biasa" ucap Lala.
"yahh, aku tau ada yang tidak beres dengan ibu ibu itu" ucap Revin sambil menatap kearah pintu cafe.
"lalu kenapa kamu melarang ku untuk menghentikannya tadi?" tanya Elvan yang sekilas mengikuti arah pandang Revin.
"aku tidak mau mengganggu pelanggan lain ku" ucap Revin dengan memajukan bibirnya.
"eh.. Jordy gak ikut?" tanya Lala.
"dia masih mengangkat telepon di mobil, jadi aku duluan" kata Elvan.
"mau makan siang disini?" tanya Revin.
"ya, kalian sudah makan? jika belum ayo kita makan siang bersama" ajak Elvan.
"tentu, kita juga belum makan siang" timpal Lala sambil mengajak Elvan dan Revin menuju ke salah satu meja kosong.
Mereka pun duduk dan tak lama Jordy datang dan segera bergabung. Mereka pun memesan makanan setelah Jordy duduk bergabung.
"kurasa aku tadi melihat Tasya" ucap Jordy dengan pelan dan hati-hati sambil melirik kearah Revin yang terlihat melirik kearahnya lalu kearah Elvan.
"ohh, lalu kenapa?" jawab Elvan dengan tenang sambil menatap mata Revin.
"baru dateng jangan bawa masalah dong kamu" cibir Lala kepada Jordy.
"maaf maaf, ya aneh saja kelakuannya" ucap Jordy.
"aneh kenapa?" tanya Elvan sambil mengerutkan keningnya.
"gak aneh juga sih, kurasa dia sedang ada temu janji dengan teman ibunya. tapi anehnya kenapa teman ibunya ini sangat mencolok dari pakaiannya dan seolah sangat sopan dengan Tasya" ucap Jordy sambil mengingat-ingat.
"teman ibunya.. berarti sudah ibu-ibu?" tanya Lala.
"iya jelas dong" jawab Jordy.
Elvan, Revin, dan Lala tiba-tiba diam seperti tengah memikirkan sesuatu. Jordy tidak menyadari akan sikap ketiga orang didekatnya itu. Dan makanan pun datang. Segera Jordy memulai aktivitas makan nya namun terhenti ketika melihat ketiga orang disekitar nya ini melamun.
__ADS_1
"hei..apa ini acara melamun berjamaah?" tanya Jordy dengan meledek.
"aku akan menceritakan semuanya nanti setelah makan siang kita selesai" ucap Elvan yang diangguki oleh Revin dan Lala. Jordy pun hanya mengedikkan bahu nya dan langsung memulai acara makan siangnya.