Pacarku Superstar

Pacarku Superstar
BAB 1


__ADS_3

Namaku Alea. Saat ini usiaku enam belas tahun. Aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Aku bersekolah di sekolah yang sama dengan adikku, Audrey.


Berbeda denganku yang hanya memiliki sedikit teman, Audrey memiliki banyak sekali teman. Sifatnya yang supel dan periang membuatnya disukai oleh banyak temannya. Sedangkan dikarenakan sikapku yang sedikit tertutup, aku hanya memiliki sedikit sekali teman dekat.


Usiaku dan Audrey hanya terpaut jarak dua tahun. Saat kami pindah ke Jakarta, ia masih duduk di awal Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan aku di akhir SMP.


Hubungan kami sangat dekat. Kami jarang sekali bertengkar. Paling hanya sesekali saja, itupun karena rebutan kamar di rumah baru. Selebihnya, tak ada.


Baru dua tahun ini kami sekeluarga tinggal di Jakarta. Kami pindah ke Jakarta juga bukanlah tanpa sebab. Kami mengikuti Ayah yang dipindah-tugaskan oleh pimpinannya untuk mengurus kantor cabang baru yang berada di Jakarta.


Ayahku bekerja di sebuah perusahaan provider ternama di Indonesia. Karena kinerja dan performa kerjanya yang baik, maka Ayah diminta untuk mengurus kantor cabang yang baru.


Saat ini aku belum memiliki banyak teman. Ya, karena alasan sederhana, aku tidak terlalu pandai untuk beradaptasi dengan orang baru. Aku tidak terlalu nyaman jika harus berkumpul dengan banyak orang.


🍂


Kriiiiiiing


Alarm menunjukkan pukul 5.15. Aku bangun, seperti biasa kulipat selimut, kubereskan tempat tidur, tak lupa aku matikan AC. Setelah rapi, aku bersiap-siap untuk mandi. Kuambil handuk berwarna pink yang merupakan warna kesukaanku di ujung kamar. lalu aku masuk kamar mandi.


Setiap hari Senin, aku selalu membuat diriku serapih mungkin. Aku tidak ingin mengawali hari dengan mood yang jelek. Kuambil sampo beraroma vanila yang lembut dan manis, lalu segera kuaplikasikan pada rambutku yang panjang.


Setelah mencuci rambut, kuambil sabun dengan aroma yang sama, lalu kutuangkan sedikit saja ke spon berwarna pink, dan kuremas-remas hingga mengeluarkan busa. Aku memang suka dengan cara mandi seperti ini. Melihat busa-busa yang seperti awan, rasanya nyaman sekali.

__ADS_1


Aku butuh waktu lima belas menit untuk mandi. Setelah mandi, segera kukeringkan rambut dan tubuhku. Kupakai seragam putih abu-abu, kukenakan kaos kaki putih selutut, kupoleskan sedikit pelembab wajah, bedak dan juga lip gloss transparan.


Rambutku yang lurus dengan panjang sepinggang telah kukeringkan dengan hair dryer di kamar mandi. Setelah kering, kuurai rambutku seperti biasa, lalu kutambahkan bandana berwarna pink kesukaanku sebagai hiasan.


"Manis," Pujiku saat melihat tampilan wajahku di cermin.


Setelah selesai dengan pakaian dan rambutku, kuambil ransel berwarna pink yang berisi peralatan sekolahku. Lalu aku menuju ke lantai bawah. Sebelumnya, tak lupa kuberikan kecupan manis pada sesosok laki-laki tampan yang sedang memegang gitar di balik pintu kamarku.


Kuusap poster itu perlahan, dan kukatakan padanya "Aaleeyah pergi dulu ya, Kak. Nanti balik lagi. Kakak jangan kangen." Ucapku dengan manja.


🍂


"Al, yuk sarapan. Bunda sudah siapkan roti panggang keju manis dan susu cokelat kesukaan kamu!" Suara Bunda yang sedikit nyaring mengagetkanku yang masih berdiri di balik pintu kamar.


"Ih, anak ayah kok lama banget sih turunnya? Pasti abis ngobrol sama poster, deh!" Ucap Ayah dari balik kursi makan.


Ayah selalu saja begitu. Selalu senang menggodaku. Terlebih saat Bunda dan Audrey ikutan terkekeh mendengar kata-katanya, senyum Ayah semakin mengembang.


"Ayah ..." Ucapku malu sambil mengambil posisi persis di sebelah Audrey.


"Ya udah yuk sarapan, sebentar lagi jam enam nih. Nanti kalian telat." Bunda mengingatkan.


"O iya Yah, nanti seperti biasa, Al dan Audrey diantar Ayah, ya. Terus, Bunda mau ke toko sampai jam tiga sore, mau meng-interview calon koki baru sekaligus mau ngetes masakannya," Lanjut Bunda lagi.

__ADS_1


Bunda adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang bekerja dari rumah. Hobinya membuat kue menjadikannya seorang pengusaha kuliner yang lumayan dikenal di Bandung.


Bunda memang sangat senang mengolah tepung terigu menjadi makanan manis yang disukai banyak orang. Dari anak kecil, remaja, dewasa, sampai orang tua.


Berawal dari membuat kue untuk Hari Guru di sekolahku dulu, banyak guru dan orang tua murid yang mulai memesan kue untuk perayaan ulang tahun anak mereka ataupun untuk arisan di lingkungan rumahnya.


Dari situlah pesanan kue semakin banyak, hingga Bunda kewalahan untuk mengerjakannya. Dengan bermodalkan uang tabungan dan tambahan dari Ayah, Bunda berhasil membangun satu buah toko kue di Bandung.


Berkat kerja keras dan ketelatenan Bunda dalam mengurus toko, kini Bunda telah memiliki tujuh orang karyawan yang semua sangat loyal dan menghormatinya di Bandung. Ya, walau kini Bunda menetap di Jakarta, namun toko kue di Bandung tetap berjalan, malah semakin ramai.


Yang menjadikan toko kue Bunda laris manis di pasaran adalah karena tekstur kuenya yang lembut, rasanya yang enak, bentuk kue yang tidak pasaran dan beragamnya produk yang dijual.


Alhamdulillaah, saat ini Bunda sudah membuka cabang di Jakarta. Walau baru satu tahun, omzet bulanannya sudah menyamai cabang utama di Bandung.


"Iya, Nda. Nanti Ayah yang antar anak-anak." Sahut Ayah sambil mengunyah roti panggang nya.


"Nda, nanti kalo udah selesai interview kabarin kita ya, ganteng atau nggak calon kokinya." Audrey terkekeh, menyenggol kakiku sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Biar Kak Al juga nggak stress ngomong sama poster terus, Nda. Hahaha." Lanjutnya sambil tertawa.


"Ih anak kecil, awas yaaa!" kucubit pipinya hingga ia meringis. Rasain!


"Udah-udah, ayo lanjut sarapannya. Nanti telat." Ujar Bunda.

__ADS_1


__ADS_2