
Aku segera berlari ke arah kelas. Beruntung aku masih lebih cepat darinya. Segera ku duduk manis di kursiku.
"Kenapa lo, Al? Abis lari?" Tanya Ara teman sebangku ku saat melihatku masuk dengan tergesa.
"Balapan sama Mr. Jimmy" sahutku.
"Hah, ada-ada aja, lo!" Ara tertawa.
"Good afternoon class" Sapa Mr. Jimmy.
"Good afternoon, Sir"
"Okay, let's start our class. Today we're gonna learn about asking and giving for opinion" Mr. Jimmy memulai kelas.
Mr. Jimmy membahas tentang bagaimana cara meminta dan memberikan opini terhadap sebuah peristiwa. Peristiwa yang kami bahas kali ini adalah tentang pendapat kami mengenai sekolah yang memberlakukan larangan kepada siswa-siswi untuk membawa ponsel.
Tentu saja kelas langsung menjadi riuh seketika karena materi yang diberikan sangatlah menarik. Aldo sang Ketua Kelas pun sampai kewalahan untuk menjadikan kelas tenang kembali.
Setelah menjelaskan beberapa poin tentang cara memberikan opini yang baik terhadap suatu hal, Mr. Jimmy memberikan kami tugas. Kami diminta membuat sebuah berita berbahasa Inggris dengan tema bebas di selembar kertas, lalu nanti tulisan kami akan diacak, dan orang yang menerima tulisan kami harus memberikan opini nya dengan Bahasa Inggris.
Tugas kali ini cukup menyenangkan karena banyak sekali hal yang dibahas. Mr. Jimmy sangat demokratis dan terbuka dalam banyak hal. Jadi kami siswa-siswi nya merasa santai pada saat mengerjakan tugas yang diberikan olehnya.
🍂
Teeeeet.
Bel berbunyi menandakan waktu pulang. Hari ini senang rasanya karena tak ada PR untuk kami bawa pulang. Seperti biasa, aku menuju kelas Bian dan Cecyl. mereka belum keluar. Disaat menunggu mereka, Bu Astuti guru PKN mendatangiku.
"Alea, kemarin Ibu ke toko Bunda kamu. Ibu lihat-lihat katalog cake ulang tahun. Eh Bunda kamu kasih testernya. Enak-enak banget Al, Ibu sampai bingung, hehehe." Jelasnya.
"Kamu bisa bantu kasih saran nggak Al, Ibu mau pesan kue untuk anak Ibu. Minggu depan ulang tahunnya yang ke-10. Kira-kira Ibu harus pesan kue yang rasa apa ya?" Tanyanya kembali.
"Anak Ibu yang akan berulang-tahun namanya siapa, Bu? Dia suka rasa apa? Keju, cokelat, atau vanilla?" Tanyaku.
"Namanya Sandra. Dia suka banget sama cokelat, Al"
"Mungkin Ibu bisa pilih triple chocolate cake untuk kue ulang tahun Sandra, Bu. Terdiri dari tiga layer cokelat yang enak banget. Ada campuran dark chocolate, milk dan dibagian atas terdapat cokelat lumer yang heeeem lezat bangeeeet." Ujarku menjelaskan, dengan ditambah ekspresi penegasan.
Bundaku bilang, aku dan Audrey harus bisa menjadi Public Relation untuk toko kue Bunda. Minimal untuk orang-orang dekat kami. Bagaimanapun, Bunda menaruh harapan besar kepada anak-anaknya untuk mengembangkan bisnis kue ini.
__ADS_1
"Lalu, untuk toping nya bisa Ibu kasih hiasan yang disukai sama Sandra. Apakah ada karakter kartun yang dia suka? atau warna favorit nya, kami terima request juga, dengan penyesuaian harga tentunya."
"Wah, sepertinya cocok, Al. Ibu pesan itu aja deh. Triple chocolate cake. Minta dibuatin karakter My Little Pony. Bisa nggak ya?"
Dengan sigap, aku segera mengambil ponselku. Aku berikan beberapa contoh desain buatanku yang pernah dipakai untuk pesanan toko kue Bunda. Ya, kata Bunda aku cukup berbakat untuk mendesain kue-kue ulang tahun.
Bunda memperlakukan aku secara profesional. Meskipun aku anaknya sendiri, tapi untuk desain kue, Bunda memberiku tips 50 persen untuk setiap desain kue. Lumayan untuk tabunganku setiap bulannya.
"Naaah, ini aja, Al. Ibu pesan yang ini ya, ukuran 20 x 30 saja. Tolong disampaikan sama Bunda kamu"
"Siap Bu. Harga cake nya 350.000, ditambah request desain nya 80.000 jadi total 430.000 ya Bu. Itu sudah termasuk lilin dan pisaunya. Maaf untuk pelunasannya maksimal H-3 ya Bu As. Ibu bisa langsung serahkan ke toko, atau bisa lewat transfer. Ini rekeningnya." Sahutku seraya memberikan nomer rekening toko kue Bunda.
"Insyaa Allah besok Ibu transfer. Terima kasih banyak ya Al sudah dibantu untuk pilih kuenya." Ujar Bu Astuti dengan sumringah.
"Sama-sama, Bu. Terima kasih kembali"
Tepat setelah Ibu Astuti pergi, kelas Bian dan Cecyl selesai. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas. Tampak dua orang siswi berbicara dengan heboh di depanku.
"Gue tadi udah bilang Bokap, mau nonton konsernya Alex. Seneng banget Bokap gue kasih izin. Lo gimana, Lis?" Ujar gadis yang bernama Kanaya saat berjalan bersama Lisa, teman sebangkunya.
"Gue baru bisa bilang nanti malem, Nay. Bokap kan kerja, gue ngga mau ganggu kalo lagi di kantor" Lisa menimpali.
"Pacaran mulu lo, Nay!" Lisa mencebik.
"Hahaha, jangan sirik ah. Gak baik tau!" Ujar Kanaya lagi sambil melenggang, berlalu dari hadapan Lisa.
🍂
Aku, Bian dan Cecyl berjalan menuju kantin depan. Kami biasa kesini saat jam pelajaran telah usai. Bian dan Cecyl biasa menunggu jemputan disini, sedangkan aku biasa menunggu Audrey untuk memesan taxi online dari sini.
"Cyl, tadi dapet surat dari siapa sih?" Tanya Bian saat kami duduk di kedai siomay Bandung. Kami masing-masing memesan satu porsi dengan es teh manis.
"Mau tau aja, apa mau tau banget?" Tanya Cecyl meledek.
"Cecyl ah, main rahasia-rahasiaan sekarang" Ujar Bian sambil memasukkan satu sendok potongan kentang rebus ke dalam mulutnya.
"Nggak gitu Bi, aku nggak enak sama yang kasih surat" jawab Cecyl yang kini tengah menambahkan perasan jeruk pada siomaynya.
Aku tidak terlalu perduli dengan siapa pengirim surat untuk Cecyl. Lagipula, Cecyl memang gadis popular. Percuma kita kepo dengan urusannya, karena kita pasti akan lelah sendiri memikirkannya. Lebih baik menunggu dia bercerita. Kalau Cecyl mulai bercerita, berarti dia mulai serius.
__ADS_1
Saat sedang asik-asiknya menyantap siomay, ada notifikasi masuk pada ponselku.
[Al, nanti pulang sekolah langsung ke RS. Mitra Keluarga Cibubur ya. Tante Salma melahirkan. Masih ada uang untuk ongkos taxi?] Bunda mengirimkan pesan chat kepadaku.
[Iya Bunda, ada. Ya udah sebentar lagi jalan, aku lagi makan siomay nih Bun. Bunda mau?]
[Mau dong sayang, bungkusin dua buat Ayah sekalian yaa]
[Siap Bunda]
Segera kuhabiskan makanan dan minumanku, lalu kupesan dua bungkus siomay pedas, dan kubayarkan sejumlah uang kepada Mang Deni.
"Bi, Cyl, Bunda barusan chat, aku disuruh ke Mitra Cibubur. Tanteku melahirkan" Ujarku kepada Bian dan Cecyl.
"Laaah kok pas banget, Al. Kamu mau naik apa? Bareng aku aja yuk, aku juga mau kesana. Mau jenguk Kak Rio, sepupuku. Kemarin dia kena DBD!" Ujar Cecyl.
"Hah, DBD, kok serem. Em, beneran boleh ikut Cyl?"
"Iya, beneran, biar ada temen barengan juga aku."
"Ya udah. Tunggu Audrey dulu ya."
Tak sampai lima menit, Audrey datang ke arah kami.
"Kak, makan siomay? Audrey mau, Kak." Ujarnya sambil meletakkan tas nya di kursi.
"Dek, tadi Bunda chat Kakak, Tante Salma melahirkan, kita di suruh kesana. Kakak udah beliin dua bungkus siomay untuk Bunda sama Ayah, kamu mau makan sini apa dibungkus?"
"Em, bungkus aja deh Kak!" sahutnya. Tanpa menungguku, Audrey sudah berlari ke arah Mang Deni.
"Mang, pesen satu lagi di bungkus ya. Pedes. Ni uangnya" Seru Audrey sambil menyerahkan uang kepada Mang Deni.
"Sip, Neng."
Tak berapa lama, pesanan Audrey telah siap. Lalu kami berpamitan kepada Bian yang sudah dijemput oleh tantenya.
"Sampai besok ya Bi. Hati-hati. Dah, Tante ..." Ujarku sambil melambaikan tangan kepada dua orang yang sudah duduk manis di mobil sedan berwarna putih itu.
"Yuk Al, Dek, jemputanku udah dateng tuh!" Ajak Cecyl kepada kami berdua. Kami mengangguk, lalu mengikutinya ke arah mobil.
__ADS_1