
Bandung
Aku mengenalnya saat usiaku 13 tahun. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu dia datang ke acara Pensi sekolahku bersama beberapa temannya, karena ternyata dia adalah alumni sekolah.
Usianya yang terpaut tiga tahun dariku membuatku sama sekali tak mengenalnya. Saat aku di kelas satu, dia sudah lulus. Jadi ya wajar saja kami tak saling mengenal.
Saat aku dan beberapa teman sedang asik duduk di samping panggung sambil mengobrol dan bercanda seperti anak SMP pada umumnya, dia naik ke atas panggung untuk mengisi acara.
Ternyata dia seorang penyanyi. Pantas gayanya seperti itu. Pikirku saat itu. Mungkin aku yang kuper, orang sekeren itu dengan lambatnya kukenali sebagai seorang pengisi acara.
Dengan memakai jeans belel dipadu dengan kaos tipis yang pas di tubuhnya, dia terlihat sudah cukup berbeda. Ditambah dengan balutan jaket hitam kulit, seharusnya aku sudah menyadari dia itu bukan penonton biasa. Lalu gelang tali di tangannya serta kalung yang senada, membuatnya tampak benar-benar berbeda dari semua orang yang hadir ke Pensi. Dan aku masih saja tidak ngeh dengan perbedaannya itu. Dasar kuper!
Namun ya begini lah aku. Disaat teman-teman perempuanku histeris melihatnya di panggung, aku malah biasa-biasa saja. Tidak terlalu memperhatikannya. Dia memang menarik. Dengan kulit putih terawat, wajah oriental, serta rambutnya yang sedikit gondrong, dia membuat seisi sekolah menjadi heboh.
Belum lagi talenta yang dia miliki. Dengan suara bariton yang terdengar sangat renyah di telinga, range vokalnya terdengar lebar karena bisa menjangkau nada tinggi. Dia benar-benar berhasil membuat para siswi menggila pada saat itu. Semua tersihir oleh pesonanya. Semua, kecuali aku.
Aku aneh? Mungkin. Aku sih menganggapnya berbeda. Hehehe.
Sejak pertemuan pertama kami, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Tapi beberapa minggu setelahnya, aku berjumpa lagi dengannya secara tidak sengaja. Ternyata dia adalah teman tetanggaku. Saat dia menyambangi temannya yang hanya satu blok denganku, kami tak sengaja bertemu.
"Hey, kamu Alea kan? Anak SMP Bina Bangsa?" tanyanya saat itu.
Aku yang mengingat dia saat manggung di Pensi sekolah, kaget juga mendengar namaku disebut olehnya. "Iya, Kak. Em, maaf, kakak siapa ya?" jawabku dengan polosnya. Aku memang jujur kok, aku tidak mengingat namanya. Hanya karena dia cool bukan berarti aku langsung menghapal namanya kan? Kami juga hanya bertemu sekali pada saat Pensi. Itu saja.
A Robi tetanggaku yang pada saat itu ada di belakangnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Bwahahaha, seorang Alexander yang digilai cewek-cewek satu sekolah bahkan digilai di sekolah lain ternyata dilupain sama anak E-Sem-Pe. Berita terhangat sepanjang masa, nih!" Tawanya menggelegar di depanku.
"Ih A Robi apaan sih, nggak lucu, A." Jawabku dengan muka masam. Kulihat tetanggaku itu sedang menatapku dan Kak Alex bergantian sambil memegangi perut dan mulutnya karena menahan tawa. Sedangkan Kak Alex sepertinya tidak terganggu sedikitpun dengan kata-kata dan candaan temannya itu.
__ADS_1
"Oh Kak Alex, maaf ya Kak" Kutangkupkan tanganku ke arahnya tanda menyesal. Aku langsung ingat namanya saat A Robi mengatakannya barusan. 'Bagaimana aku bisa lupa? Namanya kan sering disebut oleh Bian dan beberapa temannku di sekolah.' Tanyaku merutuki diri, mengapa bisa sebodoh ini.
"Iya gapapa, Alea. Santai aja. Kamu mau kemana?" tanyanya kembali.
"Pulang, Kak. Aku habis dari rumah teman. Em, Al, Kak. Panggil aja aku Al." Jawabku kemudian.
"Rob, gue tinggal ya" Ujar Kak Alex membuka pagar rumah A Robi, lalu menghampiriku. "Aku antar ya, Al" tawarnya dengan senyumannya yang manis.
"Nggausah, Kak. Rumahku dekat kok, tinggal belok. Aku biasa jalan kaki." Sahutku seraya bersiap untuk melangkah.
"Emang aku nggak boleh tahu rumah kamu?" Ucapnya lagi sambil memakai ranselnya, kemudian memindahkan posisi standar motor hitamnya dengan kakinya ke bagian atas agar bisa dijalankan. Lalu dia meletakkan helm full face nya yang juga berwarna hitam ke stang kanan motornya.
"Eh em, boleh sih Kak. Tapi lagi nggak ada orang di rumah" Jawabku dengan polos.
"Emang aku mau ngapain, Alea? Aku kan mau antar kamu aja sekalian biar tahu rumah kamu. Hahahaha. Kok kamu lucu banget, sih". Dia mengarahkan tangan kirinya yang bebas seperti ingin mencubit hidungku, namun aku mundur, sehingga tangannya terhempas dan diletakkannya kembali ke stang kiri motornya.
Ih apaan sih, baru juga dua kali ketemu udah mau colek-colek aku! Gerutuku dalam hati. Aku berjalan mendahuluinya. Risih.
"Sip anak kecil yang manis" ia tersenyum sambil mengedipkan satu matanya kepadaku, sedangkan aku memelototinya sambil berlalu.
🍂
Aku tiba di depan rumahku yang bergaya minimalis berdinding putih dengan halaman yang memiliki gazebo kecil di dalamnya. Di samping gazebo kecil itu terdapat kolam ikan mungil yang berisi enam ekor ikan koi berwarna-warni yang sedang berenang bebas.
"Kak, makasih udah temenin aku sampai depan rumah. Em, kapan-kapan Kakak boleh mampir tapi sekarang jangan ya, ngga ada siapa-siapa di rumah." Kataku dari balik pagar rumahku.
"Sama-sama. Boleh minta nomer kamu, Al?" Tanya Kak Alex sambil memerhatikanku.
"Oh - em, mana hape kakak, sini aku ketik nomernya" Ujarku kemudian.
__ADS_1
Dia memberikan ponsel miliknya setelah mengusap layar hingga kuncinya terbuka. "Nih"
Segera kuterima, langsung kuketik namaku di daftar kontak ponselnya. "Udah, Kak. Namanya Alea ya, Kak." ucapku sambil memberikan ponsel dengan casing hitam bergambar gitar di belakangnya.
"Thanks ya, Al. Kamu beneran gapapa ditinggal sendirian di rumah?"
"Iya aku biasa kok, Kak. Bentar lagi juga Bunda ku datang. Sekali lagi makasih ya, Kak"
"Oke. Sampai ketemu, Alea." Dia memasangkan helm full face ke kepalanya sehingga hanya memperlihatkan sorot matanya yang tajam, yang ternyata merupakan salah satu daya tariknya.
"Kak, maaf, Kakak tahu namaku dari mana?" tanyaku penasaran sesaat sebelum dia benar-benar meninggalkanku.
"Teman kamu." Di tersenyum.
"Aku pulang, ya. Hati-hati di rumah" Lalu sosoknya menghilang meninggalkanku yang mematung di balik pagar.
"Oh - eh, iya Kak. Hati-hati"
'Dia tahu namaku dari temanku, katanya? Siapa ya? Buat apa dia tanya namaku? Eh nggak mungkin kan dia nanyain aku, mungkin nggak sengaja dengar orang manggil aku? Tapi, kok dia ingat sih?' Kekepoanku seketika muncul saat itu. GR? Nggak lah aku hanya bingung.
🍂
Semenjak hari itu, kami jadi lebih dekat. Dia sering mengirim pesan singkat pada aplikasi chat hanya untuk sekedar menanyakan kabarku, sudah makan atau belum, dan Hal sepele lainnya. Seminggu sekali dia datang ke rumah. Tentu saja saat ada keluargaku. Ayah, Bunda dan Audrey sudah mengenalnya.
Ayah Bunda yang awalnya khawatir karena melihat kedekatanku dengan remaja laki-laki yang tidak sepantar denganku, lambat laun malah merasa nyaman dengannya. Mereka merasa aman saat melihat Kak Alex ada di dekatku. Katanya lumayan, ada yang menjaga anak perempuannya. 'Ada-ada saja.' Pikirku saat itu
"Aku akan menunggumu, Al" Suara lelaki berkulit putih itu berhasil membuatku melongok dari halaman 'Soal-soal Ujian Akhir Nasional Tingkat SMP' di laptopku.
Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama. Sebentar lagi aku akan disibukkan oleh bermacam les, latihan soal-soal ujian, dan yang pasti Ujian Akhir Nasional.
__ADS_1
"Menungguku, Kak?" Tanyaku dengan wajah bingung.
"Iya, aku akan menunggu sampai kamu lebih besar, setelah itu aku ..." Ia menggantungkan kalimatnya. Ia memperhatikan aku dengan seksama, menatapku dengan sorot mata yang entah memikirkan apa.