
Seperti biasa, Ayah mengantar aku dan Audrey sampai depan gerbang sekolah. Kami bersekolah di lokasi yang sama. Alasan Ayah dan Bunda, agar lebih mudah mengantar dan memantau kami.
Yayasan Pelita Bangsa memang terdiri dari semua jenjang. Dari Kelompok Bermain yang dikhususkan dari usia dua tahun, sampai SMA ada disini. Hanya universitas yang belum terealisasi pembangunannya. Padahal sudah ada wacana akan dibangun sejak beberapa tahun yang lalu.
Setelah pamit dan mencium tangan Ayah, kami berdua berjalan memasuki gerbang utama. Aku lurus ke depan sedangkan Audrey belok ke kanan.
"Kak, Audrey ke kelas yaa. Dah ..." Audrey melangkah pergi dengan lambaian tangan dan senyum manisnya.
"Bye, dek!"
Dari kejauhan, Bian melambaikan tanggannya "Al, Al ... sini cepetan!" Serunya dari depan kelas. Segera aku berlari mendatanginya.
"Kenapa, Bi? Pagi-pagi udah teriak-teriak gitu. Kaget tau." Jawabku sambil terengah.
"Al, kamu udah denger kabar terbaru Alex?" Tanyanya dengan suara yang dipelankan saat jarakku sudah dekat darinya.
Deg. Jantungku berdetak keras saat mendengar namanya. Kugelengkan kepala tanda tak tahu. Tak sadar, kupilin rok sekolahku tanda aku sedang gugup.
"Aku nggak tau, Bi. Ada apa dengan dia?" gantian aku yang bertanya kepadanya.
"Alex mau ngadain konser di Jakarta, Al. Dia kembali." Jawab Bian. "Nih. Baca ... " Tambahnya seraya memberikan ponselnya padaku
Setelah vakum dari dunia musik selama hampir satu tahun lamanya, Alexander akan kembali mengguncang tanah air dengan mengadakan konser kembalinya. Pelantun single 'U're The One' dan 'The day I finally found you' berharap agar konser ini dapat mengobati kerinduan para fansnya di tanah air. Dia mengatakan luka-luka pada tubuh dan wajahnya sudah sembuh, terapi dan operasinya berhasil dan dia tak sabar untuk bertemu para fans setianya. Kota yang akan ia singgahi pertama adalah Jakarta, disusul dengan beberapa kota besar di Indonesia
Aku tersenyum menatap rangkaian tulisan yang ada di layar ponsel Bian, kemudian aku memeluknya erat. Tak terasa mataku sudah berembun.
"Akhirnya Kak Alex kembali. Dia sudah sehat, Bi. Alhamdulillaah" ujarku pelan di pelukan Bian.
__ADS_1
"Iya, Al. Dia kembali. Kamu mau kesana, Al? Mau aku temenin?" tanyanya sambil mengelus pundakku.
Aku menggeleng. "Nggak Bi, aku belum siap. Nanti aja ..." jawabku dengan air mata yang mulai menetes di pipi. Bian memelukku lagi. Seperti biasa, dia yang paling mengerti saat aku membutuhkan pelukannya.
Cecyl yang datang dari arah lapangan ikut memelukku. Dengan segera, ia langsung mengetahui maksud pelukan kami saat melihat ponsel yang masih menyala yang menunjukkan berita tentang Alexander, bintang yang akan mengadakan konser kembalinya di Jakarta.
๐
Teeeeet. Teeeeet. Bell sekolah berbunyi dua kali, tanda jam pelajaran segera di mulai.
Hari Senin, seperti semua sekolah pada umumnya, kami menjalankan Upacara Bendera. Cecyl adalah salah satu petugas Upacara Bendera pagi ini. Dia bertugas untuk menaikkan Bendera bersama dua anggota Paskibraka lainnya.
Cecyl memang mengikuti ekskul Paskibra. Postur tubuh yang tinggi langsing memudahkannya untukย masuk ke ekskul tersebut. Tak hanya itu, Cecyl pernah terpilih menjadi team pengibar Bendera Pusaka pada peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-74 di Istana Negara. Hebat, bukan?
Dia termasuk salah satu siswi popular di sekolahku. Banyak siswa yang menaruh hati padanya. Namun sampai detik ini, belum ada satupun anak laki-laki di sekolah yang berani menyatakan cintanya. Mungkin mereka minder. Entahlah. Cecyl juga tidak pernah menyatakan ketertarikannya dengan satupun siswa di sekolahku.
๐
Bian dan Cecyl berada di kelas 2D, sedangkan aku di kelas 2A. Jam pertama mereka berdua diisi dengan pelajaran Bahasa Inggris, sedangkan jam pertamaku diisi dengan pelajaran Bahasa Indonesia.
Pagi ini Bu Winda guru Bahasa Indonesiaku meminta kami untuk membuat tugas menulis yang bertema tentang emosi. Boleh kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, atau emosi lainnya. Tugas boleh berbentuk puisi, prosa, cerpen ataupun syair lagu.
Menit demi menit berlalu begitu cepat. Aku seperti biasa, mengerjakan tugas tanpa mengeluh. Sedangkan beberapa teman sekelasku, mereka ribut berdiskusi sampai ada yang berjalan bolak-balik hanya karena bingung akan menulis apa.
Bu Winda hanya memandangi kami tanpa berbicara. Namun tangan kanannya yang sedang memegang bolpoin bergerak-gerak di atas buku yang sepertinya buku catatan berisi nama-nama murid. Entah apa yang dia tuliskan di bukunya. Aku tak mau ambil pusing. Aku hanya ingin tugas cepat selesai.
Di ujung waktu, Bu Winda meminta Aldo sang Ketua Kelas untuk mengumpulkan dan menyerahkan tugas ke mejanya. Dengan cepat dan teratur, Aldo berjalan ke setiap meja meminta kami untuk menyerahkan tugas ke tangannya. Saat dia sampai kehadapanku, sejenak dia berhenti sambil memandang kertas dari tanganku, kemudian melirikku. Kemudian dia berjalan ke meja lainnya dengan canggung. Aku hanya diam.
__ADS_1
Setelah semua tugas telah diterima, Bu Winda pamit meninggalkan kelas karena akan diganti dengan pelajaran lainnya. Masih ada tiga mata pelajaran lagi untuk hari ini.
๐
Jam istirahat pertama ditandai dengan bunyi bel panjang satu kali.
Teeeeeeet.
Siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung ke kantin, ada yang ke lapangan basket, ada yang langsung ke toilet untuk merapihkan dandanannya, ada pula yang duduk manis di depan kelas sambil bergosip.
"Aaaaaaa, Alexander mau ngadain konser di Jakartaaaa!" Tiba-tiba suara nyaring Maya, teman sekelasku terdengar dari luar kelas.
Tak butuh berlama-lama, area depan kelasku menjadi riuh dan ramai oleh para siswi yang membicarakan sosok lelaki tampan yang memiliki suara dan aura yang indah itu.
Alexander.
Dia adalah seorang bintang yang sudah memiliki beberapa single dan semuanya meledak di pasaran. Walaupun baru dua tahun kiprahnya di dunia musik tanah air, namun dia sudah berhasil menyabet banyak penghargaan.
Sebut saja Pendatang Baru Terbaik, Pendatang Baru Terpopuler, Lagu Terpopuler, Video Musik Terbaik, Penyanyi Pria Terpopuler, dan masih banyak lainnya.
Sosoknya yang misterius segera membius semua gadis remaja di negeri ini. Sorot mata yang tajam dibingkai dengan alis yang rapi dengan bentuk melengkung sempurna, membuat personanya semakin terlihat. Tak hanya itu, hidung mancung dan bibir tipis berwarna sedikit kemerahan membuat wajahnya semakin rupawan.
Namun kecelakan lalu lintas satu tahun yang lalu membuatnya harus cuti sementara dari panggung hiburan. Ulah gila fans dan wartawan yang berlomba mengambil moment terbaik sekaligus ingin berada dekat dengannya, membuat sang Bintang harus mengalami banyak luka di area wajah, tangan dan kakinya. Dan dia harus menjalani terapi fisik dan beberapa operasi.
lagi-lagi bayangan akan sosok itu melayang bebas di pikiran dan otakku. Dua tahun sudah aku meninggalkannya, dua tahun pula kami tak berkirim kabar.
Aku terdiam, sesekali aku menunduk, tak bisa bicara. Aku benar-benar merindukannya. Merindukan Alex yang jauh disana. 'Apakah Kak Alex masih mengingatku?' tanyaku pada diri sendiri.
__ADS_1