
Semenjak pertemuan kedua kami, aku dan Kak Alex jadi lebih dekat. Dia sering mengirimkan pesan singkat hanya untuk sekedar menanyakan kabar, sudah makan atau belum dan hal sepele lainnya. Dia juga sering datang ke rumah. Saat ada keluargaku tentu saja. Ayah, Bunda dan Audrey juga sudah mengenalnya.
Ayah Bunda yang tadinya merasa khawatir dengan kedatangan remaja laki-laki yang tidak sepantar denganku, sekarang malah merasa nyaman dengannya. Mereka pikir, lumayan ada yang menjaga anak perempuannya. 'Ada-ada saja' Pikirku.
Sekarang aku bingung, apa dengan Kak Alex sih? kenapa dia jadi serius begini? Padahal kalau datang ke rumah, dia selalu bercanda, jarang bersikap serius. Tidak seperti hari ini, tidak seserius ini.
"Al, kamu mau menunggu aku?" Pernyataan sebelumnya saja sudah membuatku bingung, sekarang dia malah menanyakan sesuatu yang membuatku makin bingung.
"Menunggu Kakak? menunggu bagaimana maksudnya, Kak?" tanyaku tak mengerti.
"Tunggu aku ya Al, aku akan meraih mimpiku menjadi musisi terkenal, aku mau memperdengarkan lagu-laguku pada dunia. Aku mau jadi orang yang sukses. Sementara itu, kamu tetap disini ya, tunggu aku. Kasih aku waktu tiga sampai empat tahun. Aku pasti kembali untuk jemput kamu." Katanya sambil menggenggam tanganku.
Tanganku dingin. Tapi wajahku menghangat entah mengapa. Aku bingung. Aku anak SMP yang belum pernah berdekatan dengan laki-laki manapun kecuali Ayah. Bahkan aku tidak pernah berdekatan dengan satupun teman laki-laki dari sekolahku dalam Hal apapun. Dan sekarang aku ada di posisi seperti ini. Aku benar-benar gugup.
'Apakah Kak Alex sedang menyatakan perasaannya sama aku? Tapi kok nggak ada kata-kata sayang seperti yang sering aku lihat di komik ya. Bahkan, teman-temanku yang ditembak pacarnya bilang harus ada kata 'jadian' dalam pernyataan tembak-menembak. Ah, entahlah aku pusing.' tanyaku pada diri sendiri.
"Tunggu aku dihatimu ya Al. Pokoknya aku akan buktiin ke kamu kalau aku serius sama janjiku. Aku akan menjadi orang sukses, kamu hanya harus menunggu disini. Aku akan jemput kamu."
"Em ... "
"Kamu nggak perlu jawab sekarang, Al. Kamu hanya perlu belajar yang rajin, biar nilai kamu bagus, trus masuk sekolah yang kamu tuju. Tapi tolong bantu doa ya. Biar semua rencanaku berhasil. Aku butuh kamu untuk doain aku" Ucapnya lancar tanpa mengendurkan genggaman tangannya.
"Oh - eh, iya Kak, aku pasti doain Kakak" ucapku gugup. Aku tidak mengiyakan permintaan sebelumnya untuk menunggunya. Aku terlalu gugup, grogi, dan bingung. Tidak percaya juga mungkin.
"Anak baik. Yaudah aku pulang ya. Aku nggak akan ganggu kamu untuk beberapa waktu. Kita sebentar lagi ujian. Aku mau kamu fokus belajar. Jangan banyak main ya." Dia mengendurkan sedikit genggaman tangannya.
Aku hanya menunduk. Entah mengapa ada Rasa sesak di dada yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seperti akan kehilangan sesuatu. Atau seseorang. Aku tak tahu. Sesak ...
"Aku sa ... Ehm, aku pulang ya, Al"
"Iya, Kak." Aku masih menunduk. Tak berani menatapnya.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhku sudah terkunci rapat dengan tubuhnya. Dia memelukku. Refleks, tangan kananku meraih pinggangnya dan diikuti dengan tanganku sebelah kiri. Kami berpelukan dalam diam. Mataku panas, tiba-tiba saja bulir-bulir bening itu jatuh ke pipi.
Kak Alex mengusap kepalaku dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih memelukku. Dia mengecup kepalaku. Sebentar, hanya satu detik. Aku tetap diam namun dadaku semakin sesak.
'Ya Tuhan, kenapa begini Ya Tuhan?'
Kemudian Kak Alex tersenyum, lalu dia pergi meninggalkan aku yang masih mematung disini. Itu adalah pelukan pertamaku dengan seorang laki-laki yang sepertinya akan selalu aku ingat.
🍂
"Al, ke kantin yuk!" ajak Bian saat melihatku duduk sendiri di dalam kelas. Sudah 15 menit sejak bel istirahat pertama aku masih di duduk dalam kelas. Ternyata tinggal aku seorang yang masih disini. Kerumunan siswi di depan kelasku pun sudah tak ada. Aku tak menyadari kepergian mereka. Pikiranku sibuk berlari ke masa lalu. Ah, aku merindukan dia ...
"Cecyl mana?" Tanyaku pada Bian.
"Udah di kantin, udah pesen bakso dia. Laper, katanya. Kamu kok lama banget sih Al ke kantinnya, ada tugas?" Tanya Bian menyelidik.
"Iya Bi. Tadi ada tugas Bahasa Indonesia." Jawabku .
"Al, sini"
Segera ku memberi isyarat. Aku tunjuk kedai minuman dingin untuk menunjukkan padanya aku akan memesan minumanku dulu.
"Al, aku duluan ya." Seru Bian yang sudah memegang nampan mi ayam dan es teh manis kesukaannya.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
"Mbak, aku minta satu ice chocolate pakai bubble dan whipped cream ya" pintaku pada Mbak Dian pemilik kedai es tersebut.
"Sip, Al."
Setelah menunggu tiga menit, pesananku jadi. Aku segera ke meja Cecyl dan Bian. Mereka sedang asik menikmati pesanan mereka. Saat melihatku Cecyl dengan cepat menengok ke arahku.
__ADS_1
"Cokelat lagi?" Tanyanya. Entah kenapa Cecyl sebal sekali kalau melihatku minum es cokelat terus. Dia bilang bahaya, kebanyakan gula bisa diabetes, nanti gendut, nanti gampang sakit, nanti aku cepet capek, dan sebagainya.
Ah, kami berdua memang berbeda jauh. Dia sangat menjaga pola makannya. Dia sangat berusaha untuk menghindari gula. Mungkin keluarganya mengajari dia seperti itu. Hidup sehat tanpa gula. Sedangkan aku? Bunda saja memiliki dua toko kue yang digemari orang banyak, bagaimana mungkin aku tidak menyukai gula? Sepertinya tak mungkin. Haha.
Bian menikmati mi ayam nya dengan khusyu. Dia paling tidak suka bila acara makannya terganggu.
🍂
Selesai kami makan siang, datanglah seorang siswi kelas satu menghampiri kami.
"Kak Cecyl, ini ada titipan dari orang. Maaf Kak dia nggak nyebutin namanya. Saya cuma disuruh kasih ke Kakak" Ujarnya seraya memberikan amplop berwarna biru muda, warna kesukaannya.
"Cie Cecyl, cieeee." Ujar Bian menggodanya.
"Saya permisi dulu ya, Kak."
"Oh, iya makasih ya. Nama kamu siapa?" Tanya Cecyl kepada gadis berambut ikal itu.
"Nara, Kak."
"Makasih Nara." Cecyl tersenyum sambil menganggukan kepala
Aku diam saja saat Bian antusias menanyakan isi surat itu pada Cecyl. Cecyl hanya geleng-geleng kepala. Dia bilang tidak akan membukanya disini Lalu dia masukkan amplop itu ke dalam dompetnya.
Bel tanda masuk berbunyi. Kami berjalan kembali ke arah kelas kami masing-masing.
"Aku duluan ya. Sampai nanti" Ujarku pada mereka.
"See you, Al" jawab mereka kompak.
Dari jauh aku melihat Sir Jimmy menuju ke arah kelasku. Wah, jam Bahasa Inggris. Aku tidak ingin telat. Lalu aku pun segera mempercepat langkah ku ke kelas. Aku tidak ingin Sir Jimmy mendahuluiku.
__ADS_1