Pahlawan Legendaris

Pahlawan Legendaris
Episode 1 : Pahlawan Tidak Berbakat


__ADS_3

Ziro adalah pria yang berumur 26 tahun dengan tinggi badan 191 cm dan berat badan 83 kg. Ia merupakan seorang atlit lari dan lompat jauh, disamping itu ia juga memiliki carrer sebagai seorang guru olahraga.


Ziro sangat hobby bermain game terutama bermain game MMORPG.


Pada suatu hari ia sedang tidur dengan nyenyak, kemudian datang sebuah cahaya yang sangat terang menyelimutinya, Seketika cahaya itu menghilang dan Ziro dibawa olehnya.


Keesokan harinya Ziro tebangun dari tidur, ia melihat kesana-kemari. Di depannya terdapat  dua orang wanita berpakaiaan seperti pelayan.


"Aku ada dimana?" tanya Ziro kepada pelayan.


"Eehhhh tuan sudah bangun, selamat datang di kekaisaran bawah langit" jawab pelayan sambil tersenyum.


Ziro terlihat sedang berpikir dan berbicara dalam hati "Kekaisaran bawah langit!".


Dua pelayan tersebut diperintahkan Paduka Raja memanggil Ziro jika sudah bangun tidur untuk menghadapnya.


"Saya diperintahkan Paduka Raja memanggil tuan untuk menghadapnya jika tuan sudah bangun tidur" ucap, pelayan dengan tersenyum.


Ziro bingung "kekaisaran bawah langit dan dipanggil Paduka Raja menghadapnya?!" gumamnya.


Ziro menuruti kata dari pelayan tersebut, kemudian pelayan menuntun ziro sampai kedepan Paduka Raja.


"Sesuai perintah Paduka, saya membawa tuan ziro kesini" ucap, pelayan menunduk di depan Raja Arch


Dengan tegas dan nyaring Paduka Raja menjawab "Terimakasih wahai pelayan setiaku, kau dapat pergi untuk menyelesaikan kerjaan mu kembali".


Pelayan tersenyum "Dengan senang hati Paduka, Saya mohon pamit".


Pelayan pergi meninggakan Ziro dengan Paduka Raja.


"Selamat datang nak Ziro di kerajaan ku, di dunia lain" ucap, Paduka Raja.


Ziro terkejut mendengar perkataan Paduka Raja "di dunia lain".


"Di dunia lain?!" tanya Ziro.


"Tidak baik membahas tentang dunia ini di sini, mari ikuti aku" sanggah, Paduka Raja.


Mereka berdua berjalan kearah ruang tamu, di ruang tamu terlihat 3 orang pemuda yang tengah berbincang-bincang. Mereka juga merupakan pemuda yang dipanggil ke dunia lain (dunia saat ini).


Mereka bertiga kemudian berdiri kemudian menunduk (memberikan hormat) kepada paduka raja.


"Perkenalkan dia nak Ziro yang merupakan bagian dari kalian" ucap paduka sambil menunjuk Ziro.


Ziro tersenyum "Perkenalkan namaku Ziro"


Mereka bertiga menjawab sekaligus menjabat tangan Ziro.


"Hay Ziro, perkenalakan namaku Zeno"


"Perkenalkan namaku Jail"


"Kenalkan namaku Iron"


Ziro tersenyum "Dapatkah kita berteman"


"Boleh, kita bertiga setuju untuk berteman dengan mu benarkan Jail, Ron" Zeno membalas dengan Tersenyum.


"Benar, kita sekarang teman" balas Jail


"Setuju, mengapa tidak" sambung Iron


Setelah mereka berempat berbicara satu sama lain, Ziro melontarkan pertanyaan kepada Paduka Raja.


"Paduka Raja mengapa kami di panggil kedunia lain (dunia saat ini)?" Tanya Ziro


Paduka Raja menjawab "Baiklah sebelum aku menjelaskan kenapa kalian di panggil ke dunia ini, aku ingin memperkenalkan diri, namaku Arch".

__ADS_1


Paduka Raja Arch menjelaskan latarbelakang mengapa mereka berempat di panggil kedunia lain.


"Dunia ini diambang oleh kehancuran, pemberontakan dimana-mana yang dilakukan oleh peri kegelapan yang jahat dan sangat kejam. Penyiksaan dan penganiayaan yang begitu banyak terjadi. Di dunia kami, di sebutkan empat pahlawan Legendaris yang mampu mengatasi masalah tersebut, oleh karena itu kalian di panggil ke dunia ini untuk menjadi penyelmat bagi semua umat di sini" dengan panjang dan lebar Paduka Raja Arch Menjelaskan.


Zero menyanggah perkataan yang diucapkan


Paduka Raja "Tapi mengapa harus kami"


"Karena kalian memiliki jiwa pemberani dan pantang menyerah" jawab Paduka Raja.


"Aku akan memberikan perlengkapan senjata untuk kalian sesuai kemapuan kalian" lanjut Paduka Raja.


Zeno di berikan perlengkapan senjata berupa sebuah tombak panjang.


Sesuai dengan kemapuan Zeno semenjak di dunia ia merupakan pengguna toya (tongkat) terhebat.


Jail di berikan perlengkapan senjata berupa sebuah panah.


Sesuai dengan kemapuan Jail semenjak di dunia merupakan seorang atlit panah terjeli.


Iron di berikan perlengkapan senjata berupa sebuah perisai.


Sesuai dengan potensinya selama di dunia, Iron suka menolong orang lain ia dijuluki sebagai Perisai warga.


Sedangkan Ziro diberikan perlengkapan senjata merupa pedang.


Ini tidak sesuai dengan kemampuannya selama di dunia, Ziro hanya seorang guru olahraga sekaligus atlit lari dan lompat jauh.


"Mengapa senjata yang saya milki tidak sesuai dengan kemampaun" tanya Ziro.


Paduka Raja Menjawab "Legenda menyebutkan bahwa ada satu pahlawan yang memiliki senjata berupa pedang, namun tidak memiliki potensi tersebut.


Ziro hanya terdiam dan menerima semua perkataan Paduka Raja Arch tanpa membantah.


"Aku ingin memperkenalkan putriku kepada kalian, putriku kemarilah" Paduka Raja Arch memanggil putrinya.


"Iya ayah ada keperluan apa memanggil ku?" tanya putrinya kepada ayahnya.


"Ayah ingin memperkenalkan mu kepada mereka, mereka adalah empat pahlawan legendaris disebutkan pada kitab negeri kita" jawab ayahnya.


"Baiklah ayah, Perkenalkan namaku Karin putri dari Paduka Raja Arch!!" Putri Raja Arch memperkenalkan diri kepada mereka berempat.


Mereka berempat terkesima melihat putri Raja Arch, mereka saling berjabat tangan untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing dan Karin mulai tertari kepada ziro.


Keesokan hari mereka berempat akan melakukan pertualangan untuk memperkuat diri mereka. Akan tetapi mereka di perintahkan Raja untuk tidak pergi berkelompok, karena disebutkan bahwa pahlawan legendaris memiliki perinsip yang berbeda-beda. mereka masing-masing diberi patner oleh Raja Arch dan diberi bekal berupa uang.


Karin meminta izin kepada ayahnya agar dapat ikut menemani Ziro pada akhirnya karin menjadi patner Ziro.


Mereka mulai bergerak mencari posisi masing-masing, Ziro ingin menggunakan uangnya untuk membeli peralatan perang, Ziro dan Karin mengunjungi sebuah toko peralatan.


Ziro melihat berbagai arah, ia melihat sebuah perisai dan membuat ia berkeinginan untuk memiliki perisai itu.


Namun ketika ia memegang perisai tersebut tangannya kepanasan.


"aaaargh, kenapa perisai ini tidak bisa aku pegang dan terasa sangat panas" kata Ziro.


Melihat hal tersebut Karin teringat cerita tentang empat pahlawan legendaris bahwa setiap pahlawan tidak boleh mempergunakan senjata apapun selain senjata yang telah ditetapkan, Karin pun memberitahukan hal itu kepada Ziro.


"Ziro aku baru ingat tentang empat pahlawan legendaris tidak boleh memakai senjata selain senjata yang telah dimiliki" kata Karin dengan mengambil perisai yang Ziro coba pegang berkali-kali.


"Ohhhh begitu, pantas saja perisai ini seperti menolakku" gumam Ziro.


Mereka akhirnya keluar dari toko tersebut Ziro membeli sebuah Zirah.


"Pada akhirnya aku hanya dapat membeli Zirah ini" ucap Ziro sambil melihat Zirah yang ia pakai.


"Syukurlah kamu terlihat cocok dengan Zirah ini" kata Karin sambil memeluk tangan Ziro.

__ADS_1


Pipi Ziro langsung memerah "aduh dia terlalu dekat" kata Ziro.


Di dunia ini banyak terdapat monster-monster yang diciptakan oleh peri kegelapan, hal itu sangat membuat warga desa cemas. banyak terdapat quest untuk menanggulangi monster tersebut.


Untuk memperkuat diri Ziro dan Karin memasuki sebuah aula untuk mengambil quest yang tertempel di sebuah papan pengumuman.


Ziro sedang memilih-milih quest "setiap kali menyelesaikan quest kita akan mendapatkan imbalan" Ziro berbicara dalam hati.


"Yosha, kita akan mengambil quest ini kelihatannya lebih mudah, membasmi monster lumpur di desa tak berpenghuni!!" Ziro memengambil sebuah kertas.


"Baiklah aku akan memberi tahukan kepada penjaga aula dulu untuk kita dapat menjalankan questnya" Karin mengambil kertas di tangan Ziro dan menuju meja penjaga aula.


Setelah mendapat izin dari penjaga aula mereka pergi ke arah utara yang merupakan tempat mereka tuju (desa tak berpenghuni).


Sesampai disana Ziro terkejut "waduh terlalu banyak monster disini pantas saja warga meninggalkan desa ini" kata Ziro sambil mengintip di sebuah semak-semak.


"Baiklah, Karin kamu tetap di belakangku" Ziro memerintah Karin.


"Dimengerti" jawab Karin.


Ziro kemudian langsung menyerang monster lumpur tersebut "ciyaaaaat" ia melompat kearah monster itu berada.


Namun monster lumpur tidak langsung tumbang walaupun di coba dipotong beberapa kali.


"Bagaimana ini monsternya tak habis-habis" Ziro sangat kewalahan menghadapi monster lumpur.


"Ziro monster lumpur takut dengan air" Karin berteriak dengan nada keras.


"Dari mana kamu tahu" tanya Zero.


"Aku tadi sempat membaca keterangan di bawah kertas yang kamu pegang" jawab Karin.


Mendengar perkataan itu Ziro langsung memancing monster lumpur ke arah sungai, kebetulan di desa itu terkenal dengan sungai terpanjang.


Ziro menyiram monster lumpur menggunakan air di sungai itu seketika monster lumpur lenyap.


Ziro sangat lega karena misinya sudah selesai "Akhirnya kelar juga".


"Ayo kita sekarang kembali ke desa dan mengambil imbalan untuk quest yang telah kita selesaikan" Karin mengajak Ziro.


Tiba-tiba ada sebuah pemberitahuan yang datang seperti lewat di depannya "Selamat anda naik level dan membuka skill pemulih diri".


"Kenapa ada tulisan di depan mataku dan seperti ada icon di depan ku", Ziro heran ia berpikir-pikir "Dunia ini sangat mirip game yang sering aku mainkan" ia berbicara dalam hati.


"Kenapa kamu bengong, sebaiknya kita pulang ke desa!!" kata Karin sambil memukul pelan bahu Ziro.


"B-baiklah" Ziro kaget.


Merek kembali ke desa, setelah sampai di desa mereka pergi ke aula untuk mengambil imbalan telah manyelesaikan quest.


Hari mulai malam mereka berdua tidak langsung pulang ke kaisaran, mereka menyewa penginapan untuk satu malam.


Sesampai di penginapan mereka makan malam bersama, karin mulai menggoda Ziro.


"Aku ingin sekali minum bersama denganmu Ziro" Karin menggoda Ziro.


"M-maaf, aku benar-benar tidak minum bir" Ziro menghindar ajakan Karin.


"Sayang sekali padahal ada cewek cantik yang mengajak minum" balas Karin.


"Aku sangat lelah sekali hari ini, aku ingin istirahat duluan" Ziro mengalihkan pembicaraan dan meninggalkan tempat duduknya.


Ziro pergi kekamar, ia sedang menghitung uang untuk bayar penginapan, makan dan sisanya untuk berpetualang besok.


Ziro menyimpan uang dalam laci di samping kasur, ia juga menyisipkan uang di saku celana belakangnya, tidak lama Ziro pun terlelap kemudian ia tertidur.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2